Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nilai
Visual Lisa 👆
Lisa adalah perempuan yang cantik. Dia itu hobby gonta-ganti warna dan style rambut, dan suka bergaya seksi. Untuk kepuasan fisik, sudah tentu lelaki tertarik padanya. Lisa juga pintar memasak. Dari kecil dia belajar memasak dari ibu kandungnya.
"Apa-apaan sih ini?"
Lisa menggerutu di dalam hati. Walaupun rencananya berhasil sesuai dengan ekspektasi antara Evans dan Erika, bahkan melebihi ekspektasinya, tetapi dia tidak menyangka bahwa keluarga Ducan secepat itu menjodohkan Evans dengan gadis lain. Gadis itu bernama Annastasya Bilea.
Sejak kejadian malam itu di rumah Evans dimana dia juga sempat bertemu Alexa, Lisa sudah memahami fakta bahwa dia tidak mungkin lagi mendapatkan Evans. Tapi sifatnya yang berambisi membuatnya benci ketika Evans dekat dengan siapapun. Perasaannya puas kalau berhasil menghancurkan hubungan Evans dengan gadis manapun.
Sebenarnya yang membuat Lisa sempat selingkuh bukan karena dia tidak mencintai Evans. Hanya saja Evans terlalu menjaga hubungan mereka dari hal-hal kotor. Lisa yang sudah terbiasa bergaul bebas, merasa frustasi dan haus belaian selama berpacaran dengan Evans. Tetapi tidak bisa disangkal, tiga bulan berpacaran, Lisa cukup hanyut akan perhatian Evans. Lisa juga selalu merasa nyaman ketika Evans mendekap dan memeluknya penuh kasih sayang. Sesekali Evans suka mengecup puncak kepalanya ketika mereka jalan bergandengan.
Evans memang tipikal pria lembut ketika berkencan. Siapa wanita yang tidak meleleh ketika berhadapan dengan pria berwajah tampan, berpostur tubuh tinggi dengan dada yang bidang. Aroma laut yang begitu kuat saat kamu ada di peluknya, membuatmu larut dan berharap agar waktu dapat berhenti saja untuk selamanya.
Pernah ada satu kejadian di antara Evans dan Lisa yang membuat Evans cukup berubah terhadap Lisa. Dan itulah mungkin awal dari kecurigaan Evans terhadap Lisa. Saat itu usia berpacaran mereka sudah memasuki dua bulan tiga minggu.
Flashback
Di lantai kedua sebuah kafe, Evans dan Lisa berada di Private Cinema. Mereka menonton film sambil makan dan minum di ruang pribadi itu. Hanya berdua.
Film yang bergenre romantis membuat suasana memanas ditambah lagi dengan Lisa yang selalu menempel pada Evans dan menggodanya dengan memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang lembut dan terkesan alami di tubuh Evans, tentu membuat Evans mulai terbawa suasana.
Sesuai harapan Lisa, Evans menciumnya sebentar. Tetapi, sepertinya Lisa masih belum merasa cukup, dia memeluk leher Evans. Evans yang pengertian tidak menolak wanitanya, dia kembali membalasnya dengan lembut.
Tetapi, seraya mereka bercumbu, tangan Lisa perlahan mulai memegang tangan Evans, dan menuntunnya ke bagian dadanya. Evans terkejut dan segera melepas ciumannya. Dia menatap Lisa lekat.
"Li..sa?" ucap Evans canggung.
"Sa.. yang.." Lisa kembali hendak mencium Evans. Tetapi Evans menolak Lisa. Evans menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
"Lisa, jangan seperti ini. Aku menghormatimu sebagai gadisku. Aku tidak akan berbuat senonoh semacam itu padamu," jelas Evans lembut sambil memegang kedua bahu Lisa dan menatap mata Lisa dengan serius.
"Aku mencintaimu, Kak. Aku tidak apa-apa kalau kita melakukannya," ucap Lisa membujuk. Tetapi Evans justru menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kita keluar dari sini," ucap Evans sambil menarik tangan Lisa untuk keluar dari ruangan itu.
Evans langsung mengantarkan Lisa pulang dan sejak saat itu Evans terlihat lebih menjaga jarak sewaktu berkencan. Dan mungkin sejak saat itu juga Evans mulai menyuruh orang untuk mengawasi dan menyelidiki Lisa. Tidak lama setelah itu, karena sudah mengetahui semua fakta yang ada, Evans akhirnya mengakhiri hubungan mereka.
