persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang pilihan hidup
"Is... Baaangun Is... Sudah jam 8. Bangun!!!!!" suara bu Vriana terdengar nyaring sambil menggoyang-goyangkan tubuh putra bungsunya.
"Hmmmmm.... bentar lagi bu.." jawab Lais masih dengan mata terpejam.
"Cepetan bangun...!!!" bu Vriana kembali menipuk bokong anaknya.
"Aku masuk jam 11 bu. Bentar lagi. Sejam lagi lah ya...." Lais masih tak bergerak dan semakin membenamkan wajahnya diantara bantal-bantal.
"Cepat kamu bangun! Bereskan kamar kakakmu ini. Cepetan keluar, itu si Mada dijemput laki-laki yang kemarin. Cepetan lihat.!!!"
Bu Vriana tampak bersemangat, tak henti menggoyangkan badan anak bujangnya itu.
"Haaah?!" Lais langsung terbaangun.
"Makanya cepetan lihat, kamu kenal nggak siapa orang ganteng itu."
Tanpa cuci muka, Lais langsung beranjak kedepan. Dari balik kisi-kisi jendela diintipnya pria ganteng keren yang diceritakan ibunya.
"Aku kayak pernah lihat dia.... Tapi siapa ya?" gumam Lais.
"Siapa?" Bu Vriana tampak sangat penasaran.
namun Lais menggelengkan kepala.
Dengan sangat cermat dna seksama, Lais memperhatikan wajah dokter Harun.
"Beneran kayak artis korea bu." kata Lais kemudian sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Bener kan ibu bilang."
"Kalian ini ribut terus dari tadi. Ada apa sih?" tanya pak Brady yang sedari tadi duduk dimeja makan.
" Penasaran sama laki-laki ganteng yang jemput Mada." bu Vriana menjawab dengan Jujur.
"O... Orang tinggi? Cakep?" tanya pak Brady.
"Bapak pernah ketemu?"
"Semalam, pas kita dari rumah pak Rt, bapak kan mau beli minuman dingin. Bapak lihat dokter Harun peluk Mada yang lagi nangis dijalan."
"Bapak tahu dia siapa? Peluk mbak Mada?" Lais terkejut.
"Ya tahulah... Itu dokter yang periksa karyawan bapak benerapa hari lalu."
"Bapak yakin nggak salah?" bu Vriana pun terkejut.
"Kenapa sih kalian? Yang punya pacar Mada, kok yang ribut kalian." kata pak Brady santai.
"Pak... bapak rela kalau mbak Mada nikah sama lakai lain?"
"Kenapa harus nggak rela? Maksud kalian apa sih?" pak Brady kebingungan.
"Pak... Apa Bapak nggak pengen punya mantu Mada?" kata Bu Vriana.
Pak Brady memandangi anak bungsu dan istrinya yang tampak serius beberapa kali.
"Kamu suka Mada?!" pertanyaan pak Brady mengejutkan Lais dan bu Vriana.
"Bapaaaaaak... Bukan aku pak... Tapi Mas Tobia."
"Tobia suka Mada?"
"Dari pengamatanku pak... Mbak Mada itu suka sama Mas Tobia. Tapi entah ada apa, malahan tiba-tiba muncul itu tadi. Siapa?"
"Dokter Harun.
"hhhhhhhhh.... Iya." kompak Lais dan bu Vriana mendesah.
"Kalian ini apa nggak punya kerjaan? Semua terserah Mada dan Tobia dong. Kalau ternyata mereka memang tak saling suka, kita ya harus berbesar hati." kata pak Brady bijak sekali.
"Aaaash... Bapak ini" bu Vriana tampak sedikit kecewa lalau menyirami bunga-bunga di halaman rumah. Dan Lais yang pergi mandi.
"Cinta itu tidak bisa direncanakan. Tidak bisa pula dipaksakan." quotes dari pak Brady pagi ini.
.....................
Sementara itu dirumah Mada, ...
Dokter Harun sedang duduk di teras rumah Mada. Menunggu Mada yang belum selesai berdandan.
kakek dan nenek tentu saja sudah jualan di pasar
"Yok.." kata Mada tak lama kemudian muncul dari dalam rumah.
