“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Sisi Gelap Lu Ming
Bilah besinya membelah tenggorokan pria pertama dengan suara yang basah.
Darah hangat menyemprot wajah Lu Ming, meresap ke dalam kain jubahnya. Ia tersentak, tangannya sedikit bergetar.
Ini adalah pertama kalinya ia merasakan nyawa manusia padam di tangannya, rasa nyawa yang hilang itu terasa berat di ujung pedangnya.
Namun, dua pria lainnya tidak memberinya waktu untuk menyesal. Melihat kawan mereka tumbang, mereka menggeram marah dan menyerang secara membabi buta dari dua arah.
"Mati kau, Setan Kecil!"
Lu Ming berputar, menggunakan momentum dari serangan lawan yang terlalu bernafsu. Ia bukan lagi bocah polos yang hanya tahu cara lari dan menangis.
Ia adalah murid dari kemiskinan dan didikan keras seorang petarung gagal.
Pedangnya bergerak dengan efisiensi yang mematikan, melakukan Tebasan Angin Rontok yang pernah Liu Shen kuasai dalam sekali lihat.
Dua tebasan lagi, tajam dan dingin. Kesunyian kembali menyelimuti tebing itu. Tiga tubuh tak bernyawa kini terkapar di atas tanah, darah mereka mulai meresap ke dalam debu jalanan yang haus.
Lu Ming berdiri gemetar hebat. Pedangnya jatuh dari genggamannya, berdenting pelan di atas batu.
Ia menatap telapak tangannya yang bersimbah merah pekat. Rasa mual yang luar biasa melonjak di perutnya, namun ia menelannya kembali dengan paksa.
"Maaf… maafkan aku," bisiknya lirih kepada jasad-jasad itu.
Meski hatinya perih, Lu Ming tidak membiarkan mereka membusuk begitu saja.
Ia mengambil sekop kecil yang biasanya ia gunakan untuk mencari tanaman obat, lalu mulai menggali tanah di pinggir jalan yang berbatu.
Tenaganya sudah hampir habis, namun ia tetap menggali dengan tekun selama berjam-jam hingga tangannya melepuh dan berdarah.
Satu demi satu, ia memindahkan tubuh para perampok itu ke dalam lubang. Ia tidak ingin mereka dimakan binatang buas. Ia merapikan pakaian mereka dan menutupinya dengan tanah hingga membentuk gundukan yang layak.
"Aku tidak ingin membunuh kalian," ucap Lu Ming sambil berdiri di depan tiga gundukan tanah baru itu. Ia menyatukan kedua tangannya, berdoa dengan tulus agar jiwa-jiwa kasar itu mendapatkan kedamaian yang tidak mereka temukan di dunia ini. "Tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah bisa bertemu Ibuku. Maafkan aku."
Setelah prosesi penguburan yang melelahkan itu selesai, Lu Ming tersadar. Ia harus bertahan hidup di tengah kelaparan.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia memeriksa barang-barang yang ditinggalkan ketiga pria itu sebelum lubang benar-benar ditutup.
Ia menemukan sebuah kantong kulit berisi sepuluh koin perak, sebuah keberuntungan besar baginya, beberapa potong daging kering yang masih layak makan, dan sebuah peta wilayah yang sudah agak usang namun sangat berharga. Ia juga mengambil sebotol kecil obat luka tingkat rendah yang baunya sangat tajam.
"Barang-barang ini… aku akan menggunakannya untuk menyambung nyawaku. Terima kasih," gumamnya pelan.
Lu Ming membersihkan pedangnya dengan rumput liar yang basah, menyarungkannya kembali dengan bunyi klik yang mantap, lalu mencuci wajahnya di aliran air kecil yang mengucur dari sela tebing.
Bayangan bocah polos yang menunggu di gerbang kota kini telah benar-benar mati, digantikan oleh seorang pemuda yang mulai mengerti bahwa di dunia kultivasi, kebaikan hati sering kali harus dibayar dengan ketegasan yang berdarah.
Ia kembali berjalan, memunggungi tiga makam tanpa nama itu.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, mewarnai jalanan di depannya dengan warna merah tua yang sama dengan darah yang baru saja ia tumpahkan.
Lu Ming terus melangkah, mencari setitik cahaya tentang keberadaan ibunya di tengah kegelapan dunia yang luas.
"Tunggu aku, Ibu. Lu Ming sedang jalan menuju tempatmu."