Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
Suasana di lantai pertama Paviliun Harta Surgawi mendadak tegang. Beberapa pengunjung yang sedang berbelanja segera mundur dan memberi jarak, tak ingin terlibat masalah dengan Tuan Muda Keluarga Zhao yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.
Lin Chen berdiri diam di tempatnya. Dari balik cadar bambunya, ia menatap kipas emas yang menghalangi tangannya. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kejemuan yang teramat sangat. Di kehidupan masa lalunya, serangga-serangga seperti ini bahkan tidak punya hak untuk bernapas di udara yang sama dengannya.
"Aku datang lebih dulu, dan aku sudah membayar," ucap Lin Chen datar. Ia mengabaikan Zhao Feng dan menoleh ke arah pelayan yang sedang berkeringat dingin. "Bungkus pedang itu, sekarang."
Wajah tampan Zhao Feng seketika berkedut. Ia adalah Tuan Muda Zhao! Di seluruh Kota Daun Musim Gugur, siapa yang berani membantahnya secara terang-terangan? Terlebih lagi, orang ini hanyalah pria aneh berbaju lusuh.
"Berani sekali kau mengabaikanku, Tikus Jalanan!" Zhao Feng menutup kipasnya dengan suara krak yang keras. "Pengawal! Patahkan kedua kakinya dan buang dia ke selokan. Biar dia belajar siapa penguasa kota ini!"
"Baik, Tuan Muda!"
Dua pengawal bertubuh kekar di belakang Zhao Feng langsung maju. Mereka berdua memancarkan aura Ranah Kondensasi Qi Tingkat 4. Salah satu dari mereka mengulurkan tangan sebesar paha manusia untuk mencengkeram bahu Lin Chen, berniat meremukkan tulang selangkanya.
Namun, sebelum jari kotor pengawal itu menyentuh jubahnya, Lin Chen bergerak.
Ia tidak menggunakan teknik pedang, bahkan tidak repot-repot mengerahkan energi spiritualnya. Ia hanya memutar tubuhnya setengah langkah, meraih gagang pedang hitam berdebu di rak paling bawah, dan mengayunkannya ke belakang dengan satu putaran pinggang.
WUUUSH!
Pedang hitam yang tadinya dikatakan cacat dan tumpul itu membelah udara dengan suara dengungan yang mengerikan, seolah membawa beban seberat gunung.
BAM! BAM!
Dua suara benturan yang memuakkan terdengar nyaris bersamaan. Bilah tumpul pedang hitam itu menghantam dada kedua pengawal tersebut dengan telak. Tanpa sempat menjerit, tubuh besar mereka terpelanting ke belakang bagai layang-layang putus benang, menabrak pilar kayu jati paviliun hingga retak, lalu jatuh pingsan sambil memuntahkan darah segar.
Seluruh paviliun sunyi senyap. Mulut para pengunjung ternganga lebar.
"Berat yang luar biasa..." gumam Lin Chen dari balik topinya, merasa sedikit terkejut. Meskipun tidak dialiri Qi, pedang rongsokan ini memiliki berat setidaknya lima ratus kilogram! Jika bukan karena fisiknya yang telah ditempa oleh Mata Air Roh Es, ia pasti sudah terkilir saat mengayunkannya.
Mata Zhao Feng melebar melihat kedua pengawalnya disingkirkan dalam satu sapuan. Namun, sebagai kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6, ia tidak ketakutan, melainkan merasa dipermalukan.
"Bocah keparat! Kau mencari mati!"
Aura Tingkat 6 milik Zhao Feng meledak. Ia menghunus pedang perak dari pinggangnya, yang bersinar dengan ukiran formasi tingkat rendah—sebuah Senjata Spiritual sejati. Ia menerjang maju, mengincar tenggorokan Lin Chen.
"Hentikan keributan ini!"
Tepat ketika pedang Zhao Feng hendak beradu dengan pedang hitam Lin Chen, sebuah gelombang suara yang mengandung tekanan spiritual luar biasa menyapu lantai satu paviliun.
Brak!
Zhao Feng terdorong mundur beberapa langkah, dadanya sesak. Lin Chen sendiri harus menancapkan pedang hitamnya ke lantai untuk menahan tekanan tersebut, matanya sedikit menyipit.
"Tekanan ini... Ranah Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment)?"
Dari tangga lantai dua, seorang pria tua berjubah abu-abu dengan rambut beruban melangkah turun perlahan. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, namun membuat udara di sekitarnya terasa padat.
Pelayan di konter langsung berlutut. "M-Manajer Sun!"
Manajer Sun menatap Zhao Feng dengan pandangan tajam yang menegur. "Tuan Muda Zhao, Paviliun Harta Surgawi memiliki aturan mutlak: tidak ada pertumpahan darah di dalam gedung kami. Barang siapa yang datang lebih dulu dan membayar, dialah pembelinya. Tolong jangan membuatku harus turun tangan untuk mengusirmu."
