Berawal dari tegukan wine, hingga menjadi belahan jiwa, begitulah kisah James Davies dan Evelyn Lawrence yang sama-sama mengepalai perusahaan dan menggeluti dunia perbisnisan.
Meskipun berawal tanpa cinta, mereka sepakat akan terus menjaga baby mereka. Karena kebersamaan itulah, berbagai misteri terungkap dan cinta tumbuh bersemi dan mekar walaupun dimusim panas yang tandus dan musim hujan yang dingin.
Yuk simak kisahnya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Janesalen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang baik
Setelah selesai menikmati makan malam, Eve membersihkan piring kotor dan merapikan meja. sementara Jimmy sudah tak terlihat lagi di meja makan, mungkin sudah kembali ke kamarnya.
Eve melangkahkan kaki menuju ruang tengah guna bersantai ria sambil menonton film kesukaannya, tak lupa ia membawa beberapa kotak cemilan, dalam kondisi hamil seperti ini membuat selera makannya sangat tinggi.
Eve memutar film action kesukaannya, dimana karakter pria sebagai superhero yang menyelamatkan orang banyak di bantu sang kekasih untuk menjalankan misi-misi penting.
"Ternyata begini tontonanmu" Jimmy datang tiba-tiba seperti hantu mengusik ketenangan Eve yang sedang menikmati adegan romantis pasangan kekasih itu.
Eve hanya tersenyum malu, dia tak menjawab apapun.
"Ini" Jimmy menyodorkan sebuah benda yang telah di beri hiasan kayu bertuliskan JE
Eve mengambil dan mengamati benda itu, sebuah kunci mobil berlogo BMW.
"Ganti mobilku?" Tanya Eve menimang-nimang kunci tersebut.
"Iya, Lunas ya" Jimmy duduk disamping Eve turut menikmati film
"Seromantis itukah kau hingga menuliskan JE disini?" Tanya Eve sudah menangkap arti dari tulisan tersebut.
Jimmy hanya terkekeh pelan seraya ikut mencomoti cemilan Eve.
"Kau serius semalam tidak mabuk?" Jimmy bertanya mengalihkan pandangannya pada Eve berharap wanita disampingnya ini merespon dengan serius.
"Hmmm" hanya itu yang terdengar dari mulut Eve
"Apa kau mendengar semua yang ku katakan?"
"Aku mendengar semua"
"Kau tampak tak heran, apa kau sudah mengerti?" Tanya Jimmy melihat respon Eve seperti orang sudah paham seluk beluk perasaannya.
"Aku sudah tahu semuanya" Jawab Eve singkat
"Harus ku akui kau wanita cerdas" ledeknya menyandarkan kepala ke sandaran sofa. bahkan dia belum menceritakan apa-apa, Wanita itu sudah memahaminya.
"Aku senang mendengarmu semalam" Eve menekan tombol pause supaya pembicaraannya tak terganggu oleh suara film.
"Aku juga senang kau berpura-pura mabuk, jadi aku tak canggung mengatakannya padamu" Jawab Jimmy mengingat-ingat kejadian semalam.
"Hmm... ternyata kau pengecut juga" Eve tertawa pelan.
"Aku memang pengecut, tapi takdir berpihak padaku. buktinya kamu jadi istriku dengan segala skenario yang membuatku pusing" Jimmy merangkul bahu Eve dan membawa kepelukannya.
"Kamu Takdirku" bisiknya kemudian di telinga Eve
"Jim, kau harus percaya, anak ini adalah anakmu"
Eve memegang tangan Jimmy, dan menempelkan tangan itu pada perutnya.
"Aku tak peduli lagi, aku akan menjaga kau dan dia" Jimmy memeluk Eve dengan erat dan mengusap puncak kepalanya.
Rasanya sangat bahagia memiliki istri pintar dan cerdas seperti Eve, Memiliki orang yang sangat dia kagumi dan cintai dimasa lalu yang sekarang sudah benar-benar hadir dalam hidupnya, sudah jadi miliknya. senyumnya merekah.
