Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Jejak yang Harus Hilang
Keesokan paginya, cahaya matahari menembus celah gorden, menyinari kamar yang kini diselimuti keheningan yang mencekam.
Sam perlahan terbangun di atas ranjang besarnya. Kepalanya terasa berdenyut sangat pening dan berat, efek sisa alkohol semalam yang masih menyiksa kesadarannya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin malam, namun nihil—ingatannya benar-benar kosong dan ia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Saat hendak mendudukkan diri, Sam mendadak terkejut ketika menyadari ada yang aneh dengan tempat tidurnya. Tidak ada sprei yang melapisi kasurnya.
Selesai merapikan diri dengan dahi berkerut heran, Sam melangkah turun ke lantai bawah dengan langkah agak gontai. Begitu sampai di dapur, ia menyaksikan Mita yang sudah sibuk bergerak lincah menyiapkan sarapan pagi seperti biasa.
"Mita," panggil Sam pelan, membuat Mita sedikit tersentak kaget sebelum membalikkan badan. Sam langsung menanyakan keganjilan yang ditemuinya di kamar atas, "Kenapa di kasurku tidak ada sprei?"
Mita sempat terdiam sejenak, mengatur napasnya agar terdengar senormal mungkin sebelum menjawab, "Oh, itu... Mas. Kemarin sore aku berniat mau menggantinya. Namun, saat aku sudah masuk ke kamar, rupanya Mas sudah tertidur di sana dan nampak kelelahan sekali." Mita menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan dengan nada tenang, "Dan... kemarin aku mencium bau alkohol. Mungkin Mas mabuk dalam kelelahan. Jadi, aku membiarkannya saja tidur tanpa mengganggu. Maaf ya, Mas, aku telat memasang spreinya."
Mendengar penjelasan itu, Sam hanya mengangguk paham dan tidak menaruh rasa curiga sedikit pun karena ingatannya memang buntu. Namun, saat menatap wajah Mita lebih lekat, Sam terkejut melihat rona wajah gadis itu yang tampak sangat pucat dari biasanya. Sam mengira Mita sedang tidak enak badan.
"Wajahmu pucat sekali. Apakah kamu sakit?" tanya Sam, terselip rasa khawatir dalam nadanya.
Mita buru-buru menggelengkan kepala pelan sambil memaksakan sebuah senyuman tipis. "Eh, tidak apa-apa, Mas. Mungkin saya hanya kelelahan. Setelah menyelesaikan sarapan ini, saya akan segera beristirahat."
Sam terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu. "Eh... kalau begitu, bagaimana dengan kuliahmu?"
"Mmm... tiga hari lagi adalah hari pertama saya masuk kuliah, Mas," jawab Mita pelan.
Sam menatap Mita dengan pandangan teduh, lalu mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu. Istirahatlah yang cukup."
Setelah menyelesaikan sarapannya dalam keheningan, Sam segera bersiap-siap dan pamit untuk berangkat ke kantor.
Beberapa menit kemudian, setelah Sam menyalakan mesin mobil dan berkendara keluar melewati pagar rumah, ia melaju pelan menyusuri jalanan kompleks. Namun, baru beberapa puluh meter berkendara, netranya tidak sengaja menangkap sosok yang sangat familier dari kaca spion tengahnya.
Rupanya, Mita juga keluar dari gerbang rumah.
Melihat gadis itu berjalan kaki dengan langkah yang tampak agak pelan dan payah, Sam menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menunggu beberapa saat, tetapi karena jarak Mita tidak kunjung mendekat dan jalannya terlalu lama, Sam akhirnya memutuskan untuk memindahkan persneling dan memundurkan mobilnya hingga berhenti tepat di samping Mita.
Sam menurunkan kaca jendela mobil sebelah kiri. "Kamu mau pergi ke mana, Mit?" tanya Sam heran.
Mita tersentak kaget. Secara refleks, ia mencoba menyembunyikan sebuah kantong plastik hitam besar yang didekapnya. Sam yang jeli langsung bisa melihat bentuk gumpalan tebal sprei di dalam kantong plastik tersebut.
Ditanya begitu secara mendadak, wajah Mita seketika tampak gelagapan dan gugup. "Eh... mau ke laundry, Mas," jawabnya dengan suara agak bergetar.
"Ke laundry? Kenapa sprei di rumah harus dibawa ke -laundry?" Sam mengernyitkan dahi penuh selidik.
Mita menelan ludah dengan susah payah, mencoba merangkai alasan selogis mungkin. "Ini... apa... sprei-nya mungkin karena ada... ada noda kopi yang lama, Mas. Jadi susah kalau dibersihkan pakai mesin cuci di rumah. Waktu itu... aku sempat begadang belajar sambil minum kopi di kamar Mas, lalu tumpah. Jadi, noda kopinya membekas," dusta Mita sambil mencengkeram erat plastik hitamnya, berusaha menyembunyikan fakta bahwa itu adalah noda darah kesuciannya yang pecah semalam.
Sam menatap Mita sejenak, lalu mengembuskan napas pendek. Ia tidak tega melihat kondisi Mita yang masih pucat harus berjalan kaki membawa bungkusan seberat itu.
"Sudah, sini, biar aku antar sekalian. Kebetulan searah jalan ke kantor," ujar Sam sambil membukakan kunci pintu mobil dari dalam. "Ayo masuk."
Mita tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Sam demi menghindari kecurigaan yang lebih besar. Dengan sangat hati-hati menahan rasa nyeri di tubuhnya, ia membuka pintu dan duduk di bangku penumpang. Sepanjang perjalanan yang diselimuti kecanggungan itu, Sam akhirnya mengantarkan Mita hingga ke depan kios laundry terdekat.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)