NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Kutub Utara

Langkah kaki Gus Xavier yang beralas sepatu kulit menghentak lantai kelas dengan ritme yang lambat namun penuh tekanan. Tubuh kekarnya yang tinggi menjulang berjalan melewati barisan meja murid, membuat para siswi di jalur yang dilewatinya otomatis menunduk dalam-dalam, menahan napas karena atmosfer intimidasi yang luar biasa pekat.

Pria tampan berwajah bayi itu berhenti tepat di samping meja Davika. Aura dinginnya yang sedingin es seketika mengepung sudut bangku belakang tersebut. Gus Xavier menundukkan sedikit tubuh berototnya, menumpu satu tangan kekarnya di atas meja Davika, lalu menatap lurus ke dalam manik mata *green-gray* langka milik gadis itu.

"Kamu," suara bariton Gus Xavier terdengar sangat rendah, berwibawa, dan sarat akan ancaman yang tidak main-main. "Siapa nama kamu?"

Davika sama sekali tidak berkedip. Jarak yang dekat ini membuat ia bisa mencium aroma wewangian kayu gaharu khas pesantren yang maskulin dan elegan dari tubuh sang guru baru. Bukannya ciut, kepolosan ekstrem Davika justru membuatnya menyunggingkan cengiran kocak tanpa dosa.

"Davika Ovwua Mwohan., Gus Xavier yang tampan tapi galak," jawab Davika ceriwis, memperkenalkan diri dengan kelancaran suara yang membuat seisi kelas makin merinding disko. "Panggil saja Davika. Pelindung masa depan keluarga Mwohan."

Gus Xavier mempersempit tatapan elangnya. Rahang tegasnya mengeras, sangat menjaga harga diri dan muruahnya sebagai seorang anak kiai sepuh yang dihormati. Tatapannya kemudian beralih turun ke arah permukaan meja Davika, di mana sebuah stoples *skincare* mini dan tiga buah gantungan kunci berbentuk capybara berjejer rapi di samping buku tulis.

"Davika," sebut Gus Xavier, logat namanya yang ke-bule-bulean terdengar sangat seksi namun mematikan. "Apakah ruang kelas ini terlihat seperti salon kecantikan atau kebun binatang bagi kamu?"

"Bukan, Gus. Ini namanya zona kenyamanan belajar. Capybara ini gunanya untuk menyerap energi stres, sedangkan *skincare* ini biar kulit Davik tetap lembap saat menerima paparan materi Biologi yang berat dari Gus Xavier," sahut Davika dengan kepolosan tingkat dewa, menatap wajah *baby face* gurunya dengan binar penuh selidik.

Mendengar bantahan yang begitu santai dari siswinya, harga diri Gus Xavier seolah ditantang di depan umum. Ia menegakkan kembali tubuh tegapnya, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada bidangnya yang terbalut batik ketat, memamerkan urat-urat tangan yang menyembul gagah.

"Simpan semua benda tidak berguna itu ke dalam tas kamu sekarang," perintah Gus Xavier dingin, suaranya menggema tegas di setiap sudut ruangan. "Dan karena kamu sudah berani mengganggu ketenangan kelas saya di menit pertama... berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran saya selesai."

Cici yang duduk di sebelah Davika langsung memejamkan mata, ikut lemas membayangkan nasib sahabatnya yang langsung kena zonk di hari pertama guru baru ini mengajar.

Namun, Davika justru mengangguk patuh dengan riang. Ia memasukkan stoples dan capybara-nya ke dalam tas, lalu bangkit berdiri dari kursinya. Akibat gerakan berdiri itu, seragam putih polos Davika yang tadi sempat basah kuyup dan kini sudah mengering kesat agak menempel ketat, mencetak dengan sangat jelas siluet pertumbuhan fisiknya yang terlampau jumbo dan montok untuk ukuran siswi kelas dua SMA.

Gus Xavier, yang secara tidak sengaja sempat melihat sekilas bentuk fisik siswinya yang terlalu subur itu, langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah langit-langit kelas dengan gerakan kilat. Sebagai seorang Gus yang sangat menjaga pandangan dan kehormatannya, telinga dan leher eksotisnya seketika berdesir memerah kaku karena terkejut, meski wajah *baby face*-nya tetap dipasang sekaku beruang kutub.

"Cepat maju ke depan. Jangan membuang waktu saya," usir Gus Xavier dengan nada yang beralih menjadi agak ketus dan buru-buru, membalikkan punggung kekarnya untuk kembali ke meja guru demi menyembunyikan getaran canggung yang mendadak menyerang pertahanannya.

Davika melangkah maju ke depan kelas dengan santai, berdiri di samping papan tulis sembari menatap punggung tegap Gus Xavier yang sedang membuka kitab Biologi.

"Siap, Gus Xavier! Davik siap memantau jalannya pelajaran dari sektor depan!" seru Davika ceriwis dari posisinya, memulai hari pertama semester akhirnya dengan sebuah dinamika baru yang tampaknya akan jauh lebih kocak dan menguji iman sang guru berwajah bayi bertubuh kekar tersebut.

...----------------...

