Ketika infeksi misterius yang berasal dari bunga menyebar ke seluruh dunia, mengubah manusia menjadi kawanan zombie, Virz—seorang bocah yang selamat—berjuang untuk bertahan hidup di dalam sebuah shelter. Bersama dengan sekelompok penyintas lainnya, mereka berusaha mencari penyebab wabah tersebut dan melawan para zombie di dunia yang berada di ambang kehancuran. Di tengah kekacauan dan ketakutan, mereka harus menemukan harapan dan jawaban sebelum segalanya benar-benar hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffa Rifky Virziano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mado Village
Di sepanjang perjalanan menuju Desa Mado, suasana di dalam kendaraan terasa tegang. Meskipun mereka berhasil selamat dari serangan zombie di Hutan Oak, perasaan waspada tetap menyelimuti mereka. Rasa kehilangan akibat jatuhnya tim dari Distrik Kupu-Kupu masih membekas.
Setelah perjalanan panjang akhirnya Desa Mado terlihat di kejauhan, perasaan lega perlahan menyelimuti mereka. Namun, Suasana desa tampak sepi, namun ada aura ketenangan yang terasa menenangkan dibandingkan dengan horor yang baru saja mereka lalui di Hutan Oak. Penduduk setempat mulai berdatangan, wajah-wajah mereka menunjukkan harapan saat melihat kedatangan Virz dan timnya dengan suplai yang sangat dibutuhkan.
Suplai ini berisikan makanan dan Senjata karena dalam seminggu terakhir ini Desa Mado kekurangan sumber untuk bertahan hidup akibat bencana Gempa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Desa Mado adalah sebuah shelter standar yang terletak di dataran tinggi, dikelilingi oleh hutan dan bukit. Dinding kayu yang kokoh dengan kawat berduri melindungi desa ini, sementara gerbang besi utama dijaga oleh prajurit bersenjata. Rumah-rumah sederhana dari kayu dan batu terhubung oleh jalan-jalan sempit, dengan bangunan utama seperti balai desa dan gudang di pusat desa.
Desa ini memiliki ladang kecil dan peternakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, serta mata air alami sebagai sumber air. Penduduknya hidup dalam komunitas yang erat dan selalu waspada terhadap ancaman eksternal, terutama zombie. Penerangan malam hari disediakan oleh lampu minyak, dan pos jaga serta menara pengawas tersebar di berbagai sudut. Di bagian terdalam, terdapat ruang evakuasi bawah tanah yang dapat menampung seluruh penduduk jika terjadi serangan besar.
Ketika kendaraan mereka berhenti di tengah desa, beberapa penduduk segera membantu menurunkan kotak-kotak suplai. Di antara mereka, seorang pria tua dengan janggut putih yang tebal mendekati Virz dia adalah Pimpinan desa Mado Pak Ardinus. "Terima kasih, Nak. Suplai ini akan menyelamatkan banyak nyawa," katanya dengan suara parau.
Virz mengangguk. "Kami hanya melakukan tugas kami. Desa ini penting bagi keselamatan wilayah kita semua."
"Bila kalian tidak keberatan kalian bisa Istirhata dahulu di rumah yang kami sediakan. Sisanya biar Kapten Arka yang mengurus Bongkar suplai" Ucap Pak Ardi
"Hai perkenalkan aku Arka Aku pimpinan Prajurit yang menjaga wilayah ini sisanya serahkan pada kami" Ucap Arka dengan Lembut
"Terima kasih Pak, kami akan Istirahat beberapa saat dan Nanti kita bisa ada kan permbicaraan" Ucap Virz
"Baiklah" Ucap Pak Ardi
Setelah istirahat hingga Sore Virz dan yang lainnya mengunjungi Balai Desa untuk bertemu Pimpinan Desa. Keith dan Deni menunggu diluar Balai Desa. Lalu Virz dan Hafiz masuk bertemu mereka. Ruangan itu sederhana, dengan meja kayu besar di tengahnya dan beberapa kursi di sekelilingnya. Lilin-lilin menyala, menerangi suasana yang tegang namun penuh harap.
