NovelToon NovelToon
Papa Untuk Si Kembar

Papa Untuk Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Wanita Karir / Menikah Karena Anak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"

Luna hidup sebagai single mom dengan dua anak kembar yaitu El dan Lily. Gala, kekasihnya meninggalkannya ketika Luna sedang mengandung anak mereka.

Setelah 7 tahun berselang, Gala kembali ke hidupnya. Tapi hidup Luna sudah berubah. Ada Alif di sisinya.

Luna belum siap untuk membuka hati. Tapi Lily selalu menanyakan hal yang sama kenapa dia tidak punya Papa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Kerja Sama

Lampu kristal menggantung rapi di langit-langit ballroom. Suasana formal tapi tidak kaku. Beberapa meja bundar tertata rapi, masing-masing dengan name tag perusahaan. Di layar besar, grafik pertumbuhan industri masih terpampang.

Forum bisnis tahunan itu memang selalu menjadi titik temu orang-orang dari berbagai sektor, seperti investor, pemilik perusahaan, dan eksekutif.

Gala berdiri sedikit menjauh dari kerumunan. Jas hitamnya rapi, kancing terpasang sempurna. Posturnya tegak, wajahnya datar.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari asistennya, melaporkan tindak lanjut rapat tadi pagi. Gala membaca sekilas, lalu mengunci layar.

Saat itulah matanya menangkap satu sosok di  ballroom itu.

Perempuan berdiri sedikit belakang di samping seorang pria paruh baya berambut perak. Tablet di tangannya terbuka. Tangannya cekatan mencatat, sesekali berbisik singkat ke pria itu.

Luna.

Gala tidak bergerak selama satu detik penuh.

Lalu dia menarik napas pelan, dan tanpa sadar melangkah setengah mundur. Tangannya mengepal samar di kedua sisi tubuh.

Tubuhnya sedikit berbalik, pandangannya dialihkan ke tempat lain.

“Pak Gala.”

Suara berat itu datang dari samping.

Gala menoleh.

Pria berambut perak itu kini sudah berada beberapa langkah di depannya. Wajah yang tidak asing. Mereka pernah duduk berseberangan di meja presentasi beberapa tahun lalu.

Gala mengulas senyum tipis. “Halo, Pak Raka. Apa kabar?”

Pak Raka tersenyum lebar. “Baik. Tidak menyangka bisa bertemu lagi di sini. Forum seperti ini memang selalu mempertemukan orang-orang lama.”

Gala mengangguk singkat. “Bagaimana perkembangan perusahaan Bapak?”

“Stabil. Kami masih memperkuat lini utama. Tahun ini fokus kami menjaga arus kas dan efisiensi.”

“Langkah yang aman,” kata Gala singkat.

Raka menoleh ke belakang seolah baru ingat sesuatu. “Oh iya, perkenalkan. Ini financial manager perusahaan saya." 

Gala sudah tahu siapa yang berdiri di sana.

Tapi saat Pak Raka memberi ruang dan perempuan itu melangkah setengah ke depan, napas Gala tetap tersangkut di dadanya.

“Luna, ini Pak Gala Sebastian Mahendra, CEO Mahendra Global.”

Luna mengangkat wajahnya. Wajah itu tampak tenang, ekspresi profesional yang sudah diasah bertahun-tahun. Tidak ada ekspresi berlebihan, hanya sepasang mata yang berhenti satu detik lebih lama dari yang seharusnya.

Luna mengulurkan tangannya. “Selamat malam, Pak Gala. Senang bisa bertemu dengan Anda." 

Suara Luna datar dan tenang. Seakan mereka baru benar-benar pertama kali bertemu.

Gala menatap tangan itu. Tangan yang dulu selalu Gala genggam kemanapun dia pergi. Tangan yang selalu menyentuh wajahnya ketika Gala gelisah. 

Gala menyambutnya. Jabatan singkat yang formal.

