Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
"Bagaimana? Kamu tertarik?" tanya Opa Hendy ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Dave menggelengkan kepalanya membuat raut Opa Hendy yang tadinya penuh semangat jadi kecewa.
"Opa, aku baik baik saja walaupun belum menikah," bujuk Dave.
Terdengar helaan nafas bedat opanya.
"Kenapa sulit sekali mengabulkan keinginan terakhir opa?" tanya Opa Hendy pelan.
Ganti Dave yag menghela nafas. Mulai merajuk opanya.
"Hatiku tidak tertarik dengan dia, Opa. Aku ngga mungkin menikah tanpa cinta." Dave mencoba menjelaskan agar opanya mengerti.
"Aku yakin opa akan berumur panjang sampai aku menemukan gadis yang aku cari," tambahnya lagi memompa semangat opanya.
Tapi Opa Hendy tetap diam, seolah perkataan yang diucapkan Dave hanya hiburan semata.
Dave menarik nafas dalam dalam.
"Selama ini aku menuruti kencan kencan yang diatur opa, kan? Karena aku juga berharap dapat menemukan seseorang yang bisa membuat aku tertarik. Tapi sayangnya belum." Dave berusaha membuat opanya mengerti.
"Kadang cinta ngga hanya datang dari sekali pertemuan, Dave. Mungkin kalian bisa bertemu lagi beberapa kali," tukas opanya akhirnya menyahutinya. Masih belum hilang harapan.
Dave menghela nafas panjang. Dia sama sekali ngga berminat.
"Entahlah, opa. Aku merasa kurang sreg aja," tolak Dave halus.
Opa Hendy menghela nafas lagi.
"Kalo saja kamu punya perenpuan yang mau dikenalkan pada Opa, Opa akan lebih tenang dan ngga akan memaksamu lagi."
Dave terdiam mendengar nada getir opanya. Dia jadi merasa bersalah.
Siapa perempuan yang bisa dia kenalkan?
Dia masih sendiri.
Atau Rhea saja?
Dave hampir saja memukul kepalanya karena sempat diracun oleh pikiran bodohnya.
*
*
*
Rhea mondar mandir di unit apartemennya setelah pulang dari kindergarten. Kejadian tadi masih sangat mengganggu pikirannya.
Kemarahan masih menyala nyala dalam dadanya. Kalo tidak ada anak anak muridnya, Rhea yakin dia pasti sudah ngga bisa menahan diri lagi untuk menghajar laki laki itu.
Uugghhh..... Sayang sekali, batinnya gemas.
Kenapa dunia sempit sekali?
Rhea jadi takut kalo laki laki itu mengadu pada Tante Puspa dan mengatakan yang sudah terjadi diantara mereka..
Tentu Tante Puspa pasti lebih percaya dengan keponakannya dari pada dirinya. Dia ini siapa, batinnya miris.
Tante Puspa bisa saja memecatnya dan menjadi ilfeel dengannya.
Kepala Rhea jadi mumet memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.
Rhea akhirnya memutuskan berendam saja di bath up. Dia menenggelamkan kepalanya ke dalam air beberapa jenak untuk meredakan saraf sarafnya yang menegang kaku.
Kalo besok laki laki itu menjemput keponakan keponakannya lagi, lebih baik dia abaikan saja, tekat Rhea dalam hati.
Dalam keadaan mumet begini, Rhea ingin mama atau kakaknya menelpon. Tapi mereka sama sekali belum menghubunginya.
Pasti takut ketahuan papanya, keluhnya dalam hati dengan perasaan nelangsa
*
*
*
Opa Heri tidak jadi bergabung dengannya siang ini. Katanya sudah pulang tadi malam bersama cucunya.
Opa Hendy merasa kalo temannya tau, cucunya sudah ditolak Dave.
"Kenapa wajahmu kelihatan banyak pikiran?" tanya Dewan-papanya Rihana.
"Jangan memikirkan masalah yang berat berat. Ingat kita ini sudah jompo," kelakar Afif-papanya Alexander kemudian tergelak bersama Dewan.
Sejak istri Hendy meninggal, hubungannya dengan Dewan dan Afif mulai membaik. Karena itu Hendy memutuskan stay di Jakarta agar mudah berkumpul dengan dua sahabat lamanya.
"Tensi kita gampang naik loh," kompor Dewan di sela tawa berderainya.
Hendy menunggu sampai tawa mereka terjeda.
"Cucu cucu kalian sudah menikah. Bahkan kalian sudah punya cicit. Tapi cucuku Dave masih belum ketemu hilalnya." Hendy menghela.nafas sangat panjang.
"Katanya tadi malam kamu minta Dave kencan? Belum berhasil juga, ya?" cuit Afif.
"Kamu tau dari mana?" tanya Hendy heran. Dia belum cerita tentang ini pada mereka.
"Cicitku Abiyan yang cerita." Afif menyahut. Tadi malam saat keluarga besar mereka sedang makan malam bersama, Abiyan yang mengatakannya.
"Oooh...." Hendy manggut manggut.
"Jadi gagal?" Dewan prihatin juga.
Kembali Hendy menganggukkan kepalanya.
"Heri kelihatannya marah sampai ngga mau ikut reuni dengan kalian."
"Heri Sapta maksud kamu?" tanya Afif tertarik.
"Iya. Dave aku minta bertenu dengan cucu Heri," jelas Hendy.
"Sayangnya Dave ngga tertarik setelah mereka bertemu," lanjutnya lagi dengan raut kecewa.
Hening.
"Oh ya........, kata Biyan, Puspa sedang berusaha mendekatkan Dave dengan anak temannya."
"Oh ya? Sejak kapan?" Wajah Hendy sumringah lagi seakan harapannya akan terwujud.
"Kemarin. Tadi malam Rihana juga sempat mengatakan yabg sana," sela Dewan.
Hendy menatap kedua sahabatnya bergantian. Perasaannya langsung mengharu biru karena ternyata keluarga sahabat sahabatnya juga berniat membantu Dave.
"Teman Puspa yang mana?" tanya Hendy makin tertarik.
"Teman yang dari Surabaya," sahit Afif
"Surabaya?" Jantung Hendy berdebar aneh.
"Iya. Gadis itu dititipkan mamanya pada Puspa. Sekarag bekerja sebagai guru di kindergarten," jelas Dewan.
"Oooh...." Semangat Hendy bangkit lagi.
"Tapi gadis itu kuliah sampai master, kok." Afif ikut menjelaskan.
"Jadi Dave sudah pernah bertemu dengan anak temannya Puspa?" Wajah Hendy semakin sumringah.
"Sudah, Hen., Kemarin siang." Dewan yang menyahut.
"Oooh.....," respon Hendy cepat.
Kenapa anak itu ngga cerita? Batinnya gemas.
"Kelanjutannya bagaimana?" Hendy makin penasaran.
"Kelihatannya mereka berdua saling tertarik." Afif yang menyahut.
"Oh ya?" Hendy tersenyum lebar.
"Kamu setuju, kan, dengan niat Puspa?" tanya Afif sambil menatap Hendy serius.
Hendy mengangguk demgan hati senang.
"Tentu saja aku setuju," jawab Hendy antusias.
Siapa pun orangnya, Talisha atau anak teman kerabatnya. Dia ngga akan pilih pilih.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk