Yuki, gadis belia yang terjebak dalam masalah hutang piutang keluarga, yang membuat dirinya di paksa harus menikah dengan saudagar kaya di Kampung halamannya. Saudagar yang sudah berumur, dan sudah mempunyai banyak istri.
Tak mau masa depannya berakhir menjadi istri seseorang yang tak dicintainya, terlebih dia punya impian untuk melanjutkan pendidikan, Yuki memutuskan untuk kabur dari rumah. Di sini masalah baru muncul!
Alih-alih ingin bekerja supaya bisa membatu orang tuanya melunasi hutang, tapi dia malah dihadapkan masalah baru, yaitu harus berhadapan dengan seorang BOS BESAR di tempat dia bekerja. Bos yang cuek, dingin, dan benar-benar menyebalkan, menurut Yuki.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yuki akan berhasil lolos dari Sang Saudagar? Atau malah terjebak di dalam lingkaran pesona Bos Besar?
Silahkan dibaca ya temen-temen, semoga kalian suka ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17 MENCOBA
Pagi selanjutnya
Kini Yuki sudah lumayan paham akan tugasnya. Dia harus mencoba menjadi lebih baik. Walau kadang dia merasa takut kejadian waktu itu akan terulang lagi, pada saat dia membangunkan Tuan Mudanya itu.
Yuki masuk ke dalam kamar dengan perasaan deg-degan.
Tuan Elzel masih tidur, Yuki memandangi wajah tampan itu. Tidak bisa dipungkiri dia benar-benar tampan, walau dalam keadaan tidur. Itu yang sedang Yuki pikirkan.
"Pikiran macam apa ini?!"
"Tuan, bangunlah!" Yuki menggoyangkan badan Tuan Elzel pelan. Pemuda itu terbangun.
"em!"
"Maaf Tuan, apa Tuan tidak bisa bangun sendiri, atau memasang alarm gitu, jadi aku tidak perlu membangunkan Tuan setiap pagi, cukup langsung menyiapkan air mandi Tuan saja."
Tuan Elzel mengangkat sebelah alisnya, memandang Yuki.
"Maaf, Tuan..." Yuki jadi serba salah.
"Lalu apa gunanya pegawai ku?" Tanya Tuan Elzel singkat, yang membuat Yuki tidak bisa berkata-kata lagi. Si sultan mah bebas!
"Jangan mengaturku! Kau yang seharusnya diatur!" Lanjutnya,
"Maaf, Tuan."
"Hanya maaf yang bisa kau katakan?"
"Lalu aku harus apa, Tuan?"
Tuan Elzel berdiri, kemudian menjatuhkan Yuki di atas kasur.
Kini tuan Elzel berada tepat di atasnya.
"Tuan... Jangan!" Yuki berusaha memberontak.
Tuan Elzel menatap Yuki, Tatapan yang sulit dijelaskan. Yang jelas ada gairah di sana.
"Tuan! Lepaskan aku!"
.....
.....
"Siapkan air mandi ku!" Ucap Tuan Elzel, kemudian berlalu meninggalkan Yuki menuju balkon kamarnya.
"Ba-baik, Tuan." Yuki yang masih gemetaran, dia segera bergegas.
"Huh! Aku kira dia bakalan..."
__________
Yuki menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi Tuan Elzel , dengan perasaan campur aduk. Sampai saat ini jantungnya masih saja berdetak kencang.
Sementara itu di balkon,
"Kenapa sih?! Setiap kali aku melihatnya jadi tidak tega? Biasanya aku tidak pernah begini. Sial! Perasaan macam apa ini?" Tuan Elzel kesal.
__________
"Tuan...!" Panggil Yuki, "Air hangatnya sudah siap, baju tuan juga sudah saya siapkan. Saya permisi ya, Tuan." Lanjutnya.
"Ya!"
Yuki buru-buru keluar dari kamar itu, setiap kali masuk ke sana ada-ada saja yang terjadi, membuat dirinya bisa jantungan kalau berada di dalam sana bersama Tuan Elzel.
__________
Setelah selesai semuanya, Tuan Elzel turun ke bawah untuk sarapan. Pegawai-pegawainya dengan sigap menyiapkan sarapan untuk majikannya itu, termasuk Yuki. Dia yang bertugas mengambilkan, menuangkan, mengiris, atau meng-apalah, sarapan yang diinginkan Tuan Elzel.
"Aku mau susu!" Perintah Tuan Elzel pada Yuki, sambil memandang ke arah dada sang gadis. Yuki yang menyadarinya langsung memerah wajahnya.
"Su-susu, Tuan?"
Yuki menuangkan susu kedalam gelas dengan tangan yang gemetaran.
"Kau kenapa?" Tanya Tuan Elzel,
"Tidak apa-apa, Tuan,"
"Berikan susunya!"
Yuki mengangkat gelas, tangannya masih saja gemetar. Dia memberikan susu itu kepada Tuan Elzel. Dan....
Byur!
Susu tumpah, tepat mengenai jas majikannya itu.
"Haaaaaaa?!!" Yuki ternganga
Pegawai-pegawai lain yang menyaksikan ikutan ternganga,
"Kaaaa...uuuu!!!" Tuan Elzel terlihat kesal.
"Tuan! Maaf Tuan! Aku ti-tidak sengaja." Yuki berusaha membersihkan jas tuan Elzel, tanpa sadar tangannya menyenggol piring.
PRAAAANGGGG!!!!
Piring pecah berhamburan.
Suasana semakin kacau.
Ingin rasanya saat itu Yuki pingsan saja. Begitu juga Mery, bagaimana pun dia Ketua Asisten di rumah ini, setiap ada pegawai berulah pasti dia juga yang akan ditegur. "Mati aku!"
"Ma....maaf....." Yuki menutup wajahnya dengan tangan.
"Sudahlah!"
"Mery! Siapkan bajuku!"
"Baik, Tuan."
Tuan Elzel kembali ke kamarnya diikuti Mery. Sedangkan Yuki hanya mematung, dia sangat-sangat merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.
Pegawai yang lain meninggalkan Yuki, sambil berbisik-bisik. Sedangkan Sari menenangkan Yuki.
"Jangan bersedih, Tuan pasti memaafkan," Hibur Sari, walau rasanya mustahil. "Ayo kita bereskan pecahan-pecahan ini!" Lanjut Sari. Yuki mengikuti apa yang dikatakan Sari.
"Tuan pasti sangat marah." Benak Yuki
_________
Tuan Elzel turun dari kamar, melewati Yuki dan Sari yang sedang membereskan pecahan beling.
Melihat Tuan Elzel, Yuki berdiri, mengejar tuan Elzel yang bersiap berangkat ke kantor.
"Tuan... Maafkan saya....," Lirih Yuki. Tapi tuan Elzel tidak memperdulikannya.
Tuan Elzel berangkat ke Kantor, diantar Pak Karman supir pribadinya.
__________
ternyata Khanza sahabatmu itu
nyatanya menusukmu dari belakang Yuki🙁
baik diluar tapii ruwet didalam hatinya 🙁
walau tidak dipungkiri semua butuh uang""hehe apa si bahasanya ini😁😁✌️""