Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Bab ini sudah di Revisi ya....
Sekitar jam 5 sore, Rein dan Davin berjalan menuju café yang sudah di janjikan oleh Aldo. Mereka kembali bertemu, atas permintaan Aldo. Sebenarnya hanya Rein saja, namun mengingat bagaimana cemburunya Davin akhirnya dia meminta untuk ikut.
Davin mengabaikan Aldo yang sedari tadi menatap mereka dengan senyum geli di wajah nya, berbeda lagi dengan Rein yang terlihat malu-malu sambil berusaha menahan tangan Davin yang terus bergelayut di lengan nya.
"Santai aja Rein, anggap saya nggak lihat apa-apa.” ujar Aldo sambil terkekeh. Pria itu tidak menyangka calon mertua nya begitu manja pada Rein, membuat ia berpikir akan kah suatu saat nanti ia akan sama seperti itu pada Ami.
"Jadi, masih mau pakai rencana Sebelumnya?" Tanya Rein memulai obrolan. Seperti yang Aldo sampaikan ditaman waktu itu. “Mmm…tentu saja. Ku rasa rencana itu akan berjalan dengan lancar, namun mungkin akan sedikit menyakitkan bagi Ami." balas nya sembari melirik Davin yang tengah menatap nya juga.
“Ya sudah kalau begitu. Semoga semua nya berjalan dengan lancar. Dan tolong jaga Ami baik-baik!” Aldo mengangguk dengan cepat mengiyakan. "Tolong jangan pernah sakiti anak saya, saya percaya sama kamu!" ucap Davin tiba-tiba. Aldo terpaku sebentar lalu mengangguk semangat. Apakah ini artinya ia sudah mendapatkan restu dari Davin.
"Siap om, saya tidak bisa janji tapi akan saya usahakan untuk selalu membuat Ami bahagia." Balas nya dengan semangat, senyum nya bahkan terus mengembang.
"Ada yang bisa kami bantu lagi?" tanya Rein. "Minta tolong nanti kasih Ami, semoga dia suka. Tapi jangan bilang dari saya." sebuah paper bag besar Aldo berikan pada Rein. "Nanti boleh minta tolong suruh dia pakai?" Rein dan Davin mengangguk mengiyakan, selanjutnya mereka mengobrol santai membahas seputar pekerjaan sampingan Aldo. Tentu saja, Davin yang bertanya, ia ingin memastikan putri nya mendapatkan lelaki yang tepat.
***
Ami mengerutkan keningnya kala melihat Davin dan Rein yang baru saja memasuki rumah. Entah kedua nya dari mana, Ami pun tak tahu, atau sengaja tidak diberitahu. Kedua nya tampak sangat mesra, membuat Ami sedikit kurang nyaman. Apalagi jika ingatan nya kembali saat melihat Rein yang bersama dengan Aldo beberapa waktu lalu.
"Eh, kalian habis dari mana?" Tanya Ami sambil menyembunyikan raut sedih nya. "Habis kencan." Davin langsung menjawab di angguki Rein yang merangkul mesra lengan Davin.
Percayalah dalam hati Rein, ia tengah berusaha menahan diri untuk tidak memeluk sang sahabat yang terlihat sangat sedih. Sudah beberapa hari berlalu setelah pertemuan nya dengan Aldo di taman tempo hari, Rein dan Ami tidak begitu akrab lagi. Keduanya hanya mengobrol jika ada yang penting.
"Oh gitu!" Ami seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi saat melihat wajah bahagia Davin dan Rein.
'mungkin mereka lupa!' pikir Ami.
Davin menggandeng tangan Rein lalu mengajak nya untuk berlalu dari sana, meninggalkan Ami yang merasa sendiri. Wanita itu menghela nafas lelah, lalu berlalu dari sana menuju kamar nya. Perasaannya campur aduk.
***
"Kasihan Ami, mas!" gumam Rein saat kedua nya sampai dalam kamar. Tentu saja Davin yang memaksa nya untuk masuk kedalam kamar nya. Davin mengangguk membenarkan, ia juga ikut sedih melihat sang anak yang selalu menampilkan raut bahagia kini terlihat sedih, Namun demi kelancaran rencana mereka, Davin akhirnya berusaha menahan diri.
"Sayang…"
Rein yang baru saja keluar dari kamar mandi, menoleh pada Davin yang sedang duduk sambil menatap nya. "Kenapa mas?" Jawab Rein sambil menyeka air di wajah nya. Davin tersenyum aneh membuat Rein bergidik ngeri. "Kenapa sih?" Tanya Rein heran. "Sini dulu!" Ucap nya sambil menggulingkan tubuh nya di atas kasur.
Rein melangkah menuju Davin, hingga tiba-tiba pria itu menarik nya. Membuat Rein menjadi rebahan di samping nya, tak lupa tangan Davin yang memeluk erat tubuh sang kekasih.
"Mau ini, boleh?" gumam Davin pelan. Rein mengerutkan keningnya, saat tidak terlalu jelas mendengar suara Davin karena terendam oleh pelukan pria itu. "Hah? Kenapa mas?" Tanya Rein sekali lagi, sambil menangkup kedua pipi pria itu, hingga Davin menatap Rein sepenuhnya.
