Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Sudah satu minggu Kinanti pergi dari rumah, dan selama itu hidup Yoga menjadi kesepian. Walau ada Frida yang selalu menemaninya, tetap saja rasanya berbeda.
Benar kata orang. Kalau sudah pergi, baru terasa. Saat masih ada tidak dipedulikan.
"Mas, dari kemarin muka kamu kusut Mulu," ucap Frida.
Saat ini Yoga berada di apartemen Frida. Ia sangat malas pulang ke rumah, karena setiap pulang selalu saja kepikiran Kinanti dan anak-anak.
Terkadang Yoga merasa mendengar suara Sasa dan Amar.
"Aku lagi pusing dan kurang tidur," jawab Yoga malas. Kemudian Yoga merebahkan tubuhnya di atas sofa. Satu tangan ia gunakan sebagai bantal dan satu lagi di atas keningnya.
Selama di tinggal Kinanti, apa-apa Yoga harus mengerjakannya sendiri, dari beres-beres rumah juga masak kalau malam-malam lapar dan biasanya setiap pagi Kinanti selalu membangunkannya. Jadi selama seminggu ini, Yoga selalu bangun kesiangan.
Melihat Yoga tidur, Frida memilih berselancar ke toko online. Siapa tahu ada barang bagus yang ia sukai, terus nanti Yoga yang membayarnya.
Hampir satu jam Yoga tidur, dan selama itu Frida sudah merasa bosan terus berada di apartemennya.
Ia ingin jalan-jalan ke luar apartemen, dan mencari makan di mal.
Tak ingin terus berada di apartemen, Frida membangunkan Yoga.
"Mas, bangun ...." Frida menggoyangkan tubuh Yoga. Akan tetapi, Yoga bergeming. Yoga masih terbuai alam mimpi.
Sekali lagi Frida membangunkannya sedikit kasar. "Mas ... Bangun, aku lapar pengen makan di restoran."
Yoga mendengus kesal, karena Frida menganggu tidurnya. "Tinggal masak sendiri kenapa, sih!" Gerutu Yoga.
"Nggak mau. Aku mau nya makan di restoran," kekeuh Frida.
Yoga mengusap wajahnya kasar. Bisa nggak sih Frida sedikit saja ngertiin dirinya yang tengah pusing memikirkan anak dan istrinya.
Yoga menarik napasnya dalam-dalam demi mengurai emosinya yang mulai membara.
"Ayo dong bangun," rengek Frida.
"Oke, kita makan di restoran." Yoga mengalah dan malas berdebat dengan Frida.
Seketika senyum Frida tersungging. Kemudian Frida memeluk Yoga yang belum merubah posisinya yang tengah tiduran.
"Gitu dong. Ini baru pacar aku," ucapnya senang.
Dengan malas, Yoga bangkit dari tidurannya dan bersiap-siap pergi ke restoran yang ada di mal.
Disinilah sekarang di pusat perbelanjaan, Yoga dan Frida makan di salah satu restoran ternama.
Frida sangat menikmati makan malamnya, sedangkan Yoga kurang menikmatinya. Yoga tidak ada semangat-semangatnya, hatinya masih terasa hampa.
"Mas, habis makan mampir ya ke toko pakaian yang di lantai 2," cetus Frida.
"Iya, tapi kamu yang bayar sendiri," jawab Yoga malas.
Frida terperangah mendengar perkataan Yoga.
"Bayar sendiri?" Sahut Frida tak percaya.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Ya nggak bisa gitu dong. Pokoknya kamu yang bayarin!" Sewot Frida yang tak mau membayarnya sendiri.
Buat apa punya pacar, kalau dirinya yang harus membayarnya. Pikir Frida.
"Frida! Bisa nggak sih kamu ngertiin aku ! Gara-gara kamu gaji aku bulan ini sudah menipis," keluh Yoga.
Dalam sebulan ini Frida banyak membeli barang yang disukainya, dan Yoga lah yang harus membayar belanjaannya. Barang-barang yang di beli Frida harganya mahal-mahal. Makanya Yoga mengeluh, karena Frida selalu minta dibayarin, sangat berbeda jauh dengan Kinanti yang jarang meminta dibelikan ini dan itu.
Frida mencebikan bibirnya kesal. Frida tidak suka Yoga memarahinya. Wajar dong, kalau ia minta dibayarin, kan Yoga pacarnya.
