Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14:
Suasana di dalam mobil SUV mewah milik Arkan malam itu sedingin es yang baru keluar dari freezer. Arkan duduk kaku di kursi belakang, tangannya masih menggenggam botol hand sanitizer raksasa, sementara tangan kirinya—secara ajaib—masih belum melepaskan pergelangan tangan Evelyn.
Evelyn berpura-pura gemetar, bahunya naik turun seolah-olah ia sedang menahan tangis akibat trauma kegelapan di pasar malam tadi. Padahal, ia sedang mengatur napas agar detak jantungnya kembali normal setelah melakukan dua tendangan maut dan satu pukulan saraf di dekat generator.
"T-tuan Arkan... tangan Eve sakit," cicit Evelyn dengan suara cempreng yang sengaja digetarkan.
Arkan tersentak. Ia segera melepaskan tangan Evelyn seolah-olah baru saja menyentuh bara api. "M-maaf. Aku hanya memastikan kau tidak tertinggal di tempat kotor itu. Banyak kuman yang bisa melompat dalam kegelapan."
Lana, yang duduk di kursi depan samping sopir, memutar bola matanya. Ia menoleh ke belakang, menatap Evelyn dengan tatapan yang sangat intens. "Kak Eve, tadi itu... cepat banget ya lampunya nyala lagi. Padahal aku dengar suara Bugh! Bak! Buk! di belakang kita. Kak Eve dengar tidak?"
Evelyn mengerjapkan mata di balik kacamata tebalnya. "Dengar! Eve pikir itu suara... hantu martabak yang marah karena gerobaknya kesenggol! Eve takut sekali, Lana!"
Lana tersenyum miring. Ia melihat buku jari Evelyn yang sedikit memerah. "Hantu martabak ya? Hebat juga hantunya bisa bikin buku jari orang lebam."
Arkan menoleh tajam ke arah adiknya. "Lana, diamlah. Kau yang menyebabkan kekacauan ini. Gara-gara ide cilokmu, kita hampir terkontaminasi massal."
Sesampainya di mansion, Arkan langsung memerintahkan protokol "Sterilisasi Level 4". Semua baju yang dipakai ke pasar malam harus dibuang ke insinerator, dan mereka semua wajib mandi menggunakan cairan antiseptik khusus.
Evelyn baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala dan daster baru bergambar semangka, ketika ia menemukan Lana sudah duduk manis di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel.
"Lana? Kenapa di sini? Tuan Arkan bisa marah kalau tahu kamu duduk di kasur Eve tanpa disemprot alkohol dulu," ucap Evelyn waspada.
Lana meletakkan ponselnya, matanya menatap Evelyn lurus-pelan. "Kak Arkan sudah tidur setelah menghabiskan dua botol disinfektan untuk kamarnya sendiri. Sekarang, tinggal kita berdua, Kak."
Lana berdiri, berjalan mendekati Evelyn. Ia jauh lebih pendek dari Evelyn, tapi auranya sangat mendesak. "Kak Eve... jujur padaku. Siapa Kakak sebenarnya?"
Evelyn tertawa canggung. "Apa maksudmu, Lana? Aku ini Evelyn, istrimu Kakakmu yang culun dan suka fisika."
"Jangan bohong," potong Lana cepat. "Aku ini mahasiswi desain, Kak. Aku tahu anatomi tubuh. Orang ceroboh yang sering jatuh tidak akan punya otot punggung setegas itu. Dan tadi di pasar... aku melihat bayanganmu bergerak. Itu bukan gerakan orang yang takut hantu. Itu gerakan predator."
Evelyn terdiam. Senyum culunnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan. Tekanan di ruangan itu berubah drastis.
"Lana," suara Evelyn berubah. Tidak lagi cempreng, melainkan rendah dan penuh otoritas. "Adik ipar yang pintar biasanya hidup lebih lama jika mereka tahu kapan harus tutup mulut."
Lana bukannya takut, malah matanya berbinar kegirangan. "Tebakanku benar! Kakak itu agen rahasia ya?! Atau... pembunuh bayaran?! KEREN BANGET!"
Lana hampir saja berteriak kegirangan jika Evelyn tidak segera membekap mulutnya. "Sshhh! Kecilkan suaramu! Kalau Arkan tahu, hidupku dalam bahaya!"
"Bahaya kenapa? Kak Arkan kan juga punya pistol di bawah bantalnya!" bisik Lana setelah bekapan tangan Evelyn dilepas. "Tunggu... jangan-jangan Kakak dikirim untuk membunuh Kak Arkan?!"
Evelyn menghela napas panjang, ia duduk di pinggir tempat tidur. "Tidak, bodoh. Aku di sini untuk melindunginya. Tapi dia tidak boleh tahu. Dia benci mafia, dia benci kekerasan, dan dia benci kuman. Jika dia tahu istrinya adalah orang yang paling sering berlumuran darah di dunia bawah, dia akan menceraikanku dan menyemprotku dengan air keras."
Lana manggut-manggut, tampak sangat antusias. "Oke, rahasia aman bersamaku. Tapi dengan satu syarat!"
"Apa?" tanya Evelyn curiga.
"Ajari aku bela diri! Dan... biarkan aku ikut kalau Kakak ada misi rahasia lagi! Aku bosan jadi mahasiswi desain yang cuma tahu warna kain. Aku mau jadi asisten Queen Mafia!"
Evelyn memijat pelipisnya. Edward benar, keluarga Knight ini semuanya aneh. Kakaknya gila kuman, adiknya gila adrenalin.
Sementara itu, di kamar sebelah, Arkan sedang menatap layar laptopnya. Samuel baru saja mengirimkan rekaman pemulihan CCTV dari pasar malam yang sempat mati.
"Bos, lihat ini," ucap Samuel di telepon. "Di detik ke-20 setelah lampu mati, ada pergerakan di dekat generator. Sangat cepat. Aku sudah mencoba menjernihkan gambarnya, tapi orang itu memakai topi bucket."
Arkan memperhatikan bayangan itu. Seseorang melumpuhkan tiga anak buah Sebastian dalam hitungan detik dengan teknik CQC (Close Quarters Combat) tingkat tinggi.
Lalu, matanya tertuju pada satu detail kecil. Orang di rekaman itu memakai sepatu kets berwarna putih dengan tali berwarna kuning neon—sepatu yang sama dengan yang dipakai Evelyn saat berangkat tadi.
Arkan mencengkeram botol disinfektannya hingga berderit.
"Evelyn..." gumam Arkan. "Siapa kau sebenarnya? Apakah kau kuman yang sengaja menyusup ke dalam jantungku?"
Tiba-tiba, pintu kamar Arkan terbuka. Lana masuk dengan wajah ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. "Kak Arkan! Besok temani aku dan Kak Eve belanja ya? Aku mau beli baju yang lebih... 'berani' untuk Kak Eve!"
Arkan menutup laptopnya dengan cepat. "Belanja? Tidak. Aku harus bekerja."
"Ayolah, Kak! Kak Eve tadi bilang dia kepingin punya jaket kulit seperti... seperti jagoan di film aksi!" Lana memberikan kedipan rahasia ke arah pintu, di mana Evelyn sedang berdiri sambil kembali memasang wajah culunnya.
Arkan menatap Evelyn yang sekarang sedang asyik membetulkan kacamata besarnya yang miring.
"Jaket kulit?" tanya Arkan dingin.
"I-iya, Tuan Arkan... supaya kalau Eve jatuh, kulit Eve tidak lecet kena kuman lantai," jawab Evelyn sambil nyengir kuda.
Arkan berdiri, berjalan mendekati Evelyn, berhenti tepat di jarak satu meter. "Baiklah. Kita pergi besok. Aku ingin lihat seberapa 'berani' kau bisa memilih pakaian, Evelyn."
Evelyn menelan ludah. Ia merasakan tantangan di mata Arkan. Permainan ini semakin berbahaya, terutama sekarang karena ia punya asisten magang yang hobi mencari masalah bernama Lana.