Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengubur Dalam-dalam
Alisya seketika kembali membuka mata, saat bibir kenyal Afgan lembut menyentuh keningnya, diam-diam kedua sisi bibir mungil Al pun nampak mengembang kecil, namun, dia menyembunyikan senyumannya itu, karena tidak ingin terlihat bucin di depan suaminya.
'Bucin? Akh ... gak mungkin, aku pasti salah,' (Batin Alisya)
Setelah itu, Afgan keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu, namun, seketika dia kembali membukanya lalu memasukkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka.
''Alisya, aku tau kamu belum tidur. Jangan banyak bergerak dulu, kaki kamu masih sakit, kalau mau turun ke lantai jangan lupa pakai alas kaki, biar luka kamu itu gak terkena kotoran. Aku mengatakan ini bukan karena aku perhatian sama kamu, ya. Tapi aku gak ingin kamu nyusahain aku nantinya,'' ucap Afgan, penuh penekanan.
''Hmm ...'' Alisya hanya menjawab dengan gumaman.
Setelah kepergian Afgan, Al pun nampak membalikkan tubuhnya, berbaring terlentang lalu menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong.
Lalu seketika, dia pun mengusap kening yang tadi di kecup oleh Afgan, lalu tertawa lepas dengan kaki yang di angkat ke udara.
''Ha ... ha ... ha ... Kamu gila Alisya, baru di kecup gitu aja udah gemetar,'' ucap Al pada dirinya sendiri.
Alisya pun semakin tertawa terbahak-bahak masih dengan posisi yang sama, sampai akhirnya tiba-tiba saja pintu kembali di buka, Afgan berdiri di depan pintu, menatap istrinya yang kini sedang tertawa kegirangan, dengan kaki yang diangkat tinggi ke udara.
''Kamu kenapa?'' tanya Afgan membuat Al terkejut seketika merasa malu.
Kemudian, dia pun menurunkan kedua kakinya dan kembali meringkuk, kali ini dia bahkan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal benar-benar merasa gemetar sekaligus malu bukan kepalang, karena dirinya sama sekali tidak tau bahwa suaminya itu akan kembali lagi, dan menyaksikan tingkah konyolnya itu.
''Kenapa balik lagi? bukannya tadi kamu udah pamit pergi?'' teriak Al dari dalam selimut.
''Ponsel aku ketinggalan,'' jawab Afgan seketika menarik selimut, melemparkannya ke sembarang arah, lalu menatap Alisya yang terlihat begitu kecil dengan kedua kaki di tekuk, membuat Afgan sontak tertawa kecil.
Perlahan Afgan pun semakin mendekati ranjang, dia bahkan menaikan satu kakinya yang sudah memakai sepatu hitam mengkilap, membuat Al sontak memejamkan mata mengira bahwa suaminya itu akan kembali mengecup keningnya.
Afgan pun semakin mendekat membuat jantung Alisya semakin berdetak kencang, bahkan terasa hampir meledak, namun, bukan kecupan yang dia dapatkan, melainkan sentilan keras dari kedua jari Afgan membuat Al terkejut dan meringis kesakitan.
''Argh ...! Sakit tau ...'' teriak Al, memekikkan telinga, lalu mengusap kening.
''Lagian kamu mau ngapain? jangan-jangan kamu berharap kalau aku akan mengecup kening kamu kayak tadi? JANGAN HARAP ...!'' ketus Afgan, meraih ponsel yang memang sejak awal berada di atas ranjang, tepat di belakang punggung Alisya.
''Aku cuma mau ngambil ini,'' Afgan memperlihatkan ponsel di tangannya.
''Heuh ... Kepedean banget si, siapa lagi yang mau di cium sama kamu,'' jawab Alisya tidak kalah ketus, dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa, membuat bibir mungilnya terlihat begitu menggoda.
Sampai akhirnya ....
Cup ....
Afgan mengecup keras bibir mungil itu, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan sukses membuat Alisya terdiam mematung dengan jantung yang berdetak tidak beraturan.
