Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Dante : Physiotherapy
Gadis itu bernama Lily dan dia bilang Dia Istriku. Tentu saja aku tidak percaya. Namun dia memperlihatkan foto-foto pernikahan kami serta cincin nikah kami. Nampaknya itu semua asli tidak terlihat seperti foto editan atau cincin pernikahan palsu.
Tapi, bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan Istriku sendiri?
Lily bilang aku menderita Anterograde Amnesia, semacam kehilangan ingatan jangka pendek. Penyebab aku menderita kelainan itu karena aku dan temanku mengalami kecelakaan. Aku dan temanku selamat dati maut tapi kami mengalami cidera yang benar-benar fatal. Saat kutanya siapa temanku itu, Lily tidak menjawab, dia bilang aku tidak akan mengenalnya.
Aku tidak ingin memaksanya, karena kulihat dari raut wajahnya, dia seolah tidak senang dengan pembahasan itu. Mungkin dia begitu terpukul dan trauma atas kejadian yang membuat suaminya hilang ingatan dan cacat seperti ini.
Tidak, aku tidak benar-benar cacat, aku hanya kehilangan sedikit kemampuan otot-otot serta syarafku karena aku sempt terbaring koma.
Begitu kata Lily.
Dan lagi, aku tidak percaya begitu saja dengan yang dia katakan, awalnya. Namun saat aku menyadari bahwa sekarang bukan tahun 2016 melainkan 2020 aku baru tersadar kalau aku benar-benar kehilangan ingatanku yang di tahun 2017-hingga hari kemarin sebelum aku tertidur.
Tapi, aku bisa mengingat mimpiku tadi malam.
Lily membuatkanku sarapan nasi goreng yang enak sekali, kemudian dia menyuruhku minum banyak sekali obat. Beberapa obat cukup familiar, semacam obat pereda rasa sakit, semacam multi vitamin dan beberapa aku tidak pernah tahu jenis obatnya.
Dia bilang, dia dan orangtuaku sepakat untuk mendatangkan. Seorang Fisioterapis demi mempercepat kesembuhan fungsi gerak tubuku. Sepertinya aku tau siapa orang yang akan menjadi terapisku itu. Aku bisa menebaknya.
"Sudah ku duga mama pasti membawamu. Aku sudah bisa nebak fisioterapis yang di maksud itu Mas Ryan," kataku tatkala melihat Mama bersama Ryan diikuti Lily masuk keruang tengah.
"Dante sayang bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?" tanya Mama.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaanku sebelumnya," jawabku santai.
"Ah ... Tentu saja. Maafkan mama," ucap ibuku pelan dengan nada sedih.
"Untuk?" tanyaku
"Untuk menayakan hal yang tidak perlu di tanyakan," kata ibuku lagi sambil berusaha tersenyum.
"Tidak masalah, Ma. Silahkan duduk, kalian mau berdiri begitu terus?" aku mempersilahkan Mama dan Ryan untuk duduk demi mencairkan suasana yang agak canggung ini.
"Kau tidak ingin duduk?" tanyaku pada Lily yang mematung di tempatnya berdiri.
Dia terpekik kecil, sepertinya dia terkejut.
"Sini." Aku memintanya untuk duduk di sebelahku dan dengan senyum canggung dia menurut untuk duduk di tempat yang kumaksud.
"Bagaimana kabarmu Mas?" tanyaku.
"Baik," jawab Ryan singkat.
"Apa kamu bisa diandalkan untuk kesembuhanku?"
"Aku akan mengusahakan yang terbaik."
"Ku harap kau tidak akan mematahkan kakiku."
"Aku bekerja secara profesional, jadi kau tenang saja."
"Kuharap begitu."
Tidak ada pembicaraan lain. Aku diam, Ryan diam, Mama diam, Lily juga diam atau bingung lebih tepatnya.
Bi Aluh datang membawa senampan minuman, suara dentingan gelas kaca bergesekan dengan meja marmer menjadi suara pertama yang terdengar setelah keheningan yang canggung menyelimuti.
"Jadi jenis terapi seperti apa yang akan aku jalani?" tanyaku akhirnya.
Ryan menyesap kopinya sebelum menjawab pertanyaanku, "Ada beberapa rangkaian terapi yang harus kau lewati hingga beberapa bulan kedepan."