Pak Ardi duduk di ujung meja, wajahnya tampak serius namun tetap hangat. Di sebelahnya, Kapten Arka berdiri tegak, dengan lengan terlipat dan pandangan tajam.
Setelah duduk dan saling bertukar pandang sejenak, Pak Ardi memulai pembicaraan. "Terima kasih telah datang sejauh ini, Virz. Kami dengar perjalanan kalian tidak mudah."
Virz mengangguk, wajahnya serius. "Benar, Pak Ardi. Kami kehilangan banyak orang dalam perjalanan. Hingga membuat kami terlambat mengirim , Distrik Kupu-kupu menjadi Bantuan kami meski ada beberapa skenario yang tidak terduga. Tapi kami berhasil membawa suplai seperti yang dijanjikan."
Kapten Arka yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami menghargai usaha kalian. Tapi aku perlu tahu, apa ada yang mencurigakan? Apa ada hal yang tidak beres di Distrik Kupu-Kupu? Seharusnya Komandan Jack tidak akan semudah itu memberi bantuan"
Virz menatap Arka, lalu menghela napas. "Tuan memberikan kendaraan dan prajurit untuk membantu kami, tapi sesuatu terasa tidak benar. Kami bertemu dengan seseorang yang mengungkapkan bahwa Jack mungkin terlibat dalam sesuatu eksperimen zombie."
Pak Ardi Terkejut "Apa kau bilang Eksperimen Zombie? apa kau memiliki Bukti Kuat?"
Hafiz mengerutkan alis, merenungkan informasi itu. "Jack si Berdarah... dia memang bukan orang yang bisa dipercaya. Apa kalian tahu tentang Sang Sayap? Kami menemukan beberapa Dokumen yang menemukan Informasi yang mengarah Distrik Kupu Kupu"
"Sang Sayap? Bukankah dia adalah sang pembebas tewas 1 tahun lalu secara misterius" ucap Pak Ardi
"ya aku juga mendapat Informasi bahwa sang sayap telah digantikan oleh Jack" Ucap Virz
Kapten Arka menjawab "Kalau dipikir lagi ini memang memungkinkan ditambah distrik Kupu Kupu yang sangat bebas apapun bisa terjadi, Bahkan orang orang disana bersifat Nomaden. tapi apa kalian sudah mempunyai bukti kuat? "
"Belum tapi setelah pengiriman suplai ini kami akan kembali ke Distrik Kupu-kupu untuk membereskan yang bisa membahayakan umat manusia" Ucap Virz dengan wajah serius
Hafiz memotong pembicaraan '' Aku meminta sesuatu dari Desa Mado tolong kirimkan pesan kepada Palabea Shelter bahwa kami akan kembali dengan waktu secepat mungkin dan memberikan Informasi penting lainnya."
"Baiklah bila itu mau kalian kami akan membantu kalian sebisa mungkin" Ucap Pak Ardi
"Tolong Rahasiakan ini dahulu kepada orang lain" Ucap Virz
"sebelum itu biarkan aku ikut membantu kalian pergi ke Distrik Kupu Kupu" ucap Kapten Arka
"Kau akan ikut mereka Arka?" Ucap Pak Ardi
"Ya aku akan membantu mereka sampai Distrik Kupu-Kupu terselesaikan" Ucap Arka
Pak Ardin mengangguk setuju, lalu menatap Virz dengan pandangan penuh terima kasih. "Terima kasih, Virz. Kalian sudah melakukan banyak hal untuk kami. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keselamatan semua orang".
Virz tersenyum tipis, merasa bahwa mereka telah membuat keputusan yang tepat. "Kami hanya ingin memastikan bahwa misi ini berhasil, dan Desa Mado tetap aman."
"Yah terima kasih untuk kalian, Kupikir kita akan berangkat besok Malam" Ucap Hafiz.
"Baiklah sudah diputuskan" Ucap Virz
Dengan keputusan itu, pertemuan pun berakhir. Kapten Arka segera bergerak untuk bersiap siap. sementara Pak Ardin dan Virz berbincang singkat mengenai langkah-langkah selanjutnya untuk melindungi desa dari ancaman yang mungkin datang.
Malam itu, setelah pertemuan berakhir, Virz, Hafiz, dan yang lainnya kembali ke tempat mereka beristirahat. Meskipun kelelahan, pikiran mereka dipenuhi dengan kekhawatiran tentang apa yang mungkin mereka hadapi di Distrik Kupu-Kupu.
Sementara itu, Kapten Arka memeriksa persiapannya.Dia memastikan bahwa senjata-senjata dan persediaan lainnya siap untuk perjalanan keesokan malam. Pikiran tentang kemungkinan bahaya di Distrik Kupu-Kupu terus menghantui pikirannya. Arka tahu bahwa perjalanan ini mungkin tidak akan mudah, tetapi dia merasa bertanggung jawab untuk memastikan Dirinya dan yang lain kembali dengan selamat.
Di dalam rumah yang mereka tempati, Hafiz dan Virz duduk di meja kecil, berbisik satu sama lain. "Kau yakin kita bisa mempercayai Arka?" tanya Hafiz, matanya menyipit curiga.
Virz menatap Hafiz sejenak sebelum menjawab. "Kita tidak punya banyak pilihan. Lagipula, dia tampak tulus ingin membantu. Dan kita membutuhkan semua bantuan yang bisa kita dapatkan."
Hafiz mengangguk pelan. "Aku hanya berharap kita tidak membuat kesalahan besar dengan membawa dia."
Mereka berdua kemudian terdiam, memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Saat malam semakin larut, satu per satu mereka mulai tertidur, mencoba mendapatkan energi yang cukup untuk hari berikutnya.
Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, desa Mado terlihat tenang seperti biasa, tetapi ada ketegangan yang tak terlihat. Penduduk desa yang mengetahui tentang perjalanan Virz dan timnya berdoa dalam hati untuk keselamatan mereka. Di tempat yang berbeda, Pak Ardin memberi instruksi terakhir kepada para penjaga desa, memastikan bahwa desa tetap aman selama Arka tidak ada.
Malam tiba, dan langit desa Mado dipenuhi bintang. Suara angin yang berhembus perlahan di antara pepohonan menambah suasana hening. Virz, Hafiz, dan timnya telah bersiap untuk berangkat. Arka berdiri di dekat gerbang utama, menunggu mereka dengan tenang.
"Kita akan pergi sekarang," kata Virz singkat.
Arka mengangguk, lalu memimpin mereka keluar dari desa. Mereka mulai berjalan menuju Distrik Kupu-Kupu, Perjalanan mereka memakan waktu hingga 2 jam. Dengan hati-hati menghindari jalur yang berbahaya. Setiap langkah diambil dengan penuh kewaspadaan, mengetahui bahwa bahaya bisa datang dari mana saja, kapan saja.
Perjalanan malam itu dipenuhi keheningan. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di sepanjang jalan setapak. Mata mereka waspada, mengawasi setiap bayangan yang bergerak, setiap suara yang mencurigakan.
Tiba-tiba, di kejauhan, terdengar suara gerakan cepat di antara semak-semak. Mereka semua berhenti seketika, menahan napas, mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
"Apa itu?" bisik Deni, tangannya erat menggenggam senjata.
"Tenanglah" Ucap Virz
Hafiz, Keith dan Arka berjaga dengan mengamati sekeliling. Arka mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada yang lain untuk tetap diam. Mereka berdiri dalam posisi bertahan, menunggu apa pun yang mungkin keluar dari kegelapan.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup, seekor rusa kecil melompat keluar dari semak-semak, tampak terkejut melihat mereka. Rasa lega menyelimuti kelompok itu, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak boleh lengah.
"Fyuh mengagetkan saja, Bila itu Jumper habis kita" Ucap Hafiz
Dengan hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan, semakin dekat dengan Distrik Kupu-Kupu. Apa yang sebenarnya terjadi di distrik itu? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa ditemukan di ujung perjalanan mereka.
Malam yang semakin larut menambah ketegangan di antara mereka. Bayangan-bayangan aneh mulai muncul di sekitar jalan setapak yang mereka lewati, menciptakan ilusi seolah-olah ada sesuatu yang mengintai di balik kegelapan.
Arka, yang berada di depan, tiba-tiba mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang berhenti. "Ada sesuatu di depan," bisiknya, matanya menyipit menembus kegelapan.
Virz dan yang laim segera mengeluarkan senjata mereka, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan muncul. Mereka bisa mendengar suara langkah-langkah berat dan gemerisik daun yang semakin mendekat.
Dari balik pepohonan, muncul sekelompok zombie. Makhluk-makhluk itu bergerak dengan cepat, matanya yang kosong memantulkan kilauan cahaya bulan. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang mereka perkirakan, dan mereka tampak lebih agresif dari biasanya.
"Kita harus bertindak cepat!" seru Virz sambil menembak ke arah zombie terdekat. Peluru menghantam kepala salah satu zombie, membuatnya jatuh ke tanah. Tapi seolah tak terpengaruh, yang lain terus maju, semakin dekat.
Hafiz, dengan gerakan cepat, melemparkan pisau yang tepat mengenai kepala zombie lainnya. "Kita tidak bisa bertahan di sini! Mereka terlalu banyak!" teriaknya, mencoba untuk mengatur strategi.
Arka mengambil posisi di belakang mereka, memberikan perlindungan sambil menembak zombie yang mencoba mengepung dari sisi lain. "Kita harus mundur dan mencari tempat yang lebih tinggi! Kita bisa bertahan di sana sementara!"
Mereka semua sepakat dan mulai mundur, sambil terus melawan zombie yang mengejar. Perjalanan mereka semakin sulit, dengan zombie yang terus berdatangan dari segala arah. Nafas mereka memburu, adrenalin memompa, tetapi tekad untuk bertahan hidup lebih kuat dari rasa takut yang mengintai.
Di tengah-tengah kekacauan itu, mereka menemukan sebuah bangunan tua yang terlihat kokoh, mungkin bekas pos pengawasan. Tanpa pikir panjang, mereka segera berlari ke sana dan menutup pintu rapat-rapat. Namun, suara geraman zombie di luar semakin keras, dan mereka tahu bahwa waktu mereka terbatas.
"Kita harus membuat rencana! Mereka akan segera menerobos masuk!" kata Virz, matanya beralih ke jendela yang bergetar karena dorongan zombie di luar.
"Jika kita bisa mengalihkan perhatian mereka atau menemukan cara untuk melarikan diri, itu akan menjadi satu-satunya kesempatan kita," kata Hafiz dengan nada serius.
Arka melihat ke sekeliling ruangan dan menemukan beberapa bahan peledak yang tersimpan di dalam kotak besi. "Ini mungkin bisa membantu kita. Kita bisa menjebak mereka di sini dan meledakkan bangunan ini saat kita melarikan diri dari belakang."
Virz mengangguk. "Itu ide bagus, tapi kita harus bertindak cepat."
Mereka dengan cepat menyiapkan bahan peledak, memasangnya di sekitar pintu dan jendela. Sementara itu, Hafiz menemukan pintu keluar kecil di bagian belakang bangunan. "Ini jalan keluarnya! Kita harus pergi sekarang!"
Setelah memastikan semua bahan peledak siap, mereka bergegas keluar dari pintu belakang dan mulai berlari menjauh dari bangunan itu. Arka menekan tombol detonator, dan seketika ledakan besar terdengar, mengguncang tanah dan menghancurkan bangunan tersebut bersama dengan zombie di dalamnya.
Mereka terus berlari, tak berani menoleh ke belakang. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya berhenti di sebuah bukit yang cukup jauh dari lokasi ledakan. Nafas mereka tersengal-sengal, tubuh mereka dipenuhi keringat dan debu.
"Kita berhasil..." ucap Hafiz sambil terengah-engah.
"ya itu Hampir saja," jawab Virz sambil menatap ke arah Distrik Kupu-Kupu yang mulai terlihat dari kejauhan. "Sebentar lagi kita sampai."
Dengan tekad kuat, mereka melanjutkan perjalanan, bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar di Distrik Kupu-Kupu. Di sana, kebenaran tentang eksperimen zombie dan ancaman yang lebih besar menunggu mereka. Namun, satu hal yang pasti: mereka tidak akan berhenti sampai ancaman itu dihancurkan, demi keselamatan umat manusia.