Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Gates
Setelah sekitar satu jam lebih Eldrey sampai di rumahnya dan beristirahat, Alice pun menghubunginya.
“Halo Rey?” sapa Alice.
“Iya Liz? Ada apa?”
“Rey maafkan aku atas yang tadi ya,” tukasnya dengan nada bersalah.
“Kamu minta maaf? Bukankah seharusnya aku yang minta maaf? Aku sudah menyirammu.”
“Tapikan aku yang salah, kalau aku tidak emosian sama Ramses, maka semuanya tidak akan jadi begitu!”
“Oh, jadi kamu sudah baikan sama dia?” tanya Eldrey.
“Sudah, barusan dia juga baru saja pulang,” jelas Alice.
“Baguslah kalau begitu.”
“Tapi kenapa kamu dan Kevin tadi pergi?” tanya Alice penasaran.
“Kenapa lagi? Tentu saja agar kalian bisa berduaan.”
“Hah?! Rey! Kamu bercanda ya, masa kamu ingin aku berduaan sama Ramses. Kamu setuju aku pacaran sama dia?”
“Aku setuju-setuju saja, dia tidak begitu buruk, wajahnya juga tampan,” balas Eldrey.
“Tapi aku tidak suka dia, kamu sendiri tahu itu,” jawab Alice dengan nada enggan.
“Lalu? Dia suka kamu, kamu pun tahu itu.”
“Iya, tapi aku tidak suka dia.”
“Setidaknya beri Ramses kesempatan."
“Aku tidak bisa Rey,” tegas Alice menolak sarannya.
“Tak masalah, tapi jangan menyesal jika seandainya kamu berbalik menyukainya. Mungkin saja tidak ada kesempatan kedua untukmu nantinya,” pungkas Eldrey dengan ekspresi bosan. Sepertinya ia lelah dan malas dengan topik yang dibicarakan Alice.
Suara pintu kamar yang diketuk tiba-tiba pun mengalihkan pandangan Eldrey. “Liz, sebentar, ada yang mengetuk pintu kamarku,” sahut Eldrey.
“Iya."
Dengan tangan yang masih menyandarkan ponsel ke telinganya, Eldrey pun langsung menuju pintu dan membukanya.
“Ada apa?” tanya Eldrey pada pelayan yang berdiri di balik pintu.
“Nona, ada tuan Gates datang berkunjung,” sahut pelayan itu padanya.
“Ya sudah, sebentar lagi aku akan turun."
“Baik Nona," pelayan itu mengangguk dan berjalan meninggalkan kamar Eldrey.
“Liz maaf, aku harus tutup teleponnya karena ada urusan.”
“Iya tidak masalah. Ya sudah, aku matikan ya."
“Iya,” balas Eldrey sambil meletakan ponselnya di atas meja nakas setelah Alice memutus panggilan.
Ia keluar kamar dan menapaki jembatan lorong dengan ekspresi kesal. Eldrey mendadak berhenti, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Spontan ia langsung berbalik lalu berjalan cepat kembali ke kamarnya. Sesampainya di sana, Eldrey pun mengambil ponselnya dan keluar lagi.
Eldrey berjalan cukup cepat dan saat akan sampai di tangga menuju lantai satu ruang tamu bangunan utama, ia pun memainkan ponsel. Tampak jika Eldrey menghidupkan perekam suara, entah untuk apa itu gunanya.
“Kakek?” sapa Eldrey dengan senyum semringah.
“Cucuku sayang, ke mana saja kamu? Sampai-sampai kakek sendiri yang harus kemari menemuimu,” ujar kakeknya melihat Eldrey berjalan mendekat.
Gadis itu duduk di dekatnya. "Maafkan aku kakek, aku belum sempat,” tukas Eldrey dengan nada sedikit manja. “Nenek tidak ikut ke sini?“ tambahnya.
“Nenekmu ada tamu tadi. Dia kedatangan temannya, jadi kakekmu ini ditinggal sendiri.”
Eldrey tertawa pelan, "karena itu Kakek ke sini biar ditemani?”
“Ada-ada saja jawabmu." Tuan Gates pun ikut tertawa. "Oh benar juga, bagaimana dengan kuliahmu?” tanya tuan Gates.
“Lancar.”
“Baguslah. Kakek dengar, sekarang kamu libur. Bagaimana jika menginap di tempat kakek? Nenekmu pasti sangat senang melihat kedatanganmu,” ajaknya.
“Kedengarannya menyenangkan, tapi mungkin lain kali saja aku ke sana.”
“Kenapa?”
“Besok aku harus ke kantor membantu ayah,” jawab Eldrey polos.
“Bantu? Kamu mau bekerja di sana?” tanya tuan Gates penasaran.
“Belum tahu, mungkin cuma bantu-bantu saja.”
“Tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja. Itu bisa jadi pengalaman yang bagus untukmu nantinya,” ucap tuan Gates menyemangati.
“Tapi aku gugup Kakek, walau itu perusahaan ayah,” pungkasnya sedikit cemberut.
“Gugup? Itu hal yang wajar. Lagi pula kamu itu cerdas, jadi pasti tidak akan ada apa-apa, kakek yakin itu,” ucap tuan Gates sambil membelai kepala cucunya.
“Bagaimana jika aku melakukan kesalahan? Ayah pasti akan marah,” balas Eldrey dengan ekspresi agak sedih.
“Marah? Jika Betrand berani memarahimu, beritahu Kakek. Dia pikir dirinya siapa memarahi cucuku?!” umpat tuan Gates.
Eldrey pun tersenyum menatap tuan Gates yang bicara seperti itu.
“Kamu tidak perlu khawatir. Jika ayahmu marah dan menendangmu dari perusahaan karena salah di hari pertama, biar kakek bangun perusahaan baru untukmu dan kamu jalankan saja yang itu,” jelas tuan Gates menenangkan hati cucunya.
“Kakek serius? Terdengar seperti warisan,” tanya Eldrey sambil bercanda.
“Kakek serius, kamu meledek saja bisanya. Setelah jadi, kakek pastikan kamu sendiri yang akan kaget dan kagum nantinya."
“Serius?"
“Iya, tapi kalau ayahmu menendangmu dari perusahaannya bukan?” balas tuan Gates tertawa.
“Hah," ia menghela napas pelan. “Padahal aku berharap punya perusahaan sendiri tanpa campur tangan ayah,” tukas Eldrey kecewa.
“Buktikan dulu kalau kamu mampu di perusahaan Betrand, baru kakek siapkan untukmu.”
“Mmm ...” balas Eldrey dengan nada enggan. Lalu percakapan mereka berdua terus berlanjut tanpa membahas lagi tentang perusahaan atau bisnis semacamnya.
Suara langkah kaki di pintu mendekati ruang tamu pun terdengar. Mereka berdua menoleh ke arah orang yang baru datang, tampak jika presdir Betrand dan sekretaris Roma sedang berjalan mendekati mereka.
“Ayah? Ayah baru datang?” sapa presdir Betrand.
“Tidak, aku sudah datang dari tadi, kamu habis dari mana?” tanya tuan Gates pada putranya.
“Aku habis bertemu klien, mana ibu?” tanyanya balik.
“Ibumu tidak ikut karena kedatangan temannya di rumah.”
“Oh,” balas presdir Betrand sambil duduk. Ia lalu menatap putrinya. “Eldrey, pergilah ke kamar,” perintah presdir Betrand.
“Baik," gadis itu mengedarkan pandangannya. “Kakek, aku ke kamar dulu,” tambahnya.
“Iya sayang,” balas tuan Gates sambil tersenyum pada cucunya. Eldrey lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari mereka menuju kamar.
Sesampainya di kamar ia merebahkan dirinya di sofa. Mengeluarkan ponsel dari saku dan memainkannya. Terdengar rekaman pembicaraannya bersama tuan Gates. Ia tersenyum, perlahan mulai tertawa pelan. Lama kelamaan tawanya pun mulai keras sampai akhirnya ia berhenti dan mematikan rekaman ponsel yang diputarnya.
"Omong kosong."
Tidak peduli seberapa keras tawanya, itu tidak akan terdengar ke tempat presdir Betrand sekarang, mengingat perbedaan bangunan tempat mereka tinggal.
Di bangunan utama kiri yang ditempati Eldrey, hanya dihuni olehnya dan beberapa pelayan yang mengurus kediaman bangunan utama kiri itu.
Menyedihkan sekali, selain para pekerja dan sekretaris Roma, di kediaman raksasa tersebut hanya ditempati Eldrey dan presdir Betrand sebagai tuan rumah, bahkan mereka pun menginap di bangunan yang terpisah. Seolah-olah, keduanya sudah menyiapkan rumah masing-masing sebagai ayah dan anak.
Eldrey bangun dari tidurnya, berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil sesuatu di laci lemari. Tampak itu sebuah foto lusuh di tangannya. Di foto tersebut, terlihat ada seorang wanita muda dengan dua orang anak yaitu anak laki-laki dan perempuan di kiri kanannya.
Eldrey tersenyum menatap foto itu. “Kau masih belum berubah, tak kusangka aku akan bersemangat seperti ini. Hah!" hela napasnya kasar.
"Kau harus membayarnya. Kau dan putramu harus membayarnya. Tidak ... kalianlah yang harus membayarnya, kalian semua memang harus membayarnya,” gumam Eldrey.
Ia berbicara sendiri, menatap foto itu dan meremasnya. Eldrey melakukan itu dengan ekspresi dingin dan senyum misterius yang tak pernah diperlihatkannya.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