NovelToon NovelToon
MENIKAH KARENA HAMIL

MENIKAH KARENA HAMIL

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:393.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irhen Dirga

Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Devan

"Bentar. Aku mau tanya, kamu sebenarnya mau beli apa?" tanya Devan, membuat Nesa menoleh menatap suaminya.

"Mau beli meja sama kursi buat cafe," jawab Nesa.

Devan tertawa terbahak-bahak. "Tadi kan kamu kata mau ke agen properti."

"Ya seperti ini maksudku."

"Ini bukan agen properti, Nesa. Ini adalah kantor Desain interior," kata Devan, membuat Nesa menoleh.

"Iyakah?"

"Kamu belajar dimana sih? Kok agen properti disamain sama kantor interior." Devan menggelengkan kepala. "Kamu mau tema seperti apa?"

"Aku pernah mendengar sebuah filosofi dari coffee shop yaitu sebuah tempat yang berada di tengah-tengah rumah dan kantor."

"Berarti harus senyaman seperti berada di rumah dan di kantor, begitu?"

Nesa menganggukkan kepala.

"Ya sudah. Kita pergi dari sini," kata Devan berjalan meninggalkan istrinya.

"Kita mau kemana? Aku kan mau beli perabot."

"Belinya nanti. Itu gampang, yang harus kamu lakukan adalah menentukan tema cafe milikmu, jadi kita akan ke tempat dimana kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau," kata Devan, membuat Nesa setengah berlari menyusul langkah suaminya yang sudah masuk ke mobil.

"Nes, yang harus kamu lakukan itu, desain interior cafemu, misalkan minimalis atau bla bla."

"Lalu kita mau kemana?"

"Ke rumah seorang kenalan. Semua hal yang kau inginkan itu, bisa kau dapatkan, yang penting kamu memiliki budget yang cukup untuk menyewa orang melakukannya, jika kamu melakukannya sendiri, itu akan percuma, dan proses pun akan sangat lambat." Devan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir tempat mereka tadi.

Nesa menundukkan kepala dan tersenyum mendengar untuk kali pertamanya, Devan menyebut namanya, semoga ini akan membuat hubungannya lebih baik lagi kedepannya.

Di dalam perjalanan, Devan fokus mengemudikan mobilnya, sesekali Nesa menoleh menatap suaminya, dan sesekali tersenyum karena akhirnya ia bisa melihat suaminya bisa mengajaknya berbicara, yang sudah mengantarnya kemana pun.

"Apa sih lihat-lihat?" tanya Devan, sesaat menoleh menatap istrinya.

"Nggak, Kak, aku hanya—"

"Bisa nggak, kamu nggak usah nyebut kakak? Sebut namaku saja," kata Devan membuat Nesa menggelengkan kepala.

"Aku nggak bisa, Kak, aku sudah terbiasa memanggil kamu seperti itu," jawab Nesa, menguncir rambutnya.

"Jangan. Mulai sekarang jangan. Itu saranku, kita jadi terlihat seperti saudara kalau kamu memanggilku seperti itu," kata Devan, membuat Nesa menatap suaminya.

"Aku harus panggil apa donk?"

"Panggil apa saja, asalkan jangan kakak," kata Devan.

"Apa ya, aku nggak mikirin apa-apa."

Sesaat Devan menoleh, dan berkata, "Panggil apa saja."

"Abang gimana?"

"Aku bukan abang ketoprak, Nesa."

Nesa tersenyum ketika mendengar suaminya itu mulai menyebut namanya, ada yang manis namun bukan gula.

"Iya, ya. Oh aku tahu. Panggil mas aja, gimana?" Nesa begitu bersemangat.

"Nah itu lebih baik," seru Devan.

Nesa tersenyum, membuat Devan ikut tersenyum. Nesa merona, membuat Devan menoleh sesaat melihatnya. Devan baru menyadari ternyata istrinya itu manis sekali jika tersenyum.

Sesaat kemudian, Devan memasuki pelataran parkir sebuah kantor.

***

"Ma, kenapa nggak makan sih?" tanya Alwi—adik kandung Devan.

"Mama nggak lapar, Nak," jawab Ningrum.

"Tapi, Mama nggak makan sejak pagi," kata Alwi dengan helaan napas panjang.

"Kamu kenapa nggak ke kantor saja, sih? Kok kamu malah marahin Mama?" Ningrum bersedekap membuat Alwi menghela napas panjang.

"Baiklah. Alwi minta maaf, Ma," kata Alwi, membuat Ningrum menoleh. "Alwi hanya khawatir, Mama sakit. Kan Mama nggak makan seharian."

"Mama kangen sama kakak kamu."

Alwi tersenyum dan menggelengkan kepala. "Lalu kenapa Mama nggak ke sana? Bukannya Mama sering ke sana?"

"Bukannya Mama nggak mau ke sana. Tapi, Mama ingin dia kemari mengajak istrinya."

"Ma, aku kan udah bilang, Devan orang yang sibuk, dia punya perusahaan yang nggak bisa ia tinggalkan."

"Iya dia pasti sibuk. Tapi, Mama ingin dia berkunjung kemari."

"Mama mau ketemu Devan?"

"Mama kamu itu selalu saja memperlakukan Devan seperti anak kecil," sambung Winda, sang tante.

"Winda, ponakanmu itu sudah mau jadi ayah, aku nggak hanya kangen sama Devan, tapi sama Nesa juga."

"Alasanmu banyak loh, Mbak."

Ningrum menghela napas panjang.

