NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Diam

Sejak hari itu, Bella tidak lagi bertanya.

Bukan karena semuanya sudah jelas, tapi justru karena terlalu banyak hal yang mulai terasa… masuk akal dengan cara yang menyakitkan. Ia berhenti mencari penjelasan dari Dominic, berhenti berharap pada jawaban yang selalu terdengar sama, dan perlahan memilih untuk diam.

Namun diamnya kali ini berbeda.

Bukan lagi diam yang penuh kepercayaan, melainkan diam yang sedang memperhatikan.

Rumah itu tetap berjalan seperti biasa. Pagi yang sepi, siang yang lengang, dan malam yang terasa terlalu panjang. Tidak ada perubahan besar yang terlihat, tidak ada pertengkaran, tidak juga kata-kata kasar. Semuanya tetap rapi di permukaan.

Hanya saja, Bella tidak lagi melihatnya dengan cara yang sama.

Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu ia abaikan.

Jam pulang Dominic yang tidak menentu.

Nada suaranya yang berubah saat menerima telepon.

Cara pria itu membawa ponselnya ke mana pun, bahkan ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan.

Hal-hal sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Bella tidak bisa lagi menenangkan dirinya dengan alasan-alasan lama.

Suatu sore, Dominic pulang lebih awal dari biasanya. Matahari masih menggantung di langit saat suara pintu terdengar. Bella yang sedang duduk di ruang tengah menoleh sedikit, tidak buru-buru berdiri seperti dulu.

Dominic masuk dengan langkah tenang, melepas jasnya, lalu berjalan melewati Bella tanpa banyak bicara. Namun kali ini, ada sesuatu yang tertinggal.

Aroma itu.

Sama seperti yang ia temukan beberapa hari lalu.

Bella tidak menoleh. Ia tetap duduk di tempatnya, namun napasnya tertahan sejenak. Aroma itu samar, tapi cukup jelas untuk dikenali.

Ia tidak berkata apa-apa.

Tidak bertanya.

Hanya mengingat.

Dominic menghilang ke dalam kamar, meninggalkan ruang tengah kembali sunyi. Bella menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan berjalan pelan ke arah meja tempat pria itu meletakkan barang-barangnya.

Ponsel Dominic ada di sana.

Layar mati.

Tenang.

Untuk beberapa saat, Bella hanya berdiri memandangnya. Ada dorongan kecil di dalam dirinya untuk mengambil benda itu, membukanya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaannya.

Namun tangannya tidak bergerak.

Ia tahu… sekali ia melangkah ke arah itu, semuanya tidak akan pernah sama lagi.

Dan entah kenapa, Bella belum siap untuk itu.

Ia menghela napas pelan, lalu berbalik menjauh.

Bukan karena tidak ingin tahu.

Tapi karena ia ingin melihat… sejauh apa ia bisa menemukan kebenaran tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

Malam itu terasa lebih hening dari biasanya.

Bella sedang menata meja makan ketika ponsel Dominic yang tergeletak di meja bergetar pelan. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk menarik perhatian.

Bella berhenti.

Menatap.

Layar menyala sebentar, menampilkan satu nama.

Diana.

Jantung Bella berdegup sedikit lebih cepat. Ia tidak mendekat, tidak juga menyentuhnya. Hanya berdiri di tempat, memperhatikan dari kejauhan.

Ponsel itu berhenti bergetar.

Namun beberapa detik kemudian, menyala lagi.

Pesan lain masuk.

Layar kembali gelap sebelum Bella sempat membaca lebih jelas.

Suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Bella segera mengalihkan pandangannya, kembali sibuk dengan piring di tangannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Dominic keluar dengan wajah biasa. Ia langsung mengambil ponselnya, melirik layar sekilas. Tidak ada perubahan ekspresi yang jelas, tapi gerakannya sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Aku ke luar sebentar,” katanya singkat.

Bella tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan.

Pintu tertutup beberapa detik kemudian.

Dan rumah kembali sunyi.

Bella berdiri sendiri di ruang makan, tangannya masih memegang piring yang belum sempat ia letakkan. Ia tidak bergerak untuk waktu yang cukup lama.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin… terlalu penuh.

Beberapa jam kemudian, Dominic belum kembali.

Bella sudah berada di kamar, duduk di sisi tempat tidur dengan lampu redup. Ia tidak mencoba menghubungi. Tidak juga bertanya.

Ia hanya menunggu.

Namun kali ini, bukan dengan harapan.

Melainkan dengan kesadaran.

Ponselnya sendiri tergeletak di samping. Layar gelap. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada kabar.

Bella menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengambilnya.

Jarang sekali ia merasa ragu untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Namun malam itu, jari-jarinya terasa berat.

Akhirnya, ia membuka layar.

Tidak ada yang berubah.

Namun entah kenapa, ia justru membuka aplikasi pesan.

Nama Dominic ada di sana.

Percakapan terakhir mereka… singkat.

Sederhana.

Tidak ada yang istimewa.

Bella menatap layar itu lama.

Lalu, tanpa sadar, ia mengetik satu kalimat.

Kamu di mana?

Jari-jarinya berhenti di atas layar.

Beberapa detik berlalu.

Namun kalimat itu tidak pernah terkirim.

Perlahan, Bella menghapusnya.

Huruf demi huruf.

Sampai layar kembali kosong.

Ia meletakkan ponselnya lagi.

Menarik napas dalam.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia memilih untuk tidak mencari.

Pintu kamar terbuka larut malam.

Dominic masuk dengan langkah pelan, seperti biasa. Ia pikir Bella sudah tidur.

Dan Bella memang tidak bergerak.

Namun matanya terbuka.

Ia hanya diam, memunggungi pria itu, berpura-pura tenggelam dalam tidur yang sebenarnya tidak pernah datang.

Dominic mengganti pakaiannya, lalu berbaring di sisi lain tempat tidur. Jarak di antara mereka tidak berubah.

Namun terasa semakin lebar.

Beberapa saat kemudian, napas Dominic mulai teratur.

Bella tetap diam.

Menatap gelap di depannya.

Pikirannya kembali berputar.

Semua hal kecil itu.

Semua yang dulu terasa biasa.

Kini berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Dan di tengah keheningan itu, Bella akhirnya mengerti satu hal.

Bahwa terkadang…

Kebenaran tidak datang dalam bentuk yang besar.

Tidak juga dengan cara yang dramatis.

Ia datang perlahan.

Melalui hal-hal kecil.

Yang awalnya terlihat sepele.

Namun jika terus dibiarkan…

Akan menjadi sesuatu yang menghancurkan.

Bella menutup matanya perlahan.

Bukan untuk tidur.

Tapi untuk menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dirinya.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya…

Ia tidak lagi berharap semuanya baik-baik saja.

END BAB 5

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!