"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 | Senyum
Alpha's Pov
Melewati sepanjang koridor di tengah keramaian membuat gue tiba-tiba ngerasa jadi lalat koplak yang terjebak di kerumunan kopel.
Di kanan gue, Diana sama Joko lagi berdebat pelajaran biologi yang baru buk Yasa ajarin. Sebelah gue Alister lagi godain Hazel si cewek bodo-amat. Bumi gempa aja dia mungkin gak peduli, palingan cuma bilang 'Oh' doang. Kalau jam pulang gini biasanya kami bakal jalan barengan kek Mak Emak mau buat acara Marawis.
"Eh kelas pojok ngapain main di sini?"
Semua mata menatap ke kiri, kelas anak Ipa 1 yang putih bersih dan anti bulukan. "Woi menghina lo ya! Minta ditabok apa!?" seru Saga terbawa emosi.
"Wee! Langsung ngegas dia hahahah!" sahut teman yang lainnya. "Kurang ajar banget sih?" gerutu Diana gak terima tapi mau gimana lagi, kelas unggulan mah bebas.
"Pengen nampol tuh autis pake maskara rasanya," komentar Sheila yang biasa dipanggil Mamake di kelas kami karena hobi banget dandan dan kerjanya ngeghibahin orang siang-malam.
"Kenapa diam? Kehabisan kata-kata yah? Haha, bisu kayaknya."
Semua murid Ipa 3 ngerasain hal yang sama walaupun sering berbeda pendapat tentang hal-hal sepele, yaitu rasa marah karena kelasnya dihina.
Tanpa gue duga, singa mulai ngamuk di belakang kami, Reff meringsek maju sampai gak peduli menabrak Diana. Cewek besi itu mengangkat kerah cowok tadi dengan kuat bahkan gak bisa dipercaya dia sekuat itu buat mengangkat bobot cowok yang lebih berat dari dia.
Lama-lama gue pindah tempat duduk aja kalau begini, matilah aku Mak kalau disenggol sedikit sama tuh anak.
"Sekarang... Coba lo bilang apa yang barusan keluar dari mulut lo?" geram Reff akhirnya, cowok itu mengatup mulutnya rapat seolah takut satu kata bisa membanting badannya ke lantai.
"Bilang!" kali ini naik beberapa oktaf bersamaan dengan terpentoknya tubuh cowok itu ke tembok.
"Reff! Reff! Masuk kandang yok!" cela gue menarik lengan Reff kabur karena ngerasa Bapak Kepsek yang biasanya keliling sekolah bakal lewat, Reff melirik ke belakang dengan tatapan sejuta laser, bahkan anak Ipa 3 yang tadinya terpojok malah terbalik ngetawain mereka.
"Mampus!" ejek mereka berbarengan. Gue tersenyum sendiri, walaupun kami kelas yang pojok bersebelahan dengan wc lagi tapi masing-masing dari kami punya kelebihan sendiri.
Hazel si cewek pemenang lomba hitung cepat Matematika, Reff yang beberapa kali babak belur dengan piala di tangan kirinya, Alister, Diana dan Joko tukang debat bahasa inggris, para cewek cabe bin menor yang dancenya bisa bikin penonton jingkrak melayang, dan satu lagi– Delta, yah walaupun kadang jarang masuk tapi dia termasuk aset di sekolah kami.
Dia gak pernah juara. Baik juara 2 ataupun 3 apalagi juara harapan.
Dia si juara 1 paralel lomba Fisika, bahkan gue denger dari SMP dia selalu juara satu gak pernah berbeda.
Kami semua bukan murid bodoh, atau lebih tepatnya murid buangan kayak yang semua orang pikirin cuma pas bulan ramadhan ada yang namanya ujian tes kemampuan akademik yang bakalan menentuin kelas mana muridnya pas kenaikan kelas.
Hampir semua murid Ipa 3 murid kesasar, kalau dibilang bodoh sih enggak cuma otaknya rada-rada goblok. Kerjaannya demo mulu gak ada minal aidzin wal faidzin. Kadang guru sampai tobat gak lagi-lagi setelah masuk 1 jam di kelas kami.
"Eh, gue duluan yah udah dijemput Bapake, bye!" sahut Hazel berlarian ke gerbang. Sampai di sana dia balik lagi, "Bukan Bapake gue deng, anak setan! Bapak lo nungguin tuh!" teriak Hazel ke Lara yang sibuk gangguin cogan junior.
"Mamakmu! Gangguin gue ngepet aja lo, Hazelnut."
"Oh yodah, gue plastikin Bapak lo yah!"
