Belum hadirnya seorang buah cinta di tengah-tengah keluarga kecilnya di usia pernikahannya hampir sepuluh tahun itu membuatnya bersedih.
Segala upaya dan usaha sudah mereka tempuh dan lakukan, tapi hasilnya tetap nihil hingga mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang ibu hamil yang ditinggal oleh suaminya itu yang sudah memiliki tiga orang anak untuk bekerjasama dengannya.
Akankah kehidupan rumah tangganya akan bahagia dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang dipersembahkan oleh mamanya dengan sukarela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
"Aku sudah mengetahui semuanya, tapi aku masih butuh bukti nyata selain dari rekaman percakapan kalian berdua, sepertinya aku harus bekerja sama dengan gadis yang bernama Andien itu untuk memasang beberapa cctv di sudut terrahasia di kafeku ini agar bukti yang aku dapatkan lebih akurat dan banyak," Afnan membatin.
"Saya akan mencari cara yang paling jitu untuk menjebak kalian berdua agar tertangkap basah sudah bermain curang dan berbuat kriminal, tapi aku harus mencari orang dalam yang tepat untuk menjalankan semua rencanaku ini," batinnya Afnan yang sesekali menatap ke arah Andien yang masih sibuk membersihkan bekas sisa-sisa kekacauan yang diciptakan olehnya.
"Aku hanya pengen kasih kalian berdua kejutan makanya kedatanganku aku rahasiakan,tapi karena kamu sudah lihat aku jadi batal deh kejutannya," sanggahnya Afnan yang berusaha untuk menutupi apa yang sudah dia lihat sebelumnya.
"Untung saja kami segera keluar, jika tidak bisa-bisa apa yang aku lakukan dengan Adila dilihatnya, syukur lah keadaan aman terkendali berkat bantuan dari kecerobohan Andien yang mencegah Afnan untuk memergoki kami," batinnya Adli yang tersenyum penuh kemenangan.
Afnan Qeis Asy'ari Arbani duduk di atas sofa beludru yang tidak jauh dari pintu masuk ruangannya Adli yang selama ini dipakainya sebagai tempat kerjanya.
Adli memperlihatkan tampan bersalah dan penyesalannya dengan penuh kemunafikan, "Maaf Af aku tidak menyambut kedatanganmu dengan baik, malahan disambut dengan insiden kecil yang seharusnya tidak kamu lihat," ucapnya memelas Adli yang mulai berakting.
Adila tidak mau diam dan ikut menimpali percakapan kedua pasangan pria itu, "Maaf yah Afnan,ada pegawai kafe yang teledor dan terlalu ceroboh sehingga pakaianmu kotor, gara-gara ulahnya juga situasi kafe menjadi tidak kondusif," timpalnya Adina Angela Zhang yang merasa bersalah atas kejadian keributan yang diciptakan oleh Andien Ardana Anum.
"Tidak perlu mempermasalahkan ataupun memperpanjang masalah tersebut, saya hanya minta jangan sampai gaji dan bonus karyawan yang tadi itu kasihan nasibnya kalau sampai dipotong segala, saya kesini hanya ingin bersantai karena bosan di rumah terus sudah dua hari kedatanganku tapi, baru sempat keluar rumah," kilahnya Afnan yang mulai menutupi kenyataan yang ada dan ikut bermain akting di depan dua orang yang pintar bermain tipu muslihat tersebut.
Adli mengeraskan sedikit suaranya itu, "Tapi,Afnan dia sudah sering kali berbuat seperti itu di kafe, bagaimana kalau ada pelanggan yang komplain dengan sikapnya Andien nantinya," ketusnya Adli.
Afnan menatap sinis ke arah kedua pasangan kekasih itu, "Memangnya sudah ada tamu kafe yang merasa dirugikan atau terganggu dengan kinerjanya Andien?" Tanyanya Afnan sambil menatap bergantian dari pasangan kekasih itu.
Adli dan Adina saling bertatapan satu sama lainnya," A-nu belum ada sih tapi jaga-jaga saja jangan sampai berbuat seperti itu lagi yang akan merugikan kafe kita ini," pungkasnya Adli.
"Kamu berikan penjelasan yang baik padanya, insha Allah aku yakin dia akan mengerti jangan dijadikan masalah besar jika masih bisa diatasi dengan baik," tempiknya Afnan dengan santainya.
"Kalau menurut kamu seperti itu, baiklah kami akan menuruti keinginanmu lagian kamu pemilik kafe ini jadi pasti kami akan mendengarkan penjelasan dan perkataanmu," imbuhnya Adila sambil memegang tangannya Adli dibawah meja agar Adli bisa tenang dan sabar supaya tidak terpancing emosinya dan akhirnya mengatakan yang sebenarnya kondisi di kafenya itu.
Adli menatap sepintas lalu ke arah ke-kasihnya itu yang tersenyum penuh arti," baiklah saya akan menjalankan sesuai dengan apa yang kamu inginkan," ucapnya Adli yang berusaha sekuat tenaga untuk meredam amarahnya itu karena sebenarnya Andien mengetahui apa yang sudah terjadi di dalam kafe itu, makanya mereka mencari alasan untuk memecat Andien dari kafe tersebut.
"Ya Allah… kedua orang ini aktingnya sungguh memukau sudah pantas mendapatkan piala oscars, aku salut padanya pantesan sangat pintar dan lihai menyembunyikan keburukan dan kebusukan mereka, aku sangat kagum, apa aku perlu berguru kepada kedua pasangan kekasih itu," Afnan membatin.
Adina memeriksa kondisi di luar termasuk pintu keluar ruangan kantornya Adli pacarnya.
"Sayang,apa yang harus kita lakukan kepada gadis pengacau itu?" Tanyanya Adina sambil duduk di atas pangkuannya Adli.
"Untuk sementara waktu masalah Andien kita tutup rapat-rapat jangan sampai kita ngotot untuk menendang dari sini, malah Afnan curiga dengan apa yang sudah kita lakukan," ujarnya Adli.
"Kita harus tetap awasi terus gadis kampung itu untuk menghindari bocornya rahasia besar kita berdua, kalau masih ingin menikmati hartanya Afnan,"
"Kenapa meski dia harus kembali dari USA sih, padahal selama ini kita sudah banyak menimbun harta kekayaan milik Afnan," kesalnya Adila.
"Sudah jangan banyak pikiran entar wajahmu timbul kerutan-kerutan,kan sia-sia belaka perawatan mahal yang kamu jalani," ucap Adli yang sudah mulai bermain di aset penting miliknya Adila yang seperti biasa ia lakukan.
Berselang beberapa menit kemudian, setelah berpura-pura memeriksa pembukuan yang jelas sekali banyak kecurangannya tanpa ia periksa hanya mendengar perkataan tidak langsung dan hasil mengupingnya, Afnan sudah mendapatkan informasi yang cukup akurat dan terpercaya.
"Saya harus bertemu dengan Andien, tapi amannya jangan dy sekitar kafe,apa aku tunggu sampai dia pulang saja yah," cicitnya Afnan yang tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk membongkar tindak kejahatan mereka.
sungguh mulia hati pak ibra