NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempa'an Tulang Dan Rahasia Julian

Malam kembali menyelimuti Desa Oakhaven dengan kegelapan yang pekat. Di dalam kamar kecilnya, Arlan duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Di depannya terdapat sebuah mangkuk kecil berisi cairan perak keunguan yang mengeluarkan uap tipis. Ini adalah malam kesepuluh sejak dia memulai proses Tempaan Tulang menggunakan bahan kimia yang dia beli dari Kota Oksis. Arlan tahu bahwa untuk mencapai tingkat Taijutsu yang bisa menghancurkan sihir, otot saja tidak akan cukup. Tulang adalah fondasi utama; jika fondasinya rapuh, maka kekuatan besar dari Gerbang Keempat yang akan dia buka nanti justru akan menghancurkan tubuhnya sendiri dari dalam.

Arlan mencelupkan jari jarinya ke dalam cairan panas tersebut lalu mulai mengoleskannya ke sepanjang tulang selangka dan tulang rusuknya. Rasa sakit yang muncul kali ini jauh lebih tajam daripada malam-malam sebelumnya. Rasanya seolah olah ada ribuan bor kecil yang sedang mencoba melubangi permukaan tulangnya untuk memasukkan zat kimia tersebut ke dalam sumsum. Arlan menggertakkan giginya dengan sangat kuat hingga rahangnya terasa pegal. Dia tidak membiarkan satu rintihan pun keluar dari mulutnya. Di kehidupan lamanya, Adit telah belajar bahwa rasa sakit adalah biaya yang harus dibayar untuk sebuah keamanan. Tanpa rasa sakit sekarang, dia akan merasakan rasa sakit yang jauh lebih besar saat pedang musuh menembus dadanya nanti.

Dia mulai mengatur pernapasannya, mengaktifkan Gerbang Ketiga secara minimal hanya untuk mempercepat regenerasi sel yang rusak akibat zat kimia tersebut. Arlan bisa merasakan bagaimana kepadatan tulangnya perlahan lahan berubah. Di bawah pengaruh energi kehidupan, zat merkuri dan bubuk bunga matahari hitam itu menyatu dengan kalsium, menciptakan struktur tulang yang sekeras baja namun tetap memiliki fleksibilitas organik. Proses ini sangat lambat dan melelahkan, menguras cadangan energi mental Arlan hingga dia merasa pening. Namun, dia terus bertahan, memaksa setiap inci energinya untuk bekerja secara presisi.

Di sisi lain dinding gubuk, Arlan bisa mendengar suara napas ibunya, Elena, yang sudah tertidur karena kelelahan. Hari ini Elena kembali dengan tangan yang lecet karena dipaksa bekerja di ladang berbatu oleh pengawas desa. Arlan mengepalkan tangannya yang masih basah oleh cairan ramuan. Setiap kali dia melihat ibunya menderita, api kemarahan di dalam hatinya semakin berkobar. Namun, dia menekannya dalam-dalam. Kemarahan yang meledak-ledak hanya akan merusak fokusnya. Dia butuh kemarahan yang tenang dan dingin, seperti mata pedang yang sedang diasah di dalam kegelapan.

Keesokan harinya, Arlan memutuskan untuk tidak pergi ke hutan. Dia ingin mengamati situasi di pusat desa. Dia mendengar kabar bahwa Julian, pemuda bangsawan yang menantangnya waktu itu, sedang menginap di kediaman kepala desa Gort untuk mempersiapkan upacara pembukaan ujian akademi. Arlan mengenakan pakaian kusamnya dan berjalan menuju pusat desa dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit tertatih, memberikan kesan bahwa dia masih menderita akibat kelelahan fisik.

Saat melewati alun-alun desa, Arlan melihat sebuah kereta kuda mewah yang dijaga oleh beberapa ksatria berbaju zirah perak. Di tengah lapangan, Julian sedang berdiri dengan pedang panjang di tangannya. Dia dikelilingi oleh beberapa anak muda dari keluarga kaya di desa tersebut yang tampak sedang memujanya. Julian terlihat sedang memberikan demonstrasi teknik pedangnya. Setiap ayunan pedangnya mengeluarkan kilatan cahaya putih yang tajam, membelah batang kayu besar dengan satu tebasan ringan.

Arlan berhenti di balik sebuah pohon besar, menjaga jarak agar kehadirannya tidak terdeteksi. Dia menyipitkan matanya, mengamati setiap gerakan Julian dengan sangat teliti. Berkat indra yang dipertajam oleh Gerbang Kedua, Arlan bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Dia menyadari bahwa meskipun gerakan pedang Julian terlihat sangat sempurna dan kuat, ada sebuah ke tidak konsistenan kecil pada aliran mananya. Setiap kali Julian melepaskan serangan besar, ada jeda mikro sekitar nol koma lima detik di mana mana di sekitar jantungnya bergetar tidak stabil.

"Itu adalah kelemahan," gumam Arlan dalam hati. "Dia memaksakan mananya untuk terlihat lebih besar dari kapasitas wadah tubuhnya yang sebenarnya. Dia menggunakan obat peningkat kekuatan atau alat sihir tersembunyi untuk memanipulasi auranya."

Arlan tersenyum dingin. Julian yang dianggap jenius oleh semua orang ternyata adalah sebuah produk palsu yang dibangun di atas fondasi yang tidak stabil. Di kehidupan lamanya, Adit sering bertemu dengan pengusaha yang memanipulasi laporan keuangan mereka agar terlihat sukses di mata investor. Julian melakukan hal yang sama dengan kekuatannya. Dia ingin terlihat tak terkalahkan untuk menjaga reputasi keluarganya, namun di dalam dirinya, ada retakan yang sangat berbahaya.