"Oh jadi Mama mogok makan supaya Devan kemari? Alwi tahu sekarang." Alwi bersedekap menatap ibunya.

"Kamu sudah tahu, ya katakan saja sekarang pada kakakmu untuk datang," kata Ningrum membuat Alwi menoleh melihat sang tante yang juga sedang tersenyum.

"Baiklah. Alwi akan coba telpon."

Ningrum tersenyum, ia semangat sekali ketika Alwi mengiyakan akan menelpon Devan.

***

Devan dan Nesa keluar dari kantor Ari—teman Devan. Ari yang akan mendekorasi cafe Nesa dengan interior mahal.

"Kak, aku—" Nesa menoleh dan melihat Devan. "Maksudku ... Mas."

Devan tersenyum.

"Mas, makasih ya karena udah nganterin aku ke sini, sekarang aku lega banget, nggak usah pusing-pusing lagi masalah cafe."

Devan menganggukkan kepala. "Dia itu ahlinya loh kalau masalah interior."

Sesaat kemudian suara ponsel Devan terdengar.

"Tumben anak ini telpon," kata Devan membuat Nesa memicingkan mata.

"Siapa, Mas?" tanya Nesa.

"Alwi," jawab Devan. "Aku angkat telpon dulu."

Nesa menganggukkan kepala.

'Assalamu'alaikum.' Devan menjawab telponnya.

'Wa'alaikumssalam. Maaf gua ganggu, Dev."

'Iya. Ada apa?' tanya Devan.

'Mama nggak mau makan, lo harus kemari.'

'Kenapa Mama nggak mau makan?'

'Kayaknya sakit. Lo ke sini deh, Mama nggak mau makan kalau kamu nggak ke sini.'

'Tapi gua—"

'Lo ke sini aja deh. Gua nggak bisa ngebujuk Mama.'

'Baiklah. Gua bakal ke sana.'

Devan memutuskan sambungan telpon. Ia menghela napas panjang karena harus ke Depok.

"Kenapa, Mas?" tanya Nesa.

"Mama kayaknya sakit, kita ke sana aja ya."

"Baiklah. Kita ke Depok sekarang." Devan lalu masuk ke mobilnya disusul Nesa.

Devan pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir kantor Ari.

"Mas, Mama nggak apa-apa, 'kan?" tanya Nesa, membuat Devan menggelengkan kepala.

"Aku juga nggak tahu gimana keadaannya, tapi kata Alwi mungkin baik-baik saja. Hanya nggak mau makan saja, katanya kita ke sana baru beliau mau makan."

"Duh. Kok aku khawatir sih, Mas, kasihan Mama kalau nggak mau makan," kata Nesa. "Cepetan dikit, Mas."

"Iya. Aku juga udah usahain cepat ini."

Devan melajukan mobilnya dengan laju yang cepat. Ia khawatir pada ibunya, sebenarnya ia tidak bisa datang, karena pekerjaannya menuntutnya untuk terus bekerja.

"Cepetan dikit, Mas," kata Nesa membuat Devan menganggukkan kepala.

Devan terus melambung, membuat Nesa berpegangan kuat. Kekhawatiran keduanya terus mengganggu mereka. Mereka sangat ingin cepat sampai di Depok, agar mereka bisa melihat kondisi ibunya yang katanya sedang sakit.

Devan tak perduli dengan mobil yang ia lambung, yang terpenting bisa sampai di Depok.

"Mas, kamu jangan terlalu balap."

1
Shifa Burhan
thor jika ada wanita lain yang baik dan perhatian pada suami mu dan dia enteng nya mendekati suami dan mengatakan suka dan cinta pada suami, bagaimana tanggapan mu thor

pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil

tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno

kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
rya
karya imajinasi yg menghibur, jadi selalu nunggu up nya
rya
nunggu bucinya Devan sama nesa dan baby boy...
rya
semangat selalu Kaka, semoga lancar dan di beri kesehatan...
Irnawati wati
maaf thoor tdk usah di beri gambar visual, yang penting alur cerita nya masuk sesuai dengan judulnya. okee thorr semangat berkarya terima kasih
Christiani Natalia Yani
lanjut dong Thor jangan d gantung🙏
Dessy Flashin
ayo donk kk please lanjutin ceritanya jgn menggantung gini, ditungguin trus update nya ya kk 🙏🙏🙏 semangat kk 💪💪👍👌
Dessy Flashin
iiiissshhhhh Gedeg sm Devan, udah Thor klo emg besar hrs pisah sm Devan nnti klo udah pisah buat Nesa sm Juno ajalah, biar tau tuh si Devan sok kegantengan, dikira Nesa gk ada orang yg mau apa
Dessy Flashin
hadeeuuhhh ini kyk sinetron di ikan terbang nih, bikin keseeeeeeelllll....
rusidah siti
semangat buat nulisnya
kris tianti
lanjut dunk
Rosdiana Diana
lanjuttt
wili o
up
_kooky00
😭😭😭😭😭😭😭,,tau tk
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
Zhafirafira 225
fighting author
Ema Sofia
Keturunan turkey tapi mirip cina, canda turkey 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤔🤔🤔🤔🤭🤭🤔🤔
Suti Habdayani
ini di lanjutin gk ya ceritanya
샤샤
hai kak author, semangat selalu ya kak
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
샤샤
hai author, semangat selalu buat novel nya
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
Irhen Dirga: Wah terima kasih banyak❤
total 3 replies
샤샤
hai aurhor, semangat selalu yaa
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!