NovelToon NovelToon
Skenario Semesta Di Jari Manis

Skenario Semesta Di Jari Manis

Status: tamat
Genre:Slice of Life / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
​Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
​Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Langit Bali dan Kancing Kemeja yang Terbuka

​Dua hari setelah "Perang Twitter" dan drama rumah sakit, suasana di penthouse terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih cair. Dhandy tidak lagi mengunci pintu kamarnya saat ganti baju (walau Naya tetap sopan mengetuk), dan Naya tidak lagi ragu meminta Dhandy membukakan tutup toples selai yang keras.

​Pagi itu, Dhandy sedang mengecek jadwal di iPad-nya sambil sarapan.

​"Naya," panggilnya.

​"Ya, Mas?" Naya sedang sibuk mengoles selai cokelat ke roti bakarnya.

​"Kosongkan jadwal kamu mulai besok sampai lusa."

​Naya berhenti mengunyah. "Kenapa? Kita mau disidang keluarga soal gosip Raka kemarin?"

​"Bukan. Saya harus inspeksi properti resort kita di Seminyak, Bali. Ada beberapa renovasi vila yang harus saya setujui langsung," Dhandy menyesap kopinya. "Dan kali ini, saya tidak mau meninggalkan kamu sendirian di Jakarta. Terlalu berisiko. Kamu bisa bikin onar lagi di Twitter."

​Mata Naya berbinar. "Maksudnya... Mas ngajak saya ke Bali? Business trip?"

​"Anggap saja begitu. Kamu bisa bawa iPad kamu, melukis pemandangan di sana. Hitung-hitung cari inspirasi."

​"AAA! MAU!" Naya bersorak. "Kita naik apa? Pesawat komersil? Atau Mas punya jet pribadi kayak di film-film?"

​"Pesawat komersil. Jet pribadi itu boros bahan bakar dan jejak karbonnya tinggi. Tidak efisien untuk perjalanan domestik jarak pendek," jawab Dhandy logis. "Saya sudah pesankan tiket kelas bisnis. Packing sekarang. Kita berangkat besok pagi."

​Keesokan harinya. Ngurah Rai International Airport, Bali.

​Udara Bali yang hangat dan lembap menyambut mereka begitu keluar dari bandara. Naya mengenakan summer dress bermotif bunga kuning cerah dan topi lebar, sementara Dhandy... yah, tetap Dhandy. Dia memakai kemeja linen putih (sedikit lebih santai dari biasanya) dan celana chino krem, plus kacamata hitam aviator yang membuatnya terlihat seperti aktor Hollywood yang sedang menyamar.

​"Mas, jangan jalan cepet-cepet dong! Ini liburan!" protes Naya yang kesulitan menyeimbangi langkah panjang Dhandy.

​"Ini kerja, Naya. Sopir penjemput sudah menunggu."

​Mereka diantar menuju sebuah private villa milik Abimanyu Group di kawasan Seminyak yang tenang. Vila itu tersembunyi di balik tembok tinggi yang ditutupi tanaman rambat.

​Begitu gerbang kayu besar dibuka, Naya ternganga.

​Vila itu sangat indah. Arsitektur tropis modern dengan atap jerami, kolam renang pribadi (private pool) yang airnya biru jernih, dan taman yang rimbun. Di ujung kolam, ada bale-bale (gazebo) dengan bantal-bantal empuk.

​"Gila... ini sih surga," gumam Naya.

​"Ini Vila Sadewa. Unit paling exclusive di kompleks ini. Biasa disewa artis internasional kalau liburan," jelas Dhandy sambil memberikan koper mereka ke staf vila. "Kita menginap di sini dua malam."

​Mereka masuk ke kamar utama.

​Tentu saja, hanya ada satu tempat tidur. Sebuah ranjang King Size dengan kelambu putih transparan yang menjuntai romantis. Di atas kasur, staf vila (yang sepertinya terlalu bersemangat menyambut bos besar dan istrinya) telah menaburkan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati. Dan sepasang angsa dari handuk yang saling berciuman.

