Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊
Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.
Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?
Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Bercerai
"Kamu ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?" tanya Hakim saat mobil yang aku tabrak tadi sudah hilang dari pandangan, belum sempat aku menjawab, Hakim sudah dulu naik ke atas motornya, "aku tunggu di cafe itu!" dia menunjuk salah satu cafe yang tidak jauh dari mobilku, aku tidak bisa menolak karena dia sudah menghidupkan mesin motornya.
Di sinilah kami duduk saling berhadapan, dengan di temani coffe late yang dipesan Hakim saat aku merapikan penampilanku di toilet, ya sekarang wajahku sudah lebih segar, pikiranku juga sudah sedikit lebih tenang, meskipun masih ada resah yang mengganjal di dalam hatiku.
"Jadi, apa kamu mau mengubah keputusanmu itu?" tanya Hakim setelah meresap coffe miliknya, dia bicara setenang mungkin, sungguh terlihat seperti orang yang sangat berwibawa.
"Apa yang harus diubah? Mereka bahkan sudah menikah."
Haris menatapku setengah terkejut, kulihat keningnya berkerut, dengan kedua alis yang hampir menyatu, aku merasa seperti duduk di kursi persidangan, padahal sidang cerai itu belum dimulai.
"Jadi, kamu menghadiri pernikahan mereka?"
"Apa itu salah?"
Aku jadi merasa terintimidasi, tapi Hakim tersenyum, dia mengejek atau apa sih?
"Tidak salah, justru aku salut sama kamu, kamu wanita yang kuat, tegar, sabar padahal masalah yang kamu hadapi ini sangat sensitif dan menyakitkan, pengkhianatan dari orang yang paling dekat denganmu, tapi kamu masih bisa tersenyum bahkan bersedia menghadiri pernikahan itu."
"Aku cuma berusaha untuk belajar tersenyum meskipun hatiku menangis, belajar memaafkan meskipun hatiku masih merasa enggan, belajar menjadi manusia yang bisa menghargai sesama manusia, tapi aku sadar aku hanya manusia biasa, kadang aku ragu dengan keputusanku, apakah aku sudah tepat menggugat cerai Mas Haris?"
"Semua keputusan ada ditanganmu, kamu yang merasakan, kamu yang tau seperti apa hatimu, aku sudah banyak menangani kasus yang serupa, seorang istri menggugat cerai, tapi saat mediasi nanti, mereka bisa saling memaafkan."
Hakim menjeda kalimatnya untuk kembali meresapi coffe latte miliknya, dia meletakkan gelas itu secara perlahan, kemudian dia menatapku dan kembali bicara.
"Apapun keputusanmu, kamu berhak bahagia, jika kamu merasa bahagiamu bersama suamimu itu, maka kamu masih bisa mencabut gugatannya, namun jika kamu merasa setelah lepas darinya bisa mendapatkan kebahagiaan bersama orang lain, maka kamu tidak perlu ragu lagi."
Hakim sangat tegas, aku berpikir sejenak, aku membutuhkan Mas Haris sebagai ayah dari anakku, kami bisa membesarkannya bersama, tidak ada mantan ayah bagi seorang anak, tapi kalau menerima menjadi suamiku lagi aku sudah jera, tidak ada kesempatan kedua untuknya, tapi sipat manusia memang seperti ini, ketika sudah yakin dengan keputusannya, setan datang mengacaukan pikiran.
"Sebaiknya kita pulang, sepertinya akan turun hujan."
Hakim membuyarkan lamunanku, benar saja diluar mendung bahkan rintik hujan sudah mulai turun, kami keluar dari Cafe dia melindungiku dari hujan dengan menggunakan jaketnya, Hakim membuka pintu mobil untukku, aku masuk dan membuka sebagian kacannya.
"Sera ... jika kamu masih ragu dalam memutuskan sesuatu, maka ber Istikharah lah, dengan begitu semua keraguanmu akan terjawab," ucap Hakim lalu dia menutup pintu mobilku.
"Terima kasih, karena sudah mengingatkanku."
"Jangan sungkan, kapan pun dan di manapun, aku akan selalu ada untukmu."
Hakim benar-benar berbeda, dia baik, sopan, care, apa mungkin karena saat ini dia pengacaraku, apa dia juga bersikap seperti ini pada semua kliennya?
***
"Rosa maaf ya, udah ngerepotin kamu, aku selalu nitip Bima ke kamu."
"Biasa aja kali, aku juga sudah anggap Bima sebagai anakku, aku siap kok dijadikan pengasuh Bima."
"Aku gak butuh pengasuh, aku gak butuh orang ketiga lagi," aku bergidik benci mengingat pengasuh itu.
