Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Lindungan Damar
Matahari baru saja turun ke ufuk, menyiratkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun damar yang rindang. Di halaman penginapan kayu itu, suasana berubah menjadi begitu tenang, seolah waktu melambat untuk memberi ruang bagi hati-hati yang sedang mencari kedamaian.
Di salah satu sudut yang agak tersembunyi, terlindung dari keramaian tamu yang mulai berdatangan, Senja telah menyiapkan sebuah kejutan kecil yang ia kerjakan dengan saksama selama beberapa hari terakhir.
Itu adalah sebuah pojok baca dan merajut yang ia desain khusus untuk Arunika. Senja tahu betul bagaimana gadis itu mencintai ketenangan, dan ia ingin memberikan sebuah ruang di mana Arunika bisa duduk dengan nyaman bersama gulungan benangnya, tanpa harus terganggu oleh hiruk-pukuk operasional penginapan.
Di sana, sebuah kursi kayu panjang yang aromanya masih segar karena pelitur baru telah berdiri kokoh. Di sampingnya, meja kecil berukir sederhana siap menampung segelas teh atau buku-buku yang sering Arunika baca di waktu senggang.
"Ini khusus untukmu, Ika," suara Senja memecah keheningan sore itu. Pria itu berdiri di samping kursi kayu hasil karyanya bersama Arkala.
Senja tampak berbeda sore ini. Ia mengenakan kaus oblong putih yang meski sederhana, tetap pas di badannya yang tegap. Postur tubuhnya yang gagah kini tampak lebih nyata, dengan lengan yang terlihat lebih kuat setelah berhari-hari bekerja kasar mengangkat kayu dan mengamplas papan bersama Arkala. Rambut pendeknya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan tertiup angin, namun hal itu justru menambah kesan maskulin yang hangat.
Arunika terpaku sejenak. Ia melangkah mendekat, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu yang begitu halus di bawah telapak tangannya. "Kamu yang mendesain ini? Kapan kamu melakukannya? Aku bahkan tidak melihatmu mengerjakannya."
Senja tersenyum tulus, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan di kota yang bising. "Di sela-sela waktu istirahat, saat Arkala sedang sibuk memahat struktur bangunan utama. Aku pikir, kamu butuh tempat yang pas untuk merajut sambil menikmati udara sore. Penginapan ini memang milik Kakek, tapi sudut ini adalah milikmu."
Arunika merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Mereka kemudian berjalan keluar menuju sepasang kursi yang diletakkan tepat di bawah pohon damar yang menjulang tinggi. Batang damar yang kokoh seolah menjadi saksi bisu betapa dua orang dari dunia yang berbeda ini perlahan mulai menemukan titik temu.
Mereka berdua duduk di sana, membiarkan percakapan mengalir dengan nada yang sopan dan manis. Senja bercerita tentang betapa ia belajar banyak dari Arkala. Ia mengakui dengan rendah hati bahwa teori-teori manajemen yang ia bawa dari kota terkadang tidak ada artinya dibandingkan dengan kearifan lokal yang dimiliki sang pemuda tangguh itu. Arunika mendengarkan dengan saksama, matanya menunjukkan binar kagum yang tak bisa disembunyikan.
"Arkala memang keras kepala, tapi hatinya sangat baik," ujar Arunika sambil sesekali memilin ujung jarinya. "Aku senang kamu bisa akrab dengannya. Awalnya aku takut kalian akan terus berselisih."
"Aku yang harus banyak menyesuaikan diri, Ika. Di sini, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang murid yang sedang belajar bagaimana caranya hidup dengan lebih bermakna," jawab Senja pelan. Kalimat itu terasa begitu puitis, menyentuh relung hati Arunika yang terdalam.
Namun, di tengah suasana yang begitu syahdu, sebuah nada dering telepon yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan. Senja merogoh saku celananya, dan seketika ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih kaku. Ada gurat ketegangan yang kembali muncul di dahinya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Senja mengangkat telepon itu dengan suara yang tetap terjaga, namun Arunika bisa merasakan ada jarak yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Panggilan itu seolah menjadi pengingat pahit bagi Arunika. Suara di seberang telepon itu adalah suara dari dunia yang megah, suara dari urusan-urusan besar di kota yang mungkin merindukan kehadiran Senja.
Seketika, pikiran Arunika berkelana. Ia tersadar bahwa pria di sampingnya ini adalah anak kota yang sukses, seseorang yang memiliki masa depan cerah di gedung-gedung beton yang menjulang. Suatu saat nanti, panggilan telepon seperti ini mungkin akan menarik Senja kembali secara permanen. Ada rasa sesak yang tiba-tiba hinggap di dada Arunika, sebuah ketakutan akan kehilangan yang cepat-cepat ia tepis dengan menarik napas panjang.
Keheningan setelah telepon itu berakhir tak bertahan lama. Dari arah beranda penginapan, terdengar suara protes yang cukup keras. Seorang tamu penginapan, seorang wanita paruh baya dengan gaya bicara yang tinggi, tampak sedang marah-marah di depan meja penerima tamu.
Arunika segera bangkit, instingnya sebagai cucu pemilik penginapan langsung bekerja. Ia menghampiri tamu tersebut dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
"Mohon maaf sekali atas ketidaknyamanannya, Ibu. Maaf, ini adalah kesalahan kami. Tadi memang ada sedikit kendala di bagian pelayanan karena kami sedang menyiapkan beberapa pesanan tamu lain secara bersamaan," ucap Arunika dengan nada suara yang halus.