"Bisa tolong dijelaskan?" tanyaku
"Well, pertama kita harus observasi dulu, aku sudah membaca catatan Medismu. Tapi aku masih perlubmenanyakan langsung beberapa pertanyaan padamu." Ryan mulai membuka pembicaraan dengan penjelasan awal.
"Lalu?" tanyaku
"Selamjuna bisa di tentukan terapi apa yang perlu kau jalan. Secara umum, mungkin kita akan melakukan terapi manual, berupa pijitan langsung di berapa titik juga untuk memanipulasi jaringan Yang terganggu, kemudian terapi gerak berupa latihan untuk melakukan beberapa gerakan tertentu. Mungkin kita juga akan melakukan beberapa terapi tambahan seperti menggunakan alat khusus di beberapa sesi," jelas Ryan.
"Alat khusus?" Aku mengulang kata-katanya untuk menciptakan sebuah kalimat Tanya.
"Ya, alat khusus semacam alat yang berfungsi mengirimkan sinyal listrik ke daerah yang mengalami nyeri, serta terapi ultrasound yang menggunakan gelombang frekuensi tinggi untuk mengurangi rasa nyeri, ketegangan, dan mempercepat proses pemulihan. Kami menyebutnya dengan Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)." Ryan memberikan penjelasan tambahan.
"Hhhhm ...." Aku memresponya hanya dengan gumaman sambil menarik bibir kesamping.
"Kamu beruntung loh Dante." mama tiba-tiba berbicara ketika hampir tercipta lagi jeda diam yang canggung.
"Beruntung?" Aku menyiratkan pertanyaan dengan mengulangi kata yang di tekan ibuku lada pernyataan beliau sebelumnya.
"Kamu beruntung bisa di terapi langsung oleh dokternya. Dan lagi, kamu tidak perlu datang ke klinik atau rumah sakit melainkan dokternya langsung yang datang ke rumah kamu," lanjut mama.
"Oh ya? Apa itu sesuatu yang spesial?" tanyaku pura-pura bodoh.
"Tentu saja, Ryan ini sibuk sekali aslinya loh, dia banyak banget pasiennya, tapi pas mama minta tolong ke dia, dia langsung mau, malah dia yang mengusulkan untuk dia datang sediri ke sini untuk menterapi kamu."
"Wow, sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih," ucapku sambil menatap Ryan yang juga sedang menatapku dengan pandangan yang selalu dingin.
Kami saling menatap dengan tajam untuk beberapa saat sebelum Lily bersuara.
"Mungkin bisa dimulai sekarang sesi terapinya," ucap Lily hangat yang ajaibnya seolah mencairan bongkahan dingin es dari tatapan mataku pada Ryan.
"Tentu saja," jawab Ryan mendahuluiku.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Lily yang di susul gerakan berdiri dari sofa.
Aku menarik lengannya ketika ia sudah berdiri sempurna dan bersiap untuk meninggalkan ruangan ini, "Mau ke mana?" tanyaku.
"Ke ... ruangan yang lain, aku pikir kalian perlu ruang untuk bicara berdua," jawab Lily agak canggung sambil menatap lengannya yang ku pegang dan juga wajahku secara bergantian.
"Tidak, kau di sini saja," kataku.
"Tidak. Dia benar, kita perlu saling bicara berdua saja," sela Ryan.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku? Aku bahkan tidak tau apa yang tejadi padaku. Aku bahkan tidak mengingat apa yang kulakukan kemarin," ucapku.
"Ya, aku tahu, aku hanya akan bertanya padamu tentang apa yang kau rasakan hari ini," jawab Ryan.
Aku melepaskan genggamanku di lengan Lily, "baiklah terserah saja."
Lily mengusap bahuku, "tenang lah, tidak akan lama, Mas bisa memanggilku kalau perlu sesuatu, aku tidak akan jauh."
"Terima kasih," kataku singkat.
Lily dan Mama beranjak keruangan lain, Lily berjalan lebih dahulu di susul oleh Mama. Mama sempat berbisik ketika melewatiku.
"Mama harap kamu cukup dewasa untuk bekerja sama dengam Ryan. Demi kesembuhanmu," bisik mama di telingaku sangat pelan.
Aku tidak yakin apa aku bisa bekerja sama dengan Ryan, orang yang dulu begitu ingin membunuhku.
-Bersambung-