"Emm...mau inii!!!," ulang Davin sembari menunjuk tubuh bagian atas Rein dengan cengiran. Rein menggeleng pelan, sambil menatap Davin lembut. "Mas lupa sama janji mas waktu itu?" Tanya Rein mengingatkan.
Davin terpaku sebentar kemudian menghembuskan nafas panjang. "Huh! Maaf, aku khilaf!" Ucap nya penuh sesal. Janji yang Rein maksud adalah, ucapan Davin saat kedua nya melewati pergumulan panjang waktu pertama kali karena pengaruh alkohol. Ya walaupun hanya di awal, sebelih nya dilakukan dalam keadaan sadar.
Setelah itu Davin berjanji tidak akan pernah menyentuh Rein lagi, hingga kedua nya sah menjadi suami istri. "Nggak papa. Sini peluk." Davin langsung memeluk Rein erat, untuk merendam nafsu yang tiba-tiba saja muncul karena mencium wangi tubuh Rein.
Meskipun sering tidur bersama, namun Davin tidak pernah menyentuh Rein lagi.
***
Aldo tersenyum menatap foto yang berada di layar ponsel nya, potret seorang gadis yang ia ambil beberapa tahun lalu.
"1 langkah lagi, dan tunggu aku untuk menjadikan kamu milikku!" gumam nya pelan, dengan senyum kecil.
Kisah mereka cukup sederhana. Aldo yang saat itu sedang berjalan hendak menuju ruangan sang dosen karena ada keperluan mendesak, tak sengaja di tabrak oleh seorang mahasiswi baru yang sedang berjalan dengan terburu-buru hingga mahasiswi itu terjatuh.
Aldo menatap mahasiswi itu kemudian hendak membantu nya, namun belum sempat membantu, mahasiswi itu langsung berucap meminta maaf kemudian berlalu dari sana dengan cepat.
Mengedikan bahu, Aldo kemudian hendak melangkah pergi namun sesuatu yang tertangkap di matanya membuat Aldo berhenti. Pria itu berjongkok kemudian meraih sebuah kartu peserta yang Aldo yakini milik mahasiswi tadi, 'Amira Artama' gumam Aldo membaca nama mahasiswi itu.
Tiba-tiba pria itu teringat akan urusan nya bersama sang dosen, Kemudian ia langsung berlalu dengan cepat, tak lupa mengantong kan kartu peserta mahasiswi tadi.
***
Jam menunjukkan pukul 19.15, Davin dan Rein keluar dari kamar masing-masing. Keduanya saling melempar senyum, lalu bergandengan menuju ruang tengah, yang sudah ada Ami. Waktunya rencana mereka di jalankan. Rein sudah tidak sabar, dia sudah sangat rindu untuk memeluk Ami.
Wanita itu menggenakan sebuah dress model Sabrina berwarna biru tua sebatas mata kaki, membuat nya sangat cantik di tambah make up tipisnya. Rein dan Davin terpukau menatap Ami, apalagi dress yang di berikan oleh Aldo tadi sangat cocok sekali jika Ami yang memakai nya.
"Ami harus ikut ya, pah?" Tanya Ami. Ia tadi di beritahu kan oleh Davin bahwa jam setengah 8 nanti mereka akan pergi keluar, entah kemana.
"Harus. Sudah siapkan? Kita langsung berangkat aja, takut terlambat." Kemudian ketiga nya langsung berlalu menuju mobil yang sudah di persiapkan, dengan Davin yang akan menyetir sendiri.
Keheningan melanda, ketiga nya tidak ada tanda-tanda akan membuka suara. Hingga sebuah panggilan masuk pada ponsel Rein.
Rein melirik Davin yang juga melirik nya, kemudian melihat Ami dari kaca mobil, yang sedang menatap keluar, melihat lampu-lampu jalan yang sudah menyala, membuat jalan tampak indah.
"Kami lagi di jalan, persiapkan aja semua nya!" Ucap Rein, ia tahu bahwa Ami melirik nya, membuat nya tersenyum tipis. Sambungan terputus, hingga tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah bangunan mewah.
Ami menatap bangunan itu dengan tatapan bingung. Ia ingin bertanya namun di urungkan kala seorang pegawai datang menghampiri mereka ketika ketiga nya tiba di loby. "Permisi Tuan, nyonya, mari saya antar." Saat akan melangkah, tiba-tiba Rein bersuara.
"Kalian duluan aja, aku mau ke toilet dulu," ucap nya.
"Mas temanin!" Jawab Davin cepat. Kedua nya kemudian menatap Ami yang sedari tadi terdiam. "Kamu duluan aja, nanti papah nyusul sama Rein." ucap Davin pada Ami, tidak lupa memberitahu untuk mengikuti pegawai tersebut.
Ami mengangguk tanpa membantah, dengan pelan ia mengikuti pegawai tadi. Ami tidak menyadari bahwa sesuatu yang akan membuat nya terkejut sudah menanti nya di depan sana.
TBC.....
'mas kenapa?
"pengenpeluk!