NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

BAB 16: PRIA BERNAMA ADRIAN

"Namanya terdengar biasa, seperti nama orang lain. Namun begitu nama itu disebut, udara di ruangan berubah, waktu seolah berhenti, dan segala benang kusut yang selama ini menjerat hidupku perlahan mulai tersambung menjadi satu gambar yang mengerikan."

Malam semakin pekat, kabut Dago Atas turun makin tebal seolah ingin menelan segala sesuatu yang ada di kawasan itu. Di balik rimbunan semak belukar yang basah oleh embun, Arka berdiri kaku, matanya tak lepas dari bayangan jendela besar vila tua itu. Di sampingnya, Detektif Daniel Sihombing berdiri diam seperti patung, auranya tenang namun penuh kewaspadaan, seolah ia sudah menunggu momen ini bertahun-tahun lamanya.

Suara percakapan yang samar namun jelas terbawa angin dingin masih berdengung di telinga Arka. Terutama satu nama. Nama yang menjadi kunci dari segala rahasia, nama yang tertulis di pesan-pesan ponsel hitam, nama yang terucap dengan nada hormat sekaligus takut oleh wanita yang menjadi istrinya.

Adrian.

Pria bernama Adrian Mahesa.

Selama dua tahun ini, nama itu tidak pernah ada dalam hidup Arka. Tidak ada di daftar teman Elena, tidak ada di daftar rekan kerjanya, tidak pernah disebutkan dalam cerita masa lalu istrinya yang selalu dipotong dan disembunyikan. Bagi Arka, Adrian adalah sosok hantu. Sosok yang ada di mana-mana namun tak terlihat wujudnya, yang mengatur segalanya dari bayang-bayang, yang menarik tali kendali hingga Elena bergerak persis seperti boneka.

Namun tadi, untuk pertama kalinya, Arka melihat wujud nyata pria itu.

Pria yang menyambut Elena di depan gerbang. Pria yang memeluknya dengan kepemilikan mutlak. Pria yang dicium oleh wanita itu dengan penuh gairah, ciuman yang jauh berbeda dari ciuman palsu yang diberikan Elena padanya pagi tadi.

Arka memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Bayangan wajah Adrian kembali berputar jelas di kepalanya. Usianya sekitar awal empat puluhan, wajah tegas dengan rahang yang kuat, rambut hitam yang mulai memutih di pelipis memberikan kesan berwibawa namun berbahaya. Gerak-geriknya tenang, terukur, setiap inci dari penampilan dan sikapnya memancarkan kekuasaan, kekayaan, dan kekejaman yang terlatih.

"Inilah dia, Pak Arka," suara Daniel terdengar berbisik rendah di sampingnya, memotong lamunan Arka. Detektif itu menunjuk ke arah jendela yang berkilau remang oleh cahaya lampu di dalam. "Pria bernama Adrian Mahesa. Di atas kertas, dia adalah konsultan manajemen sukses, pemilik beberapa perusahaan investasi, warga negara terhormat. Tapi di balik itu... dia adalah dalang dari segala kekacauan ini. Otak di balik kebakaran lima tahun lalu di Surabaya. Otak di balik pencurian harta keluarga Wijaya. Dan otak di balik penipuan identitas yang dijalankan Elena... atau lebih tepatnya, Claire."

Arka membuka matanya perlahan, menatap jendela itu dengan pandangan yang kini berubah total. Rasa penasaran, rasa marah, rasa benci, dan rasa ingin tahu bercampur aduk menjadi satu.

"Siapa dia sebenarnya, Pak Daniel? Bagaimana dia bisa masuk ke dalam kehidupan keluarga Wijaya? Bagaimana dia bisa memutarbalikkan fakta sedemikian rupa sampai orang yang mati dianggap hidup, dan yang hidup dianggap mati?" tanya Arka, suaranya parau namun penuh penekanan.

Daniel menghela napas panjang, napas yang terasa berat memikul beban sejarah kelam itu. Ia melangkah mundur sedikit, mencari posisi yang lebih terlindungi di bawah naungan pohon besar, lalu mulai bercerita dengan suara rendah dan serius.

"Adrian Mahesa masuk ke keluarga Wijaya sekitar delapan tahun lalu. Saat itu dia masih muda, cerdas, pandai bicara, dan sangat ambisius. Ayah Elena—almarhum Tuan Hendra Wijaya—mempekerjakannya sebagai manajer keuangan pribadi. Tuan Hendra percaya padanya, menganggapnya anak sendiri, memberinya akses ke semua aset, keuangan, dan rahasia keluarga."

Daniel berhenti sejenak, menelan ludah seolah cerita berikutnya adalah racun yang pahit.

"Di mata semua orang, Adrian adalah sosok yang sempurna. Ramah, sopan, bekerja keras. Tapi di mata Claire... dia adalah pahlawan."

Arka mengernyitkan dahi. "Claire?"

"Iya. Ingat, Pak? Claire adalah anak angkat. Di keluarga itu, dia tidak pernah dianggap keluarga. Dia hidup seperti pembantu. Tidur di gudang sempit, makan sisa makanan, dipukuli, dimarahi, selalu dibanding-bandingkan dengan Elena yang cantik, pintar, dan anak kandung. Claire membenci semua orang di rumah itu. Dia membenci Tuan Hendra, membenci Ibu, dan yang paling dalam... dia membenci Elena."

Daniel menunjuk ke arah vila di depan mereka.

"Namun Adrian... Adrian adalah satu-satunya orang yang pernah bersikap baik padanya. Adrian yang mendekatinya, yang mendengarkan keluh kesahnya, yang memberinya perhatian, yang menanamkan benih-benih kebencian dan ambisi di kepala gadis muda itu. Adrian membuat Claire merasa dia berharga. Adrian membuat Claire percaya bahwa dunia ini tidak adil, dan kekayaan serta kebahagiaan seharusnya miliknya, bukan milik Elena yang manja itu."

Jantung Arka berdegup kencang. Kepingan teka-teki mulai tersusun rapi.

"Jadi Adrian... dia menggunakan Claire?"

"Dan Claire menggunakan Adrian," sambung Daniel cepat. "Itu kemitraan paling berbahaya yang pernah saya temui, Pak. Adrian punya otak, punya akses ke uang, tapi dia butuh cara untuk mengambil alih segalanya tanpa dicurigai. Claire punya niat jahat, punya dendam kesumat, dan dia tahu seluk-beluk keluarga Wijaya seperti punggung tangannya. Maka mereka membuat kesepakatan gila: menghancurkan semuanya, lalu membangun ulang atas nama mereka sendiri."

Arka teringat kembali pesan-pesan di ponsel hitam itu. "Buang rasa bersalah itu. Dia cuma alat." "Demi hutangmu pada keluargamu."

"Kebakaran itu... rencana mereka?"

Daniel mengangguk berat. "Persis. Malam itu, lima tahun lalu. Mereka mengunci seluruh penghuni rumah di dalam kamar, membakar semua jalan keluar, lalu menyalakan api dengan bahan kimia yang membuat sisa tulang sulit diidentifikasi. Mereka berniat membunuh semua, lalu kabur dengan membawa dokumen penting dan harta berharga."

"Tapi kenapa Claire tidak mati? Kenapa dia malah jadi Elena?"

Karena itu bagian paling liciknya," jawab Daniel dengan nada penuh kekaguman pahit. "Mereka sudah merencanakan pertukaran itu jauh-jauh hari. Claire tahu persis data diri Elena, kebiasaan Elena, sidik jari, tanda lahir, semuanya. Sebelum membakar mayat Elena, Claire menukar semua dokumen identitas di dompet, di kamar, di mana saja. Dia menghilangkan jejak keberadaan dirinya sendiri, dan menanamkan jejak Elena ke dalam hidupnya."

Arka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa mual naik ke kerongkongannya.

"Jadi selama ini... wanita yang tidur di sampingku... wanita yang kucintai... dia bukan hanya penipu. Dia adalah pembunuh yang membunuh saudaranya sendiri, lalu memakai kulit korban sebagai penyamaran."

"Dan Adrian adalah tuannya," tambah Daniel dingin. "Hubungan mereka bukan sekadar kekasih, Pak. Itu jauh lebih dalam, jauh lebih gelap. Adrian adalah segalanya bagi Claire. Dia ayah, dia kekasih, dia guru, dia tuan. Claire tidak bisa melakukan apa pun tanpa perintah Adrian. Claire tidak berpikir apa pun tanpa arahan Adrian. Segala sesuatu yang Elena Wijaya lakukan selama dua tahun ini—termasuk menikah dengan Bapak—adalah perintah Adrian."

