“Ck..!! Kenapa aku bisa lupa!!!” rutuknya sambil melempar sembarangan botol air mineral yang dipegannya dan tanpa sengaja botol air mineral itu menganai kepala salah satu cowok yang sedang berkumpul di depan Elisan.
“Mati aku!” gumam Elisa saat pria yang terkena lemparan homerun nya tadi berjalan ke arah nya.
Dan dari muka pria itu sangat jelas kalau dia sangat marah.”Padahal tidak sengaja kan?” batin Elisa.
“Milik mu?” tanya Pria itu sambil mengarahkan botol yang Elisa lempar tadi ke arah Elisa.
“Sepertinya iya.” Aku Elisa mau tidak mau. Mau bohong juga percuma, jelas banyak saksi yang melihatnya.
Pria itu menatap Elisa dengan tatapan geram sambil membuka botol air mineral itu dan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahannya dia menuangkan air itu di atas kepala Elisa. “ini baru sepadan.” Ucap nya tersenyum smirk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
“Ting...” Pintu lift pun terbuka.
Elisa merapikan wig nya sekali lagi sebelum dia melangkah keluar. Lalu sambil menunduk Elisa membungkuk dan mengucapkan terima kasih ada pria yang dia susahkan sedari tadi.
“Terima kasih.” Ucap Elisa lalu menambil paper bag nya.
Sekilas Elisa melihat si pria. Namun karena dia terburu-buru dia tidak notice kalau itu adalah Alhen. Pria yang dia tampar dan dia guyur dengan air mineral tempo hari. Apalagi Alhen saat ini pakai kaca mata.
Elisa segera keluar dari lift.
Alhen yang masih belum paham dengan situasi itu, hanya bisa mengusap-usap tengkuknya sambil ikut keluar. "Kenapa tadi tidak aku habisi saja ya?" Gumam nya heran, tidak biasanya dia sampai gagal membunuh target nya sampai berkali-kali seperti ini. Padahal kalai di pikir-pikir yang di hadapi nya ini tidak lah lebih dari anak AbG labil yang baru berumur 19 tahun.
Sambil mengurut- urut keningannya Alhen keluar. Toh memang di lantai ini lah dia janjian ketemu dengan kencan buta pilihan ibu nya yang ke 100.
Dari tempat Alhen berdiri, Alhen dapat melihat Elisa berdiri di depan pintu sebuah ruangan.
Saat melihat itu akhir nya Alhen baru merasa ada sesuatu yang janggal. “Dari sekian banyak ruangan di lantai ini, mengapa dia masuk ke ruangan dengan ku. Apa di dalam ruangan itu ada beberapa meja? Tumben mommy tidak memesan VVIP room?” Batin Alhen, menajamkan mata nya melihat Elisa.
Wajar Alhen berpikir seperti itu karena biasanya memang ibu nya selalu memesan ruangan VVIP untuk semua kencan buta Alhen. “Apa mommy mulai kehabisan duit mengingat ini adalah kencan ke 100 ku?” Seloroh Alhen dalam hati, mengira kalau dia akan masuk ke Sharing room.
Karena kalau itu bukan lah Sharing room, maka itu artinya teman kencan buta Alhen sudah pasti adalah Elisa.
But...but.. but..... MANA ADA HAL SE-RANDOM ITU DI ATAS DUNIA INI. BAGAIMANA BISA TARGET KE 100 nya MENJADI TEMAN KENCAN BUTA KE 100 nya. Kayak gak masuk akal gitu.
karena merasa hal itu sangat tidak masuk akal, Alhen pun segera menendang hal itu dalam otaknya.
Alhen melangkah mendekati ruangan itu. Dan saat itu terlihay Elisa masih menarik-narik rok nya ke atas dan merapikan rambut nya palsu nya.
Alhen melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian Alhen melihat ke arah jam tangannya. Sempat terpikir oleh nya untuk mengabisi nyawa Alisa saat itu juga, tapi karena mempertimbangkan satu dan berbagai hal, Alhen menunda nya. "Sepertinya saat ini sudah tidak sempat untuk melaksanakan rencana ku. Sebaiknya aku masuk ke dalam lebih dulu, agar aku bisa segera menyelesaikan urusan ku dan segera membereskan nya.” Alhen pun melewati Elisa begitu saja.
"Cekleeek...." Baru saja Alhen melangkah satu langkah mmasuk ke dalam ruangan itu, tanpa di sangka- sangka Alhen langsung di sambut oleh mommy nya.
”Mommy....?” gumamnya saking terkejut nya.
“Akhir nya kau datang juga AL......”Jolie langsung menarik tangan Alhen untuk bergabung bersama nya.
“Ini Al, putra ku yang aku katakan pada mu tadi, Miranda.” Jolie memperkenalkan putra nya ke sahabatnya.
“Waah putra mu tampan sekali Jolie.. persis seperti ayahnya.” bisik Miranda, sambil menyalami Alhen.
“Alhen tante.” Ujar Alhen kalem.
“Miranda. Aku teman ibu dari kecil. Saat ingus nya masih terbang kiri terbang kanan.” Seloroh Miranda pada Alhen.
“Kau ini! Malah membuka aib ku! Lagian memang nya ingus ku saja yang terbang kiri terbang kanan, ingus mu juga tau!! Wong kita kan seumuran.” Balas Jolie tidak mau kalah.
“Tapi ingus mu terbang ke kiri itu membentuk sudut tumpul, seharusnya kan dia membentuk sudut siku-siku!” balas Miranda makin asal.
“Iya! Bagus! Ingus ku membentuk sudut tumpul! Lalu ingus mu yang membentuk sudut siku-siku! Memangnya kau ukur sudut ingus mu!!!!”sembur Jolie.
Lama kelamaan wajah bule nya Jolie mulai tidak singkron dengan logat batak yang mulai keluar sedikit demi sedkit dari mulut nya.
Memang ibunya Alhen ini pernah lama tinggal di Medan sebelum akhirnya bertemu dengan ayah nya Alhen sewaktu pindah ke Jakarta.
Alhen hanya bisa tersenyum tipis melihat interaksi absurd dua orang wanita paruh baya di depannya.
“tidak biasa nya mommy bercanda seperti ini di depan orang lain. Biasanya bawaannya selalu saja serius kalau di depan orang yang bukan anggota keluarganya. Apa memang sedekat itu mommy dengan tante Miranda? Kalau mereka dekat mengapa aku tidak pernah mendengar nama tante Miranda ya?” Batin Alhen.
Alhen yang terlalu disibukkan oleh ocehan kedua wanita itu sepertinya melupakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang sedang asik menarik-narik rok dan membetulkan wig nya di depan pintu ruangan itu.