"Lo kira Bapak gue gorengan pisang apa?!" seru Lara menghampiri Hazel. "Oit Al, mau nebeng sekalian ma gue gak?"
"Tarik tiga kita? Enggaklah, gue naik busway aja." gue menyengir lebar, merasa gak enak sama Lara. "Nebeng sama gue aja Al! Gue bawa motor hari ni," usul Saga kemudian.
"Enggak ah, lo bawa gue ke semak-semak belukar nanti," canda gue membuat tangan Saga melayang di jenong gue.
"Ogah gue, hih!" tutur dia berlagak sok geli, "Jadi gak?"
"Jadi, jadi."
¢¢¢
"Halo, Kak, udah minum obat?"
Gue tersadar dari lamunan, "Lo kira gue cacingan pake minum obat segala?"
Bintang mengesah pelan, "Yeh, bercanda juga. Kak, hari ini kok gak beli makanan?"
Baru ingat gue, habis diantar sama curut gue gak sempat beli makanan padahal Bintang udah kelaperan dari tadi. "Eh pikun banget sih gue, yaudah deh, kita beli sekarang yok."
"Di mana, Kak?" tanya Bintang polos, gue geram sendiri. "Toko Elektronik dek, yah warung lah!"
"Ehehe, iya, iya. Gak usah ngekompor."
"Ngegas dek, tolong." gue mengambil sweater sambil megangin lengan adek gue yang udah masuk kelas 2 SMP itu, kayak yang biasanya gue lakukan dari kecil sampai sekarang karena detik ini gue gak punya harta apapun selain dia.
"Kak, Kakak sekelas sama Bang Delta?"
"Em."
"Kok gak akrab sih?"
"Banyak tanya lu Dora," sela gue mencoba mengalihkan topik. "Ish Kak Al, Bintang serius!"
"Emang muka gue lagi melawak? Iya, gue sekelas ma dia, puas lo?" jawab gue jengah seraya memalingkan muka ke samping.
"Dia baik yah," celutuk Bintang bikin kaki gue berhenti dengan spontan. "Eh telinga gue gak kemasukan Tarantula, kan?"
"Baik Bapakmu! Lo gak liat aja sifat dia di sekolah, udah kek es kutub berjalan tau gak, gue senggol sedikit aja langsung ditabok oi!"
"Dan lo tahu? Deket-deket ma dia udah kayak bugil di kutub selatan! Dingin, terus terus---"
"Udah puas ngomongin gue?"
Kepala gue berpaling cepat, menyerong ke kanan melihat Delta udah berjalan bersisian dengan jarak yang dekat banget.
Mamaq, mampus gue.
"Ngomongin siapa? Anak curut? Atau Buyuang anak Pak RW?"
Delta gak menjawab bahkan tatapannya sukses ngebuat kaki gue dingin, tanpa pikir panjang gue pindah ke sebelah Bintang. "Bang De! Ngapain ke sini?" tanya Bintang udah kayak bicara sama sodara dunia-akherat, bicara sama gue yang dari orok aja masih canggung dikit, lah giliran sama dia bicara kayak ketek ketiup angin pantai.
Melambai-lambai, cuih.
"Lagi ngeram telor dek."
"Lo ngatain gue ayam?" sahut Delta, gue agak heran sama nih anak kenapa tiba-tiba muncul di tempat seramai ini.
"Lo 'kan emang punya telor," ejek gue membuat rahangnya mengeras.
Gangguin, ah.
"Dek, gue gak bo'ong kalo nyentuh dia bakal kena tabok."
Gue melangkah ke dekat Delta, lalu mencolek pinggang dia membuat Delta langsung ke mode siaga.
Plakk
"Wadauw! Lo liat tuh dek, Kakak lo ditabok, bales, cepat bales!"
"Salah Kakak sendiri ngapain nyolek dia!"
Bintang sama Delta bertos ria habis ngekick gue, "Oh oke Bintang, oke... Besok lo tinggal sama waria depan emperan aja. Gak usah balik ke rumah lagi," ancam gue.
"Ke rumah gue aja." Delta mengulas senyum tipisnya dengan mudah, sedangkan gue terpana.
Ganteng bat njir.
Oh tydak, otak gue perlu di laundry kotor banget kayaknya.
"Ngapain liatin gue?"
"Hih! Siapa juga yang liatin lo— Eh, EH! Bintang!!!" teriak gue narik kaos Bintang karena panik kaki gue terpeleset di lubang jalan.
"Lepasin gue!"
WHAT DE PAK?!!!!!!!!!!!!!!!
GOD, HELEP MI PLIS!
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️