Tiba-tiba, Julian menghentikan latihannya. Dia menoleh ke arah pohon tempat Arlan bersembunyi. Insting seorang pengguna berkah tingkat tinggi miliknya tampaknya merasakan ada seseorang yang sedang mengamatinya. Arlan segera menundukkan kepalanya dan berjalan menjauh dengan tenang, berpura-pura sedang mencari kayu bakar yang jatuh.

"Hei, kau! Sampah Vandermir!" teriak Julian dengan nada suara yang penuh penghinaan.

Arlan berhenti dan berbalik perlahan. Dia memasang wajah ketakutan yang sangat meyakinkan. "Ya, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?"

Julian berjalan menghampiri Arlan dengan langkah angkuh, pedangnya masih terhunus di tangan kanannya. Dia menatap Arlan dengan pandangan jijik. "Aku merasa ada sepasang mata kotor yang menatapku tadi. Apakah itu matamu, pengkhianat?"

Arlan menunduk lebih dalam. "Maafkan saya, Tuan Muda. Saya hanya kagum melihat kehebatan teknik pedang Anda. Saya belum pernah melihat sihir sehebat itu sebelumnya."

Mendengar pujian dari orang yang dianggapnya sampah, ego Julian tampak sangat terpuaskan. Dia tertawa terbahak bahak sambil menyarungkan pedangnya dengan gerakan yang mencolok. "Tentu saja kamu kagum. Seorang manusia tanpa berkah sepertimu tidak akan pernah bisa mencapai level ini meskipun kamu berlatih selama seribu tahun. Ingat, ujian akademi tinggal dua bulan lagi. Aku sudah menyiapkan panggung khusus untukmu di sana. Jangan berani-berani mati sebelum aku menghancurkan mu di depan semua orang."

Julian kemudian melemparkan sebuah koin perunggu ke tanah, tepat di depan kaki Arlan. "Ambil itu untuk membeli obat luka. Aku tidak ingin lawanku terlalu lemah saat ujian nanti. Itu akan sangat membosankan."

Julian berbalik dan kembali ke kelompoknya diikuti oleh tawa mengejek dari anak-anak muda lainnya. Arlan menatap koin perunggu di tanah itu. Dia tidak mengambilnya. Dia justru menginjak koin itu hingga terbenam ke dalam tanah yang becek dengan kaki telanjangnya.

"Nikmatilah kesombonganmu selagi bisa, Julian," bisik Arlan dengan suara yang tidak terdengar oleh siapa pun. "Retakan di dalam mana mu itu akan menjadi pintu masuk bagi tinjuku untuk menghancurkan jantungmu nanti."

Arlan kembali ke gubuknya dengan informasi yang sangat berharga. Dia kini tahu bahwa dia tidak perlu menjadi lebih kuat dari Julian dalam hal mana atau sihir. Dia hanya perlu menjadi cukup cepat untuk menyerang di saat jeda mikro ketidakstabilan mana Julian terjadi. Untuk itu, Arlan harus membuka Gerbang Keempat: Gerbang Rasa Sakit.

Malam itu, kakek tua misterius itu kembali muncul di jendela kamar Arlan. Dia melihat lebam-lebam ungu di tubuh Arlan akibat proses tempaan tulang dan mengangguk puas. "Kamu sudah menyadari rahasia bocah pirang itu, bukan?" tanya kakek itu sambil memberikan sebuah buah aneh yang berbentuk seperti jantung manusia.

"Mananya tidak stabil," jawab Arlan. "Dia menggunakan peningkat kekuatan eksternal."

"Benar," kakek itu terkekeh. "Di dunia ini, banyak orang yang menempuh jalan pintas karena mereka takut pada kerja keras. Julian adalah salah satunya. Dia diberikan Berkah Dewa Pedang, tapi dia terlalu malas untuk mengasah tubuhnya. Dia hanya mengandalkan mananya. Itu adalah kesalahan fatal saat berhadapan dengan pengguna Taijutsu sepertimu."

Kakek itu menunjuk ke arah buah di tangan Arlan. "Makan itu. Itu adalah Buah Bara Jiwa. Rasanya akan membuatmu merasa seperti menelan lava cair, tapi itu akan memberikan energi yang cukup untuk mulai mencoba mengetuk pintu Gerbang Keempat. Gerbang ini disebut Gerbang Rasa Sakit karena saat kamu membukanya, batas bawah rasa sakit di otakmu akan dihilangkan. Kamu akan bisa bertarung dengan kekuatan penuh meskipun tulangmu patah atau dagingmu robek."

Arlan menatap buah itu. Dia tahu bahwa jalan yang dia pilih semakin gelap dan menyakitkan. Namun, setiap kali dia mengingat wajah Rendra yang tertawa saat dia melompat dari jembatan, dan setiap kali dia melihat luka di tangan ibunya, rasa takutnya hilang berganti dengan keinginan yang membara untuk berkuasa.

"Aku akan membukanya," ucap Arlan tegas. Dia menggigit buah itu, dan seketika itu juga, dia merasa seluruh saraf di tubuhnya meledak dalam rasa sakit yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.

Arlan jatuh tersungkur di lantai, tubuhnya mengejang hebat, namun matanya tetap terbuka lebar, memancarkan kedinginan dan tekad yang sanggup membekukan api. Di kehidupan keduanya ini, dia tidak akan berhenti sampai seluruh dunia tahu bahwa seorang manusia tanpa berkah bisa berdiri di atas takhta para dewa.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!