NovelToon NovelToon
Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku

Status: tamat
Genre:Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:77.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Chintya

Hidup sebatang kara dan tinggal di sebuah panti asuhan yang sudah tak berkembang membuat seorang Elisa Marsanda menanggung beban berat di pundaknya atas keberlangsungan panti tersebut dan masa depan anak panti lainnya, gadis ceria dan manis namun menyimpan banyak luka dan penderitaan di masa lalu, kedua orang tuanya yang meninggal karena menderita kanker otak hanya meninggalkan dia dengan sebuah kalung bertuliskan namanya dengan ukiran yang cantik.
Didikan dari para guru di panti menjadikan seorang Elisa tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan memiliki banyak kemampuan untuk bertahan hidup tanpa bergantung pada orang lain, kini usianya yang sudah sembilan belas tahun mulai menginjakkan kaki di dunia perkuliahan dengan bekal beasiswa atas kecerdasan dan kerja kerasnya selama di SMA.
Meski banyak mendapatkan hinaan semua itu tidak menjadikannya lemah dan Elisa selalu kuat menjalani setiap hari yang berat dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Chintya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lili

Aku sungguh sangat kesal tapi tidak bisa melakukan apapun aku mengepalkan tanganku dan tidak sudi meminta maaf pada Devinka karena jelas jelas aku tidak salah dalam hal ini, namun di saat aku diam mahasiswa lain justru berteriak dan mulai memaksaku untuk meminta maaf padanya, bahkan diantara mereka ada yang melemparkan gulungan kertas ke arahku hingga mengenai wajah dan badanku, dosen juga semakin mendesak ku karena kondisinya mulai tidak terkendali.

"Heh...gadis ayam cepat minta maaf!" Teriak salah satu mahasiswa di ikut yang lainnya,

"Iya, cepat minta maaf pada Devinka kami atau kau tidak akan di terima di kelas ini lagi dasar tidak tahu malu!" Sahut mahasiswa yang satunya lagi.

Aku terpaksa melakukannya dengan perasaan yang begitu dengki dan penuh kekesalan.

"Maafkan aku Devinka... Aku salah, permisi" ucapku meminta maaf dan langsung berlari pergi dari sana.

Lagi dan lagi aku hanya bisa berlari ke belakang sekolah mencari tempat yang sepi dan jauh dari keramaian, aku duduk berjongkok seorang diri di bangku belakang sekolah dan menangis menyembunyikan wajahku sambil menunduk.

"Hiks...hiks....kenapa?, Kenapa semua orang membelanya kenapa tidak ada satu pun orang yang mau membela orang kecil sepertiku....hiks..hiks.." ucapku merasa putus asa di sela tangisan.

Aku sungguh tidak habis pikir bahkan dosen killer seperti itu pun tidak berkutik di hadapan Devinka dan masih membela Devinka tanpa adanya alasan yang jelas bahkan kali ini aku juga dipermalukan lagi di hadapan banyak orang karena Devinka, sedangkan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membela diriku sendiri di saat aku sudah tau dengan jelas semua orang hanya mementingkan harta juga kedudukan, mereka semua selalu memandang rendah aku hanya karena aku bekerja keras sebagai kurir pengantar ayam prenchick di sebuah restoran.

"Tuhan memang salah jika aku bekerja sebagai pengantar ayam?, Memangnya di mana letak ke salahanku?, Aku tidak mencuri dan aku juga tidak melakukan kekerasan kenapa harus aku yang menerima semua tekanan ini, kenapa hidupku begitu sulit...hiks...hiks..." Ucapku berteriak keras mengeluarkan semua unek-unek ku.

Saat Elisa tengah menangis dan menggerutu dengan penuh keputus asaan seorang diri tanpa dia ketahui Dika tak sengaja lewat ke sana dan melihat juga mendengar dengan jelas semua yang Ratu ucapkan, Dika mengerutkan dahinya dengan jelas saat mendengar semua keluhan yang Ratu ucapkan.

"Ada apa dengan gadis itu?, Apa Devinka mengganggunya lagi, aishh...anak itu memang tidak ada habisnya membuat kekacauan untuk orang lain" ucap Dika sambil menggelengkan kepalanya.

Dika datang menghampiri Elisa secara diam diam dan dia meninggalkan sebuah tisyu tepat di samping Elisa kemudia pergi secepatnya dari sana untuk menemui Devinka dan berkumpul dengan ke dua temannya yang lain.

Setelah puas menangis dan melepaskan semua unek unek dalam hatinya Elisa bangkit mengangkat wajahnya saat dia hendak berdiri tangannya menekan kepada tisyu yang tadi di taruh oleh Dika sebelumnya.

"Aish....tisyu siapa ini?, Perasaan sebelumnya tidak ada tisyu di sini?, Apa ada orang yang menjatuhkannya yah?" Gerutu ku merasa kebingungan.

Walau aku tidak tau siapa yang menaruh tisyu di sampingku saat itu namun aku tetap mengambilnya karena sayang sekali jika aku meninggalkannya begitu saja lagi pula tisyu itu seperti masih baru jadi aku memakai dan membawa siswanya.

Aku pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahku agar tidak ada orang yang mengetahui bahwa aku baru saja menangis hingga selesai dan saat aku keluar tak sengaja aku berpapasan dengan Lili, aku baru tau ternyata Lili sudah masuk kuliah namun sepertinya dia berpindah kelas karena ibunya.

Aku merasa gugup dan langsung berbalik menjauh di saat Lili melihatku, namun dia justru malah berlari mendekat ke arahku aku langsung berlari menjauhinya meski dia berteriak memanggil namaku dan memintaku untuk berhenti.

