NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya menerima.

"Kenapa dia lama sekali?"

Zalina tampak menunggu dengan gelisah di ruang kerja Kaiden yang luas dan sunyi itu. Ia tak henti menghentakkan kakinya di atas lantai.

Teh yang dihidangkan untuknya, bahkan sudah habis tak bersisa di dalam cangkirnya.

Sudah dua jam dia menunggu di ruangan itu. Namun, tanda-tanda kehadiran Kaiden belum juga terlihat.

"Kenapa rapatnya berjalan sangat lama?" gumamnya tak sabaran.

Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Sosok dingin dan tegas itu akhirnya muncul di ambang pintu.

Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali bertemu dengan pria itu.

"Kau sudah selesai rapat?" tanya Zalina setelah berdiri dari sofa, sekedar basa-basi agar mengurangi rasa gugupnya.

"Maaf, membuatmu menunggu lama." ucapnya dengan nada suara yang datar.

Ia lalu berjalan menuju kursi kerjanya yang nyaman, dan duduk di sana.

Sementara Zalina juga ikut menyusul di belakangnya, berdiri tepat di depan mejanya.

"Duduklah. Kenapa kau hanya berdiri di sana." ucap Kaiden datar, seperti biasa.

Zalina lalu duduk di hadapannya. Ia tampak begitu gugup hingga membuat kedua tangannya saling bertaut gelisah.

"Katakan tujuanmu datang ke sini. Aku punya sedikit waktu hari ini." ucap pria berkacamata itu, tanpa sedikit pun kata pembuka yang terdengar hangat.

Zalina juga tidak ingin berlama-lama berada di dekatnya. Ia ingin segera pergi, setelah menyelesaikan urusannya.

"Aku... aku..." bukannya langsung menyampaikan maksudnya, Zalina malah tampak kebingungan untuk memulai kalimatnya.

Bagaimana mengatakannya?

"Hmm... apa aku bisa-"

Tok...Tok...Tok...

Kalimatnya terhenti ketika mendengar ketukan di pintu ruangan.

Kaiden langsung menyela dan meminta orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangan. Mereka lalu membahas mengenai laporan yang dibawanya.

Zalina kembali diam di kursinya. Ia tampak menunggu dengan sabar, meski sesekali tatapannya ke arah Kaiden yang terlihat begitu fokus pada pekerjaannya. Waktu berjalan sangat lambat, seolah sedang menguji kesabarannya.

Lima belas menit kemudian, orang tersebut akhirnya keluar dari ruangan, menunduk hormat sebelum pergi.

Kaiden menghela napas pelan. Lalu bersandar sejenak pada kursinya. Tatapannya beralih pada Zalina yang sejak tadi masih setia menunggu.

"Aku sedikit sibuk hari ini." ucapnya datar, namun tetap terdengar jelas. "Jadi, kau bisa langsung ke intinya. Apa yang ingin kau bicarakan?"

Zalina terdiam sejenak. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, seolah menahan gugup yang perlahan menyeruak.

"Aku..." suaranya sempat terhenti, lalu ia menarik napas dalam. "Aku ingin minta tolong sesuatu padamu."

Sorot mata Kaiden berubah, menajam penuh arti. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap Zalina seolah menunggu kelanjutannya yang lebih jelas.

"Ayah... meminjam sejumlah uang pada seorang rentenir. Dan..." suaranya mulai terdengar bergetar. "Kami harus segera membayar tunggakan cicilannya. Jadi, aku datang ke sini untuk meminjam uang padamu. Aku ingin melunasi semua hutang ayah agar kami tidak lagi berhubungan dengan pria itu."

"Lalu, bagaimana kau membayarnya padaku?" potong Kaiden cepat dan tegas.

Zalina menatap Kaiden sejenak. "Kau bilang jika kita... menikah. Aku bisa kembali hidup nyaman seperti dulu. Jadi..." entah kenapa rasanya berat sekali untuk mengatakannya.

Ia kembali menunduk, jemarinya saling menggenggam semakin erat. Harga dirinya seperti sedang dipaksa runtuh perlahan.

"Anggap saja ini... sebagai balasannya." lanjutnya lirih. "Aku bersedia menikah denganmu."

Hening.

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai, menatap Zalina dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Baiklah."

Satu kata itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat jantung Zalina berdegup lebih kencang.

