yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17. Suasana di Pengungsian.
Malam semakin larut namun tak semakin sepi. Setelah terdengar suara letupan bom yang ntah dimana, kegelisahan merambati mereka yang sedang beristirahat di pinggir jalan.
Belum selesai dengan rasa khawatir berlebih, tak lama berdatangan truk-truk besar terbuka beriringan. Truk-truk itu berhenti beriringan di pinggir jalan dengan jarak yang lumayan jauh.
" Cepat masuk ke dalam truk. Kami akan mempercepat perjalanan kalian. Disini tidak aman...!!" seru salah satu sopir truk yang turun menghampiri kerumunan pejalan kaki.
Para pejalan kaki hanya terbengong-bengong saja, ada rasa takut menelusup di hati mereka. Kemana mereka akan di bawa, ya kalau ke pengungsian yang kata penjajah itu "aman", jika ke penjara yang mereka maksud, bagaimana nasib mereka kedepannya.
" KALIAN TULI...!! CEPAT NAIK...!!! ." Bentak supir itu membuat para pejalan kaki tersentak dan sibuk mengemasi barang-barang bawaan mereka.
" Kami akan dibawa kemana?" Tanya salah satu dari pejalan kaki.
" Ke selatan. CEPATLAH...!!!" Jawabnya.
" Kalian tidak dengar suara letupan rudal tadi ? itu kiriman dari negara tetangga. Maka CEPATLAH...!!!" Seru nya lagi.
Tak berpikir panjang dan seruan yang mendesak membuat mereka berkemas dan segera menaiki truk-truk itu berdesakan.
" Ayo cepat Abia, nanti kita tertinggal...!!" Ajak Hania tergesa menarik tangan Abia yang terlihat sangat kelelahan.
Setelah semua naik ke mobil. Mobil berjalan beriringan menuju ke selatan yang dimaksud. Dingin semakin menggigit karena angin yang berhembus saat mobil melaju menambah kecepatannya.
Penumpang truk saling berpelukan, berdempetan tak terkecuali keluarga Laila. Mereka saling berpelukan menepis angin dingin yang menerjang tubuh lelah mereka.
" Berapa lama kita sampai mi." Tanya Hania seolah tak kuat lagi dengan dinginnya angin.
" Bersabar ya sayang. Jika kita terus berjalan, kita tidak tau kapan akan sampai." Jawab ummi menenangkan anak-anaknya sambil terus merapatkan selimut yang melapisi tubuh ber jaket mereka.
Truk-truk itu terus melaju tak berhenti. Meninggalkan kericuhan menuju harapan yang baru bagi para pengungsi. Semoga ada kehidupan lebih baik, lebih aman dan lebih nyaman untuk di tinggali.
*****
Perjalanan malam dilalui lima jam itu akhirnya telah sampai ke tujuan. Para pengungsi itu turun dari truk-truk dengan bergiliran. Malam masih gelap namun tak menyurutkan pandangan di hadapan mereka.
Mereka tercengang dengan pemandangan di hadapannya. Bukan tenda-tenda besar yang tersusun rapi, bukan itu!. Tapi tanah lapang yang kering, dan beberapa tenda kecil seperti hanya contoh saja. Dan tenda memanjang sedikit dan banyak pintu-pintu, sepertinya toilet.
" Kita akan tinggal di sini?!" tanya salah satu dari pengungsi itu tak percaya.
" Kita sebanyak ini tapi hanya beberapa saja tenda yang tersedia. 1,2,3,4....." salah satunya menghitung jumlah tenda.
" Hanya 15 buah tenda... Ya Allah ini tak menampung separuh dari kita semua ...!!!" Serunya setelah menghitung semua nya sambil memegang kepalanya tak percaya.
Harapan akan tempat yang nyaman seketika sirna. Bagaimana mereka akan melewati hari nanti. Apakah akan ada dapur umum untuk mereka masak nanti berikut bahan makannya, ketersediaan air bersih, tempat untuk tidur yang mungkin hanya mampu di tempati beberapa orang saja. Belum lagi jika ada angin kencang.. Ahhh... Pusing sekali jika membayangkan nasib mereka ke dapan.
" Kalian akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Kita tidak bisa melewati perbatasan untuk tempat yang seharusnya..." Kata salah satu sopir truk yang mereka naiki.
" Selamat menikmati..." katanya lagi dengan senyum seringai yang menjengkelkan. Puas rasanya "mengerjai" para pengungsi itu dengan keadaan yang jauh dari harapan mereka. Dan truk-truk itu berlalu pergi meninggalkan mereka.
