Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lampu Hijau
Seharian kemarin Valerie membiarkan ponselnya begitu saja, tak tersentuh sedikitpun sejak di rumah sakit. Sesampainya di rumah ratusan pesan masuk di chat ponselnya, serta panggilan tidak terjawab, semua dari Nathan yang masih saja Vale abaikan. Sekarang bagaimana caranya Valerie memberitahukan Nathan jika dirinya akan menikah dengan Jeevan. Besok pagi Jeevan dan Sulthan akan menemui kedua orang tua Valerie di Belanda untuk membicarakan rencana pernikahannya. Mereka berdua terpaksa terbang ke Belanda karena untuk beberapa bulan kedua orang tuanya Valerie yaitu Theresia Claudya Irene dan Mirza Abyakta Athaya tidak bisa kembali ke Indonesia. Semalam Vale sudah berbicara kepada papanya tentang rencana pernikahannya, tentu saja mereka berdua kaget bukan main dengan rencana putri semata wayangnya, meski akan diadakan dua bulan lagi.
"Aku sudah bertemu dengan kedua orang tuamu dan ternyata papaku dan papamu sudah saling mengenal sejak lama, dan mereka sangat menyetujuinya."
Isi pesan dari dari Jeevan yang semalam baru saja bertamu dengan kedua orang tuanya Valerie, senyum simpul merekah di bibir Vale. Itu tandanya pernikahan antara kedua keluarga tidak akan ada masalah sama sekali. Kini saatnya Vale menghadapai Nathan.
"What! Lo serius mau nikah sama dia?" kedua bola mata Kenzie membulat sempurna menatap tajam Jeevan ketika tahu sahabatnya akan segera menikah dengan perempuan yang tidak dikenal olehnya.
"Iya," jawab Jeevan singkat seraya membuka jas lalu menyimpan di sofa apartemennya.
Akhirnya Jeevan memberitahu kepada Kenzie tentang rencana pernikahannya dengan Valerie, dan Kenzie kaget bukan main mendengar cerita kemarin yang terjadi kepada sahabatnya. Kenzie tidak habis pikir kenapa Jeevan harus menikah dengan perempuan lain selain Maura.
"Lo lagi nggak mabok, kan?" tanya Kenzie yang masih berdiri menatap Jeevan dengan tatapan tajam keheranan.
"Nggak," jawab Jeevan lagi singkat yang masih membuka kancing dari lengan tangan dan kemeja warna putih sambil menyadarkan tubuhnya yang begitu sangat lelah baru sampai dari Belanda.
"Sakit lo." Kenzie mulai kesal seolah menyindir Jeevan yang mulai tidak mengerti dengan jalan pikirannya dan lelaki penyuka kopi hanya terdiam dengan tatapan kosong.
"Sekarang bukan waktunya bercanda sama gue, ya?" tanya Kenzie lagi tidak merasa puas dengan ucapan Jeevan.
"Gue nggak bercanda, memang lo lihat kalau gue lagi bercanda?" nada bicara Jeevan terdengar sedikit sinis karena sedari tadi Kenzie terus bertanya padahal dirinya sudah menjelaskan semuanya kepada sahabatnya kenapa dirinya mau menikah dengan Valerie.
"Yang mau lo nikahin itu Maura bukan cewek yang baru lo kenal! Meskipun kalian berdua pura-pura nikah tapi ini nggak bener!" protes Kenzie tidak setuju dengan rencana Jeevan.
Kenzie Dariendra adalah sahabat Jeevan, bukan sahabat sebenarnya. Sejak usia 13 tahun Kenzie diadopsi oleh keluarga Jeevan saat Sulthan berkunjung ke salah satu panti asuhan yang selalu dikunjunginya. Saat itu Sulthan melihat Jeevan begitu dekat dengan Kenzie ketika mereka selalu berkunjung ke sana. Jeevan meminta Sulthan untuk mengadopsi Kenzie karena dia ditinggalkan di panti asuhan sejak masih bayi. Jeevan yang sangat sulit untuk dekat dengan teman sebayanya justru mudah dekat dan bergaul dengan Kenzie seperti teman lama, akhirnya Sulthan membawa Kenzie ke kediamannya sampai menyelesaikan kuliahnya. Bagi Jeevan, sosok Kenzie bukan hanya sebagai sahabat tapi sebagai kakaknya layaknya Jericho dan Nino.
"Terus gue harus ngerelain perusahaan yang seharusnya jadi milik gue ke tangan kakak-kakak gue?" intonasi Jeevan membuat Kenzie seketika terdiam, kedua bola matanya mulai membulat sempurna membuat Kenzie tidak bisa lagi berbicara.
Ya, salah satu alasan Jeevan menjadi putra dari Sulthan Malik Sailendra adalah mempunyai anak perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya. Sejak dulu Jeevan tidak pernah tertarik dengan kisah percintaan apalagi pernikahan, di dalam pikirannya adalah bagaimana menjadi seorang pengusaha sukses di negri ini, meski nyatanya Jeevan sudah menjadi pengusaha muda yang sukses tapi belum cukup baginya jika belum memiliki salah satu aset besar papanya.
"Tapi bukan gini caranya! Lo pikir pernikahan buat main-main?"
Kenzie tidak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini, memang Jeevan begitu terobsesi untuk memiliki perusahaan papanya yang akan menjadi miliknya, apapun akan dilakukan olehnya, termasuk menikah secara pura-pura dengan Valerie.
"Siapa yang main-main? Gue nikah secara sah, secara agama," tampil Jeevan membela dirinya.
"Gue tahu kalau masalah itu. Tapi Lo sama dia nggak ada perasaan suka dan cinta! Gimana bisa lo berdua nikah tanpa ada rasa cinta?"
