NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Vandra melangkah masuk ke rumah Erika dengan langkah berat. Pikirannya kacau, wajahnya pucat pasi. Bayangan Alya, wajah kedua anaknya, juga sumpah serapah keluarganya tadi siang terus menghantui benaknya. Namun ia tidak punya keberanian untuk kembali ke rumahnya sendiri. Rumah yang ia bangun bersama Alya dengan penuh janji manis, rumah yang kini rasanya seperti neraka bagi dirinya.

Begitu pintu terbuka, suara bentakan keras langsung menghantam telinganya.

“Erika! Vandra! Apa maksudnya ini, hah?!” teriak Pak Erwin, ayah Erika, dengan wajah merah padam.

Vandra membeku di tempat. Erika pun hanya bisa mematung, wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Mereka tahu berita perselingkuhan siang tadi di hotel sudah viral di media sosial.

Foto-foto, video singkat, dan potongan perdebatan panas tersebar ke mana-mana. Yang mengunggah bukan Alya, bukan Zara, tetapi orang-orang yang berada di hotel itu. Mereka dengan cepat mengabadikan drama keluarga memalukan tersebut. Kini seluruh kota seakan tahu kebusukan mereka.

Komentar-komentar pedas bermunculan, bukan hanya dari orang asing. Teman-teman lama Erika sewaktu di sekolah dan kuliah ikut menyindir.

Tetangga sekitar rumah ikut membuka aib yang selama ini dipendam. Tak hanya Erika dan Vandra yang dipermalukan, seluruh keluarga besar Pak Erwin ikut terseret. Wajah mereka tersebar luas di media sosial, menjadi bahan gunjingan dan hujatan.

Pak Erwin yang menjabat sebagai pegawai negeri dengan kedudukan tinggi, merasa kehormatannya direnggut di depan publik. Harga diri yang ia jaga puluhan tahun hancur begitu saja hanya karena ulah putri satu-satunya.

Lebih menyakitkan lagi bagi Bu Karin, sang ibu. Perempuan itu sampai jatuh pingsan ketika mendapati berita perselingkuhan Erika menyebar di grup WhatsApp para guru dan media sosial milik sekolah tempat ia menjadi kepala sekolah. Nama baiknya seketika tercoreng, bukan karena ulahnya, tapi karena darah dagingnya sendiri.

Saat siuman, Bu Karin langsung meraung, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.

“Tidak cukupkah kalian membuat kita malu dengan penggerebekan tempo hari?!” Suara Bu Karin melengking, bercampur isak.

Air matanya jatuh deras, wajahnya penuh kekecewaan. “Kita tidak pernah mendidik kamu hal-hal buruk, Erika! Tapi kenapa, kenapa kelakuanmu seperti ini?!”

Suasana rumah bergemuruh oleh tangisan dan bentakan. Erika hanya bisa menangis, tubuhnya gemetar. Vandra menunduk, tak berani menatap siapa pun.

Erika menggigit bibirnya, lalu dengan air mata yang jatuh deras, ia berusaha membela diri. Suaranya serak, namun penuh keberanian yang terdesak.

“Apakah aku salah? Kalau aku ingin bersama orang yang aku cintai, Pa, Ma?” ucapnya dengan suara parau. “Seorang pria muslim bisa punya istri lebih dari satu. Mereka saja yang egois, tidak mau menerima.”

Erika menunjuk keluar rumah, seolah menyalahkan orang lain yang tak memahami kisah cintanya.

Pak Erwin terdiam, wajahnya semakin mengeras. Bu Karin hanya bisa menggeleng dengan tatapan kosong, seakan tak percaya anak semata wayangnya begitu buta. Keduanya menyadari kesalahan besar selama ini. Mereka terlalu memanjakan Erika. Apa pun yang Erika inginkan selalu dituruti, apa pun tingkahnya selalu dimaklumi. Hasilnya kini tampak jelas, Erika tumbuh menjadi sosok yang merasa dunia bisa ia genggam tanpa memikirkan luka orang lain.

