Berdua, saudara kandung!!!
Indah, gadis mandiri dengan disiplin yang tinggi membuatnya lebih sering sendiri, dingin dan tak banyak bicara. Pecinta warna biru. Wanita terlalu cengeng dan lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika dalam memutuskan dan berbuat sesuatu. Untuk itu dia lebih suka bermain dengan laki - laki daripada teman perempuannya, kecuali cewek yang sepemikiran dengannya.
Ibnu, Pria tampan yang tak mau menyakiti perasaan wanita karena tak ingin adik perempuannya tersakiti.
Indah dan Ibnu terpisah sejak Indah dilahirkan ke dunia.
Konflik batin terjadi saat Indah mengetahui tentang jati dirinya dan berakhir saat ia sadar bahwa dirinya membutuhkan saudara laki - laki dan Indah memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Norma Indah Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan - Jalan Sore
"Nak, sedang apa duduk sendiri?" Setelah ibu berangkat lewat pintu belakang, Ayah menemui Indah yang sedang duduk sendiri.
"Tidak, ayah! Tidak ada yang aku kerjakan". Indah menjawab pertanyaan ayah tanpa menoleh.
"Sayang, jalan - jalan yuk!" Pak Yusuf mencoba menghibur Indah dengan cara mengajaknya jalan - jalan.
"Kita mau kemana, Ayah?" Indah mulai mengembangkan senyumnya.
"Ke rumah nenek yuk!" Ajakan yang benar - benar menyenangkan hati Indah
"Ayo, ayah! Tapi Indah mandi dulu ya, Yah?" Indah tersenyum dan pergi ke kamar mandi.
Usai mandi dan berpakaian rapi, Indah menemui ayah yang sudah menunggunya di teras depan.
"Ayo, ayah kita berangkat sekarang!" Indah mengajak sang Ayah dengan antusias
"Ayo, Nak! Tapi kamu pamit lah dulu pada ibumu!" Ayah mengetahui kedatangan ibu ketika Indah sedang mandi.
"*Bagaimana, bu*?"
"*Sudah, Ayah! Memang benar Sari yang menceritakan hal itu pada Anak kita. Tapi Ayah ga perlu khawatir lagi karena saya sudah mengingatkan agar tidak lagi mencampuri masalah Indah dan dia berjanji akan memenuhi permintaanku*." Ibu menjelaskan hasil pertemuannya dengan singkat ,padat dan jelas.
"*Bu, Indah pamit pergi ke rumah nenek bersama ayah*!"
"*Ya, Nak! Hati \- *hati**!"
"*Ya, bu! Assalamualaikum*." Indah mencium punggung tangan ibunya dan berlalu pergi.
"*Wa'alaikum salam*!" Ibu senang melihat Indah mulai bisa tersenyum.
Indah segera menemui Ayah untuk berangkat ke rumah nenek.
Indah memang sangat senang jika diajak Ayah pergi ke rumah nenek. Dia sangat sayang pada neneknya. Di rumah nenek juga ada banyak saudara Pak Yusuf yang menyayangi Indah. Pak Yusuf anak ke 2 dari 10 bersaudara.
Abil adik bungsu Pak Yusuf sering mengajak Indah jalan \- jalan ketika sore hari Indah ikut Ayah.
**Di rumah nenek**~~~
"Assalamualaikum...!" Seperti biasa Indah mengucap salam ketika masuk rumah siapapun termasuk rumahnya sendiri.
Namun di rumah nenek, setiap anggota keluarga besar nenek harus mengucap salam ketika datang dan pulang dari rumah nenek.
"Wa'alaikum salam..." Nenek Rifa, ibu dari Pak Yusuf mendengar suara Indah yang sudah tidak asing lagi baginya. Berlari ke depan untuk mencium dan memeluknya.
"Nenek........!" Teriak Indah di ruang tamu yang di balas teriakan pula oleh sang nenek
"Indah....... Cucuku! Nenek Rifa mencium pipi, Kening, bibir dan mencubit ujung hidung serta kemudian memeluknya.
Mungkin Indah anak yg tidak banyak bicara atau bisa dikatakan dingin, tapi dia sangat penyayang. Baik kepada orang lain maupun binatang yang kesakitan \(terluka\).
