"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Laela langsung mendorong Kabir, membuat pria itu tahu apa jawaban Laela pada pernyataan sukanya barusan.
"Tiga hari lagi aku akan bertunangan, lagipula kita baru bertemu tiga hari yang lalu Kabir. Bukankah kamu selalu bilang aku ini anak kecil, lalu kenapa... empttt!"
Laela tidak bisa meneruskan apa yang ingin dia katakan karena Kabir sudah membungkam Laela dengan bibirnya.
Laela yang sama sekali belum pernah berciuman membelalakkan matanya hingga nyaris bola matanya itu keluar. Jantungnya berdebar kencang, bahunya naik turun tidak berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Hingga beberapa detik kemudian, Laela sadar kalau yang dia lakukan ini hanya akan menambah masalah dalam hidupnya. Laela langsung memukul-mukul dada kabur dengan kedua tangannya. Sekuat yang dia bisa agar kabur melepaskan pagut4n nya pada bibir Laela.
Namun semakin Laela memberontak, Kabir malah semakin memperdalam ciumannya bahkan menggigit bibir Laela hingga dirinya terpaksa membuka mulutnya. Membuat Kabir makin lincah bermain di sana.
Laela bahkan tidak tahu sejak kapan kedua tangannya di genggam erat oleh Kabir si atas kepala Laela.
Merasa perlawanannya sia-sia, Laela pun menangis. Dan saat air mata itu menetes hingga terasa sampai indera pengecap Kabir. Kabir yang tadinya memejamkan matanya menikmati ciuman pertama Laela itu pun membuka matanya. Melihat Laela menangis kabur langsung melepaskan Laela.
Setelah Kabir melepaskan dirinya dan sedikit menarik diri dari Laela. Dengan cepat Laela langsung menampar wajah Kabir.
Plakkk
Setelah menampar Kabir, tangan Laela langsung dia ayunkan karena terasa sangat sakit dan panas.
"Kau keterlaluan Kabir. Aku tidak mau melihat mu lagi!" pekik Laela yang langsung keluar dari toilet.
Kabir masih terdiam mematung di tempatnya. Dia melihat ke arah cermin dimana pandangannya mengarah pada cap lima jari yang membekas dan berwarna merah di pipi sebelah kirinya.
Kabir menunduk sekilas lalu kembali melihat ke arah wajahnya.
"Bodoh, kenapa aku tidak bisa menahan diri pada gadis kecil itu. Bodoh!" pekik Kabir memakai dirinya sendiri.
Sementara Laela yang sudah keluar dari toilet tidak langsung menuju ke meja dimana Arman berada. Dia memilih menuju tempat parkir dan langsung berjongkok di bawah pohon dimana di depannya ada mobil Arman terparkir di sana.
Laela menyeka air mata yang masih menetes di matanya. Laela berusaha menetralkan nafasnya dan menghilangkan wajah dan mata sembabnya akibat menangis karena perlakuan Kabir tadi padanya.
Laela benar-benar menyesal tidak mendengarkan ayah dan ibunya untuk pergi ke rumah neneknya bersama dengan mereka saja. Dia tidak menyangka kalau keras kepalanya itu membuatnya berada dalam masalah. Kabir bukanlah orang yang bisa di hindari dengan mudah. Laela tahu betul dari ucapan Kabir tadi yang mengatakan kalau anak buahnya selalu mengawasi Laela.
"Kenapa aku harus bertemu dan berurusan dengannya. Ini salahku. Harusnya aku dengarkan kata-kata ayah seperti biasanya, kenapa aku bertingkah. Laela bodohnya kamu!" gumam Laela menyesali kebodohannya yang sudah tidak mendengarkan perkataan sang ayah Abdul Kodir.
Setelah merasa wajahnya sudah tak lagi sembab. Laela pun menghubungi Arman dan mengatakan kalau dia sudah ada di tempat parkir.
