NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 : Kekhawatiran Rosline

Edwin mengepalkan rahangnya. "Kau memberinya kesempatan."

Suasana di depan pintu utama mansion langsung membeku. Hanya suara hujan yang terdengar menghantam halaman batu di luar.

Tatapan Bara tidak berubah sedikit pun.

"Victor tidak membutuhkan alasan untuk menyerang seseorang." suaranya rendah dan dingin. "Cepat atau lambat dia tetap akan menjadikan Rosline target."

"Dan kau memilih menjadikannya istrimu?" balas Edwin tajam.

Daniel diam. Bahkan para penjaga di sekitar mereka memilih menundukkan kepala.

Bara melangkah satu langkah mendekat. "Kalau dia menjadi istriku..." sorot matanya mengeras. "Maka seluruh dunia akan tahu bahwa dia berada di bawah perlindunganku."

"Justru itu masalahnya!" Suara Edwin meninggi. "Victor akan semakin terobsesi!"

Bara menatap adiknya tanpa ekspresi. "Kalau begitu biarkan dia datang."

Jawaban singkat itu membuat Edwin terdiam sesaat. Karena ia mengenal kakaknya. Dan ketika Bara berbicara seperti itu, berarti pria itu sudah mengambil keputusan. Tidak ada yang bisa mengubahnya.

Daniel akhirnya berdeham pelan. "Tuan..."

Kedua bersaudara itu langsung menoleh.

Daniel menatap layar tabletnya dengan wajah serius. "Kita tidak punya banyak waktu."

"Apa yang kau temukan?" tanya Bara.

Daniel menggeser beberapa foto di layar. "Kami berhasil melacak salah satu kontak Victor."

Tatapan Bara langsung tajam. "Lalu?"

"Wanita." Alis Edwin berkerut.

Daniel mengangguk pelan.

"Seorang wanita yang sudah cukup lama bekerja untuk Victor."

Ia memperbesar salah satu foto.

"Tapi yang aneh..." gumam Daniel.

Tatapan Bara menyipit. "Wanita ini beberapa kali terlihat berada di sekitar rumah keluarga Nona Rosline."

Ekspresi Edwin langsung berubah.

Bahkan Bara yang biasanya sulit dibaca kini terlihat mengeras. "Sejak kapan?" tanyanya dingin.

"Tiga bulan terakhir."

Daniel memperlihatkan beberapa foto hasil pengawasan. Foto pertama memperlihatkan seorang wanita berambut panjang sedang berdiri di seberang jalan.

Foto kedua diambil dekat toko obat kecil. Dan foto ketiga, membuat suasana langsung membeku. Karena wanita itu sedang berdiri tidak jauh dari ayah Rosline yang baru keluar dari klinik.

Rahang Bara langsung mengeras. "Brengsek."

Suara itu keluar begitu pelan namun penuh ancaman.

Edwin langsung mengambil tablet itu. "Maksudmu..."

Daniel mengangguk. "Kemungkinan besar Victor sudah mengetahui keberadaan Nona Rosline jauh sebelum dia datang ke mansion."

Tatapan Bara berubah sangat gelap sekarang. Kalau informasi itu benar. Maka semua yang mereka pikirkan selama ini salah.

Victor bukan baru tertarik pada Rosline. Victor sudah mengawasinya sejak lama.

"Kita berangkat sekarang." perintah Bara.

Daniel langsung mengangguk. "Siap."

Edwin menatap kakaknya. "Kau mau ke mana?"

Bara mengambil jas hitamnya dari sandaran kursi. "Rumah keluarga Rosline."

"Apa?"

"Kalau Victor sudah mengawasi mereka selama tiga bulan..." suara Bara berubah dingin. "Maka ada kemungkinan keluarganya dalam bahaya."

Ekspresi Edwin langsung berubah, dan kini. Ia tidak membantah. Karena ia tahu satu hal, jika Victor benar-benar sudah mengincar keluarga Rosline sejak lama.

Maka permainan yang sedang mereka hadapi jauh lebih besar daripada sekadar ancaman, foto lama, atau rencana pernikahan.

Dan di lantai dua mansion...

Rosline yang tidak sengaja berdiri di balik pagar koridor sejak beberapa menit lalu perlahan menutup mulutnya sendiri.

Wajahnya pucat, matanya membesar karena syok. Karena tanpa sengaja, ia mendengar semuanya. Termasuk kalimat terakhir Daniel. Jantung Rosline langsung berdegup kencang.

Ayahnya, Ibunya, dan adiknya. Mereka semua, mungkin sedang berada dalam bahaya.