"Hari ini kita ke pantai ya..." kata dokter Harun.
"Kamu bisa ninggalin rumah sakit lama-lama?"
"Heem.. .. Sudah ada temanku yang bisa handle."
"Kamu yakin?"
"Yakin seratus persen sayang.... Maaf ya selama ini setiap mau ngajak keluar, pikiran selalu ketinggalan di rumah sakit."
"ok... Kita berangkat."
Dokter Harun membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Mada masuk. tangan kanan memegang handle pintu, sedangkan tanga kirinya melindungi kepala Mada.
Waaaah... Lelaki idaman semua wanita. Good looking, good attitude, good rekening.
Tak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Waaaaaah.... Aku sudah lupa kapan terakhir ke tempat seperti ini." seru dokter Harun.
"Heem.... " Mada pun berlarian dipasir mendekati air.
"Aaaah... Sangat menyegarkan."
Berjalan-jalan perlahan menyusuri sepanjang pantai, berduaan dengan kekasih. Suara desiran ombak dan angin menambahkan kesan romantis.
"Pantainya indah ya?" celetuk Mada.
"Heem.." jawaban singkat dokter Harun, yang sedari tadi tak henti menatap kekasihnya yang berjalan disampingnya itu.
"Kamu suka ke pantai ya?" tanya Mada tampak salah tingkah.
"Heem... orang tuaku selalu membawaku kepantai sejak aku masih kecil. Kami sangat menyukai pantai."
"Benar... Banyak hal yang bisa kita lakukan disini. Bermain pasir, berlarian, main air...." tak selesai Mada melanjutkan kalimatnya.
Dokter Harun menarik lengan Mada perlahan. Dan membuat mereka berdiri berhadapan. Dokter Harun menarik pinggang Mada, mendekatkannya ketubuhnya. Dokter Harun mendekatkan pandangannya ke wajah Mada.
Tatapan tegas penuh gairah cinta dia curahkan lekat tepat ke wajah Mada.
Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, Mada menurut tanpa sedikitpun memberontak.
Dibalasnya tatapan penuh arti dari dokter Harun, dengan tatapan bahagia bercampur grogi.
"Kau bahagia?" tanya dokter Harun.
Mada tersenyum senang dengan anggukan kecil.
"Aku yang lebih bahagia. Aku pikir aku hanya akan memperhatikanmu dari ujung koridor setiap kamu mengunjungi perawat Tobia."
"Heeh?!"
"Rasanya masih tak percaya wajah manis ini sangat dekat di depan mata." kata dokter Harun sambil terus menatap lekat ke wajah Mada.
Di belainya perlahan kepala Mada. Dicubitmya hidung dan kedua pipi Mada.
"Aaau.." Mada mengelak manja.
"Tapi... Punya pacar dokter butuh keberanian besar. Butuh kesabaran yang luar biasa. itu sudah kamu pertimbangkan? Aku tidak bisa menjanjikan selalu bisa memprioritaskan kamu."
Dokter Harun menggandeng tangan Mada dan kembali jalan beriringan menyusuri pantai.
"Aku tahu... Prioritas utama kamu adalah para pasien. Jadi, mulai sekarang aku harus banyak-banyak berdoa, agar semua orang selalu sehat."
"Oh?!"
"Tentu saja. Kalau tidak ada orang sakit, kamu tidak perlu bekerja."
"Aaaaaaah... Jadi seperti itu maumu?" dokter Harun menggelitik Mada.
Mada berlari-lari kecil menghindari gelitikan dokter Harun.
"Aku cuma .... Cuma membantu...agar ...kamu nggak kecapean..." seru Mada disela tawanya.
"Jadi... Kau mau pacar kamu ini jatuh miskin begitu?" dokter Harun masih mengejar Mada.
Dokter Harun menangkap Mada. Memeluk pinggang ramping Mada, dan mengangkatnya lalu dan berputar-putar bersama.
Pemandangan romantis yang mungkin membuat sebagian orang yang melihat merasa muak.
Namun bagi mereka yang sedang dilanda jatuh cinta, itu adalah hal romantis yang akan menjadi kenangan manis.
