Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Malam di Taman Laut
Subuh belum tiba. Aequoria masih tidur.
Nana tidak bisa tidur. Ia bangun dari tempat tidurnya, mengenakan jubah tipis dari rumput laut, dan berenang ke taman laut.
Mawar biru sedang mekar di bawah cahaya ubur-ubur raksasa yang meredup. Kelopaknya berdenyut lembut — seperti jantung kecil yang tak pernah lelah.
"Kau juga tidak bisa tidur?"
Nana menoleh. Jeno berdiri di pintu taman, rambutnya basah, matanya sayu.
"Kau juga," jawab Nana.
Jeno berenang mendekat. Ia duduk di samping Nana, di atas batu karang yang berlumut — tempat yang sama di mana dulu mereka berpelukan setelah pertempuran pertama melawan Aramis.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jeno.
"Ayahku," kata Nana jujur. "Kael. Perang. Banyak hal."
"Pikiranmu penuh."
"Aku ratu. Pikiranku harus penuh."
Jeno tersenyum. "Kau boleh kosong kadang-kadang. Aku bisa pikirkan untukmu."
"Kau tidak bisa membaca pikiranku."
"Aku tidak perlu membaca. Aku cukup melihat matamu."
Nana menatap Jeno. Mata biru pucat itu — lembut, hangat, pulang.
"Jeno," katanya.
"Ya?"
"Apa kau takut?"
Jeno terdiam sejenak. "Aku takut," katanya akhirnya. "Tapi bukan karena Kael. Bukan karena perang."
"Lalu karena apa?"
"Karena... suatu hari nanti, kau mungkin sadar bahwa kau bisa melakukan lebih baik dariku."
Nana mengerjap. "Apa maksudmu?"
"Kau ratu, Nana. Kau bisa memilih siapa pun. Ada pangeran-pangeran dari kerajaan lain yang lebih tampan, lebih kaya, lebih..."
"Jeno."
"...lebih pantas untuk—"
"Jeno, diam."
Jeno diam.
Nana meraih wajah Jeno dengan kedua tangannya. Wajah itu — tegas, dingin, tapi matanya selalu hangat saat menatapnya.
"Aku tidak mau pangeran lain," kata Nana. "Aku tidak mau yang lebih tampan. Aku tidak mau yang lebih kaya. Aku mau kau. Hanya kau."
Jeno tidak bisa berkata apa-apa. Matanya berkaca-kaca.
"Kau sudah menjagaku selama sepuluh tahun," lanjut Nana. "Kau sudah menyelamatkanku berkali-kali. Kau sudah kehilangan segalanya untukku. Dan kau masih bertanya apakah aku bisa melakukan lebih baik?"
Nana tersenyum.
"Tidak ada yang lebih baik darimu, Jeno. Tidak ada."
Jeno menutup matanya. Air matanya jatuh — jatuh ke tangan Nana yang masih di pipinya.
"Aku tidak pantas—"
"Berhenti bilang kau tidak pantas," potong Nana. "Aku yang memutuskan siapa yang pantas. Dan aku bilang kau pantas."
Jeno tertawa — tertawa kecil, pecah, tapi lega.
"Kau ratu yang tegas," katanya.
"Aku tahu."
"Dan sombong."
"Itu juga."
"Tapi aku mencintaimu."
Diam.
Mawar biru di samping mereka berdenyut lebih terang — seperti sedang tersenyum.
"Apa kau baru saja bilang?" tanya Nana.
Jeno membuka matanya. Biru pucat itu — basah, tapi terang.
"Aku bilang aku mencintaimu," ulangnya. "Seharusnya aku bilang itu sepuluh tahun lalu, saat pertama kali kau tersenyum di sumur desamu. Tapi aku pengecut."
"Kau tidak pengecut."
"Aku pengecut. Tapi tidak lagi."
Jeno meraih tangan Nana yang masih di pipinya. Ia mencium punggung tangan itu — lembut, sekali.
"Aku mencintaimu, Nanara Ciel Aequoria. Sebelum kau jadi ratu. Sebelum kau tahu siapa dirimu. Sebelum kau lahir, bahkan — aku sudah mencintaimu."
Nana tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya jatuh — jatuh ke tangan Jeno yang menggenggam tangannya.
"Jeno..."
"Kau tidak perlu membalasnya," kata Jeno cepat. "Aku hanya ingin kau tahu. Sebelum kita berangkat ke Timur besok. Sebelum kita menghadapi Kael. Sebelum apa pun yang terjadi..."
Ia menatap Nana lurus ke mata.
"...aku ingin kau tahu bahwa kau dicintai. Bukan karena kau ratu. Tapi karena kau Nana."
Nana tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia memeluk Jeno — erat, di taman laut yang sunyi, di samping mawar biru yang berdenyut lembut.
"Aku juga mencintaimu," bisiknya di dada Jeno. Suaranya serak, pecah, tapi nyata.
Jeno membeku. "Apa?"
"Aku bilang aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak akan mengulanginya."
"Tolong ulangi."
"Tidak."
"Sekali saja."
"Tidak."
"Nana..."
Nana tertawa — tertawa kecil di dada Jeno. Getarannya merambat ke tulang rusuk Jeno, ke jantungnya, ke seluruh tubuhnya.
"Aku mencintaimu, Jeno," bisik Nana sekali lagi. "Sekarang tidurlah. Besok kita berangkat ke Timur."
Jeno tersenyum. Senyum terlebar dalam sepuluh tahun terakhir.
"Baik, Yang Mulia."
"Jangan panggil aku Yang Mulia."
"Baik, Nana."
Mereka berdua terdiam. Menikmati keheningan. Menikmati keberadaan satu sama lain.
Mawar biru di samping mereka berdenyut — bahagia.