''Jangan ketawa kayak orang gila lagi kayak tadi, nanti kamu di kira gila beneran, lho, ha ... ha ... ha ...'' teriak Afgan dari luar kamar.
''Ish ... dasar kurang ajar, so jual mahal, seharusnya 'kan aku yang jual mahal, dasar tiang listrik,'' gerutu Alisya, meraba bibirnya dan merasakan kembali kecupan kenyal bibir Afgan yang terasa hangat membuat bulu kuduknya merinding serempak, lalu dia pun tersenyum seketika merasa bahagia.
Alisya menarik kembali selimut yang tadi dilemparkan oleh Afgan, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut, meringkuk dengan pikiran yang tiba-tiba melayang.
'Jangan salahkan aku jika aku jatuh cinta sama Kaka kamu, Vincent. Mulai saat ini, aku akan menganggap kamu sudah mati, begitupun dengan perasaan aku padamu, yang kini perlahan benar-benar mati,' ( Batin Alisya )
Entah mengapa, tiba-tiba saja pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat kembali sosok laki-laki yang telah menorehkan luka yang menganga meninggalkan lubang dalam di hati Alisya.
Bagiamana tidak, pria yang telah berjanji akan menikahinya itu, pria yang telah memberinya sejuta harapan lengkap dengan janji-janji manis yang diucapkan begitu meyakinkan, pergi begitu saja tepat di hari pernikahannya, dan bodohnya lagi dia percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki yang dia anggap tidak bertanggung jawab itu.
'Aku benci sama kamu, Vincent.' (Batin Alisya)
Seketika, air mata yang selama ini dia tahan, mulai berjatuhan dan membasahi wajah mungil wanita yang telah sah menjadi istri dari pria bernama lengkap Afgan Raditya Zhafran itu.
Mulai saat ini, mulai detik ini, dia akan benar-benar mengubur harapannya kepada laki-laki itu. Mengubur perasaannya yang sempat mengisi begitu dalam relung hatinya, dan tentu saja dia akan membuka harapan baru, kebahagiaan baru dan mengisi hatinya dengan cinta yang baru, yaitu cinta untuk suaminya.
Meskipun dia merasa tidak yakin bahwa suaminya itu akan memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, meningkat bahwa Afgan masih menyimpan Poto wanita yang bernama Milannita di ponselnya.
Bahkan, Afgan pun masih menyimpan nomor wanita itu dengan tulisan 'kekasihku' di dalam ponselnya itu, mengingat hal itu membuat Al menarik napas panjang, dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
'Apa aku cemburu? bukankah wajar jika aku cemburu? aku istrinya, meskipun dia kekasih dari suamiku, tetap saja, aku yang lebih berhak untuk berada di sisinya. Akh ... entahlah, memikirkan hal itu membuat otakku terasa akan meledak,' (Batin Alisya, merasa kesal)
Kemudian, dia pun tertidur lelap begitu saja.
❤️❤️
Siang hari.
Alisya yang sedang tertidur, terpaksa membuka matanya dengan perasaan malas ketika mendengar suara ponsel miliknya berdering memekikkan telinga.
Al pun mengeluarkannya satu tangannya dari dalam selimut, meraba permukaan kasur mencari ponsel, sampai akhirnya dia pun menemukan ponsel itu, dan langsung mengangkat telpon tanpa menatap layarnya terlebih dahulu, karena matanya memang masih dalam keadaan setengah terpejam.
📞''Halo ...'' Al mengangkat telpon dengan suara malas.
📞 ''Iya, halo ... Apa benar ini nomor ponsel Alisya?'' sayup-sayup terdengar suara seorang wanita dari dalam telepon.
📞''Iya, betul. Ini siapa ya?''
📞 ''Perkenalkan, saya Milanita. Bisakah kamu membukakan pintu? saya ada di luar sekarang.''
Deg ...
Dada Alisya tiba-tiba terasa sesak.
'*Ada apa dia tiba-tiba datang kemari?' (Batin Alisya)
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️*