Ken merasakan dunianya runtuh dan kebahagiaannya sirna ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat seluruh keluarganya dibunuh dengan begitu sadisnya oleh sekelompok pria tak dikenal.
Ken adalah saksi bisu pembunuhan sadis yang menimpa seluruh keluarganya. Ayah, Ibu serta adiknya dibunuh tepat di depan matanya dengan sangat sadis. Tapi Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi kematian mereka.
Ken ingin membalas dendam dan menghancurkan pria yang ia yakini sebagai dalang utama dibalik kematian keluarganya. Dan gadis bernama Shea Oliver-lah yang menjadi sasarannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah benar-benar pria itu yang telah membunuh keluarganya?
Ken menculik dan menjadikan gadis tak berdosa itu sebagai sandera di mansion mewahnya. Memenjarakannya di sana dan mengikat paksa Shea dengan sebuah pernikahan.
Dan apakah Cintanya pada Shea mampu membuat Ken melupakan dendam kesumatnya pada keluarga Oliver? Apakah Ken mampu melepaskan dendamnya demi Shea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Berlalu
Shea mengetuk pintu ruang kerja Ken dengan tidak sabaran. Bahkan Ia tidak menghiraukan tatapan bingung dari beberapa pelayan dan penjaga yang hampir memenuhi Istana megah milik suaminya.
Hampir 10 menit Shea berdiri di depan pintu itu dan mengetuknya berulang-ulang. "Aku tau kau ada di dalam dan kau tidak tuli, Ai-Ken! Jadi, cepat buka pintunya!" Amuk Shea sambil terus menggedor pintu itu dengan brutal, telapak tangannya mulai terasa panas dan memerah. Namun gadis itu tetap tidak menghiraukannya.
Cklekkk...!
Lima menit kemudian pintu itu terbuka, sosok pria dalam balutan celana bahan hitam dan singlet putih yang terlihat dari kemeja hitam tanpa lengan yang tiga kancing teratasnya di biarkan terbuka adalah hal pertama yang tertangkap oleh mata hazel Shea.
Glukkk...!!!
Susah payah Shea menelan salivanya melihat dada bidang Ken yang sedikit menyembul dari balik singlet putih yang menjadi lapisan dalam kemeja yang laki-laki itu kenakan. Rasanya Shea ingin mengutuk suaminya, karna penampilannya. Ia mengalami sport jantung.
Ken membuka pintu itu lebar-lebar dan mempersilahkan Shea untuk masuk. Gadis itu mencoba bersikap biasa saja dan berjalan menuju sofa yang terletak di tengah-tengah ruangan kerja Ken yang super megah dan mewah itu, sedangkan Ken kembali kemeja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karna ulah Shea.
Hampir 15 menit Shea berada di ruangan itu, namun tak sekali pun Ken tidak melirik dirinya apalagi menghiraukan keberadaannya dan hal itu membuat Shea menjadi jengah.
Gadis itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri meja kerja Ken, melirik sekilas pada tumpukan kertas yang tertata rapi di atas meja kerja suaminya. Tanpa bisa di cegah, tangan kiri Shea bergerak mengambil kertas yang berada di tumpukan paling atas.
Mata hazelnya membaca rentetan huruf yang membentuk sebuah kalimat pada lembaran kertas putih ditangannya, sesekali Shea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia di buat pusing dengan tulisan-tulisan itu yang sama sekali tidak bisa Ia mengerti, karna terlalu asik dengan dunianya. Sampai-sampai Shea tidak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya penuh kegelian juga melupakan tujuan utamanya mendatangi ruang kerja Ken.
Ken meletakkan dagunya di atas tangannya yang ditangkupkan di atas meja. Mata abu-abunya tak lepas sedikit pun dari sosok princess didepannya itu. Bangkit dari duduknya, Ken berjalan memutar kemudian duduk di ujung meja tepat di samping kiri Shea. Kedua tangannya bersembunyi di dalam saku celana bahan hitamnya.
"Sebenarnya apa tujuanmu ingin menemuiku, nyonya Ai? Sampai-sampai kau membuat keributan seperti itu??" Tegur Ken.
"OMO?" Nyaris saja Shea terkena serangan jantung dadakan karna ulah Ken.
Bahkan kertas yang Ia pegang pun terlempar, terlepas dari genggaman tangannya. "YAKKK, APA KAU INGIN MEMBUNUHKU EO?" Amuk Shea penuh emosi.
Ken mengangkat bahunya acuh, mengabaikan amukan Shea. Ken berjalan menuju lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol white wine dari sana lalu membawanya menuju sofa
"Duduklah, tidak perlu marah-marah!" Kata Ken sambil menuangkan wine itu kedalam dua gelas kosong didepannya.
Shea masih bergeming dari tempatnya. Gadis itu berdiri di depan meja kerja Ken dalam posisi memunggungi, Ia tidak berminat menghampiri Ken kemudian duduk dan menyendarkan tubuhnya pada sofa super empuk di ruang kerja suaminya. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini, karna berlama-lama melihat wajah Ken membuat emosi Shea kian berapi-api.
"Apa?" Ketusnya ketika Ken menatapnya.