“Selamat malam, Bu Luna. Senang bertemu dengan Anda." 

Suara Gala terdengar tenang dan terkendali. 

Pak Raka tampak puas melihat interaksi itu. “Bu Luna yang menyusun seluruh proyeksi keuangan dan risk assessment untuk penawaran pendanaan ini. Sangat detail dan disiplin, padahal usianya relatif muda.”

Pandangannya beralih cepat ke layar tablet di tangan Luna. Angka-angka, grafik arus kas, catatan kecil di pinggir layar. Semuanya rapi, sama seperti Luna yang Gala kenal sejak 9 tahun yang lalu.

Gala tersenyum tipis. “Terlihat dari caranya bekerja." 

Pembicaraan berlanjut tentang tren pendanaan, mitigasi risiko global, dan strategi pertumbuhan. Gala lebih banyak mengobrol dengan Raka. Sementara Luna hanya berbicara seperlunya. Profesional. Dia sesekali menimpali ucapan Raka, menyempurnakan data yang disebutkannya.

Lalu, di tengah jeda obrolan, seorang investor lain bergabung. Percakapan melebar.

“Pak Raka kelihatannya sibuk sekali belakangan ini. Saya dengar sering bolak-balik luar negeri?” tanya investor itu.

Raka tersenyum. “Iya. Selain urusan ekspansi, anak-anak saya juga masih kecil. Jadi masih butuh ayahnya.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan seperti sedang bercanda, tapi entah kenapa rasanya berat di dada Gala.

Luna sendiri tetap diam. Tidak bereaksi apapun.

“Benar, Pak. Anak-anak saya juga seperti itu. Istri saya selalu dibuat repot dengan tingkahnya." 

Investor itu tertawa kecil. Pak Raka ikut tersenyum, mengangguk paham.

“Begitulah. Capek, tapi rasanya sepadan,” jawab Raka.

Gala mengangguk sekali. Sekadar sopan. Tidak menimpali. 

Lalu, tatapannya berpindah pada Luna. Dia tetap tenang, mendengarkan obrolan itu dengan senyum kecil di bibirnya.

Dada Gala tiba-tiba mengencang tanpa izin. Kedua tangannya tanpa sadar terkepal.

Investor itu melirik Gala, lalu tersenyum ringan. “Kalau Pak Gala sendiri bagaimana? Sepertinya masih fokus ke karier, ya?”

Nada suaranya santai. Pertanyaan basa-basi yang sering Gala dengar.

Karena pertanyaan itu diajukan pada Gala, Luna ikut menoleh ke arahnya. Gala buru-buru mengalihkan pandangan sebelum manik mata mereka sempat bertemu.

Gala menegakkan bahu. “Iya, masih banyak pekerjaan yang harus saya urus." 

“Belum terpikir berkeluarga?” lanjut investor itu, masih dengan nada bercanda.

Pak Raka ikut tertawa kecil. “Sayang sekali, padahal Pak Gala ini termasuk yang paling diburu. Ibu-ibu di asosiasi sering tanya ke saya.”

Gala tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Belum menjadi prioritas.”

“Memang tidak semua orang menempatkan keluarga di urutan yang sama,” ucap investor itu.

Nada suaranya datar dan netral. Sama sekali tidak menghakimi siapapun tapi berhasil membuat rahang Gala mengeras.

“Setiap orang berhak memilih hidupnya sendiri,” balas Gala cepat. 

Gala menatap investor itu, tepat di matanya. “Saya menikmati hidup saya sekarang." 

Kalimat itu menggantung satu detik terlalu lama.

Investor itu mengangguk pelan. Senyumnya sedikit kaku. “Tentu, tentu.” 

Pak Raka berdehem kecil. “Bicara soal pilihan, saya cukup tertarik dengan skema pendanaan dari Mahendra Global.”

Gala mengalihkan pandangan. Otot di rahangnya perlahan mengendur. “Kami biasanya masuk lebih cepat dan lebih besar di awal, lalu menambah eksposur seiring pencapaian target,” jawab Gala dengan suara yang kembali stabil.