Gus Xavier Zayyan Al-Buchori berusaha keras mengunci fokus matanya pada lembar draf kurikulum di atas meja. Jari-jari besarnya yang kekar membalik halaman kitab Biologi dengan ketukan yang sedikit lebih bertenaga dari biasanya, mencoba meredam getaran canggung yang sempat menyentuh muruah pesantrennya akibat efek visual seragam basah Davika tadi.

Sementara itu, Davika berdiri tegak di samping papan tulis dengan santai. Kedua tangan mungilnya bertumpu di belakang punggung, sementara mata *green-gray* langkanya bergerak ke sana kemari, mengamati setiap gerak-gerik sang guru baru dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi.

"Materi kita hari ini adalah Sistem Regulasi dan Koordinasi Manusia," suara bariton Gus Xavier kembali mengalun dingin, memecah keheningan kelas. Ia bangkit berdiri, mengambil spidol hitam, lalu berbalik menghadap papan tulis tepat di samping tempat Davika dihukum.

Saat Gus Xavier mengangkat lengan kekarnya untuk menulis, kaos batik *slim-fit* yang dikenakannya semakin mengetat, mencetak lekukan otot bisep dan trisepnya yang sangat padat berkat latihan fisik yang disiplin. Kulit cokelat eksotisnya tampak mengilap terkena pantulan cahaya lampu kelas.

Davika secara refleks mendongak, memperhatikan pergerakan otot lengan gurunya yang berwajah bayi itu dengan saksama. "Wah, Gus Xavier..." celetuk Davika ceriwis, memecah konsentrasi menulis sang singa podium.

Gus Xavier menghentikan goresan spidolnya. Ia menoleh perlahan, menatap Davika dari ketinggian tubuhnya yang tegap dengan pandangan galak bin dingin. "Apalagi, Davika? Saya meminta kamu berdiri di sini untuk merenungi kesalahan, bukan untuk berbicara."

"Davik cuma kagum, Gus. Struktur otot lengan Gus Xavier itu sangat simetris dan bugar. Kalau dianalisis dari sudut pandang materi Biologi hari ini, sistem koordinasi motorik di lengan Gus pasti punya pasokan energi yang luar biasa besar. Mirip seperti kapasitas piston ganda," ucap Davika dengan wajah dewasa polos tanpa dosa, membuat beberapa murid di barisan depan langsung membekap mulut menahan tawa.

Mendengar pujian bernada analisis ilmiah yang super *random* dari siswinya, harga diri Gus Xavier seolah disentil. Semburat merah kaku kembali menjalar samar di balik kulit eksotis lehernya. Ia meletakkan spidol dengan ketukan keras di tatakan papan tulis, lalu memutar tubuh kekarnya seutuhnya menghadap Davika.

"Davika Ovwua Mwohan.," ucap Gus Xavier, melafalkan nama lengkap Davika dengan logat bule-pesantrennya yang berwibawa tinggi. "Apakah kamu sedang mencoba merayu guru kamu sendiri untuk meloloskan nilai kamu?"

"Ih, enggak boleh suuzan begitu, Gus. Di pesantren kan diajarkan untuk selalu berprasangka baik," bantah Davika ceriwis, menatap langsung ke dalam mata elang Xavier yang sedingin kutub utara. "Davik kan cuma menyampaikan hasil observasi nyata. Malah bagus kan, Davik langsung mempraktikkan ilmu Biologi secara visual di depan kelas."

Xavier menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahan diri agar wibawa dingin dan ketegasannya tidak runtuh oleh kepolosan ekstrem gadis remaja di hadapannya ini. Ia menyadari satu hal: menghadapi siswi yang satu ini tidak bisa hanya dengan modal tampang galak, karena kadar kedegilan Davika sudah berada di luar draf logika murid normal.

"Cukup," potong Gus Xavier ketus, menunjuk ke arah pintu kelas dengan dagunya yang tegas. "Karena kamu terlalu banyak berteori yang tidak ada hubungannya dengan modul, sekarang kamu keluar dari kelas saya. Bersihkan kaca jendela koridor luar sampai jam pelajaran saya selesai. Dan ingat, pakai kembali jaket kamu dengan benar."

Gus Xavier sengaja menambahkan kalimat terakhir karena ia tidak mau konsentrasi iman dan pandangannya kembali teruji oleh siluet tubuh Davika yang terlalu jumbo dan menonjol di balik seragam putihnya yang ketat.

"Siap dilaksanakan, Gus Xavier yang imut tapi berotot! Davik izin melakukan ekspedisi pembersihan sektor luar!" seru Davika dengan cengiran gila yang khas. Ia menyambar *oversized hoodie* hitamnya dari kursi, memakainya dengan kilat, lalu melangkah keluar kelas dengan gaya santai tanpa beban sedikit pun.

Gus Xavier memandangi punggung Davika yang menghilang di balik pintu kelas yang tertutup. Setelah memastikan situasi kembali berada di bawah kendali penuh otoritasnya, sang putra kiai itu mengembuskan napas baritonnya yang panjang, menyadari bahwa tiga bulan ke depan mengajar di kelas ini akan menjadi ujian kesabaran dan muruah terdahsyat dalam hidupnya.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!