Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadian
Matahari sudah naik ke atas puncak kepala. Orang-orang sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang sekolah, ada yang berdagang, dan ada pula yang sedang jalan-jalan seperti Raina dan Hadi.
Ya, hari ini... tanpa pernah sekalipun direncanakan. Kedua manusia yang sama-sama dikhianati oleh pasangan mereka, sedang berlibur bersama dikawasan puncak pegunungan.
Tidak ada yang mereka lakukan disana. keduanya hanya duduk, melihat pemandangan sambil menikmati secangkir teh panas dan gorengan yang baru saja diangkat dari penggorengan.
"Disini enak ya? pengen deh suatu hari nanti pindah ke daerah sini!" ucap Raina asal.
Wanita cantik itu terkagum dan terpesona melihat pemandangan yang sangat memanjakan mata. Ditambah udaranya yang bagus, membuat dirinya betah berlama-lama disana.
Raina terlalu larut dalam pemandangan indah yang sedang ia nikmati. Sampai ia sendiri tidak sadar, jika dirinya sudah menjadi objek tunggal pemandangan indah yang membuat seorang pria tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Mas Hadi lihat deh, burung yang bertengger di dahan pohon itu, indah sekali!" kata Raina dengan antusias.
"Iya indah. Sangat indah!" sahut Hadi.
Raina menoleh. Rencananya ia ingin membasahi tenggorokannya dengan teh hangat yang tinggal setengah. Tapi ternyata, ia malah mendapati hal lain.
"Mas Hadi!" panggil Raina, menepuk lembut punggung tangan Hadi yang ada di meja.
"Ah iya ada apa Rain?" Hadi terkejut, tak sadar ia sendiri melamun karena terlalu terpesona.
"Mas Hadi gak dengar aku bicara dari tadi?"
"Dengar!" jawab Hadi. Yang meskipun sudah dipergoki oleh sang pemilik tubuh. Kedua matanya terus tertuju pada wajah cantik yang belakangan ini membuatnya kembali seperti anak remaja yang baru mengenal cinta.
"Katanya dengar, tapi malah ngelamun sambil matanya ngeliatin aku terus!"
Dada Raina berdebar. Kedua pipinya merona, ia malu terus diperhatikan oleh pria lain yang bukan suaminya.
"Karena kamu jauh lebih indah dari pemandangan itu!" kata Hadi, dengan kejujuran yang terlihat dari kedua netranya.
"Aku baru tahu, jika seorang Mas Hadi sangat pintar merayu. Pantas saja Monica sampai jatuh cinta!" Raina mengalihkan pandangan. Ia tak kuat berlama-lama melihat wajah tampan itu.
"Aku tidak pandai merayu Rain. Aku hanya menyampaikan fakta yang ada!"
Hadi menggenggam tangannya. Raina tidak menolak. Entah mengapa, sekarang genggaman tangan itu terasa jauh lebih nyaman dari genggaman tangan suaminya.
"Dasar gombal!" Raina tertawa kecil. Tawa yang lepas, bebas seperti tidak ada beban yang sedang dipikul.
"Rain!"
"Ya, ada apa Mas?"
Hadi berubah serius. Dalam tatapan penuh damba itu terlihat ada banyak kata, kalimat yang ingin ia ungkapkan tapi ada rasa ragu atau bahkan sulit untuk diungkapkan.
"Aku nyaman saat bersama kamu Rain! Rasanya semua masalah terhenti seketika saat kita bersama." Hadi menjeda, ia menarik nafas sambil menyusun kalimat berikutnya. "Bisakah kita terus begini? Atau jika kamu mengizinkan, aku ingin lebih dari ini!"
Raina membatu. Ia terkejut Hadi bisa mengatakan hal ini sekarang. Tadinya ia mengira, jika perasaan Hadi belum sampai ditahap ini.
"Rain, kamu gak marah kan... jika aku berharap hubungan kita bisa lebih dari teman? Aku menyukaimu Rain. Aku mencintai kamu!" lanjut Hadi.
Pegangan tangannya mengerat, tatapannya begitu fokus. Sepertinya ia sedang gugup, menunggu jawaban apa yang akan Raina katakan.
"Aku... juga merasakan hal yang sama!" aku Raina. Setelah menjeda beberapa saat.
Hadi melotot. Mungkin terkejut.
"Saat bersamamu aku nyaman. Kamu baik, lembut, tulus dan selalu mendahulukan aku saat kita bersama. Bohong jika aku bilang, aku tak suka padamu. Karena kenyamanan ini... belum pernah aku dapatkan dari suamiku!"