"Jadi sekarang kamu nggak mau bayarin lagi? Jahat kamu!" Tukas Frida marah. Kemudian Frida meletakkan sendok dan garpu dengan kasar, lalu Frida meraih tasnya dan pergi.
Yoga menghela napasnya, agar tidak terpancing emosi. Kemudian Yoga segera mengejarnya.
"Frida berhenti !" Yoga meraih tangan Frida, menahannya agar tidak pergi.
Frida mendengus kesal, menatap Yoga marah dan kecewa.
"Lepasin. Aku mau pulang," ucap Frida.
"Oke, aku bayarin," jawabnya mengalah. Rasa cintanya kepada Frida mengalahkan ego nya.
Wajah marah Frida, kini tergantikan dengan senyum manis. "Gitu dong. Ini baru pacar aku," ucap Frida sambil mengelus dada Yoga. "Ayo, kita langsung ke tokonya."
Yoga mengangguk lemah, dan mengikuti kemauan Frida.
*
*
*
Ditempat yang sama, ibu Rohayani baru saja keluar dari supermarket bersama keponakannya. Keduanya sama-sama menjinjing belanjaannya.
"Tante, aku mau lihat baju-baju di toko fashion dulu ya," ucap Rianti.
"Boleh," jawab ibu Rohayani.
Lalu ibu Rohayani dan Rianti mengayunkan kakinya ke toko fashion yang berada di lantai 2.
"Kamu cari baju model apa?" tanya ibu Rohayani saat sudah berada di lantai 2.
"Belum tahu, makanya mau lihat-lihat dulu."
Baru saja akan memasuki toko tersebut, ke dua bola mata ibu Rohayani membola melihat Yoga bersama wanita lain keluar dari toko sebelah. Tatapan ibu Rohayani begitu tajam melihat Yoga dan Frida begitu mesra.
'Jadi ini kelakuan Yoga di belakang Kinanti? Pantas saja Kinanti pergi dari rumah.' ucap ibu Rohayani di dalam hatinya.
"Tante, ayo masuk," ajak Rianti, masuk ke dalam toko fashion.
"Tante nggak bisa nemenin kamu. Tante ada urusan penting dan tidak bisa di tunda," jawabnya cepat
"Urusan apa?" tanya Rianti.
"Soal Yoga. Tante pergi dulu," jawabnya sambil berlalu dari sana.
Rianti yang melihat Tante nya ada raut kemarahan, segera mengikuti ibu Rohayani. Rianti bertanya-tanya, ada masalah apa sehingga ibu Rohayani tampak marah.
Ibu Rohayani mempercepat langkah kakinya, sambil memanggil putranya.
"Yoga !"
Merasa ada yang memanggil namanya, Yoga menghentikan langkah kakinya. Lalu, Yoga menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Ibu ...."
Betapa terkejutnya Yoga saat tahu orang yang memanggilnya adalah ibunya. Tangan Yoga yang tadinya menggenggam tangan Frida, langsung dihempaskan begitu saja.
Dalam hitungan beberapa detik, Yoga berkali-kali menelan salivanya kasar, melihat tatapan penuh kemarahan dari sang ibu. Yoga bingung tak tahu harus ngapain, setelah tahu ibunya memergoki dirinya jalan dengan Frida.
Plakk ...
Ibu Rohayani langsung mendaratkan tamparan keras di pipi Yoga. Dadanya naik turun menahan emosi, melihat Yoga jalan sama wanita lain.
Frida tersulut emosi, melihat Yoga di tampar sama ibu-ibu yang tak dikenalnya. Kemudian Frida mendorong bahu ibu Rohayani dengan sangat kasar.
"Siapa anda? Kenapa anda menampar pacar saya!" Marah Frida.
Ibu Rohayani menatap tajam Frida, lalu kembali menatap Yoga.
"Ibu tunggu kamu di rumah," ucapnya penuh penekanan.
Ibu Rohayani kembali menatap tajam Frida. "Dasar wanita jall Laang!" Umpat ibu Rohayani.
Seketika emosi Frida bertambah mendidih, tak terima dikatain sebagai wanita murahan. " Kurang ajar!"
Tangan Frida terangkat untuk menampar wanita tua di depannya.
Hampir saja tangan Frida mendarat mulus di pipi ibu Rohayani, kalau Yoga tidak cepat menangkap tangan Frida.
"Jangan berani-berani nya kamu menyakiti ibu ku!" ucap Yoga marah.