Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : PAGI YANG MENGIKIS DINDING ES
Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden kamar utama, memaksa Natalia untuk membuka mata. Tidur yang tidak nyenyak membuat kepalanya sedikit pening. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Talia beranjak dari ranjang.
Rasa haus yang mencekik tenggorokannya membuat ia langsung melangkah keluar kamar menuju dapur di lantai bawah, tanpa sempat memikirkan penampilannya.
Ia sama sekali lupa bahwa mulai hari ini, ia tidak lagi tinggal sendirian di rumah keluarga Smith.
Talia turun ke lantai bawah dengan penampilan yang terlampau kasual namun tanpa sengaja tampak sangat memikat. Piyama sutra putih tulang yang ia kenakan sejak semalam sedikit melonggar di bagian bahu, mengekspos tulang selangka yang indah dan kulit mulusnya yang seputih porselen.
Rambut panjangnya yang hitam kecokelatan berantakan alami, membingkai wajah polosnya yang bersih tanpa riasan. Celana piyama yang pendek juga memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah saat melangkah menuruni anak tangga satu demi satu.
Sementara itu, di dapur minimalis modern, Ethan Noah Taylor sudah terjaga sejak fajar. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam yang tiga kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya.
Ia sedang berdiri membelakangi tangga, menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir ketika mendengar suara langkah kaki halus.
Ethan memutar tubuhnya, berniat memberikan sapaan dingin yang sudah ia siapkan sejak semalam. Namun, kata-kata itu mendadak tercekat di tenggorokannya.
Sepasang mata kelam Ethan terkunci pada sosok Talia yang sedang berjalan mendekati konter dapur. Pandangan Ethan perlahan turun, memindai penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jakun pria itu naik-turun dengan cepat. Kehadiran Talia dengan pakaian seminim itu di pagi hari seperti menyiramkan bensin ke dalam api gairah yang semalam dengan susah payah ia padamkan dengan whiskey.
Talia yang masih setengah mengantuk langsung menuangkan air dingin dari dispenser ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas. Rasa segar air dingin itu perlahan mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
Saat ia menurunkan gelas, barulah ia menyadari keheningan yang teramat pekat di dapur tersebut.
Talia menoleh, dan seketika menjumpai tatapan Ethan yang begitu intens, gelap, dan sarat akan gairah tersembunyi yang tertahan.
Menyadari arah pandangan Ethan yang tertuju pada bahunya yang terekspos, Talia tersentak kecil. Kesadarannya langsung pulih seratus persen. Ia segera menarik kerah piyamanya ke atas dengan gugup, berusaha menutupi kulitnya yang terbuka. Rona merah muda alami langsung menjalar di pipi Talia akibat malu.
"Maaf, aku... aku lupa kalau kau ada di sini," ujar Talia terbata-bata, suaranya sedikit serak khas orang baru bangun tidur, yang justru terdengar seksi di telinga Ethan. Talia melangkah mundur, berniat segera kembali ke kamar atas.
"Aku akan kembali ke atas untuk berganti pakaian."
Namun, sebelum Talia sempat memutar tubuh, pergerakan Ethan jauh lebih cepat. Pria itu meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras, lalu melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka.
Sret.
Ethan mencengkeram pergelangan tangan Talia dengan lembut namun tidak bisa dibantah, menghentikan langkah gadis itu. Ethan menarik tubuh Talia sedikit mendekat, hingga aroma mint dari napas pagi sang pria dan wangi maskulin tubuhnya kembali menginvasi indra penciuman Talia.
Ethan menunduk, mengunci pandangan Talia yang tampak gugup di bawah kukungannya di dekat konter dapur. Mata kelamnya meredup, menatap lekat bibir ranum Talia yang pagi ini tampak sangat alami tanpa lipstik.
"Kau bilang kau lupa aku ada di sini, Natalia?" bisik Ethan, suaranya terdengar sangat rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh yang menggelitik perut Talia.
"Atau kau sengaja turun dengan penampilan seperti ini untuk menguji sejauh mana aku bisa bertahan dengan kata-kataku semalam?"
Talia menahan napas, jantungnya bertalu liar di dalam dada. Jarak yang terlampau dekat ini membuat dinding pembatas yang mereka bangun semalam terasa runtuh dalam sekejap.
...----------------...