Ken menaruh gelas wine-nya, dan mutiara abu-abunya menatap tepat pada manik hazel milik Shea yang menatapnya tak sabaran.
"Hm, ada apa, Sayang?"
Shea menaikkan sebelah alisnya mendengar Ken memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. "Apa pagi ini kau salah makan atau kepalamu terbentur sesuatu?" Ken mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Ken.
"Apa maksudmu?" Tanyanya bingung.
"Sayang? Apa aku tidak salah dengar?" Ken terkekeh, Ia mengeluarkan satu batang rokok dari kotaknya kemudian menyulutnya. Ken bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Shea.
Sreggg...!!!
"OMO?" Gadis itu memekik keras ketika Ken tiba-tiba menarik pinggangnya dan membunuh jarak di antara mereka, jarak wajah Ken dan Shea hanya tinggal beberapa centi saja. Saking dekatnya, sampai-sampai Shea dapat merasakan hembusan nafas Ken menerpa wajahnya.
Shea membuang muka kearah lain, Ia tidak ingin Ken sampai melihat wajahnya yang mungkin sudah seperti kepiting rebus. Karna Ia tau pasti Ken akan merasa bangga dan menang darinya.
Ken tersenyum lembut, namun sayangnya Shea tidak melihat senyum itu karna membuang muka.
Jari-jari besar Ken menyentuh dagu Shea, menuntun gadis itu untuk menatap padanya. Mata mereka bersiborok, manik abu-abu milik Ken menatap dalam manik hazel milik Shea. Itu adalah tatapan yang selama ini Shea rindukan, tatapan hangat penuh kasih sayang. Bukan tatapan tajam penuh intimidasi yang selalu Ken tunjukkan akhir-akhir ini.
Shea tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, gadis itu berhambur ke dalam pelukan Ken dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.
"Sekali saja, jebal. Kembalilah seperti kau yang dulu pernah aku kenal, hanya sekali. Jadilah seperti, Ken yang pernah aku cintai," lirih Shea setengah berbisik.
Ken menutup matanya dan merengkuh tubuh mungil itu dengan erat. Ken merasakan pundaknya basah, yang Ia yakini jika itu adalah air mata Shea.
Gadis itu melonggarkan pelukannya dan bibirnya langsung di sambut oleh bibir Ken. Laki-laki melepaskan ciumannya dan kembali mengunci manik hazel Istrinya, tangan besarnya menakup wajah gadis itu dan kembali menyatukan bibir mereka.
Perlahan tapi pasti, Shea mulai menutup matanya ketika merasakan pagutan Ken pada bibirnya. Mereka sama-sama merotasikan kepalanya dan semakin memperdalam ciumannya.
Lidah Ken menjelajahi rongga mulut Shea, mengabsen deretan gigi putihnya dan mengajak lidah gadis itu menari bersama. Melalui ciuman itu Ken ingin menunjukkan betapa Ia sangat mencintai Shea. Baik Ken maupun Shea berharap agar waktu berhenti berputar detik ini juga. Mereka tidak ingin semua berlalu begitu cepat.
-
Shilla sedang menyelesaikan sketsa perhiasannya ketika Ricko datang mengunjunginya, saking seriusnya. Sampai-sampai gadis itu tidak menyadari kedatangannya.
Merasa di abaikan oleh sang kekasih, sebuah ide jail muncul di otak cerdas Ricko.
Laki-laki itu meninggalkan kamar sang kekasih dan kembali kemobilnya untuk mengambil kostum gorilah milik sahabatnya yang sengaja di titipkan padanya. Setelah memakai kostum itu , Ricko kembali kekamar Shilla dan mendapati gadis itu masih berkutat dengan laptop-nya.
Dengan langkah tanpa suara, Ricko menghampiri Shilla dan menyembulkan wajahnya tepat di depan mukanya.
"HUAAAAAA,"
"KYYYYAAAA! MONYETTTTT,"
Bruggg...!
Alhasil Shilla pun jatuh terjengkang kebelakang karna ulah jail Ricko, pantat Shilla berciuman dengan lantai kamarnya yang dingin dan keras. Melihat hal itu membuat Ricko menjadi panik, Ia membuka topeng kepalanya dan segera menghampiri Shilla.
"Yaaakkk! Tiang jelek, apa kau ingin membuatku encok eo?" amuk Shilla sambil menyentak kasar tangan Ricko.
Ricko meletakkan topeng gorilanya di atas meja dan segera memastikan keadaan Shilla. "Sayang, kau tidak apa-ap?"
"APA KAU BUTA? LIHATLAH KARNA TINDAKAN BODOHMU ITU, KINI AKU BENAR-BENAR MENGALAMI SAKIT PINGGANG," amuk gadis itu menyela ucapan Ricko.
Ricko mendesah panjang. Laki-laki itu melepas kostum Gorilanya dan meletakan di atas meja. Ricko menghampiri Shilla. "Itu sepenuhnya bukan salahku, chagi. Tapi kau juga bersalah, kenapa kau mengacuhkanku dan tidak menanggapi ketika aku menyapamu!" Ricko melipat kedua tangannya dan mengangkat dagunya angkuh.