" Ya Allah.. Bagaimana ini... ?" Keluh salah satu pengungsi dekat Laila berdiri.
" Ummi.. Apa kita akan tinggal di sini? Hiks...." Abia mulai merengek tak suka.
" Ya mau bagaimana lagi nak. Ini yang mereka sediakan. " Jawab ummi merapatkan pelukan di pundak abia.
"Yuk kita kesana.." Ajak ummi sambil menunjuk salah satu tenda.
" Bagaimana jika kita bagi saja. Wanita menjadi di dalam tenda. Pria menjadi diluar tenda sekalian berjaga. Setidaknya untuk malam ini...!" Saran dari salah satu pengungsi pria.
" Bagaimana dengan anak-anak?". Tanya seorang ibu yang menggandeng anak laki-laki.
" Dibawah usia lima tahun bisa bergabung dengan ibunya." putusnya lagi.
" Ini bertujuan supaya lebih leluasa jika wanita akan membuka auratnya di dalam tenda.." Betul juga.. Mereka mengangguk setuju.
" Ummi, aku bersama kakak-kakak disana ya... " Kata Yaseer memberi tau.
" Kakak tak apa terpisah dari kami..?" Tanya ummi khawatir.
" Tak apa ummi, jangan khawatir, aku bisa menjaga diri. Mereka juga orang baik insyaallah " Jawab Yaseer menenangkan.
Ummi mengangguk. Namun ada sorot khawatir di matanya.
" Kita masih bisa bertemu ummi. Hehe..." Kelakar Yaseer padahal tak lucu.
" Baiklah. Jika butuh ummi, ummi ada di sini. Hmm.. " Putus ummi akhirnya.
Yasser pun terpisah dari keluarga nya. Tak apalah hanya sementara mereka disini. Ya semoga saja mereka tidak "di prank" lagi.
****
Laila dan anak-anak perempuan nya masuk ke salah satu tenda. Di dalamnya sudah ada beberapa wanita dan anak-anak seperti keluarga nya. Ada empat orang ibu, delapan anak perempuan dan satu bayi laki-laki yang lucu.
Mata Haniya berbinar melihat ada seorang bayi sedang terlelap di pangkuan ibunya. ' wah sepertinya akan seru berada di tenda ini' pikir batinnya.
Mereka mulai menyusun barisan untuk tempat istirahat. Semoga cukup untuk semua nya. Masih ada waktu satu jam lagi hingga waktu shubuh tiba nanti.
****
Rasa lelah mereka belum terobati dengan sempurna. Karena waktu istirahat yang sangat singkat. Waktu subuh tiba. mereka bergiliran untuk berwudlu dan melaksanakan sholat shubuh berjamaah di luar tenda.
Berawal hanya beberapa pria saja. Tapi semakin lama, lapangan di depan tenda separuhnya penuh. Setelah para lelaki selesai sholat, bergiliran para wanita juga. Mereka menggelar terpal yang ada di sana. Sepertinya itu yang akan menjadi tenda tambahan bagi para pengungsi.
Setelah sholat, mereka memasak di ujung tenda dekat dengan toilet. Alat masak sudah di sediakan seperti panci besar dan satu buah tungku. Tepung gandum pun tersedia. ' Para penjajah itu menyediakan ini semua?' batin mereka sambil menatapi persediaan makan mereka yang hanya cukup untuk 2 hari saja dengan jumlah pengungsi yang ratusan ini.
Ya sudahlah jalani saja dulu untuk hari ini. Bersyukur mereka tiba tapi masih serasa hidup dirumah. Para wanita bermusyawarah singkat untuk menentukan jadwal memasak. Dan para lelaki yang bertugas membantu tugas angkat barang berat dan membangun tenda darurat lain.
Mereka bekerja sama sambil saling mengobrol berkenalan. Karena tak semua berasal dari desa yang sama. Memang ada dari beberapa mereka yang bersaudara. Namun adapula yang sendiri seperti keluarga Laila contohnya.
Banyak cerita mengalir dari obrolan mereka. Dan hampir semua mirip dengan kisah Laila, suami yang wafat karena ulah penjajah, dan anak laki-laki yang di tahan karena terlibat kericuhan melawan militer zion*s.
"Berhati-hatilah dengan para militer penjajah itu. Anak gadis tetanggaku di rudapaksa hingga tewas oleh mereka.. !" Cerita salah satu ibu penuh peringatan.
" Ya Allah.. anakku perempuan 2.." Ngeri Laila membalas ucapan ibu itu.
" Jaga mereka baik-baik Laila....!". Peringat nya lagi lebih serius.
" Astaghfirullah.....!!" Lirih Laila gemetar
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.