Arka mengangkat wajahnya, matanya basah namun penuh amarah.

"Kenapa aku, Pak Daniel? Kenapa aku dipilih? Kenapa aku harus masuk ke dalam neraka ini?"

Daniel menatapnya dengan pandangan iba.

"Karena Bapak aman, Pak Arka. Bapak orang jujur, orang baik, punya pekerjaan tetap, latar belakang bersih, tidak punya hubungan dengan keluarga Wijaya maupun dengan dunia kejahatan. Menikah dengan Bapak adalah langkah penyempurnaan rencana Adrian. Identitas Elena Wijaya harus sah, harus diakui negara, harus punya keluarga baru agar tidak ada yang mencari tahu masa lalunya. Bapak adalah 'stempel sah' yang mereka butuhkan. Setelah itu, saat harta keluarga Wijaya benar-benar bersih di tangan mereka... maka Bapak adalah beban yang harus disingkirkan."

Dan saat itu juga, sepotong percakapan yang baru saja ia dengar dari balik tembok tadi berputar kembali di kepala Arka, lebih jelas, lebih keras, lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Zat ini. Satu tetes saja cukup untuk membuatnya sakit parah, dan sehari kemudian meninggal seolah terkena serangan jantung alami. Tidak ada jejak."

"Atur semuanya, Sayang. Pikat dia, bingungkan dia, buat dia percaya kau masih Elena yang dia cintai. Lalu berikan ini padanya."

Arka menggigil. Bukan karena dinginnya udara malam, tapi karena dinginnya rasa takut yang merambat ke tulang sumsum.

Pria bernama Adrian itu... dia tidak hanya ada di masa lalu. Dia ada di sini, sekarang, mengatur langkah demi langkah kematian Arka sendiri. Dan wanita yang dicintainya, wanita yang ia kira terjebak dan butuh diselamatkan... wanita itu sedang memegang botol racun itu di dalam saku gaunnya, sedang merencanakan cara terbaik untuk menumpahkan isinya ke dalam minuman Arka malam ini.

"Pak Daniel..." bisik Arka, suaranya bergetar namun matanya tajam menatap jendela yang diterangi cahaya hangat itu. "Mereka mengira mereka sudah mengatur segalanya. Mereka mengira aku datang ke sini sebagai domba yang siap disembelih."

Ia mengeratkan genggamannya pada kartu nama Adrian yang sudah remuk di saku jaketnya.

"Tapi mereka lupa satu hal. Mereka lupa bahwa di balik semua kebohongan itu... ada kebenaran yang sedang berdiri di sini, membawa bukti, dan siap merobohkan semua tembok yang mereka bangun."

Daniel tersenyum tipis, senyum yang penuh persetujuan. Ia mengeluarkan peralatan kecil dari tasnya, alat perekam canggih dan kamera pengintai.

"Mulai detik ini, Pak Arka. Segala sesuatu yang ada di dalam sana akan kita rekam. Setiap kata, setiap gerakan, setiap kejahatan. Dan saat saat yang tepat tiba... kita akan masuk. Dan kita akan buat Adrian Mahesa sadar, bahwa permainan indah yang dia bangun selama lima tahun ini... baru saja berubah menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa dia bangunkan lagi."

Angin kembali berhembus kencang, membawa suara musik samar dan tawa renyah dari dalam vila. Tawa Claire. Tawa kemenangan.

Arka melangkah maju satu langkah, mendekati pagar yang kini menjadi batas antara hidup dan mati.

Di balik sana, pria bernama Adrian sedang duduk di singgasana dosanya, merasa paling berkuasa. Di sampingnya, wanita yang menjadi istrinya sedang tersenyum manis sambil menggenggam kematian Arka di saku gaunnya.

Dan di sini, di luar pagar, Arka berdiri sendiri, bukan lagi sebagai suami yang polos, melainkan hakim yang datang untuk menagih segala hutang darah dan air mata.

Malam ini, pertemuan yang telah lama direncanakan akan terjadi.

Pria bernama Adrian akan berhadapan langsung dengan pria yang ia anggap hanya sebagai alat.

Dan di antara keduanya, berdiri seorang wanita yang harus memilih: antara topeng yang memberinya kekayaan, atau kebenaran yang mungkin bisa memberinya kebebasan... jika belum terlambat.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!