Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Lantai marmer yang mengilap di lobi Utama Nasution Property Group memantulkan bayangan Sheila Maharani dengan sempurna. Pagi ini, ia mengenakan kemeja berwarna peach lembut yang dipadukan dengan celana kulot berwarna krem—pilihan busana yang sangat menggambarkan kepribadiannya: kalem, ceria, namun tetap profesional.
Sheila mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedikit berpacu. Ia masih merasa seperti bermimpi. Berkat bantuan Nilam, sahabat baiknya sejak masa sekolah, ia berhasil menembus ketatnya seleksi di salah satu perusahaan properti terbesar di Jakarta ini.
"Fokus, Sheila. Hari ini awal yang baru," bisiknya pada diri sendiri sambil menyunggingkan senyum tipis.
Ia mengeluarkan ponsel, mengetikkan pesan singkat untuk Malik, pacarnya yang selalu menjadi pendukung utamanya.
“Aku sudah sampai di kantor, Malik. Doakan aku ya, semoga hari pertamaku lancar.”
Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.
“Semangat, Sayang. Aku yakin kamu bisa. Nanti pulang aku jemput, ya?”
Senyum Sheila semakin lebar. Hubungannya dengan Malik yang sudah berjalan dua tahun itu memang sangat stabil. Malik adalah sosok yang dewasa dan pengertian, sangat cocok dengan sifat Sheila yang tenang. Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Sheila melangkah menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi, saya Sheila Maharani. Karyawan baru yang dijadwalkan bertemu dengan bagian HRD hari ini," ucapnya lembut.
Resepsionis itu tersenyum ramah. "Selamat pagi, Mbak Sheila. Anda sudah ditunggu. Namun, ada perubahan jadwal. Anda diminta langsung menuju lantai 25 untuk menghadap CEO."
Sheila sedikit terperanjat. "Langsung ke CEO, Mbak?"
"Benar, Mbak. Mari saya antar ke lift khusus."
Selama perjalanan di dalam lift yang bergerak cepat ke atas, Sheila meremas tali tasnya. Mengapa seorang CEO ingin bertemu langsung dengan karyawan baru di level staf seperti dirinya? Apakah ini prosedur standar di perusahaan sebesar ini? Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, namun ia berusaha tetap berpikir positif.
Pintu lift berdenting terbuka, memperlihatkan lorong sunyi dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu kayu jati besar dengan papan nama kuningan yang belum sempat ia baca dengan teliti karena rasa gugup yang mendera.
Sekretaris di depan ruangan itu mengangguk sopan. "Silakan masuk, Mbak Sheila. Bapak sudah menunggu di dalam."
Sheila mengetuk pintu itu tiga kali dengan pelan. Setelah mendengar gumaman suara dari dalam yang menyuruhnya masuk, ia memutar knop pintu dengan perlahan. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang kuat langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
Seorang pria tampak duduk membelakanginya di kursi kebesaran, menghadap ke arah jendela.
"Permisi Pak, saya Sheila Maharani..." suara Sheila terdengar lembut namun jelas. "Saya karyawan baru yang diminta menghadap Bapak hari ini."
Pria itu terdiam sejenak. Perlahan, kursi putar itu berputar 180 derajat.
"Sudah kuduga itu suaramu, Sheila."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sheila. Matanya membulat sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan. Pria yang duduk di depannya—mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas di tubuhnya yang tegap—bukanlah orang asing.
"Kamu?!" pekik Sheila tertahan, namun ia segera menutup mulutnya karena teringat ia sedang berada di kantor.
Pria itu menyeringai. Sebuah seringai tipis, tengil, dan penuh percaya diri yang sangat Sheila kenal. Seringai yang selalu menghantui hari-harinya saat di kampus dulu.
"Lama tidak bertemu, Adik Kelas," ucap pria itu sambil menopang dagu dengan tangannya.
Jeremy Nasution.
Bagi Sheila, nama itu adalah sinonim dari kata "pengganggu". Jeremy adalah kakak tingkatnya di universitas, sosok yang populer karena ketampanannya sekaligus dibenci karena kepercayaan dirinya yang kelewat batas. Jeremy adalah orang yang pernah mengejarnya tanpa henti, mengirimkan ratusan pesan tak bermutu, dan selalu muncul di mana pun Sheila berada seolah-olah dia memiliki radar pelacak.
"Pak Jeremy?" Sheila mencoba mengatur suaranya yang gemetar. "Bapak... CEO di sini?"
Jeremy berdiri, berjalan perlahan mengitari meja kerjanya yang luas. Setiap langkah kakinya di atas lantai kayu seolah menekan mental Sheila. Ia berhenti tepat di depan Sheila, membuat gadis itu harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh.
"Kenapa? Kamu kaget?" Jeremy mendekatkan wajahnya, membuat Sheila refleks mundur selangkah. "Dunia ini sempit sekali, ya? Setelah kamu menghilang begitu saja setelah wisuda, tiba-tiba kamu mengantarkan dirimu sendiri ke kandang macan."
"Aku... aku tidak tahu kalau ini perusahaan keluarga Bapak," jawab Sheila jujur. Suaranya tetap lembut, namun ada ketegasan di sana.
Jeremy terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat menyebalkan di telinga Sheila. "Berhenti memanggilku 'Bapak' saat kita hanya berdua, Sheila. Kamu tahu itu terdengar sangat aneh, apalagi dari mulutmu."
"Tapi ini di kantor, Pak. Dan aku bekerja di sini secara profesional," tegas Sheila.
"Profesional?" Jeremy berjalan memutari tubuh Sheila, menelitinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kita lihat seberapa profesional kamu saat harus berhadapan denganku setiap hari. Oh, dan satu lagi..."
Jeremy berhenti tepat di samping telinga Sheila, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Sheila meremang.
"Selamat datang di duniaku, Sheila. Kali ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa lari lagi seperti dulu."
Sheila mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia tahu, hari-hari tenang yang ia impikan di kantor ini baru saja musnah dalam hitungan detik. Di depannya berdiri seorang pria masa lalu yang sombongnya belum berkurang sedikit pun, dan pria itu kini adalah pemegang kendali atas nasib pekerjaannya.
"Ada yang ingin Bapak sampaikan lagi mengenai tugas aku?" tanya Sheila, mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke urusan pekerjaan.
Jeremy kembali ke kursinya, bersandar dengan santai sambil menatap Sheila dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kerinduan yang tersembunyi dan ambisi untuk memiliki.
"Tugasmu hari ini hanya satu," ucap Jeremy sambil melirik jam tangannya. "Ikut aku makan siang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang kabarmu selama tiga tahun ini."
"Maaf Pak, aku sudah ada janji lain," jawab Sheila cepat. Ia membayangkan wajah Malik. Ia tidak mungkin mengkhianati kepercayaan Malik dengan pergi bersama pria seperti Jeremy.
Mata Jeremy menyipit. "Ini perintah atasan, Sheila. Bukan ajakan teman. Kamu mengerti?"
Sheila terdiam. Di hari pertamanya bekerja, ia sudah dihadapkan pada pilihan sulit: menuruti perintah bos yang menyebalkan atau menjaga jarak dengan masa lalu yang mengancam ketenangannya.
***
Sheila menutup pintu ruangan Jeremy dengan kecepatan yang hampir membuat pintu itu terbanting. Napasnya naik turun, pipinya merona bukan karena malu, tapi karena dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Tengil! Masih saja tengil! Benar-benar tidak berubah!" gerutu Sheila pelan sambil berjalan setengah berlari menuju deretan meja karyawan.
Ia menemukan meja dengan papan nama 'Sheila Maharani' yang terletak persis di samping Nilam. Nilam, yang sedang asyik menyesap kopi susunya, hampir tersedak saat melihat sahabatnya datang dengan wajah seperti habis melihat hantu sekaligus ingin menelan hantu tersebut.
"Eh, Shei? Baru keluar dari 'singgasana' ya? Gimana? CEO-nya ganteng, kan? Kayak aktor drakor yang baru pulang dari wajib militer?" tanya Nilam tanpa dosa, alisnya naik turun menggoda.
Sheila duduk di kursinya dengan gerakan kaku, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Nilam. "Nilam, aku mau tanya sama kamu..."
"Tanya apa? Soal asuransi kantor? Atau soal mas-mas kurir yang sering lewat sini?"
"Kamu... tahu kalau CEO perusahaan ini Jeremy Nasution?" tanya Sheila dengan penekanan di setiap kata. "Kenapa nggak bilang aku, Nilam? Kamu tahu kan dia dulu kayak gimana di kampus? Kamu saksinya saat dia nempelin stiker 'Milik Jeremy' di tasku pas ospek!"
Nilam mematung, lalu perlahan menaruh kopinya. Ia meringis lebar sampai deretan giginya terlihat. "Hehehe... ketahuan ya? Aduh Shei, kalau aku bilang bosnya itu si Jeremy 'Si Tukang Kejar', kamu pasti nggak bakal mau lamar di sini. Padahal kan gajinya oke banget, tunjangannya melimpah!"
"Tapi ini Jeremy, Nilam! Cowok yang pernah nembak aku pakai pengeras suara di kantin fakultas!" Sheila menutup wajahnya dengan kedua tangan, teringat kejadian traumatis itu. "Aku nggak mau hubungan aku sama Malik hancur gara-gara dia. Kamu tahu kan Jeremy itu orangnya nggak punya rem kalau mau sesuatu?"
"Tenang, Shei. Itu kan dulu. Sekarang dia sudah jadi CEO, pasti lebih... ya, paling tidak lebih berwibawa dikit lah. Lagipula kamu sudah punya Malik. Malik kan sabar banget, nggak kayak si Jeremy yang kayak petasan banting itu," hibur Nilam sambil menepuk-nepuk bahu Sheila.
Sheila hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mencoba fokus pada tumpukan berkas panduan karyawan di depannya, namun bayangan seringai Jeremy terus berputar-putar di kepalanya.