Shilla mendengus, menatap Ricko sinis."Cerewet, cepat pasangkan koyo ini di pinggangku!" katanya sambil melemparkan sebungkus koyo pada Ricko.
Glukkk ...!
Susah payah Ricko menelan salivanya melihat kulit mulus Shilla yang seketika membangkitkan birahinya. Laki-laki itu menggeleng cepat mencoba membuang jauh-jauh fikiran kotornya.
Setelah selesai menempelkan koyo itu pada pinggang gadis itu yang sakit, Ricko kembali menurunkan sweternya yang sebelumnya di singkap keatas. Ricko membantu gadis itu untuk duduk kemudian Ia juga duduk di sampingnya.
"Sudah lebih baik?" tanyanya memastikan.
Shilla mengangguk. "Ya, sudah mendingan!" jawabnya.
"Sayang," panggil Ricko manja dan langsung di hadiahi tatapan tajam oleh sang kekasih.
"Apa?" katanya ketus. Ricko tersenyum dan memeluk Shilla.
"Aku kangen," katanya sambil mencium pipi Shilla berulang-ulang.
Shilla mendorong Ricko menjauh dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Pulanglah, aku harus menyelesaikan ini," ujar Shilla tanpa menatap Ricko.
"Sayang? Kau mengusirku?" Ricko menunjuk hidungnya sendiri sambil menatap Shilla tak percaya. Gadis itu memutar matanya jengah
"Jangan seperti anak kecil, pergi sekarang atau---?" Shilla menggantung kalimatnya dan mengangkat tongkat besi yang sengaja Ia letakkan di samping meja kerjanya.
Ricko mendesah panjang dan akhirnya menyerah. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya keudara dan berjalan mundur. "Oke-oke aku pergi, Sayang. Tapi besok aku akan menagih jatahku," ujarnya di iringi seringai mesumnya.
Dan Ricko berancang-ancang untuk lari melihat tatapan nyalang Shilla. Melupakan yang baru saja terjadi, Shilla kembali memfokuskan fikirannya pada pekerjaannya.
-
"Huaaaaaa!"
Shea tidak dapat menyembunyikan kekagumannya ketika melihat hamparan pasir putih dan deburan ombak yang bertabrakan dengan batu karang tersaji indah di depan matanya.
Gadis itu menoleh kebelakang dan mendapati Ken tengah tersenyum lebar. Shea menarik lengan Ken dan membawanya menuju bibir pantai, tidak ada penolakan. Ken menuruti kemauan Shea.
Laki-laki itu tidak melakukan apa-apa seperti Shea yang berlarian kesana kemari, sesekali gadis itu menjerit histeris ketika ombak datang dan bergerak kearahnya kemudian tertawa terbahak-bahak saat ombak berhasil menjatuhkan tubuhnya. Ken tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah kekanakan Shea.
"Kemarilah," seru Shea sambil melambaikan tangannya pada Ken.
Laki-laki itu melepas sepatu mahalnya kemudian menghampiri Shea.
Dengan jahil Shea mencipratkan air kemuka Ken, melihat ekspresi kaget Ken membuat Shea tertawa terbahak-bahak. Bukannya marah, Ken malah mengangkat tubuh Shea ala bridal style lalu melemparkannya kedalam air.
"Kyyyyaaaaaa!"
Byurrrr ...!
Alhasil sekujur tubuh Shea menjadi basah kuyup. Gadis itu mencerutkan bibirnya lucu membuat Ken gemas dan ingin melahap habis bibir merah mudanya
"Satu sama," Ken menyeringai penuh kemenangan, membuat Shea semakin kesal.
"Uggh, Oppa awas kau" bukannya merasa bersalah, Ken justru mengulum penuh kemenangan.
Ken hendak menghampiri Shea, namun dering pada ponselnya menghentikan langkahnya. Ken menatap layar ponselnya dan Shea secara bergantian.
Gadis itu sedang bermain-main dengan ombak sambil sesekali tertawa terbahak-bahak. Kata-kata Shea kembali terngiang-ngiang di telinga Ken, ketika gadis itu memohon padanya agar Ia kembali menjadi seperti sosok yang dulu pernah dia kenal.
'Sekali saja, jebal. Kembalilah seperti, Ai-Ken yang dulu pernah aku kenal, hanya sekali saja. Jadilah seperti, Ken yang pernah aku cintai,'
Ken mematikan ponselnya, dan memasukkan kembali kedalam saku celananya. Ken tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Ia miliki, saat ini hingga beberapa jam kedepan Ia akan menjadi seperti yang Shea inginkan.
Karna belum tentu, besok masih tetap sama seperti hari ini. Jika boleh berharap, Ken ingin agar waktu berhenti berputar. Karna Ken tidak ingin semua berlalu dengan cepat.
-
Bersambung.
n ini cuma bisa kirim sekuntum mawar untuk Thor seorang.
selalu ceria dalam berkarya,biar selalu indah n menyenangkan untuk d baca n d ikuti alurnya.
slalu bahagia....
moga hasilnya sama2 kembar jg
gak masalah n gak maku2in kok