Rosline mundur satu langkah dari pagar koridor. Napasnya menjadi tidak teratur. Tidak mungkin, Victor tidak mungkin mengincar keluarganya selama itu.

Namun foto-foto yang diperlihatkan Daniel tadi terus terbayang di kepalanya. Rosline masih mematung beberapa detik setelah mendengar pembicaraan itu.

Dengan langkah tergesa, ia berbalik lalu masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, Rosline langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.

Tangannya gemetar saat mencari nomor ibunya. "Angkat... angkat, Bu..." bisiknya pelan.

Nada sambung terdengar berkali-kali. Namun tidak ada jawaban. Rosline mencoba lagi, tetap tidak diangkat. Dadanya semakin sesak.

Dengan napas tidak teratur, ia segera menghubungi nomor Alda. Sekali, dua kali dan saat ketiga kali. Baru pada panggilan keempat terdengar suara adiknya.

"Kak Ros?"

Rosline langsung mengembuskan napas lega.

"Alda!"

"Iya, Kak. Kenapa?"

"Kamu di mana sekarang?"

"Aku baru sampai rumah. Baru pulang kuliah, tadi ada tugas kelompok."

Rosline langsung memejamkan mata sesaat, syukurlah.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Ayah bagaimana?"

"Baik kok, Kak." Suara Alda terdengar santai. "Tadi Ayah juga sudah cuci darah. Sekarang lagi istirahat di kamar."

Mata Rosline perlahan memanas. Setidaknya mereka masih baik-baik saja. "Syukurlah..."

Namun belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi, terdengar suara lain dari seberang telepon.

"Alda, sini ponselnya."

Rosline langsung mengenali suara itu... itu suara Sandrin Ibunya. Beberapa detik kemudian suaranya terdengar jelas.

"Ros?"

"Iya, Bu."

"Ibu sudah terima uang kirimanmu."

Rosline langsung terdiam.

"Kamu kenapa kirim uang sebanyak itu?"

Jemari Rosline perlahan mengencang di sekitar ponselnya.

"Ayahmu sudah selesai cuci darah."

"Iya, Bu."

"Biaya kuliah Alda juga sudah dibayar."

Rosline hanya diam.

"Ayahmu bahkan masih punya sisa uang untuk kontrol bulan depan."

Tatapan Rosline perlahan menunduk ke lantai. Karena sebenarnya, ia tidak pernah mengirim uang sebanyak itu.

"Ros?"

"Iya, Bu..."

"Kamu sekarang kerja di mana?"

Rosline langsung membeku. "Memangnya kenapa bu."

"Ibu cuma heran." Sandrin terdengar penasaran. "Dulu kamu selalu bilang uangmu pas-pasan. Tapi sekarang kamu bisa kirim uang sebanyak ini."

Rosline menggigit bibirnya pelan, ia langsung tahu. Pasti Bar, tidak mungkin ada orang lain. "Ada bonus dari Bosku, Bu."

"Oh begitu." Sandrin terdengar lega. "Lalu sekarang kamu kerja di mana?"

Rosline kembali terdiam.

"Pasti di rumah orang kaya ya?"

Tidak ada jawaban.

"Ya sudah, yang penting kamu kerja yang benar, Ros."

Kalimat itu membuat dada Rosline terasa sesak.

"Supaya hidup kami semua terjamin."

Rosline memejamkan mata, bukan karena marah. Melainkan karena sedih, sejak tadi ia ketakutan memikirkan keselamatan keluarganya. Namun yang ditanyakan ibunya tetap soal uang.

Dan meskipun itu menyakitkan, Rosline tidak bisa menyalahkannya. Karena ia tahu kondisi mereka, Ayahnya sakit dan Alda masih kuliah.

"Ros? Kamu dengar?"

"Iya, Bu." Rosline menarik napas dalam. "Bu... jaga kesehatan ya."

"Iya."

"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."

"Tidak masalah, Ros." jawab Sandrin cepat. "Yang penting kamu terus bisa kirim uang ke sini."

Rosline terdiam. Dadanya terasa semakin berat, namun ia tetap tersenyum tipis meski tak terlihat.

"Iya, Bu."

"Sudah dulu ya."

Sambungan langsung terputus. Rosline menatap layar ponselnya dalam diam. Bahkan Ibu Sandrin tidak sama sekali menanyakan kabarnya.

Padahal Rosline keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu hanya memikirkan tentang dirinya dan kebahagiaannya sendiri.

"Syukurlah kalau mereka semua baik-baik saja disana," ucapnya pelan.

1
Arditya
Siap thor
Nandy Sasoeng
menarik sekali🤩🥰
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 2 replies
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: Wkwkwkwk😄
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!