Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 16
+
+
Lily bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di kamar seorang diri, tidak melihat dimana keberadaan Kay. Melihat langit yang terang sudah pasti Lily bangun terlambat tidak seperti biasanya.
Lily meregangkan badannya lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Saat sedang menggosok giginya Lily kaget melihat pantulan badannya di cermin.
Dari leher hingga tulang selangkanya terdapat banyak bercak merah bahkan ketika mengintip dadanya Lily juga mendapati tanda itu. Astaga, dari mana asalnya. Apakah dia salah makan, sepertinya iya.
Dengan cepat Lily keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya tanpa mengganti baju menuju luar dan mencari keberadaan Kay siapa tahu saja laki-laki itu mengetahui sebabnya. Atau jangan-jangan dia lagi penyebabnya, untuk mengetahuinya dia harus cepat menanyakannya.
Langkah Lily terhenti di pintu masuk dapur ketika dirinya mendapati Kay yang sedang memasak. Bukan itu yang membuatnya tidak bisa berkata-kata, tapi Kay memasak dengan tidak menggunakan baju hanya celana training yang dikenakan tak lupa juga apron berwarna coklat yang melekat di tubuh laki-laki itu.
“Jangan bergerak.” Kay seolah mengetahui jika Lily akan kembali ke kamarnya. Lily meringis lalu membalikkan badannya kembali dan berjalan secara perlahan menuju Kay.
“Kay.”
“Hmm.” Ya tuhan kuatkanlah hati Lily.
“Kau yang membuat tanda merah ini kan?” Tanya Lily seraya menunjuk lehernya sendiri.
“Bukan.”
“Hah, terus ini apa?” Lily menggosok lehernya berharap tanda itu hilang. “Apa aku salah makan, atau ada serangga?” Lanjutnya keheranan.
Kay yang melihatnya tersenyum geli lalu melanjutkan masakannya, mengabaikan Lily yang terus bertanya tanda di lehernya. Kay menyajikan hidangan di meja diikuti Lily yang duduk menunggu Kay. Kening Lily mengerut ketika melihat makanan di depannya yang baru pertama kali dia lihat.
“Kay ini apa?” Lily menunjuk makanan di depannya.
“Fasolatha.”
“Aku ingin mencobanya, apa boleh?”
“Tentu.”
Setelah mendengar jawaban Kay, Lily segera mencicipi sup di depannya. Saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya Lily langsung jatuh cinta dengan cita rasanya unik. Perpaduan antara kacang putih, tomat, wortel dan bahan lainnya yang tidak Lily ketahui sangat terasa sangat pas di mulutnya.
Kay lagi-lagi tersenyum ketika melihat Lily yang menikmati makannya. Mata Kay turun ke leher Lily dan teringat dengan kejadian semalam. Kay terbangun tengah malam dan ingat dia ketiduran di sofa membuatnya bangun untuk pindah ke kamar.
Tapi Kay malah salah fokus ketika melihat baju yang Lily kenakan melorot hingga memperlihatkan tulang selangka gadis itu. Dan seterusnya bisa kalian bayangkan apa yang Kay lakukan.
“Cepat bersiap-siap.” Kay telah selesai dengan makannya.
“Baik.” Lily menganggukkan kepalanya.
Lily di bawa ke sebuah pusat perbelanjaan yang berada di sebuah bangunan bertingkat yang sangat besar oleh Kay. Berkali-kali Lily mengatakan pada Kay bahwa dia tidak pantas untuk berada di tempat ini, tapi laki-laki itu malah mengamuk.
Jadi di sini lah mereka saat ini, di sebuah toko dengan brand ternama. Yang membuat Lily merasa kaget ketika melihat satu barang yang harganya menyampai puluhan juta bahkan ada yang sampai ratusan juta.
“Kay kau saja, aku tidak membutuhkan barang-barang seperti ini.” Lily menghentikan tangan Kay yang akan mengambil sebuah tas.
“Aku tidak menyuruhmu untuk menolak.” Kay menatap Lily dengan tatapannya yang tajam.