"Semua hutang ayahmu akan aku lunasi." lanjutnya tenang, seolah hal tersebut bukan sesuatu yang besar baginya. "Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi memikirkan rentenir itu."

Zalina terdiam. Ada rasa lega yang perlahan menyusup, namun di saat yang sama, perasaan lain ikut menghimpit dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Terima kasih." ucapnya pelan.

Kaiden mengangkat tangan, menghentikan ucapannya.

"Aku belum selesai."

Zalina kembali menegang.

"Kita akan menikah secepatnya," ucap Kaiden tegas. "Dan selama pernikahan itu berlangsung, kau akan tinggal bersamaku, mengikuti semua aturan yang aku tetapkan."

Tatapannya menajam.

"Aku tidak suka seorang pembangkang.

Banyak sekali maunya.

Zalina menelan ludah, namun tetap berusaha terlihat tegar. "Aku mengerti."

"Lalu satu hal lagi," lanjut Kaiden pelan.

Zalina mengernyit. "Apa?"

Kaiden sedikit tersenyum tipis.

"Pernikahan ini mungkin dimulai dengan kesepakatan." ucapnya, suaranya rendah dan dalam. "Tapi aku tidak akan membiarkannya tetap seperti itu selamanya."

Zalina terdiam, tidak sepenuhnya mengerti dengan maksudnya.

🥀🥀🥀

Setelah pertemuan itu, Kaiden dan Zalina memberitahukan hal itu kepada orang tuanya masing-masing. Walau awalnya mereka terdengar terkejut dengan berita mendadak itu, namun orang tua Kaiden menyambut kabar itu dengan gembira, seolah kabar itu adalah sesuatu yang sejak lama mereka nantikan.

Berbanding terbalik dengan reaksi Reyhan. Ia hanya diam dengan kepala tertunduk. Wajahnya tampak lelah, bukan hanya karena dimakan usia, tetapi juga beban yang selama ini ia sembunyikan.

"Maafkan Ayah, Nak." suaranya pelan, nyaris tidak terdengar.

Zalina yang berdiri di hadapannya langsung menggeleng cepat. "Ayah jangan bicara seperti itu."

"Ini semua salah, Ayah..." potong Reyhan, suaranya mulai terdengar bergetar. "Kalau saja Ayah tidak ceroboh... tidak meminjam uang sebanyak itu... kau tidak perlu melakukan ini."

Zalina terdiam.

Ada sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia tahu, semua ini memang bukan sepenuhnya keinginannya. Tapi melihat ayahnya seperti ini... justru terasa lebih menyakitkan.

"Ayah tidak memaksamu, kan?" lanjut Reyhan, kini menatap putrinya dengan mata penuh kekhawatiran. "Kau... benar-benar setuju?"

Pertanyaan itu membuat Zalina membeku seketika. Namun perlahan, ia mengangguk.

"Aku yang memilih ini, Yah." jawabnya pelan, meskipun hatinya sendiri tidak sepenuhnya yakin. "Ini yang terbaik untuk kita."

Reyhan menatap matanya sejenak, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya.

"Kaiden itu... pria yang baik." ucapnya lirih. "Dia... pasti akan membuatmu bahagia."

Zalina tidak langsung menjawab.

Bayangan tatapan tajam Kaiden, cara bicaranya yang dingin, dan syarat-syarat yang ia ajukan kembali terlintas di benaknya.

"Dia..." Zalina menarik napas dalam. "Dia orang yang baik."

Jawaban itu membuat Reyhan kembali terdiam.

Bukan jawaban yang benar-benar menenangkan... tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa putrinya telah mengambil keputusan yang tidak mudah.

"Ayah hanya ingin kau bahagia, Nak." ucapnya lirih.

Zalina tersenyum tipis, namun matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku akan baik-baik saja, Yah."

Namun, jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu... Apakah itu benar, atau hanya sebuah harapan yang ia paksa untuk percayai.

"Apa... kau akan memberitahukan hal ini pada ibumu?"

Pertanyaan Reyhan membuat Zalina kembali diam.

Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang perlahan memenuhi ruangan, terasa semakin berat di antara mereka.

Zalina menunduk. Jemarinya kembali saling menggenggam, seolah mencari kekuatan dari dirinya sendiri.

"Ku rasa tidak perlu, Yah."

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!