Usai acara peluk ciumnya dengan nenek, Indah menanyakan keberadaan Abil.
"*Dimana Om Abil, nek*?" Indah bertanya pada nenek
"*Dia sedang pergi ke rumah temannya*!" Nenek menjawab pertanyaan Indah
"*Yach, telat dech! Aku kan pengen jalan \- jalan sama Om Abil, nek*!" Indah kecewa karena Abil sudah pergi sebelum Indah datang.
"Sebentar lagi juga om mu itu datang, Indah! Dia pamit ke rumah temannya hanya sebentar....
"Assalamualaikum........!" Belum sempat nenek menyelesaikan kalimatnya untuk menghibur Indah, terdengar suara Abil berteriak mengucap salam.
"Wa'alaikum Salam........!" Indah yang sudah sangat familiar dengan suara itu segera membalas salam Abil dan berlari keluar.
Abil memang sengaja berteriak karena dia sudah bertemu Pak Yusuf di luar.
**Di luar**~~~
Saat turun dari motornya, Abil bertemu Pak Yusuf. Mencium punggung tangan kakaknya itu dan menanyakan keberadaan Indah.
"*Mana Indah, kak*?" Meski tidak melihat Indah, Abil paham jika kakaknya datang bersama keponakan tersayangnya itu karena tidak biasanya pak Yusuf datang ke rumah nenek sore hari jika tidak mengajak Indah.
"Ada tuh di dalam, lagi bicara sama emak!" Emak adalah panggilan Pak Yusuf bersaudara kepada Ibunya yaitu nenek Rifa.
Indah langsung menghambur keluar menemui Abil yang sengaja menunggunya diluar.
"Om dari mana?" Tanya Indah memiringkan kepala.
"Dari rumah teman!" Jawabnya.
"Jalan \- jalan yuk, Om!" Ajak Indah.
"Kemana?" Abil.
"Kemana aja! Keliling kota ini naik motor juga boleh." Sahut Indah.
Abil melirik Pak Yusuf pertanda meminta persetujuan.
"*Berangkat dan hati \- hatilah*!" Titah Pak Yusuf
"*Baiklah, kalau begitu Om simpan buku ini dulu ya*?" Abil Mengangkat buku yang baru saja dipinjam dari teman sekolahnya
"Iya, Om!"
Sembari masuk ke rumah, Abil bertemu nenek dan mencium punggung tangannya sekaligus pamit untuk mengajak Indah jalan \- jalan.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu Abil keluar dari rumah.
"*Kak, motorku tak ada bensin*!" Abil berkata pada Pak Yusuf.
"*Kamu ini, kebiasaan*!" Pak Yusuf bicara dengan dinginnya sambil merogoh kantong belakang celananya untuk mengambil dompet. Mengambil beberapa lembar uang dan diberikan pada adik bungsunya itu.
Nenek yang berdiri di Toko tersenyum melihat tingkah laku kedua anaknya.
Toko? Ya, rumah nenek Rifa bisa di sebut Ruko. Rumah besar peninggalan kakek yang di bagian depannya dibangun toko Kitab yang menjual Al \- Quran dan berbagai jenis Kitab Islam lainnya.
Setelah mendapat Uang bensin dan uang saku dari Pak Yusuf, Abil langsung menaiki motornya dan diikuti Indah.
Seperti yang Indah inginkan, Abil membawanya keliling kota S.
Jam 17.00 mereka tiba di depan Toko.
Nenek Rifa tersenyum melihat mereka datang.
Mereka turun dari motor. "*Mana Ayah, Nek*?" Indah bertanya pada nenek karena Indah tidak melihat adanya Pak Yusuf di sana.
"*Ayahmu pulang, katanya mau ngasih makan ayam \- ayamnya. Ayahmu berpesan jika kamu mau pulang, biar Om Abil yang mengantarmu ke rumah*." Jelas nenek Rifa pada Indah.
Abil yang masih berdiri di belakang Indah dan belum melepas helm langsung mengajak Indah pulang. Indah pun mengiyakan dan langsung pamit pada nenek. Tak lupa iya mencium punggung tangan neneknya dan mengucap salam.