Obrolan itu kembali mengalir tentang struktur pendanaan dan kerja sama strategis. Tapi, sorot mata Gala tidak sama seperti semula. Sesekali tatapan matanya kosong.

Iya, setiap orang berhak memilih hidupnya sendiri, bisik Gala dalam hati.

...***...

Lampu ruang kerjanya menyala terang. Gala duduk di kursi. Jasnya sudah dilepas, hanya tersisa kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibuka. Tablet menyala di tangan.

Gala membuka satu file baru. Preliminary Due Diligence Report.

Setelah percakapan di forum bisnis satu bulan yang lalu, perusahaan Gala dan Raka akhirnya sepakat untuk bekerja sama. Perusahaan Gala akan menjadi investor di perusahaan Raka.

Gala menggeser layar dengan ibu jari. Halaman demi halaman terbuka. Struktur kepemilikan, arus kas, proyeksi pendapatan, risiko operasional. Semuanya standar, rapi, dan profesional.

Sampai matanya berhenti.

Key Management Profile.

Setelah beberapa profil eksekutif perusahaan, satu nama muncul di layar.

Aluna Prameswari.

Jabatannya tertulis jelas. Chief Financial Manager.

Gala menahan napas sejenak.

Dia melanjutkan membaca. Riwayat pendidikan, pengalaman kerja. Semuanya standar.

Gala menggeser lagi.

Personal Data (for Compliance & Risk Assessment)

Kolom-kolom administratif yang biasa disertakan untuk kepatuhan hukum dan asuransi internal perusahaan.

Status pernikahan : Belum menikah

Tanggungan : 2

Jarinya berhenti. Gala menarik napas pelan.

Dia menekan detail lampiran. Halaman tambahan terbuka.

Nama dua anak tercantum di sana. El dan Lily.

Matanya bergerak perlahan ke satu baris di bawahnya.

Nama ibu: Aluna Prameswari 

Nama ayah: 

Kosong.

Dada Gala sesak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Gala menatap layar itu lama.

Sunyi di ruangan itu semakin terasa.

Gala mematikan layar tablet itu, lalu meletakkannya di atas meja. 

Tiba-tiba, napasnya memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Tatapannya kosong.

Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, rahang Gala mengeras. Sorot matanya berubah tajam. 

“Apapun itu, aku tidak peduli. Itu bukan urusanku." 

...----------------...

1
Rena Patris
Saya tim Gala-Luna.Krn kalo pun Luna sama Alif percuma...blm apa2 keluarga Alif pasti ga terima kalo Alif menikah sama perempuan yg punya anak 2.El dan Lily pasti tidak nyaman
La Rue
El anak yg dewasa sebelum waktunya bisa memahami suasana hati Mamanya . Entahlah siapa akhirnya yg menjadi Papa mereka, semoga semua berakhir baik 😊
Rena Patris
Bagus banget ceritanya..tpi ga sabar nunggu tiap kamis dan minggu👍
Rena Patris
Senang baca ceritanya.Tpi jgn 2x seminggu munculnya.Tiap hri donk
La Rue
Semangat
awesome moment
koqntetoba jd pengin mun2 y baca gaya Zara. mmg hrs bgitu? ngerangsek bgts. hrus? g bisa gitu elegant. memahami.
awesome moment: ato mo disatuin lg sm Gala. yg sdh main tinggalin mrk gitu j? buang alif saat udh g butuh.
total 1 replies
awesome moment
smg judulnya g bikin alif yg sdh berkorban buanyak...jd terpinggirkan.
R⁷
semoga lily lekas pulih sehat kembali
R⁷
masih ga mau ngakuin mereka gal? 🤔
R⁷
sa ae oom Alif ngedongeng nya
R⁷
telaaaattt galaaaa
R⁷
waaahh blm apa2 sudah di hina
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!