Vandra menunduk makin dalam. Kata-kata Erika, bukannya membela, justru menambah bara. Tatapan Pak Erwin padanya bagaikan pedang siap menebas. Ia ingin lenyap, tetapi sudah terjebak dalam dosa yang ia ciptakan sendiri.

Di tempat lain, rumah Alya terasa sunyi. Kesunyian itu berbeda. Bukan sekadar sepi karena Vandra tak pulang, tetapi sepi yang menekan dada, menyesakkan, membuat setiap tarikan napas terasa berat.

“Bunda, Ayah belum pulang, ya? Apa lembur lagi? Kok, sekarang Ayah sering lembur?” tanya Vero, putra sulung Alya, polos dengan mata bulat penuh harap.

Alya tersenyum kaku, meski hatinya berantakan. Ia mengelus kepala anak lelakinya dengan lembut. “Iya, Kak. Ayah lembur.”

Vero menghela napas kecil, lalu menatap adiknya, Axel, yang tertidur di pangkuan sang ibu. Anak sembilan tahun itu mengusap pipi adiknya dengan jemari mungil. “Untung Adek Axel sudah sembuh, ya, Bun.”

Alya mengangguk, suaranya lirih, “Tentu saja. Karena sudah diobati sama Pak Dokter.” Ia menatap wajah mungil anak bungsunya yang baru enam bulan. Wajah polos yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu betapa rumah tangga orang tuanya kini di ujung kehancuran.

Tangannya gemetar ketika menyapu keringat di kening Axel. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Ia segera menyembunyikan wajahnya, takut Vero melihat. Namun, bocah itu cukup peka, ia meraih tangan ibunya erat-erat.

“Bunda, jangan nangis. Aku janji bakal jagain Bunda sama Adek,” bisik Vero yang kini memeluk ibunya.

Hati Alya makin remuk. Di balik pintu, Bu Laila dan Pak Lukman menyaksikan semuanya. Orang tua Alya berusaha menahan tangis, tapi air mata tetap jatuh. Mereka tahu, putri mereka menanggung luka yang terlalu dalam, luka yang seharusnya tidak pernah ada andai menantunya tidak berkhianat.

Kesunyian rumah itu bukan sekadar hening. Ia bagaikan kuburan hidup, tempat seorang istri setia berjuang menenangkan anak-anaknya, sementara suaminya memilih berada di pelukan wanita lain.

***

Tatapan orang-orang di ruangan kantor itu seperti anak panah yang menusuk dada Vandra. Ia bisa merasakan bisikan lirih bercampur dengusan kesal yang sengaja dibiarkan agar terdengar oleh telinganya. Seakan-akan udara di ruang kerja itu berubah menjadi dinding penghakiman.

“Dasar pria tak tahu diri!” Suara wanita paruh baya terdengar lebih tajam dari bunyi keyboard yang dipencet rekan-rekan kerjanya.

Kalimat itu menghantam kepala Vandra, membuat wajahnya semakin menunduk. Ia tahu, ia memang tidak punya alasan untuk membela diri. Kebusukannya sudah telanjang di depan semua orang.

"O, iya. Aku pernah dengar cerita itu. Salut deh sama istrinya. Padahal jabatannya waktu itu sudah tinggi, sementara Pak Vandra cuma karyawan biasa. Kalau aku mending bertahan dan suruh suaminya cari kerja di tempat lain," balas wanita muda berambut panjang lurus menyahut, menambahkan cerita tentang pengorbanan Alya yang meninggalkan jabatannya demi dirinya, Vandra ingin sekali menutup telinganya.

Suara-suara itu justru terasa makin jelas, seolah-olah Tuhan sengaja membuka semua tabir untuk memperlihatkan betapa rendahnya Vandra kini di mata orang lain.