Wajahnya tampak pucat karena panik. Ia merasa sangat bersalah saat tamu tersebut mengeluhkan tentang handuk yang masih terasa lembap dan teh hangat yang sudah dipesan sejak lama namun belum kunjung diantar ke kamar. Meskipun ada karyawan lain yang bertugas, Arunika merasa dialah yang seharusnya memastikan semuanya berjalan sempurna.
"Saya tidak mau tahu alasan kalian! Saya bayar mahal untuk mendapatkan kenyamanan, bukan untuk mendengarkan alasan tentang pesanan tamu lain!" bentak tamu itu, suaranya melengking di antara batang-batang damar yang sunyi.
Arunika tersentak, lidahnya mendadak kelu. Ia hampir saja terpojok oleh kemarahan tamu tersebut. Namun, sebelum situasi semakin memburuk, sebuah bayangan tinggi melangkah maju dengan tenang ke depan Arunika. Senja berdiri di sana, menempatkan dirinya sebagai tameng yang melindungi Arunika dari cecaran amarah tamu itu.
Senja tidak menunjukkan kegusaran sedikit pun. Ia menatap tamu itu dengan tatapan yang teduh namun penuh wibawa. Public speaking-nya yang luar biasa, yang biasanya ia gunakan untuk meyakinkan para investor besar, kini ia gunakan dengan sangat apik untuk meredam api kemarahan.
"Selamat sore, Ibu. Saya Senja, yang bertanggung jawab atas manajemen operasional di sini. Saya memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang Ibu rasakan terkait handuk dan keterlambatan teh tersebut," ucap Senja. Suaranya yang bariton dan tenang seketika memberikan efek menyejukkan.
Senja melanjutkan dengan pilihan kata yang sangat sopan, "Ibu benar, handuk yang kering sempurna dan teh yang hangat adalah hak setiap tamu kami. Saya sudah mengoordinasikan dengan tim di belakang, dan saya pastikan handuk baru yang paling nyaman akan sampai di kamar Ibu dalam waktu kurang dari lima menit. Bahkan, saya sendiri yang akan mengantarkan teh racikan spesial dari Nenek sebagai bentuk permohonan maaf kami. Bagaimana menurut Ibu?"
Tamu itu, yang tadinya seolah siap meledak, tiba-tiba terdiam. Pesona Senja yang begitu sopan, kalem, dan sangat solutif membuatnya tidak jadi marah. Ia seolah terpaku melihat bagaimana seorang pria berpakaian sederhana namun memiliki aura kepemimpinan yang kuat bicara padanya dengan begitu lembut.
"Oh... ya sudah kalau begitu, Mas. Saya hargai tanggung jawabnya. Tolong ya, segera dibereskan," jawab tamu itu dengan nada yang jauh lebih melunak, bahkan terselip sedikit rasa segan sebelum ia kembali ke kamarnya.
Tamu itu pergi, meninggalkan suasana yang kembali tenang. Arunika menatap punggung Senja dengan rasa takjub yang mendalam. Ia benar-benar terpaku melihat bagaimana Senja menangani masalah dengan kepala dingin.
Pesonanya saat menjadi penengah, kemampuannya berkomunikasi, dan caranya membentengi Arunika tanpa harus merendahkan orang lain benar-benar membuat Arunika terpesona. Dinding pembatas yang selama ini ia bangun di hatinya kini benar-benar runtuh berkeping-keping.
"Terima kasih, Senja. Aku tadi benar-benar panik sampai tidak tahu harus menjawab apa lagi," bisik Arunika saat mereka sedang membantu merapikan perlengkapan di dekat dapur utama.
Senja menoleh, menatap mata Arunika dengan kelembutan yang dalam. "Kamu sudah melakukan yang terbaik, Ika. Menangani orang yang sedang emosi memang butuh sedikit kesabaran ekstra. Tapi ingat, selama aku masih di sini, kamu tidak perlu menghadapi hal seperti tadi sendirian. Aku akan selalu ada untuk membantu."
Arunika tersenyum tulus, sebuah senyuman yang paling indah yang pernah Senja lihat selama ia berada disini. Kalimat "selama aku di sini" kembali mengiang di telinga Arunika, memberikan rasa aman sekaligus harapan baru. Ia mulai menyadari bahwa Senja bukan sekadar bayang-bayang masa lalu, melainkan sosok baru yang benar-benar telah berbenah dan ingin memberikan yang terbaik.
Malam mulai turun sepenuhnya, lampu-lampu taman yang hangat mulai menyala, memberikan pemandangan yang sangat estetik di antara bayangan pohon damar yang kokoh. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar tawa tamu lain yang sedang menikmati makan malam. Namun bagi Senja dan Arunika, dunia seolah hanya milik mereka berdua di dapur rumah Kakek yang hangat itu.
Mereka menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang, dan mungkin badai lain akan datang. Namun malam itu, di bawah lindungan pohon damar, mereka belajar bahwa niat baik dan ketulusan memang mampu mengubah segalanya.
Dapur rumah Kakek kembali menjadi saksi bisu pertemuan hati yang kian erat, di mana rasa canggung telah sepenuhnya berganti dengan rasa percaya yang mendalam. Senja menatap ke arah jendela, dan untuk pertama kalinya, ia merasa telah menemukan tempat di mana ia benar-benar bisa pulang.