"Eve, aku mencintaimu"
"Aku juga mulai mencintaimu" Eve mendongakkan kepalanya menatap wajah Jimmy.
pandangan mereka saling bertautan, deru nafas mereka terdengar satu sama lain, mereka saling menatap untuk beberapa waktu lamanya.
"Cuppp" Jimmy mencium hidung mancung Eve. membuat Eve sedikit terkejut.
"Sudah, kau harus istirahat" lalu mengangkat tubuh Eve ala bride style menuju kamar.
Eve tersenyum senang mendapat perlakuan romantis dari suaminya, tak disangka suaminya yang begitu menyebalkan dulu bisa seromantis ini.
Eve mengalungkan tangannya dileher Jimmy dan terus menatap wajah Jimmy, hingga mereka tiba dikamar.
"Mulai sekarang ini kamarmu juga" Ucapnya seraya membaringkan Eve di kasur
"Ohya kandunganmu sudah berapa bulan?" Tanya Jimmy tiba-tiba melihat perut Eve sedikit menonjol dari balik baju kaos yang dipakainya.
"Dua bulan"
"Besok kita ke dokter Ok?" ajaknya sambil menyelimuti Eve dengan telaten.
"Kenapa kau berubah drastis?" Eve mengangkat alisnya merasa agak canggung dengan perlakuan Jimmy.
"Sebenarnya aku romantis, kau saja yang baru mengetahuinya" elaknya
"Tidak, biasanya kau itu menyebalkan"
Mereka terus saja bersenda gurau ringan, hingga mata mereka terpejam menuju alam mimpi.
...***...
jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Eve terbangun merasakan lapar. Dia melangkah keluar kamar untuk mengambil makanan yang telah dia sediakan di kulkas.
Eve membawa beberapa potong kue kesukaannya ke dalam kamar, karena matanya sudah tidak lagi mengantuk dia memutuskan untuk menonton di kamar saja.
Eve menoleh ke lelaki yang sedang terlelap disampingnya, posisi tidur miring menghadapnya membuat Eve puas memandangi wajah tampan Jimmy.
"Aisss... kenapa aku begitu suka memandangmu?" gumamnya.
Eve memakan kue nya satu per satu, hingga tak satupun lagi tersisa. tapi dia masih merasakan lapar.
"Eve, kenapa kau berisik sekali?" tanya Jimmy dalam tidurnya dengan posisi mata masih terpejam
"Jim, keluar yuk beli makanan. di kulkas stok habis. aku lapar" Ajak Eve menggoyangkan tubuh Jimmy.
tapi tak ada respon dari lelaki itu. Eve mulai merasa kesal.
Eve menyetel volume TV dengan keras supaya Jimmy terbangun.
"Ya ampun Eve, ini kamar lo. bukan bioskop" omel Jimmy yang terjingkat kaget mendengar suara letusan dan tembakan dari film yang di play Eve.
"Keluar yuk, beli makan" Ajak Eve tak menghiraukan omelan Jimmy
"Tinggal pesan online saja di restoran cepat saji, kenapa kau jadi lemot?" Cibir Jimmy seraya mengambil hp nya untuk memesan makanan online.
Biasanya Eve si wanita cerdas ini bisa dengan gampang menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi kenapa memesan makanan saja dia harus berdrama manja seperti ini, batin Jimmy.
"Aku lapar dan tak bisa tidur lagi, apa salahnya aku merepotkanmu yang enak-enakan tidur" Jawabnya dengan raut wajah kesal
"Iya... iya sayang" Ucap Jimmy dengan lembut, terkesan sedang mengalah, supaya tak terjadi keributan kecil lagi.
"Aneh sekali mendengarmu berbicara seperti itu"
"Kau akan terbiasa" Jimmy mendekat hendak memeluk Eve. tapi tangannya di tepis oleh Eve.
"Kenapa?" tanya Jimmy heran
...■■■■■■■...
Salam dari Nan lexa........ 👍
Btw pikiran Jimmy mengarah ke Ev nih kayaknya, eh tahunya ketebak dalam diri Ev.