​Naya dan Dhandy berdiri memandangi kasur itu.

​"Ehem," Dhandy berdeham kaku. "Sepertinya manajer vila salah paham soal tujuan kunjungan kita."

​Naya menahan tawa. "Salah paham gimana, Mas? Kan kita emang suami istri. Wajar dong dikasih honeymoon setup."

​"Ini berlebihan. Angsa handuk itu... norak," komentar Dhandy, lalu berjalan mendekat dan memindahkan angsa-angsa itu ke sofa dengan gerakan cepat, seolah angsa itu membawa virus.

​"Ih, kasian angsanya dipisahin!"

​"Sudah. Kamu istirahat atau mau berenang. Saya harus meeting dengan manajer operasional di lobi depan sebentar," Dhandy mengambil iPad-nya lagi. "Jangan keluyuran keluar vila sendirian."

​"Siap, Bos. Saya mau nyebur!"

​Sore harinya.

​Dhandy kembali ke vila dengan wajah lelah. Rapat berjalan alot karena ada masalah suplai air bersih. Dia melonggarkan kemejanya, membuka dua kancing teratas, dan menggulung lengan kemejanya sampai siku.

​Dia berjalan menuju area kolam renang, berniat duduk santai sejenak.

​Pemandangan di depannya membuatnya berhenti melangkah.

​Langit Bali sedang memamerkan warna terbaiknya: gradasi ungu, oranye, dan merah muda. Di tengah kolam renang, Naya sedang mengapung santai di atas floaties berbentuk donat raksasa berwarna pink.

​Naya mengenakan baju renang one-piece berwarna hitam yang simpel namun mengekspos punggung dan kakinya yang jenjang. Rambutnya basah, disisir ke belakang. Dia memejamkan mata, menikmati semilir angin sore.

​Dhandy menelan ludah. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

​Dia sudah melihat banyak wanita berbikini di Bali. Itu pemandangan biasa. Tapi melihat Naya... istrinya sendiri... terlihat begitu rileks dan cantik secara natural, memberikan efek yang berbeda. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari ritme normal.

​Naya membuka matanya dan melihat Dhandy berdiri mematung di pinggir kolam.

​"Mas Dhandy! Udah balik?" seru Naya ceria, melambaikan tangan. "Sini nyebur! Airnya enak banget, anget!"

​Dhandy berdeham, menetralkan ekspresinya. Dia berjalan mendekat, duduk di kursi jemur (sun lounger) di tepi kolam.

​"Saya tidak bawa celana renang," alasan klasik.

​"Alesan! Mas pasti nggak mau rambutnya basah kan? Takut pomade-nya luntur?" ledek Naya. Dia mendayung donat pelampungnya mendekat ke tepi tempat Dhandy duduk.

​Dhandy menatap Naya dari atas. Air menetes dari rambut Naya ke bahunya.

​"Bagaimana meeting-nya? Masalah beres?" tanya Naya, menumpukan dagunya di pinggir kolam, menatap Dhandy dengan mata bulatnya.

​"Lumayan. Solusi teknis sudah ditemukan," jawab Dhandy singkat.

​"Mas keliatan capek. Tegang banget mukanya," Naya mengulurkan tangan yang basah, dan dengan berani menyentuh kaki Dhandy yang terbalut celana chino. Dia memercikkan sedikit air ke kaki suaminya.

​"Naya, basah," tegur Dhandy, tapi dia tidak menarik kakinya.

​"Mas tuh butuh relaksasi. Di sini tuh Bali, Mas. Energi magisnya kuat. Mas harus belajar let go," Naya tersenyum jahil. "Atau perlu saya tarik biar nyebur sekalian?"

​"Jangan coba-coba," Dhandy memberi peringatan, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. "Hape saya di saku. Harganya mahal."