Dokter Harun menurunkan Mada, memeluknya erat. Kepala Mada tepat bersandar si dada bidang dokter Harun. Sehingga dokter Harun bisa leluasa mengelus kepala Mada.
"Kita makan?"
"Hmmm.. Oke."
"Aku tidak akan bertanya 'makan apa', tampaknya tidak banyak pilihan.Kita kesana aja ya, yang ada kelapa mudanya."
"Oke.setuju."
"Bagus. Jangan jawab 'terserah'. Aku lebih suka kamu jujur. Kalau mau bilang mau, kalau tidak bilang tidak."
"Terus?"
"Terus..... Terang aku tidak bisa baca isi hati orang." jawab dokter Harun sambil membelalakkan mata bermaksud menggoda Mada.
Dokter Harun menikmati liburannya bermain-main dipantai bersama.
Es kelapa muda menjadi penyegar di cuaca panas hari ini.
Dilanjutkan nasi goreng penuh suwiran daging ayam. Dibumbui kecap manis dan asin, berpadu dengan rasa gurih dari bawang merah dan bawang putih. Dimasak sempurna dengan kematangan sempurna. Terakhir ditambahkan toping telur mata sapi dan taburan bawang goreng.
Tempat dan cara kencan yang sungguh romantis.
Makan bersama sambil menunjukkan diri masing-masing agar lebih saling mengenal.
Mada merasa sangat nyaman bersama dokter Harun. Ia bisa dengan santai menjadi dirinya sendiri tanpa perlu jaim-jaim.
Namun norma dan kesopanan dasar tetap dijaganya sebagai seorang wanita. Sehingga orang yang bersamanya pun merasa nyaman.
......................
Sementara itu di rumah sakit...
Dokter Stela dan dokter lainnya tampak sangat sibuk menangani pasien-pasien.
Rumah sakit memang menjadi tempat pertama yang di cari orang-orang yang membutuhkan petolongan. Namun hari ini sangat berbeda dengan hari-hari lainnya.
Rumah sakit sangat sibuk hari ini. Tidak ada satu pun pegawai rumah sakit yang dusuk bersantai atau menggosip. Bahkan waktu makan pun mereka lakukan dengan tidak nyaman.
Kecelakaan beruntun yangbterjadi tak jauh dari rumah sakit menyebabkan banyak korban. Ditambah dengan adanya kebakaran pemukiman juga tak jauh dari rumah sakit.
Kecelakaan beruntun bermula dari sebuah truk pengangkut beras yang berkecepatan tinggi tiba-tiba oleng. 3 mobil sedan, 1 monol pick up pengangkut pakan ayam, dan beberapa sepwda motor yang tadinya melaju di belakang truk tersebut tidak sempat mengerem. Sehingga terjadilah insiden yang menewaskan 8 orang yang semuanya adalah sopir dan penumpang dalam 2 mobil sedan.
Korban terluka ada 11 orang pengendara sepeda motor. 2 orang kernet truk dan sang sopir truk yang terluka paling parah.
Sementar dari kebakaran gudang plastik menewaskan 1 orang karena tertimpa reruntuhan bangunan yang terbakar. Dan 7 orang dengan luka bakar ringan. Kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Namun diduga api berasal dari kabel yang mengelupas diatas pintu masuk gudang. Arus pendek terjadi dan api sangat cepat menyebar. Sementara para pegawai gudang saat iru sedang berada di gudang bagian belakang.
Akses keluar masuk hanya ada 1. Jadi 8 pegawai harus berusaha menembus api. 7 pegawai mampu keluar dengan selamat, hanya mengalami luka bakar ringan. Namun seorang yang tertimpa reruntuhan bangunan tak sempat meloloskan diri dari api.
Teriakan isak tangis karena kehilangan anggota keluarga dan orang yang disayanginya,memenuhi rumah sakit, membuat siapapun yang mendengarnya merasa iba.
Rintihan kesakitan dari para korban luka pun semakin membuat hati gemetar.
"Bagaimana aku akan hidup tanpa kamu paaaak" seru seorang ibu muda sambil memeluk putri kecilnya disamping jasad suaminya yang merah menghitam karena seluruh tubuhnya terbakar.