Visual Lisa 👆
Flashback Off
Lisa terlihat serius menelepon seseorang.
"Pokoknya harus dapat semua informasi tentang Annastasia itu, oke?"
"Baik, Nona. Kami akan mengumpulkan semua informasi yang ada."
"Iya, bagus. Kamu dan anak buahmu memang selalu bisa diandalkan," ucap Lisa tersenyum.
"Terima kasih, Nona."
"Aku akan menggajimu lebih kalau kamu mendapat sesuatu yang menarik."
Bip bip bip. Lisa mengakhiri panggilannya.
***
Erika berbaring di tempat tidur memeluk pakaian luar Evans. Lalu beberapa waktu kemudian melemparnya lagi ke lantai. Dia masih tidak habis pikir akan kata-kata Evans yang mengatakan bahwa dia tidak tahu diri. Erika masih sulit percaya kalau lelaki yang dia sukai benar-benar kejam.
Keesokan siang di kampus.
"Erika!" Erika menoleh ke sumber suara.
"Eh? Kak Revin. Apa kabar?" sahut Erika ramah. Revin berjalan ke arah Erika.
"Jarang melihatmu. Tampaknya kamu kurusan." Mata Revin memandang tubuh Erika sekilas.
"Eum. Masa sih Kak? Aku tidak merasa kurusan," jawab Erika sedikit menunduk.
"Beneran deh kurusan. Beda dari yang terakhir kita bicara waktu kamu menitipkan sesuatu untuk Evans."
Erika tersenyum kecut.
"Tapi tetap manis kok," ucap Revin sambil tersenyum.
"Makasih, Kak." Erika tersenyum lembut.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Revin mengajaknya dengan sikap bersahabat.
"Eum, tidak usah deh, Kak." Erika sedikit canggung.
"Kenapa? Padahal aku sudah repot-repot mengantarkan itu padanya." Mendengar hal itu, Erika menjadi merasa tak enak.
"Eum, ya sudah deh, Kak." Akhirnya dia menerima ajakan Revin.
Mereka berjalan menuju kantin. Di sisi lain sepasang mata sudah dari tadi memperhatikan mereka berdua yang asyik berbicara walaupun dia tidak bisa mendengar pembicaraan itu karena agak jauh. Bahkan kakinya secara alami mengikuti mereka ke arah kantin. Sebenarnya, dia sendiri tidak sengaja melihat mereka berdua bicara sewaktu hendak menuju toilet.
"Aku ini kenapa? Apa aku sudah tidak waras sampai mengikuti mereka ke kantin?" Evans menganggap dirinya konyol tetapi tetap dia memilih duduk di sudut ruangan kantin.
Revin tampak memesan makanan lalu menemui Erika di salah satu meja kantin. Mereka tampak semakin asyik berbicara. Sesekali Revin tertawa dan Erika menanggapi dengan senyuman ramah.
"Bicara apa sih sampai seseru itu? Sejak kapan Revin....?" Malas dengan pemikirannya sendiri, Evans menghela nafas kasar.
***
Di kantin yang berbeda, Anna dan temannya sedang sibuk bercengkerama sambil makan-makan.
"Anna, kamu sudah ciuman belum sama kak Evans?" tanya salah satu temannya.
"Hush! Mereka kan baru pacaran, jangan asal nanya gitu kenapa? Dasar mesum!" sahut yang satunya lagi.
Anna hanya tersenyum manis mendengar kata-kata temannya.
"Ciuman itu gimana ya rasanya? Kapan aku bisa ciuman sama Kak Evans?" Wajah Anna yang cantik memerah seketika, sewaktu membayangkan adegan ciumannya dengan Evans, pacar pertamanya.
Ponsel Anna berbunyi, sebuah pesan masuk. Anna membukanya.
Papa
"Maaf ya sayang. Kami tidak jadi pulang Minggu ini."
"Tanpa memberitahu, aku juga sudah tahu." Anna menutup ponselnya santai. Orang tua Anna memang selalu jarang pulang. Anna lebih sering sendiri dengan para pelayan. Tetapi saat ini Anna sangat berterimakasih karena orang tuanya berhasil menjodohkannya dengan Evans.
***
Visual Anna 👆
Beri like untuk episode ini, nanti jika sempat ntar sore update lagi. Tolong dukung author ya! 😉