"Dahulu, gaji Bu Alya delapan belas juta, sementara gaji Pak Vandra lima juta. Malah melepaskan gaji yang delapan belas juta. Meronta jiwaku yang gajinya pas-pasan," celetuk pria paruh baya yang duduk di samping wanita muda. Biasanya dia ramah, kini ikut menimpali, menyebut angka gaji Alya yang dulu jauh lebih besar darinya.

Kata-kata itu menusuk perasaan Vandra seperti belati. Delapan belas juta, angka itu terus bergaung di kepalanya. Betapa besar pengorbanan istrinya yang rela melepaskan karier gemilangnya hanya demi memberi jalan bagi dirinya, seorang lelaki yang kini justru mengkhianati kepercayaan itu.

"Ya, mau bagaimana lagi. Kewajiban pria memberi nafkah keluarganya. Makanya Bu Alya mengalah demi Pak Vandra, agar suaminya punya pekerjaan," ujar wanita paruh baya itu.

Vandra teringat jelas saat-saat itu. Masa pandemi yang membuat perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar, saat ia kehilangan pekerjaan dan hampir putus asa. Alya yang dengan sabar membesarkan hatinya, menemaninya menyusun surat lamaran, bahkan tanpa ia tahu, diam-diam Alya berdoa di setiap sujudnya agar suaminya segera mendapat pekerjaan baru.

Ketika akhirnya Vandra mendapat panggilan dari PT. Anggoro datang, siapa yang menyangka takdir mempertemukan mereka di kantor yang sama? Alya tersenyum tulus, berkata, “Alhamdulillah, Mas. Aku senang Mas punya tempat lagi untuk bekerja.”

Senyum Alya waktu itu begitu indah. Kini Vandra sadar, betapa senyum itu sebenarnya adalah permulaan dari sebuah pengorbanan besar.

Vandra masih ingat bagaimana rapat keluarga digelar. Suasana tegang ketika aturan perusahaan melarang pasangan suami-istri bekerja di tempat yang sama. Seharusnya ia yang mundur, tapi keluarganya mendesak Alya yang berhenti. Dalihnya, “Laki-laki itu kepala keluarga. Wajib memberi nafkah.”

Alya hanya diam, lalu mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia memilih keluar, meninggalkan jabatannya, gaji besarnya, dan seluruh kerja keras bertahun-tahun. Semua itu demi Vandra dan demi keluarga kecil mereka.

Kini, ironi itu seperti tamparan di wajah Vandra. Orang-orang membicarakannya tanpa ampun dan ia memang pantas menerimanya.

“Pak Vandra dipanggil sama Pak Irwan ke kantornya.” Suara sekretaris membuat lamunan Vandra buyar.

Ruangan itu terasa semakin dingin. Vandra menelan ludah, berusaha menegakkan punggungnya. Ia tahu panggilan itu bukan kabar baik. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruangan atasan. Setiap langkah seperti beban seribu batu, dan setiap tatapan yang mengiringinya bagaikan cambuk.

Ketika pintu ruangan terbuka, Vandra melihat Pak Irwan sudah menunggunya. Wajah atasan itu menegang, matanya penuh bara yang ditahan.

“Ada perlu apa, ya, Pak?” tanya Vandra dengan suara bergetar, mencoba terdengar sopan.

Pak Irwan mengetukkan jarinya ke meja, lalu menatapnya tajam. “Kamu dipecat, Pak Vandra!”

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar tepat di ubun-ubun. Telinganya berdenging, kepalanya berputar. Dunia seakan runtuh di sekitarnya.

Mulut Vandra terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Ia ingin bertanya, ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia masih butuh pekerjaan ini demi anak-anaknya. Namun, semua kata itu mati di tenggorokan.

Satu hal yang muncul di kepalanya justru wajah Alya—wanita yang sudah berkorban begitu banyak untuk dirinya. Wajah Alya dengan senyum getir ketika menyerahkan surat resign, wajah Alya yang menahan tangis saat pamit pada rekan-rekan kerjanya.