​Naya tertawa. "Yaudah, kalau nggak mau nyebur, minimal senyum dong. Liat tuh sunset-nya bagus banget."

​Mereka berdua menoleh ke arah barat. Matahari perlahan tenggelam, menyisakan siluet pohon kelapa yang dramatis.

​Hening sejenak. Suara gemericik air dan desau angin menjadi musik latar.

​"Naya," panggil Dhandy pelan, matanya masih menatap langit.

​"Hm?"

​"Terima kasih sudah ikut."

​Naya menoleh, menatap profil samping wajah Dhandy yang diterpa cahaya oranye. Rahang tegas itu terlihat lebih lunak sekarang.

​"Mas takut kesepian ya kalau sendirian?" goda Naya.

​Dhandy menoleh, menatap Naya tepat di mata.

​"Mungkin," jawabnya jujur. "Hotel mewah terasa sangat sepi kalau saya sendirian. Anehnya, sejak kamu ada di apartemen... saya jadi tidak terbiasa dengan kesunyian."

​Pipi Naya memanas. Itu kalimat paling romantis yang pernah diucapkan robot ini.

​"Mas..." Naya gugup. "Mas jangan ngomong gitu, nanti saya baper beneran lho. Inget kontrak."

​"Kontrak itu buatan manusia. Bisa diamandemen," kata Dhandy santai. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Naya. "Mendekat sini."

​"Mau ngapain?" Naya waspada, tapi tubuhnya menurut, berenang mendekat ke bibir kolam.

​Dhandy mengulurkan tangan, menyentuh pipi Naya yang basah. Ibu jarinya mengusap lembut kulit wajah istrinya.

​"Kamu ada sisa sunblock di hidung. Belum rata," kata Dhandy pelan.

​Naya menahan napas. Kirain mau dicium, ternyata sunblock.

​Tapi Dhandy tidak menarik tangannya setelah mengusap hidung Naya. Tangannya beralih menyelipkan anak rambut Naya ke belakang telinga.

​"Cantik," bisik Dhandy.

​Naya membelalak. "Apanya? Sunset-nya?"

​"Bukan. Istrinya."

​BYARRR!

​Hati Naya rasanya meledak seperti kembang api tahun baru. Dia begitu kaget dan salah tingkah sampai-sampai dia kehilangan keseimbangan di dalam air, terpeleset dari pijakan kolam, dan gejebur masuk ke dalam air.

​Dhandy tertawa. Benar-benar tertawa lepas melihat Naya yang panik dan megap-megap muncul ke permukaan sambil batuk-batuk.

​"Uhuk! Mas Dhandy curang! Serangan fajar!" protes Naya sambil mengusap wajahnya.

​Dhandy masih tersenyum lebar—pemandangan yang sangat langka dan sangat menawan. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Naya.

​"Sini, naik. Sudah mau gelap. Masuk angin nanti."

​Naya meraih tangan Dhandy. Dengan satu tarikan kuat, Dhandy mengangkat tubuh Naya keluar dari kolam.

​Namun, lantai pinggir kolam itu licin.

​Naya tergelincir saat mendarat. Dia menabrak tubuh Dhandy.

​Refleks Dhandy bekerja. Dia menangkap pinggang Naya agar tidak jatuh kembali ke kolam. Akibatnya, tubuh basah Naya menempel sempurna pada kemeja linen putih Dhandy.

​Kemeja itu langsung basah, menjiplak dada bidang Dhandy di baliknya.

​Posisi mereka sangat intim. Tangan Dhandy melingkar kuat di pinggang Naya. Tangan Naya memegang bahu Dhandy. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Air menetes dari rambut Naya ke wajah Dhandy.

​Napas mereka berdua tertahan.

​Mata Dhandy menggelap. Tatapannya turun ke bibir Naya yang sedikit terbuka, lalu kembali ke matanya.

​"Mas..." bisik Naya, suaranya gemetar. "Baju Mas basah..."

​"Biarin," jawab Dhandy serak.