“Terserah kau saja.” Lebih baik Lily mengalah daripada berdebat yang tidak ada ujungnya.
Rupanya Lily salah besar mengatakan begitu karena tiba-tiba saja Kay mengatakan pada pegawai di depan akan membeli seluruh barang yang ada di toko membuat Lily tidak bisa bernafas.
“Kay jangan gila.” Lily mencubit pinggang Kay tapi laki-laki itu tidak bergeming. Rasanya Lily ingin menangis, bingung harus bagaimana mencegah Kay agar tidak membeli seisi toko.
Keluar dari sana wajah Lily di tekuk karena Kay tetap pada pendiriannya yaitu membeli seluruh isi toko. Mereka menjadi pusat perhatian karena di belakangnya beberapa pengawal membawa banyak paper bag berisi belanjaan Kay yang akan di kirim langsung ke rumahnya.
Tatapan dari orang-orang membuat Lily rasanya ingin hilang seketika. Sedangkan laki-laki di sampingnya malah berjalan dengan sombongnya, dagu yang diangkat, tangan di masukkan ke dalam saku celana tak lupa juga kacamata hitam yang tersangkut di hidung mancungnya.
Karena sibuk dengan pikirannya, Lily tidak sadar dengan langkahnya hingga menabrak seseorang dan sebotol minuman tumpah di badannya. Lily memejamkan matanya ketika orang itu berteriak memarahinya dengan bahasa yang Lily tidak mengerti.
“συγγνώμη για την απροσεξία της γυναίκας μου.”
*maafkan atas kecerobohan istri saya
“φρόντισε καλά τη γυναίκα σου.”
*Jagalah istrimu dengan baik. Orang itu pun berlalu setelah Kay berbicara.
Sumpah Lily baru mendengar Kay berbicara dengan bahasa negara ini.
Kemudian tangan Lily di tarik Kay, karena mereka masih berada di Mall laki-laki itu membawanya ke sebuah toko pakaian. Padahal tadi sudah beli tapi Kay berkata jika semuanya sudah dikirimkan. Membuat Lily pasrah mengikuti kemauannya.
Lily segera mengganti pakaiannya yang basah. Untung saja tadi badannya tersiram air putih bukan sejenis minuman yang akan membuat tubuhnya lengket. Saat akan memakai bajunya tangan Lily gemetar ketika melihat bandrol harga yang tertera. Gila saja hanya untuk satu set pakaian bisa mencapai harga ratusan juta seperti ini. Kay memang benar-benar gila.
Saat keluar dari ruangan itu, Kay sudah menunggunya di depan ruangan dan langsung menggandeng tangan Lily untuk keluar.
“Kay, kau tidak lagi membeli seluruh barang yang ada di sini kan?” Tanya Lily seraya melihat sekitarnya.
“Kau mau?”
“Tidak terima kasih.” Lily mengencangkan tangannya yang di gandeng Kay.
“Kita makan dulu.”
Lily hanya mengikuti kemana Kay akan membawanya. Rupanya Kay membawanya ke sebuah restoran Indonesia yang masih berada di gedung ini.
Lily kira di negara ini tidak ada restoran yang menjual makanan khas negaranya. Sudah lama lidah Lily tidak merasakan cita rasa khas makanan Indonesia. Lily memesan rendang dan juga gado-gado sedangkan laki-laki di depannya memesan soto betawi. Lily dengan antusias menunggu makanannya tiba.
Lily tertawa, dia kira orang seperti Kay tidak tahu dan tidak akan memakan makanan khas negaranya. Tanpa sadar Lily bertepuk tangan ketika makanannya tiba membuat Kay tersenyum geli melihatnya.
“Kay kita akan kemana lagi?” Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
“Berlatih.” Lily kira Kay lupa dengan hal itu.
“Oke.” Pasrah Lily seraya menghela nafas.
Lily bingung kenapa Kay berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang terlihat sepi meskipun kondisinya masih bagus. Tapi karena Lily penurut jadi dia ikut saja kemana Kay akan membawanya.
Lift berhenti di lantai paling atas membuat Lily was-was, hal gila apa lagi yang harus dia lakukan. Apalagi di depannya terdapat banyak alat-alat aneh.