"Siapapun bisa menjadi orang ketiga, tapi aku beda, aku gak mungkin jadi orang ketiga dalam hubugan siapapun!"
Ntahlah, rasanya aku sudah tidak percaya sama siapapun, teman, sahabat, suamiku saja berkhianat, apa lagi orang lain?
Aku mencoba untuk tetap tenang, aku lebih mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta, Sang Maha membolak-balikkan hati manusia. Aku mencoba iklas dengan semua cobaannya, berharap setelah melewati semua ini aku bisa mendapatkan kebahagiaanku lagi. Aku yakin Allah punya rencana terindah untuk aku dan Bima.
3 Bulan Kemudian.
Siang itu langit tampak cerah, tidak seperti hari biasa yang diselimuti awan gelap, aku juga sudah siap menyongsong hari baru, melepaskan semua beban yang selama ini masih mengganjal di hati. Ternyata benar Allah tidak pernah membiarkan hambanya berada di dalam kesulitan, selama kita terus mendekatkan diri kepada-Nya.
Ntah sudah berapa banyak do'a yang aku panjatkan, Allah tidak mengabulkannya hari itu juga, tapi Allah membalas do'aku disaat yang tepat, seperti hari yang aku tunggu ini, tidak butuh waktu 6 bulan lamanya, Allah lebih mempermudah segala urusanku, ya hari ini keputusan akhir dari sidang perceraianku dengan Mas Haris.
Aku menolak agenda mediasi, dimana Mas Haris masih bersikeras untuk tetap menolak gugatanku, tapi Hakim selalu ada untuk membelaku, ah mengingat dia aku menjadi malu, dia selalu ada untuk aku dan juga Bima.
"Kamu sudah siap?" tanya Hakim sebelum masuk ke ruang sidang, dia tidak pernah berhenti mendukungku, dia sudah tau semua tentangku, tapi sampai sekarang aku belum tahu apapun tentangnya, kadang aku penasaran siapa sebenarnya jati diri seorang Dika Hakim ini?
"Yah, aku sudah siap," jawabku tanpa ragu, kulihat Mas Haris sudah duduk di samping Lia, perutnya juga sudah mulai menonjol, aku tidak tahu sudah berapa bulan usia kehamilanya. Sepertinya mereka terlihat semakin mesra, dan aku tidak perduli tentang mereka.
Sepertinya Mas Haris tidak suka melihat Hakim, aku tahu dari sorot matanya. Dan disinilah kami duduk bersebelahan, di depan sudah ada hakim yang mulai persidangan.
Semua mencapai kesepakatan, aku mendapatkan hak asuh Bima, tanpa rintangan apapun, sementara harta gono-gini juga tidak ada masalah, aku masih berbaik hati mengembalikan mobil Mas Haris, toh mobil itu masih nyicil. Dan kami sudah dinyatakan resmi bercerai.
"Benar dugaanku ... karena pengaruhnya kamu tetap ingin bercerai dariku."
Tidak kusangka, Mas Haris diam-diam mengikutiku, saat aku sudah keluar dari ruang sidang.
"Maksud kamu apa, Mas? Kita sudah resmi bercerai, jadi aku minta sama kamu, jangan lagi cari masalah, mending kamu urus saja istri kamu itu, Mas."
"Kita resmi bercerai, tapi bukan berarti kamu bisa melarang aku untuk mendekati kamu, kan? Anakku dalam asuhanmu, dan aku punya hak untuk menemuinya, jadi kita harus selalu berkomunikasi."
Mas Haris memang keras kepala, masih saja mengganggu aku, rasanya ingin sekali aku memukul kepalanya ini.
"Sera, kamu jangan terlalu dekat sama pengacaramu itu."
Apa hak dia melarangku? Dia bicara seperti orang yang sedang cemburu.
"Aku tahu dia lebih baik dari kamu, Mas."
"Tapi dia bukan laki-laki yang baik!"
"Kamu pikir kamu sudah baik, Mas? Kamu bahkan lebih buruk dari dia," matanya sudah mulai merah, dia prustasi berkali-kali diusap wajahnya dengan gusar.
"Sera ... apa urusanmu sudah selesai? Aku tunggu diparkiran depan."
Aku tersentak saat tiba-tiba mendengar suara Hakim, sepertinya dia baru saja keluar dari mushola. Pantas saja dari tadi aku tidak melihatnya.
***
**Terima kasih sudah mendukung:-)
Novel gak dikontrak, jadi pelan-pelan aja ya**,:-)
Apa kabar rumah tangga Haris dan Lia? Apa mereka semesra itu? Tinggal di mana sekarang? Apa masih di rumah itu🤔
sukses
semangat
mksh