"Eh...Elisa...akhirnya aku menemukanmu....Eihh....El...tunggu berhenti kamu mau kemana Ell..." Teriak Lili memanggil namaku,

Aku mengabaikannya dan terus berlari menjauh menghindari Lili, aku tidak mau membuat Lili dikirim ke luar negeri gara gara dia masih tetap dekat dan berteman denganku.

"Maafkan aku Lili.... Ini demi kebaikan kita berdua juga" ucapku dengan perasaan menahan sakit.

Aku tau dengan menjauhnya aku dari Lili seperti tadi pasti akan menimbulkan banyak kesalah pahaman antara aku dan dia, namun aku tidak papa aku bisa mengerti dan memahami Lili jika suatu saat Lili berubah menjadi membenciku.

Aku rasa jika sampai itu terjadi itu akan jauh lebih baik bagi Lili dan hubungan dia dengan kedua orangtuanya, aku hanya orang lain baginya dan aku tau aku tidak banyak memberikan manfaat bagi Lili sedangkan kedua orangtuanya adalah orang yang sudah mengurusnya sudah sepantasnya Lili berbakti juga menyenangkan mereka.

Aku tidak bisa membuat seorang anak membangkan pada kedua orang tuanya hanya demi ke egoisanku yang mau terus bersahabat dengan Lili, aku juga tau sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa membawa sahabatnya ke jalan yang benar.

Saat aku berlari aku masih bisa mengetahui kalau Lili mengejarku, sehingga terpaksa aku harus bersembunyi, saat aku hendak bersembunyi saat aku berlari dan mencari tempat sembunyi yang aman aku melihat ada ruang perpustakaan di dekat sama sehingga aku langsung masuk ke dalam karena aku pikir tempat itu adalah yang paling aman untukku bersembunyi.

"Elisa...tunggu...kenapa kamu malah lari" teriak Lili yang masih belum menyerah mengejarku hingga ikut masuk ke dalam perpustakaan.

Aku mengintip di balik salah satu rak buku yang terletak di pojokan dan aku melihat Lili berjalan perlahan mencariku melewati beberapa rak buku di sana, sialnya saat aku tengah menginti dan memerhatikan Lili tiba tiba saja datang Devinka dari belakang dan dia mengagetkanku dengan berteriak hampir ingin memanggil Lili.

"Heyy.... Dia di...." Teriak Devinka terpotong karena aku langsung membekap mulutnya dengan cepat.

"Euhhhghhg....diam kenapa kau mengacau sih" ucapku sambil mendorong Devinka ke dinding sambil membekap mulutnya dengan kuat.

"Eumm...eumm..ummm..." Ucap Devinka yang berontak berusaha melepaskan bekapan tanganku.

Aku terus menekan tanganku untuk menutupi mulutnya yang tidak bisa dijaga itu, aku juga sengaja terus mendesak badannya agar dia tidak bisa melawan sampai akhirnya Lili pergi dari perpustakaan barulah aku melepaskan bekapannya.

"Ahhh....syukurlah tidak ketahuan" ucapku dengan lega,

"Heh...cewek ayam... Dasar kau sialan!, berani beraninya menyentuh bibir mahalku ini, kau harus tanggung jawab!" Bentak Devinka yang membuatku bingung serta kesal.

"Hah... Bertanggung jawab?, Kepadamu?, Jangan harap!" Ucapku dengan sinis dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Aku pikir setelah itu aku akan bebas dan tidak terlibat dengan orang sepertinya lagi namun ternyata aku salah si Devinka sialan itu terus saja mengikutiku dan berteriak meminta pertanggung jawaban dariku bahkan ucapannya itu hampir saja membuat semua orang yang mendengar menjadi salah paham.

1
Ummi Mimi
kayak film.....
Kura-kura
lanjut thor aku udah berkhayal jadi Devinka dan kamu Elisanya Thor awokawok
Kura-kura
lanjutkan Thor cantik
Kura-kura
kisahnya sama seperti kisah kita Thor. iya aku dan kamu, aku mencintaimu tapi kamu tidak😔
Sasuke
padahal karyamu sebagus itu loh Thor, aku doakan semoga makin banyak pembacanya
Sasuke
visualnya cocok banget sama karakter Elisa yang kamu buat Thor, ayo lanjutkan!!!
Sasuke
Thor kamu sadar gak sih kalo karyamu itu keren bangetttttytt
Sasuke
Thor karyamu ini sangat menginspirasi dan recommended banget loh
ElbyElvy
ditunggu up selanjutnya
Bad Boy
Selai suka dengan karya tulismu aku juga suka penulisnya😔
Bad Boy
Thor cerita buatanmu bikin jantung dak dik dug ser
Liliwolsem
thor kalo kami gak up aku bakal nikahin kamu thor!
Liliwolsem
thor kamu koo bisa sih bikin cerita se uwwu ini
Liliwolsem
thor jika aku dijodohkan sama kamu aku rela thor dengan senang hatu wokawokawok
Liliwolsem
tak bosan bosan aku baca karyamu thor
Liliwolsem
aku baca semua karyamu thor semuanya bikin gemas
Liliwolsem
untaian kata yang sangat indah thor kamulah idolaku huhu
ElbyElvy
saya suka ceritanya,,lagi nunggu up
ElbyElvy
tunggu up
Nur Ilma
Cerita seruuuuuu
👀🦋: terimakasih sudah mampir kak, terus baca hingga akhir ya kak, sambil menunggu episode baru, bisa sambil baca karyaku yang lain di jamin tidak kalah seru🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!