"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 KESAL
Oliv berdiam diri di kamar. Dirinya sangat gelisah memikirkan Dre yang pasti sedang bersenang-senang bersama Si Wanita Seksoy, julukan Oliv untuk Renata.
Hingga muncul ide Oliv, untuk membuat Dre pulang.
Segera di membuka HP, mengetik nama Dre di daftar kontak, dan memencet lambang telepon.
Terhubung...
"Halo, Liv?" Terdengar suara Dre dari seberang telepon. Oliv sangat kegirangan teleponnya di angkat.
"Abaaaanggg, aku demam." Suara Oliv di buat-buat seolah benar sedang merasakan kesakitan.
"Apa? Kok tiba-tiba banget, sih?"
"Gak tau, tadi abis pulang sekolah langsung panas. Udah lemes banget, nih."
"Yaudah, aku pulang. Kamu jangan kemana-kemana. Tiduran aja. Aku langsung otw."
"Em, iya."
Oliv jejingkrakan. Lompat-lompat di kasur. Segera dia berlari ke dapur mengambil wadah mengisinya dengan air kemudian membawanya ke kamar. Segera Oliv membuka lemari baju mengambil kain untuk mengompres keningnya.
Kain kompres sudah di letakkan pada keningnya dengan posisi dirinya yang kini sedang berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Stay, menunggu Dre pulang.
*
"Ada apa, Dre?" Tanya Renata yang datang dengan membawa dua gelas minuman berwarna oranye.
"Oliv demam, Ren. Aku harus segera pulang."
"Ouh. Yaudah, gak apa-apa. Lain kali aja main ke rumahku lagi. Lagian pintu rumah ini selalu terbuka kok buat kamu, Dre." Renata tersenyum. Tapi menampakkan senyum yang di paksa.
"Makasih, Ren. Maaf, ya. Nanti kapan-kapan aku main lagi ke sini."
"Selow aja. Adek kamu pasti sangat butuh kamu."
"Yaudah, aku permisi."
Dre berlalu. Kesempatan berduaan dengan Renata dia buang demi kembali ke rumah menemui Oliv.
Hingga mobil Mercedes-Benz itu melesat, meninggalkan rumah Renata.
"Bocah itu! Selalu saja mengganggu momen gue sama Dre. Kayaknya dia sengaja, deh. Lagian kenapa sih Dre mau menampung hidupnya? Nyebelin banget." Renata menghempaskan diri di Sofa. Dirinya sangat terlihat kesal.
*****
"Liv! Oliv!" Teriak Dre memanggil nama Oliv.
Oliv segera bersiap dengan aktingnya.
"Emh..." Jawab Oliv lembut.
Dre masuk ke kamar Oliv. mendekati Oliv mengelus wajah gadis itu manja.
Deg!
Seketika keduanya sama-sama berdebar.
Segera Dre mengalihkan pandangan. Mengusap wajah. Oliv sendiri menjadi tak karuan, untuk pertama kalinya dia merasakan debaran seperti ini.
"Panasnya udah turun." Ucap Dre masih enggan menatap Oliv.
"Em, i--iya. Tadi sebelum di kompres panas banget."
"Yaudah kamu istirahat aja,"
Dre segera beranjak.
"Abang mau kemana?"
"Aku gak kemana-kemana, duduk di depan."
"Kenapa gak di sini aja?"
Dre menelan saliva. Cobaan! Cobaan! Cobaan! Benaknya.
Benar-benar suatu cobaan, dia hanya berdua dengan seorang gadis yang tak mempunyai hubungan darah sedikitpun dengannya, berada di dalam satu kamar.
Yang namanya setan pasti akan terus menggoda hingga misinya tercapai.
"Aku duduk di sofa ruang tamu, Liv. Tenang saja, aku gak akan pergi lagi. Aku tetap di rumah sampai kamu sembuh."
Oliv mengangguk.
Dre melangkah keluar dari kamar Oliv. Segera duduk di sofa menenangkan diri.
Berkali-kali dia mengusap wajah dan menghembuskan napas kasar.
"Astaga! Sampai kapan aku akan kuat?"
"Aku bisa melindungi Oliv dari orang lain. Tapi apa aku bisa melindunginya dari diriku sendiri?"
Dre memejamkan mata.
*
"Bang Dre! Oliv cinta sama bang Dre! Nanti kita menikah, ya!"
Dre menyunggingkan senyum saat mengingat kenangan masa kecil dirinya dan Oliv dulu.
Hingga pernah suatu hari Oliv di ganggu oleh kumpulan anak laki-laki. Bermodalkan nekad Dre melawan mereka semua. Walau tak imbang lima lawan satu, tapi Dre tak goyah. Bertekad untuk selalu melindungi Oliv.
"Lucu..." Dre semakin lebar senyumnya.
"Semoga aku selalu bisa melindungi mu. Dari orang lain, maupun dari diriku sendiri."
Dre tak tau Oliv sedang memperhatikannya, mengintip dari pintu yang sedikit terbuka itu.
"Maaf ya, Bang. Aku udah boong. Padahal aku gak lagi demam. Tapi aku gak suka aja Abang deket sama Si Seksoy itu!" Benak Oliv, dirinya merasa bersalah. Tapi hanya sedikit.
aq tunggu lanjutanx