"Dokter... adik saya nanti apa masih bisa berjalan lagi dok?" lelaki seumuran Tobia tampak tidak tenang mendampingi adik lelakinya yang terkapar kesakitan di ranjang UGD dengan kaki terlihat bengkok.
"Mbak... Mbak perawat, tolong minta perban... Istri saya darahnya masih keluar terus." kata seorang lelaki paruh baya yang tergopoh mendekati seorang perawat. padahal lututnya sendiri masih basah karena juga berdarah, namun ia tampak tak peduli. Ia utamakan sang istri yang masih tak sadarkan diri.
Masih banyak rintihan-rintihan lain yang sangat memilukan.
"Dokter lelah?" tanya seorang perawat saat melihat dokter Stela tampak agak pucat.
"Bekerja di rumah sakit, baik sebagai perawat ataupun dokter sangatlah tidak mudah. Butuh ketelitian, cepat tanggap, ketabahan, ketetapan hati, kesabaran dan kokohnya pikiran. Lelah tidak boleh menjadi alasan." kata dokter Stela sambil memeriksa pasien.
"Jika seseorang yang tidak tahan melihat darah dan luka orang lain, dipastikan tidak akan bisa bertahan." kata dokter Stela lagi sambil menepuk pundak perawat lain yang sedang membersihkan luka seorang pasien.
Dibalas dengan senyuman hormat dari si perawat yang merasa disemangati.
Perawat lelaki yang mengikutinya untuk membantu dokter Stela nampak tetap teguh menjalankan tugasnya.
"Namun tidak mengabaikan pekerjaan lain.Semua pekerjaan memiliki resiko dan konsekuensi masing-masing. Namun apapun itu bila dilakukan dengan sepenuh hati, semua kesulitan akan selalu mendapatkan jalan keluar." Kata si perawat lelaki.
"Benar. Apapun pilihan hidup yang telah kita pilih, harus kita lanjutkan dengan bertanggungjawab." kata dokter Stela penuh aura kebijakan.
"Sebaiknya kita kabari dokter Harun, apakah beliau tidak akan marah kalau tahu keadaan rumah sakit sekacau ini?"
"Tidak perlu. Biarkan beliau mendapatkan istirahatnya. Mari kita tetapkan tujuan kita. Tetap fokus. Semoga semua selesai sebelum beliau kembali." dokter Stela tampak sangat peduli dengan dokter Harun.
"Kita harus menghubungi PMI, dokter. Kita tanyakan ketersediaan darah. Beberapa pasien membutuhkan transfusi darah. Stok kita menipis dokter." seorang dokter menghampiri dokter Stela.
"Saya pikir kita membutuhkan dokter Harun." kata dokter yang lain.
"Benar dokter Stela, kondisi semakin tidak terkendali." kata dokter pertama.
"Baiklah kalau kalian merasa begitu."
Dokter Stela segera menghubungi dokter Harun.
Dokter Harun yang masih duduk di pasir bersama Mada menerima telepon dari dokter Stela.
Mada pun mencoba mengerti dengan profesi kekasihnya itu. Ditambah fakta bahwa rumah sakit itu adalah rumah sakit keluarga, dan sekarang dokter Harun adalah penanggung jaqab utamanya.
Dengan segera mereka meninggalkan pantai menuju rumah sakit.
............
Kita tinggalakan dokter Harun yang sedang berusaha keras melakukan tugasnya. Dan Mada yang berulang kali harus mengerti dan lebih memilih mengorbankan kesenangannya. Demi rasa kemanusiaan terhadap para pasien.
Kita menuju Tobia yang tampak santai mengobrol dengan kawannya di lobi rumah sakit tempatnya bekerja sekarang.
Hapenya berdering....
"Hallo mas.... Masih dirumah sakit?" kata Lais dari sebrang tanpa basa-basi.
"Hee.. Ada apa?"
"Aku didepan. Bisa keluar?"
"Heeeh???! Kamu kesini? !!! Jangan bercanda!!!"
"Kak... Aki beneran di depan. Aku datang sama mbak Mada."
"Heeeh??! Oke-oke aku kesana. Tunggu." Tobia pamit dengan kawannya. Dengan terburu ia segera menghampiri adiknya
"Anak nakal itu pasti memaksa Lais." gumam Tobia sambil berjalan.
...................
To be continue...
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