"Benarkah itu Rain? kamu juga menyukaiku?" tanya Hadi tak percaya.
Wajahnya yang tadi gugup kini tersenyum. Senyum yang lebar, menggambarkan suasana hatinya yang sedang bahagia.
Raina mengangguk. "Tapi kamu tahu kan posisi kita seperti apa?" Raina mendadak sendu.
"Aku tahu Rain. Tapi apa salahnya jika kita bersama? Monica dan Robby saja bisa selingkuh dibelakang kita? mengapa kita gak bisa?"
Raina tak langsung menjawab. Padahal ini yang ia inginkan. Ini tujuannya mendekati Hadi selama ini. Tapi kenapa ia tidak bisa langsung mengiyakan. padahal ia sendiri juga menyukai pria itu.
"Rain?" panggil Hadi, pegangannya mengerat.
Raina masih diam, ingin menjawab iya. Tapi niat awalnya mendekati Hadi tidak tulus, atau bisa dibilang salah. Tapi dari niat yang salah, ia malah menemukan kenyamanan dari sosok pria... suami dari wanita yang merebut suaminya.
"Apa kamu tidak menyesal bersamaku?"
Hadi menggeleng cepat. "Tidak! aku tidak akan pernah menyesal. Malahan, aku takut kamu yang akan. Menyesal?" sahutnya.
"Aku?" beo Raina.
Hadi mengangguk. "Iya. Karena kamu tahu sendiri, pekerjaan aku gak pasti, serabutan. Hari ini aku bisa kerja disini, besok aku bisa kerja disana, dan lusa mungkin aku bisa ditempat yang lain. Penghasilanku pun gak menentu. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan, aku... pasti bertanggungjawab dan tidak akan menyia-nyiakan kamu!"
Raina menatap kedua netra gelap itu. Ia mencari kebohongan, sandiwara atau mungkin janji manis yang bisa saja terlihat disana. Tapi sayang, dia tidak menemukannya.
Yang ia temukan justru rasa khawatir yang besar.
"Rain! beri aku kesempatan ya?" pinta Hadi.
Jantungnya berdegup kencang. Ia takut ditolak. Tapi jika tidak diungkapkan... ia juga takut kehilangan kesempatan.
"Baiklah! kita bisa mencobanya," putus Raina akhirnya.
Senyum Hadi merekah. Kekhawatiran yang tadi terlihat di kedua netranya, kini lenyap seketika.
"Terima kasih Rain! Aku tidak akan mengecewakan kamu," Hadi mengangkat kedua tangan Raina, ia dekatkan tangan halus itu. Lalu ia dekatkan ke bibir, ia kecup lembut penuh perasaan.
Raina mengangguk. Senyumnya juga merekah, namun senyum itu mengandung dua arti. Senyum karena status mereka bukan lagi teman seperti sebelumnya. Sekaligus senang, karena jalannya untuk balas perbuatan Monica semakin dekat.
"Monica! bagaimana perasaan kamu... jika kamu tahu suamimu sudah menjadi kekasihku? Apalagi sampai kamu tahu, jika suami mu bukan pria biasa!" batin Raina.
---
Setelah sama-sama mengungkapkan perasaan. Mereka jadi lebih bebas. Bebas menggenggam, bebas merangkul dan memeluk. Namun, masih tetap dalam batas kewajaran.
Keduanya tertawa lebar, bahagia, menikmati setiap momen berdua. Banyak yang mereka lakukan disana. Selain menikmati pemandangan, mereka juga menikmati berbagai wahana wisata, kuliner, bahkan banyak foto yang mereka abadikan bedua.
"Aku bahagia sekali hari ini!" ucap Raina dengan dada yang naik turun, setelah mereka mendaki bukit kecil untuk duduk di atas sana. "Rasanya aku sudah lama sakali tidak sebahagia ini!"
Hadi sangat memperhatikan Raina. Pria itu terus mengawasi kekasihnya, menjaga keselamatan dan kenyamanannya.
"Jika kamu bahagia... lain kali kita cari waktu untuk liburan berdua lagi ya?"
"Beneran?" Raina memiringkan kepala dengan kedua mata yang berbinar.
"Sebutkan saja! Kemanapun kamu mau... aku pasti akan menemanimu!"
Mereka duduk diatas bukit. Berdampingan, menikmati pemandangan sambil menggenggam tangan erat. Raina bersandar di bahu prianya. Sedangkan Hadi, merangkul wanitanya. Wanita baru yang mengobati lukanya, mengubah dunianya... sekaligus memberikan warna baru dalam hidupnya.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang