Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Badai di Aula Seribu Angin dan Rahasia Inti Ganda
Perjalanan menuju bagian dalam Lembah Naga setelah melewati perbatasan terasa seperti berjalan menembus lapisan realitas yang berbeda. Wang Jian dan Lin Meiling melangkah di atas jalan setapak yang terbuat dari kristal magnetik hitam. Di kanan dan kiri mereka, jurang-jurang tak berdasar mengeluarkan suara siulan angin yang melengking, seolah-olah ribuan roh naga sedang meratap.
Meiling berjalan sangat dekat di belakang Jian. Gadis alkemis itu terus menggenggam kantong ramuannya, matanya waspada menatap setiap bayangan yang bergerak di balik kabut ozon. "Jian, lencana giok dari Paman Long Wei ini... ia benar-benar bekerja. Aku bisa merasakan tekanan gravitasi yang tadinya menghimpit dadaku sekarang melunak, seolah-olah udara di sekitar kita memberi kita izin untuk bernapas."
Wang Jian tidak menyahut secara lisan, namun kepalanya mengangguk kecil. Fokusnya tertuju pada perubahan di dalam tubuhnya. Setelah menelan Pil Pemurni Tulang Petir Es semalam, ia merasa tubuhnya bukan lagi sekadar raga daging. Ranah Penguatan Tulang Bintang 7 yang baru saja ia capai memberikan sensasi luar biasa; tulang-tulangnya kini memiliki warna perak metalik dengan urat-urat biru petir yang mengalir permanen di dalamnya. Ia merasa lebih ringan, namun di saat yang sama, ia merasa mampu meruntuhkan gunung hanya dengan satu bahu.
Memasuki Aula Seribu Angin
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari penuh, mereka akhirnya tiba di depan sebuah struktur bangunan yang mustahil secara arsitektur. Aula Seribu Angin adalah sebuah kuil raksasa yang tidak menapak di tanah. Bangunan itu melayang di atas pusaran angin puyuh abadi yang tingginya mencapai satu kilometer. Ribuan pilar batu raksasa berputar-putar di sekeliling aula tersebut seperti satelit, menciptakan sistem pertahanan yang akan menghancurkan apa pun yang mencoba masuk tanpa izin.
"Bagaimana kita bisa sampai ke sana?" tanya Meiling dengan nada cemas. "Pusaran angin itu... kecepatannya bisa mencabik-cabik tubuh kultivator Ranah Kristalisasi sekalipun!"
Wang Jian menatap lencana giok di tangannya. Lencana itu mulai berpendar terang, memancarkan gelombang energi yang selaras dengan angin puyuh di depan mereka. "Lencana ini bukan hanya tanda pengenal, Meiling. Ini adalah kunci frekuensi. Pegang tanganku erat-erat."
Jian mengaktifkan Langkah Udara. Namun kali ini, ia tidak melawan angin. Ia menggunakan Seni Pelahap-nya untuk menyelaraskan putaran Qi di Dantiannya dengan putaran badai di depan mereka. Ia melompat ke arah pusaran, dan alih-alih terlempar, tubuh mereka justru tersedot masuk ke dalam jalur angin yang tenang—sebuah "mata badai" portabel yang diciptakan oleh lencana giok tersebut.
Dalam hitungan detik, mereka mendarat di pelataran luas Aula Seribu Angin. Lantainya terbuat dari giok putih yang dingin, dihiasi dengan ukiran-ukiran kuno yang menceritakan pertempuran Wang Tian melawan entitas dari dimensi luar.
Ujian Pertama: Penempaan Kehendak
Begitu kaki mereka menginjak lantai aula, lencana giok itu hancur menjadi debu. Pintu raksasa aula terbuka perlahan, mengeluarkan suara dentuman yang menggetarkan jiwa. Di dalam, tidak ada perabotan atau harta karun. Hanya ada ribuan bilah angin transparan yang beterbangan secara acak dengan kecepatan luar biasa.
"Selamat datang di Aula Seribu Angin, Bocah," suara Long Wei bergema tanpa wujud fisik. "Di sini, kau tidak bertarung melawan musuh. Kau bertarung melawan alam. Setiap bilah angin di sini memiliki 'Kehendak'. Jika kau tidak bisa mengendalikan anginmu sendiri, angin di aula ini akan memotong-motongmu hingga menjadi debu."
Meiling segera mundur ke pojok ruangan yang dilindungi oleh formasi pelindung giok. "Jian, hati-hati! Bilah-bilah itu... mereka bukan angin biasa! Mereka adalah Qi pedang yang dipadatkan!"
Wang Jian melangkah ke tengah ruangan. Segera, sepuluh bilah angin melesat ke arahnya dari berbagai sudut. Jian mencoba menangkis dengan tangan kosong, namun ia terkejut saat melihat lengannya tergores dan mengeluarkan darah. Padahal, tulang dan kulitnya sudah diperkuat hingga Bintang 7.
"Jangan gunakan kekuatan fisikmu!" teriak Long Wei dari kegelapan. "Gunakan jiwamu! Rasakan frekuensinya!"
Jian menutup matanya. Ia berhenti mencoba memukul bilah-bilah itu. Ia mulai bernapas dengan pola Sembilan Putaran Angin. Ia menyadari bahwa bilah-bilah ini bergerak mengikuti irama detak jantung aula ini.
Selama enam jam pertama, Jian terus terluka. Jubahnya kini compang-camping, dan tubuhnya dipenuhi sayatan kecil. Namun, Meiling tidak tinggal diam. Dari pinggir ruangan, ia terus melemparkan Pil Pemulih Darah Cepat yang ia buat secara instan.
"Teruslah bergerak, Jian! Jangan biarkan lukanya mengering sebelum kau menemukan iramanya!" seru Meiling memberi semangat.
Memasuki jam kedua belas, kesadaran Jian mulai memasuki tahap Trance. Ia tidak lagi "melihat" dengan mata, melainkan dengan pori-pori kulitnya. Ia mulai menyadari bahwa setiap bilah angin memiliki titik tekanan rendah di bagian belakangnya.
Jian mulai bergerak. Ia tidak lagi menghindar dengan canggung. Ia menari. Setiap gerakan tubuhnya kini selaras dengan hembusan bilah angin. Saat sebuah bilah akan memotong lehernya, ia hanya perlu memiringkan kepala sedikit, membiarkan aliran udara dari bilah itu justru mendorong tubuhnya ke posisi yang lebih menguntungkan.
Lahirnya Inti Ganda: Angin dan Petir
Di tengah tarian maut itu, energi dari Pil Pemurni Tulang Petir Es yang masih tersisa di dalam sumsum tulang Jian mulai beraksi. Tekanan dari ribuan bilah angin di aula ini bertindak sebagai palu godam yang menempa energi tersebut.
Jian merasakan Dantiannya memanas. Pusaran angin yang selama ini menjadi pusat kekuatannya mulai terbelah. Ini adalah momen yang sangat berbahaya dalam kultivasi. Biasanya, seorang kultivator hanya memiliki satu Inti energi. Memiliki dua inti berarti risiko ledakan tubuh yang sangat tinggi.
"Meiling! Masukkan Ramuan Penstabil Meridian!" teriak Jian dengan suara serak.
Meiling dengan cepat melemparkan botol berisi cairan ungu ke arah mulut Jian. Jian menangkapnya dengan mulut dan menelannya seketika. Cairan itu memberikan rasa dingin yang menenangkan di tengah panasnya gesekan energi.
Jian memaksakan kehendaknya. Ia menggunakan Seni Pelahap untuk menarik energi statis dari udara aula yang penuh dengan listrik. Di sisi kanan Dantiannya, ia membentuk pusaran Angin Primordial yang murni dan tenang. Di sisi kiri, ia memadatkan percikan petir menjadi pusaran Petir Surgawi yang liar dan ganas.
BOOM!
Sebuah ledakan energi keluar dari tubuh Jian, memukul mundur seluruh bilah angin di aula tersebut hingga menabrak dinding.
Wang Jian berdiri di tengah ruangan. Rambut peraknya kini benar-benar memancarkan cahaya, dan matanya berubah—mata kanan berwarna perak (Angin), mata kiri berwarna biru elektrik (Petir).
[KENAIKAN RANAH]:
Ranah: Penguatan Tulang Bintang 8 (Fondasi Inti Ganda).
Fisik: Tubuh Dewa Angin-Petir Tahap Awal.
Pertarungan Melawan Bayangan
"Bagus... kau selamat dari ujian pertama," suara Long Wei terdengar lebih dekat. Sosok pria paruh baya itu muncul di depan Jian, namun ia tampak seperti proyeksi energi. "Tapi kultivator sejati tidak hanya bertahan. Dia menaklukkan. Ujian kedua: Lawan dirimu sendiri."
Dari lantai giok, muncul kepulan asap hitam yang membentuk sosok manusia. Sosok itu memiliki tinggi, bentuk tubuh, dan bahkan aura yang sama persis dengan Wang Jian. Namun, sosok bayangan ini tidak memiliki emosi. Di tangannya, ia memegang replika tombak hitam Jian.
Pertarungan dimulai tanpa aba-aba. Bayangan itu menyerang dengan Langkah Angin Kilat yang jauh lebih sempurna daripada yang pernah dilakukan Jian.
TANG!
Jian menangkis serangan tombak bayangan itu dengan lengannya. Ia terkejut merasakan berat yang sama—Gaya Berat bayangan itu juga setara dengannya.
"Bagaimana bisa aku mengalahkan diriku sendiri jika dia tahu semua gerakanku?" batin Jian sambil terlempar mundur.
Bayangan itu tidak memberi napas. Ia melompat dan menggunakan Bor Udara Petir, teknik yang baru saja Jian sempurnakan. Jian terpaksa menggunakan Dinding Vakum untuk meredam ledakan, namun bayangan itu justru menggunakan vakum tersebut untuk menarik Jian masuk ke dalam jangkauan serangannya.
Meiling, yang mengamati dari pinggir, menyadari sesuatu. "Jian! Dia bukan salinan dari ingatanmu! Dia adalah salinan dari Qi-mu saat ini! Kau harus berubah! Jangan gunakan apa yang sudah kau kuasai!"
Jian tersentak. Benar. Selama ini ia terlalu terpaku pada teknik yang ada di gulungan. Ia harus menciptakan sesuatu yang baru di tengah pertempuran ini.
Ia memejamkan mata sesaat saat tombak bayangan itu hampir menembus dadanya. Alih-alih menggunakan angin untuk mendorong, ia menggunakan Seni Pelahap secara terbalik. Ia melepaskan energi petir dari tangan kirinya dan energi angin dari tangan kanannya secara bersamaan dalam pola spiral yang saling bertabrakan.
"Seni Orisinal: Reaksi Pembatalan Massa!"
Benturan dua elemen yang berlawanan itu menciptakan zona "Massa Nol". Tombak bayangan yang tadinya seberat lima ton mendadak kehilangan seluruh beratnya dan meluncur meleset dari tubuh Jian karena kehilangan momentum.
Di saat bayangan itu kehilangan keseimbangan karena perubahan fisika yang mendadak, Jian memusatkan seluruh kekuatan Inti Ganda-nya ke telapak tangannya.
"Pukulan Pelahap Langit: Penghancur Dimensi!"
DUARRRRR!
Pukulan itu bukan hanya menghancurkan fisik bayangan tersebut, tapi seolah-olah "memakan" eksistensi energi bayangan itu kembali ke dalam tubuh Jian. Seluruh energi yang digunakan aula untuk menciptakan bayangan itu kini tersedot masuk ke dalam Dantian Jian, memperkuat fondasi Bintang 8-nya hingga mencapai puncak.
Rahasia Long Wei dan Janji Masa Depan
Setelah bayangan itu lenyap, Aula Seribu Angin kembali tenang. Bilah-bilah angin berhenti beterbangan dan jatuh ke lantai seperti bulu burung. Long Wei berjalan mendekat, kali ini dalam wujud fisik yang nyata. Ia menepuk bahu Jian dengan bangga.
"Kau benar-benar gila, Bocah. Menggunakan reaksi pembatalan massa di tengah pertarungan... Kakakku Wang Tian pasti akan tertawa melihat ini. Kau memiliki keberanian yang sama dengannya."
Long Wei kemudian menoleh ke arah Meiling. "Dan kau, Gadis Kecil. Pengetahuanmu tentang alkimia dan ketenanganmu dalam mendukung rekanmu adalah alasan kenapa dia masih hidup sekarang. Klan Naga membutuhkan alkemis seperti kau."
Long Wei membawa mereka ke sebuah balkon yang menghadap ke seluruh Lembah Naga. Di sana, Jian bisa melihat ribuan naga terbang di antara awan, dan di kejauhan, ia melihat sebuah puncak gunung yang dikelilingi oleh api hitam.
"Itu adalah Puncak Pembuangan," tunjuk Long Wei. "Tempat di mana keturunan klan Wang yang menyimpang dipenjarakan. Di sana juga tersimpan bagian kedua dari teknik Sembilan Putaran Angin yang dicuri oleh pengkhianat klan ribuan tahun lalu."
Wang Jian mengepalkan tangannya. "Aku akan mengambilnya kembali."
"Sabar, Bocah," Long Wei tersenyum. "Kau baru saja menembus Bintang 8. Tubuhmu butuh istirahat. Selama satu bulan ke depan, kalian berdua akan tinggal di sini. Meiling akan mendapatkan akses ke Taman Obat Naga, dan kau... kau akan belajar cara mengendalikan Inti Gandamu agar tidak meledak."
Long Wei memberikan sebuah buku tua bersampul kulit naga kepada Jian. "Ini adalah catatan pribadi Wang Tian saat ia masih berada di Fase Bumi. Pelajari ini. Di dalamnya terdapat rahasia tentang bagaimana mengubah angin menjadi Pedang Kehendak."
Satu Bulan Ketentraman dan Persiapan
Satu bulan berlalu dengan cepat. Di bawah bimbingan Long Wei, Wang Jian belajar cara menyeimbangkan energi Angin dan Petirnya. Ia kini mampu mengeluarkan sayap energi tipis yang terbuat dari petir biru, memungkinkannya untuk terbang dalam jangka waktu singkat—sebuah kemampuan yang biasanya baru didapat di Ranah Nascent Soul.
Meiling juga berkembang pesat. Dengan akses ke bahan-bahan langka di Lembah Naga, ia berhasil menciptakan Pil Transformasi Roh Tingkat Rendah yang akan membantu Jian menembus Ranah Pemurnian Qi.
Hubungan mereka berdua semakin erat. Bukan lagi sekadar rekan petualangan, tapi sebuah ikatan yang saling melengkapi; satu sebagai pedang yang tak terhentikan, dan satu sebagai perisai pengetahuan yang tak tergoyahkan.
"Jian," ucap Meiling suatu sore saat mereka duduk di balkon aula. "Setelah ini, dunia luar tidak akan sama lagi. Klan Wang-Sui dan klan lainnya pasti sudah mendengar tentang 'Hantu Hutan' yang mengalahkan naga muda. Mereka akan mengejarmu."
Wang Jian menatap langit yang mulai gelap, di mana petir mulai menyambar dengan megah. "Biarkan mereka datang, Meiling. Selama ini aku melarikan diri karena aku lemah. Sekarang, aku akan berjalan di depan mereka, dan jika mereka mencoba menghalangi jalan kita... mereka akan tahu kenapa angin bisa menghancurkan gunung."
Malam itu, di Aula Seribu Angin, Wang Jian secara resmi mengakhiri masa latihannya. Ia berdiri di tepi balkon, menatap ke arah Puncak Pembuangan. Ambisinya bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan untuk mengumpulkan kembali seluruh warisan kakek buyutnya dan mendaki hingga ke puncak Eternal Dao.
"Waktunya pergi," gumam Jian. "Lembah Naga hanyalah awal. Benua Tengah... bersiaplah."
Status di Akhir Bab 11:
Wang Jian: Ranah Penguatan Tulang Bintang 8 (Puncak), Memiliki Inti Ganda (Angin & Petir), Sayap Petir (Mobilitas Udara).
Lin Meiling: Alkemis Kelas Perunggu Puncak, Memiliki akses ke pengetahuan botani naga.
Tujuan Selanjutnya: Menuju Puncak Pembuangan untuk mengambil warisan teknik tahap kedua
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.