Arman dengan segera membayar makanan mereka dan pergi menghampiri Laela yang sudah ada di samping mobil Arman. Tapi Arman adalah seorang petugas, cukup mudah baginya melihat perasaan seseorang dari mimik wajah yang mereka tunjukkan. Dan mimik wajah Laela saat di depan Arman menunjukkan kalau dia tengah marah juga sedih dalam satu waktu.
Dengan panik Arman segera mendekati Laela.
"Laela ada apa? apa yang terjadi? kenapa wajahmu terlihat sangat sedih?" tanya Arman yang panik melihat gadis yang dia sukai terlihat murung.
Laela berpikir kalau dia harus cari alasan yang tepat. Semua orang tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat di kereta. Tak ada yang tahu juga kalau dia telah bertemu seorang pria tiga hari lalu, dan tiba-tiba pria itu bilang suka padanya. Bisa habis dia sama ayah dan neneknya.
Saat melihat Laela terdiam, Arman perlahan mengangkat tangannya ingin menyentuh wajah Laela. Namun Laela langsung bicara hingga membuat Arman menghentikan gerakan tangannya bahkan menurunkan lagi tangannya ke tempat semula yaitu di samping tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, ini baju baru ku dari nenek nodanya tidak bisa hilang. Padahal baju ini baru aku pakai sekali ini!" jawab Laela sambil menunjukkan noda bekas tumpahan jus jeruk akibat perbuatan pelayan wanita di restoran tadi.
Melihat noda itu dan ucapan Laela sebenarnya Arman masih sulit untuk mempercayai nya. Masak sih hanya karena pakaiannya terkena noda sampai sembab begitu wajah dan matanya Laela.
Tapi Arman juga tidak mau membuat Laela tidak merasa nyaman karena tidak mempercayai nya. Maka Arman mengangguk paham saja. Agar masalah ini berhenti sampai di sini.
"Jangan sedih ya, nanti aku yang jelaskan pada nenek. Atau kita ke butik lagi, mencari baju yang sama dengan baju itu?" tanya Arman mencoba untuk menghibur Laela agar tidak lagi sedih kalau memang alasannya karena pakaian nya yang kotor.
Tapi Laela dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah bang, aku mau pulang saja!" jawab Laela yang sudah tidak bersemangat lagi untuk melakukan apapun. Dan hanya ingin pulang dengan cepat ke rumah neneknya.
"Baiklah, ayo!" ucap Arman yang langsung membuka pintu mobil untuk Laela.
Setelah Laela masuk ke dalam mobil, Arman juga langsung masuk ke dalam mobil. Mereka pun menuju ke rumah nenek Zubaidah.
Dari jauh, Kabir melihat kepergian Laela bersama dengan Arman. Dari wajahnya terlihat jelas kalau Kabir sangat kesal.
"Bos, Vin sudah mengikuti wanita itu. Tapi kenapa kita harus terus mengawasi dan melindungi nya saat dia di luar rumah, bos?" tanya Bucek tangan kanan Kabir yang tidak mengerti dengan maksud bosnya.
Karena memang selama ini bosnya itu rusak pernah meminta hal seperti itu pada Bucek dan yang lain.
"Itu urusan ku, bagaimana dengan si tua Andreas itu, apa dia sudah bergerak?" tanya Kabir.
"Sudah bos, malam nanti sepertinya rombongan Mukhtar dan anak buah tuan Maaz akan bertemu Andreas dan anak buahnya. Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana anda bos. Andreas mendapatkan kembali emas itu, supaya Mukhtar benar-benar di kirim ke tempat yang sangat jauh dari sini. Agar Zulaikha itu kehilangan satu pendukung, dan membuatnya tidak lagi menindas nyonya Zahra!" ucap Bucek panjang lebar.
Bucek juga sangat menyayangi Zahra, dia sudah di tolong oleh Zahra saat masih kecil. Dan akhirnya jadi anak buah Kabir. Dia juga sangat tidak senang membiarkan Zahra tinggal di istana yang sebenarnya adalah penjara tak terlihat itu.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