“Mendekat.” Titah Kay ketika Lily masih berdiri di dekat pintu.
Lily berjalan menuju Kay yang terlihat sedang mengambil sebuah tambang dan banyak lagi barang-barang yang tidak Lily ketahui namanya.
“TIDAK KAY AKU MASIH MAU HIDUP!” Tubuh Lily di tahan oleh Kay dengan sebuah tali yang sudah terpasang di badannya. Jika Kay melepaskan tangannya sudah pasti Lily akan terjun bebas ke bawah dari gedung tinggi ini.
“Siapa yang akan membunuhmu.” Kay dengan sengaja mengulur tali hingga tubuh Lily semakin miring dan membuatnya berteriak ketakutan.
“Kay kumohon jangan seperti ini.” Mohon Lily dengan memasang wajah melasnya berharap Kay luluh. Jantungnya serasa akan copot.
“Oke, aku melepaskan mu.”
“AAAAAKHHHHH.” Tubuh Lily terjatuh dari gedung dengan ketinggian seratus meter itu.
Lily merasa jantungnya tertinggal di atas ketika tubuhnya terayun-ayun setelah terjatuh. Jarak tubuhnya dengan bawah hanya tersisa tiga meter lagi. Belum sempat bernafas dengan benar Lily merasa tali yang menahan tubuhnya di tarik kembali ke atas membuatnya berpegangan erat karena takut terjatuh.
Tiba di atas Lily langsung berhadapan dengan Kay yang sedang menatapnya dengan seringaian di wajahnya.
“Kay lepaskan.” Pinta Lily dengan suara gemetar yang kentara.
“Kau masih ketakutan.” Tentu saja bodoh, siapa yang tidak takut jika tubuhnya di jatuhkan dari ketinggian seperti ini. Sayang hal itu hanya bisa Lily ucapkan dalam hatinya.
“Kau harus berani jika ingin ku lepaskan.” Lily mengumpat ketika mendengar jawaban Kay.
“Apa kau bilang.”
“Aku tidak mengatakan apa pun.” Lily memalingkan wajahnya lalu Kay menarik badan Lily yang masih bergelantungan hingga berada di dekatnya.
“Kau memang senang di hukum ya.”
Kay mencium Lily dengan menuntut, Lily yang menerima serangan dari Kay berusaha untuk melepaskannya.Gila memang ada di luaran sana orang yang berciuman dengan posisi seperti mereka. Dimana badan Lily di gantung dan Kay yang berdiri di atas pembatas.
Lily tidak sadar tubuhnya mundur karena dorongan dari Kay lalu tanpa di duga tubuh keduanya terjatuh ke bawah. Lily berteriak seraya memeluk tubuh Kay dengan panik luar biasa karena takut laki-laki itu akan langsung terjatuh ke bawah beda dengan dirinya yang diikat.
Saat jarak sedikit lagi Lily merasakan mereka berayun lalu segera membuka matanya dan melihat Kay yang tertawa lepas. Melirik ke bawah rupanya Kay juga memasang tali di badannya tanpa Lily sadari.
Lily menangis kencang membuat Kay berhenti tertawa lalu segera menarik badan Lily hingga keduanya menempel.
“Kenapa menangis.”
“JAHAT! Aku kira kau akan mati.”
“Belum saatnya sayang.” Kay menarik Lily kedalam pelukannya.
“K-kau tidak tahu seberapa ta-kutnya aku ketika kita jatuh hah.” Lily masih mengeluarkan air matanya.
“Stt tenanglah.”
“Aku ingin turun.” Lily melepaskan tubuhnya dari dekapan Kay.
“Aku tidak tahu caranya.”
“Jangan bercanda tadi kau menarikku kembali ke atas.”
“Karena aku menekan tombol dari atas.” Kay masih tenang berbeda dengan Lily yang sudah ketar-ketir.
“Kay cepat aku ingin pipis.” Ujar Lily seraya meringis.
“Aku tidak tahu Lily.”
“Kaaaayy.”
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
sukses otor, dan semangat 💪😘