Misi Penyelamatan Perut (dan Mental)
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Bel istirahat seolah menjadi lonceng penyelamat bagi Sheila. Ia langsung membereskan mejanya dengan gerakan kilat.
"Shei, mau bareng ke kafetaria?" ajak Nilam.
"Nggak, Nilam. Aku mau langsung ke kantin karyawan yang di lantai bawah saja. Biar cepat," jawab Sheila. Sebenarnya, itu adalah strategi gerilya. Ia yakin Jeremy pasti akan mencarinya di kafetaria eksekutif atau restoran mahal di sekitar kantor. Kantin karyawan yang riuh dan penuh sesak adalah tempat persembunyian paling sempurna.
Sheila berjalan cepat menuju lift, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan tidak ada sosok tinggi tegap dengan jas abu-abu yang mengikutinya. Begitu sampai di kantin, ia segera memesan seporsi siomay dan mencari pojokan yang paling tersembunyi, tepat di balik pilar besar.
"Setidaknya aman untuk hari ini," gumamnya lega.
Sambil menyuap siomaynya yang masih panas, Sheila mengeluarkan ponselnya. Ia butuh asupan ketenangan, dan satu-satunya sumber ketenangan itu adalah Malik. Ia menekan tombol panggil.
"Halo, Malik?" suara Sheila mendadak berubah menjadi sangat lembut, khas dirinya yang kalem.
"Halo, Sayang. Gimana hari pertamanya? Lancar kan? Bos kamu baik?" suara Malik di seberang sana terdengar sangat menenangkan, kontras dengan suara berat Jeremy yang penuh intimidasi tadi pagi.
Sheila terdiam sejenak. Bos aku? Dia bukan cuma nggak baik, Malik, dia itu bencana! batinnya. Tapi tentu saja ia tidak ingin membuat Malik khawatir.
"Iya, lancar kok. Pekerjaannya sepertinya menantang," jawab Sheila diplomatis. "Tadi aku sudah bertemu bosnya. Dia... orangnya sangat percaya diri."
"Baguslah kalau lancar. Aku sudah di jalan mau jemput kamu nanti sore. Kita makan malam di tempat favorit kamu, ya?"
"Iya, aku tunggu ya. Aku kangen..." Sheila tersenyum kecil. Percakapan singkat itu cukup untuk membangun kembali benteng mentalnya yang sempat runtuh.
Namun, baru saja ia hendak menutup telepon, sebuah bayangan besar jatuh menutupi meja makannya. Aroma kayu cendana yang familiar itu kembali menusuk hidungnya.
"Ternyata seleramu masih sama ya, Sheila. Suka pojokan dan suka siomay yang bumbunya kebanyakan kacang."
Sheila tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sambil mendongak. Di sana, Jeremy Nasution berdiri dengan tangan di saku celana, mengabaikan tatapan memuja dari puluhan karyawan wanita di kantin itu yang heran melihat sang CEO berada di area 'rakyat jelata'.
"Pak Jeremy? Kenapa... Bapak ada di sini?" tanya Sheila gagap, tangannya masih memegang ponsel yang sambungannya belum terputus.
Jeremy melirik ke arah ponsel Sheila, lalu kembali menatap mata gadis itu. "Aku kan sudah bilang, kita makan siang bareng. Karena kamu nggak datang ke ruangan, ya aku yang datang ke sini."
Tanpa izin, Jeremy menarik kursi di depan Sheila dan duduk dengan santai, mengabaikan debu atau ketidaknyamanan kantin karyawan.
"Siapa itu di telepon? Pacarmu yang namanya Malik itu?" tanya Jeremy dengan nada yang terdengar seperti meremehkan, namun ada kilat penasaran di matanya.
Sheila buru-buru mematikan sambungan teleponnya. "Bukan urusan Bapak."
"Tentu saja urusanku. Aku kan bosmu, aku harus tahu apakah karyawanku bekerja dengan fokus atau malah galau karena urusan asmara," Jeremy meraih garpu plastik milik Sheila yang belum terpakai, lalu menusuk satu butir siomay dari piring Sheila dan memakannya tanpa rasa bersalah.
"Eh! Itu punya aku!" protes Sheila, wajah kalemnya mulai menghilang digantikan ekspresi kesal yang menggemaskan bagi Jeremy.
Jeremy mengunyahnya dengan santai. "Enak. Tapi lebih enak kalau kamu yang menyuapinya."
Sheila merasa ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Ia sadar, strategi persembunyiannya gagal total. Jeremy bukan hanya memiliki radar, tapi dia adalah radar itu sendiri.
"Pak Jeremy, tolonglah. Jangan buat aku malu di depan rekan kerja yang lain," bisik Sheila memohon.
Jeremy mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Sheila dalam-dalam. "Aku tidak akan membuatmu malu, Sheila. Aku hanya ingin memastikan satu hal. Selama aku masih jadi bosmu, jangan harap kamu bisa mengabaikan aku seperti yang kamu lakukan di kampus dulu. Paham?"
Sheila hanya bisa menelan ludah. Hari pertamanya bekerja benar-benar berubah menjadi arena komedi romantis yang berisiko tinggi bagi kesehatan jantungnya.