Wajah Alya yang tetap berkata, “Semoga Mas sukses, ya,” meski hatinya pasti hancur.

Kini, semua pengorbanan itu terbuang sia-sia.

Vandra terhuyung. Dadanya sesak, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan harga diri, kehilangan martabat, dan kehilangan cinta yang pernah begitu tulus diberikan kepadanya.

1
Ning Suswati
doa isteri langsung menembuh langit, mengalahkan doa ibu setelah anak laki2nya menikah, jgn menyalahkan alya, salahnya sendiri yg menginginkan, karena dia yg berbuat penghianatan
Ning Suswati
kalau bukan jodoh, tak akan ada peluangnya, tapi kalau sdh taqdir jodoh semuanya jadi lancar
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣
kacian deh lho, segala cara sdh dilakukan sekalipun bermandikan lumpur dosa,masih aja belum sadar, akan dosa2 yg semakin menumpuk, terus aja bikin sensasi murahan
Ning Suswati
karma gk perlu diundang dia akan datang dg sendirinya, jadi laki2 kebanyakan cuma ada nafsu yg ada di otaknya, tdk perlu pakai perasaan.itu sdh taqdir cintaan tuhan
Ning Suswati
sdh tau anaknya dablek, mau2 nya mendengarkan aduan dari mulut anak yg sdh mempermalukan seisi dunia, masih aja mau di bela, otak nya gk digunakan, sdh jadi jalang juga masih mau dibelain, bukan anak kecil
Ning Suswati
asssyyyiiiiiik, diterima lamaran papa biru, jgn lama2 untuk segera di sah kan dong
Ning Suswati
semoga babang biru cepat dapat laporan kejadian dan dalang dari semua fitnah pada alya
Ning Suswati
makanya diurus gundiknya itu vandra, jadi laki gk ngaruh, apa yg dilakukan gubdiknya gk tau, kalau masih jual tanah kaplingan🤭
Ning Suswati
semoga babang biru segera dapat bertindak dan cari pelakunya, jgn kasih ampun lagi, gk perlu lapor polisi paling juga lepas lagi, hukum rimba aja babang biru
Ning Suswati
enakkan punya isteri muda yg pintar dan berhati iblis, rasakan tuh vandra, apa yg terjadi sekarang semua ulah isteri siri yg gila dan berhati daqjal
Ning Suswati
semua rencana erika sangat cocok dg kerjaan jalangkung, apakah nasib baik akan berpihak kepada manusia berhati iblis, aq rasa sekali ini albiruni akan segera bertindak utk melindungi alya
Ning Suswati
perasaan luka bathin tdk semudah itu akan sembuh, apalagi luka karena penghianatan dlm rumah tangga, tapi tdk semua laki2 bejat, berdamailah dg hati dan bahagia itu kita yg raih
Ning Suswati
kebanyakan sih laki2, tdk bisa menjaga dan melindungi anak2 nya sendiri demi perempuan pemuas nafsu syetan jalang
Ning Suswati
bagus deh, ada zara si preman sekaligus tante yg baik hati, tau yg benar dan baik untuk keluarga
Ning Suswati
baguslah ada yg ngawal vandra dan nek kunti
Ning Suswati
erika ibarat kerbau selalu berkubang dalam lumpur, dan ini lumpur dosa, disitulah tempanya yg bisa membuat kebahagiaan bermandikan uang keringat hasil dosa
Ning Suswati
semoga saja vandra siap2 menerima kenyataan, bertahn dg erika karena sdh tdk ada lagi pelabuhan dan rumah untuk pulang
Ning Suswati
hhhhh emang enak bikin susah sendiri dan karma tdk akan lalai dg tugasnya, semoga cepat katauan kerjaan lanjutan erika menjual diri
Nyai Klipang
vandra lidahnya selalu kelu kalo mau bicara, mending vandra di buat bisu sekalian👍
Ning Suswati
yg namanya jalangkung pastilah, masa mau hidup kismin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!