​Jantung Naya berdegup kencang sekali. Dia bisa merasakan detak jantung Dhandy yang juga memburu di balik kemeja basah itu.

​Dhandy memajukan wajahnya perlahan. Kali ini tidak ada keraguan. Tidak ada alasan membersihkan remah kue atau sisa sunblock.

​Hidung mereka bersentuhan.

​Naya memejamkan mata, pasrah. Dia menginginkan ini.

​Bibir Dhandy menyentuh bibir Naya. Lembut. Hangat. Sedikit ragu di awal, seolah meminta izin.

​Naya membalasnya.

​Dan detik berikutnya, Dhandy memperdalam ciuman itu. Tangannya di pinggang Naya mengerat, menarik tubuh mungil itu semakin menempel padanya. Ciuman itu bukan ciuman nafsu yang terburu-buru, tapi ciuman yang penuh perasaan, menumpahkan semua rasa frustrasi, kerinduan, dan afeksi yang selama ini tertahan oleh gengsi dan kontrak konyol.

​Langit Bali menjadi saksi. Di tepi kolam renang itu, dua orang yang awalnya menikah karena terpaksa, akhirnya menyerah pada skenario semesta.

​Dhandy melepaskan ciuman itu perlahan, napasnya terengah. Dia menempelkan keningnya ke kening Naya.

​"Saya rasa..." bisik Dhandy dengan mata terpejam. "Pasal Pamungkas sudah resmi batal demi hukum."

​Naya membuka mata, tersenyum dengan pipi merah merona. "Jadi... Mas baper?"

​Dhandy membuka matanya, menatap Naya intens. "Saya jatuh cinta, Naya. Sangat tidak logis, sangat tidak efisien, tapi... ya. Saya jatuh cinta sama kamu."

​Naya tertawa kecil, air mata haru menggenang di matanya. Dia memeluk leher Dhandy erat.

​"Saya juga, Mas. Dari dulu sebenernya. Eh, nggak dari dulu sih. Sejak Mas ngasih cokelat pas lamaran."

​Dhandy tersenyum, mengecup puncak kepala Naya. "Murahan sekali harga cinta kamu, cuma sebatang cokelat."

​"Biarin! Yang penting dapet CEO!"

​Dhandy tertawa lagi. Dia mengangkat tubuh Naya ala bridal style.

​"Eh! Mas mau ngapain?!"

​"Bawa kamu masuk. Di luar dingin. Dan saya butuh ganti baju," kata Dhandy sambil berjalan menuju pintu vila.

​"Cuma ganti baju kan?" tanya Naya polos (tapi berharap lebih).

​Dhandy menatapnya penuh arti. "Kita lihat nanti. Kalau kamu tidak rewel."

​Malam itu di Vila Sadewa, tidak ada guling pembatas. Tidak ada "Tembok Besar Cina". Hanya ada dua manusia yang saling mendekap, membicarakan masa depan yang tidak lagi terasa menakutkan, melainkan penuh harapan.

​Dan mungkin, sedikit rencana tentang bagaimana cara memberitahu Oma Ratih bahwa doanya terkabul lebih cepat dari jadwal.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Alissia
ngakak bacanya nay🤣🤣🤣🤣
destiana
ceritanya bagus banget
destiana
lucu banget sih lu nay🤣🤣🤣🤣
Vera Ellen
👍
Septi Lahat
ceritanya indah,,Terima kasih tuk karya nya kak thor,, sukses terus selanjutnya😍😍😍
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
lumayan seru🙂
Riana Zahrah
suka bgt yang gak bertele-tele gini, semoga hidup mu juga gak bertele-tele ya penulis.
ms. S
ceritanya simpel tapi mengena bgt, suasana mendukung bikin suasana hati yg mengggeltik di tiap adegan. suka karena episode nya sedikit tapi bagus bgt. good job. semoga novel ini byk yg baca setelah ini
Pappan Boquet
intinya w suka ceritanya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!