Sepertinya bukan Jeevan yang emosi melainkan Kenzie yang begitu marah dengan keputusan Jeevan, dari mana sahabatnya mempunyai ide seperti itu. Seketika Jeevan tertawa ringan terkesan sinis seolah geli mendengar yang baru saja Kenzie ucapkan. Cinta! Apa itu cinta. Jeevan tidak tahu apa yang namanya cinta, baginya cinta itu tidak nyata.
"Cinta? Memang lo tahu apa itu cinta?" Jeevan mengganti topik pembicaraan bertanya dengan nada sarkas menatap tajam Kenzie yang kini sudah duduk di sampingnya.
Deg, Kenzie juga ikut terdiam ketika mereka berdua membahas tentang 'Cinta'. Mereka berdua terdiam sesaat dan ingat jika di antara mereka berdua tidak ada yang pernah tahu dengan apa yang namanya 'Cinta' meski umur mereka sekarang menginjak sama-sama 26 tahun. Selama ini Kenzie selalu gagal dengan kisah percintaannya karena terlalu sibuk sering kali ditinggalkan begitu saja, berbeda dengan Jeevan yang hanya memikirkan pekerjaan saja, belum ada perempuan yang bisa membuat hatinya bergetar hebat, kecuali seseorang di masa lalunya. Karena kasihan melihat Jeevan lama sendiri membuat Kenzie berinisiatif untuk mengenalkan Maura yang merupakan teman dari mantannya. Tapi Jeevan tidak pernah merasakan cinta yang besar kepada Maura.
"Lo aja masih sendiri sampe sekarang, kan? Kemarin bokap gue ngenalin Lo sama temennya, kenapa lo tolak?" sindir Jeevan membuat Kenzie tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Nggak bisa jawab kan, lo?" tambah Jeevan lagi masih dengan nada kesal kepada Kenzie yang masih terdiam tak bergeming.
"Ini caranya mengambil hati papa dan nunjukin siapa gue. Kalau sampai harus nunggu Maura, entah kapan dia balik lagi. Gue harap lo bisa ngerti sama keputusan ini, karena cuman lo yang tahu isi hati gue," jelas Jeevan berubah dengan nada lembut membuat Kenzie terhenyak.
Tidak ada pilihan bagi Kenzie untuk mendukung keputusan Jeevan meskipun itu salah. Tatapan kosong Kenzie begitu jelas sangat kecewa, namun dia tidak bisa menghentikan Jeevan.
"Berapa lama sama dia?"
"Satu tahun setengah."
Satu tahun setengah Jeevan dan Valerie akan menikah secara sah, tapi mereka tidak akan menuntut haknya sebagai suami istri. Kenzie hanya berdoa semoga saja mereka berdua bisa bersama.
Tring....Ponsel Valerie berbunyi ternyata pesan dari Nathan yang memberitahukan jika besok dirinya akan kembali ke Indonesia, setelah urusannya kemarin yang tidak bisa ditunda. Ini adalah kesempatan Valerie untuk memberitahu Nathan dan memutuskan hubungan dengannya.
"Apa! Nikah!?" Teriak Owen dari ujung telepon sana sampai membuat telinga Valerie kesakitan dan menjauhkan ponselnya untuk sesaat.
Owen adalah sahabat Valerie saat SMA mereka bertemu di Jerman. Sampai akhirnya mereka berdua masuk ke Universitas yang sama di Jerman untuk melanjutkan kuliah kedokterannya. Tapi sayang, Valerie yang seharusnya menjadi seorang dokter memilih menjadi model. Namun Owen sekarang sudah menjadi dokter umum di salah satu rumah sakit Jerman, tapi kadang Owen sering menjadi relawan yang dikirim ke negara-negara yang sedang perang dan konflik, atau ikut organisasi seperti PBB,(WHO). Sudah hampir 1 tahun mereka tidak bisa bertemu karena Owen sedang ikut misi menjadi relawan di negara yang sedang terjadi konflik.
"Lo nggak becanda sama gue, kan?" tanya Owen yang umurnya terpaut hanya 1 tahun saja.
"Gue serius, makanya gue kasih tahu Lo sebelum Rania," jawab Valerie.
Owen yang baru saja bisa menghubungi Valerie karena baru mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan sahabatnya, justru dibuat kaget tidak percaya jika Valerie akan menikah. Padahal Owen tahu jika Valerie memutuskan untuk tidak akan menikah.
"Siapa dia? Terus reaksi Nathan gimana?"
"Dia anak pemilik Sailendra Grup. Dia juga sama kayak gue, nggak mau nikah."
Rasanya kepala Owen ingin pecah memikirkan Vale, sudah Owen bilang jangan membuat pilihan sampai dirinya kembali ke Indonesia. Tapi Owen juga tahu jika Valerie tidak akan mempunyai waktu yang lama.
"Apa dia tahu semuanya tentang lo?" tanya Owen yang sudah mulai terlihat tenang.
"Nggak semua," jawab Valerie terdengar sedikit sendu seolah malas membahas sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakan olehnya.
"Jangan dulu nikah sebelum gue balik dari sini!" Titah Owen dengan nada tegas.
Tatapan kosong Jeevan menatap ramainya jalanan di bawah sana. Jeevan yang kala itu sedang berdiri di balkon apartemennya tiba-tiba saja teringat akan Valerie, perempuan yang baru saja dikenalnya belum lama ini. Apakah ini sebuah keajaiban yang diberikan oleh Tuhan untuk mereka berdua.
"Aku nggak akan pernah melepaskan mu lagi, Valerie." kata Jeevan di dalam hati dengan nada lirih dan tatapan sendu menatap ramainya kendaraan di bawah sana.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