Zhao Feng menggertakkan giginya. Meskipun Keluarga Zhao kuat, mereka tidak cukup gila untuk menyinggung faksi raksasa di belakang Paviliun Harta Surgawi.
"Baik, Manajer Sun. Aku akan memberimu wajah hari ini." Zhao Feng menyimpan kembali pedangnya. Ia menatap Lin Chen dengan senyum berbisa. "Hei, Pria Topi Bambu. Jangan kira urusan kita selesai. Kuharap kau tidak bertemu denganku di Turnamen Kota nanti, atau pedang hitam busuk itu akan menjadi nisanmu!"
Setelah melempar ancaman, Zhao Feng melenggang pergi membawa sisa pengawalnya yang terluka.
Manajer Sun beralih menatap Lin Chen. Meskipun pemuda di depannya menyembunyikan kultivasinya, insting Manajer Tua itu mengatakan bahwa pria bertopi bambu ini tidak sesederhana kelihatannya.
"Maafkan ketidaknyamanan ini, Tuan," ucap Manajer Sun sopan. "Pedang hitam ini memang milik Anda. Jika Tuan berminat, lantai dua kami memiliki Senjata Spiritual yang jauh lebih baik..."
"Tidak perlu," potong Lin Chen santai. Ia melempar lima batu spiritual ke atas meja, memasukkan pedang hitam itu beserta herbal pesanannya ke dalam cincin penyimpanan, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Manajer Sun memandangi kepergian Lin Chen sambil mengelus jenggotnya. "Anak muda yang sangat menarik... Aura pedang yang disembunyikannya setajam jurang kematian."
Malam harinya, di Halaman Angin Musim Gugur.
Lin Chen telah menyiapkan sebuah tong kayu besar di tengah kamarnya. Tong itu diisi dengan air mendidih. Dengan sangat presisi, ia memasukkan ketiga bahan yang baru dibelinya: Rumput Tulang Besi, Teratai Api, dan Darah Binatang Buas Elemen Tanah.
Seketika, air di dalam tong mendidih ganas dan berubah warna menjadi merah pekat seperti magma vulkanik. Bau belerang dan darah memenuhi udara. Ini adalah Cairan Penempa Tubuh Api Bumi, sebuah resep kuno yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya untuk memperkuat fisik secara ekstrem.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen melepas jubahnya dan melompat masuk ke dalam tong.
ZRRASSH!
"Ugh...!" Lin Chen mengertakkan gigi. Rasa sakit yang tak terlukiskan langsung menyerang sekujur tubuhnya. Kulitnya terasa seperti disayat oleh ribuan pisau panas, sementara cairan obat itu dengan rakus meresap masuk melalui pori-porinya, membakar otot dan menempanya layaknya besi di dalam tungku pandai besi.
Ia segera menutup mata dan mengedarkan Sutra Pedang Kehampaan. Energi spiritual dari cairan obat ditarik masuk ke dalam meridiannya, menghancurkan sel-sel lamanya dan membangun ulang serat otot yang baru dengan kepadatan yang menakutkan.
Proses penyiksaan ini berlangsung semalaman suntuk.
Ketika fajar akhirnya menyingsing, air di dalam tong telah berubah menjadi bening dan dingin. Semua esensi obat telah terserap habis.
Brak!
Tong kayu itu hancur berantakan ketika Lin Chen berdiri. Tubuhnya tidak lagi terlihat kurus. Otot-ototnya terbentuk sempurna, memancarkan kilau perunggu yang samar. Setiap tarikan napasnya menghasilkan suara menderu pelan layaknya harimau yang tertidur.
"Kekuatan fisikku sekarang setidaknya sebanding dengan monster tingkat 6, dan meridianku jauh lebih lebar. Sangat memuaskan," gumam Lin Chen.
Setelah mengenakan pakaian bersih, Lin Chen beralih ke meja batunya. Ia mengeluarkan pedang hitam yang ia beli kemarin.
Ia meletakkan pedang seberat lima ratus kilogram itu di atas meja. Bilahnya penuh debu, karat, dan sama sekali tidak memantulkan cahaya.
"Kemarin, aku merasakan secercah aura purba dari dalam rongsokan ini. Mari kita lihat apa wujud aslimu yang sebenarnya," kata Lin Chen.
Ia menggigit ujung jarinya dan meneteskan setetes darah esensi tepat di tengah bilah pedang hitam tersebut. Kemudian, ia menyalurkan Qi murni dari Sutra Pedang Kehampaan secara maksimal ke dalam pedang itu.
WUNGGG!
Seketika, pedang berat itu bergetar hebat. Lapisan karat dan kotoran yang menempel selama berabad-abad mulai retak dan runtuh berjatuhan menjadi debu. Warna hitam kusamnya berubah menjadi hitam legam yang mengkilap, seolah menyerap semua cahaya di sekitarnya.
Di sepanjang bilahnya, muncul ukiran rune kuno berwarna emas darah yang menyala terang sebelum kembali meredup.
Mata Lin Chen melebar, sebuah senyuman langka terukir di wajahnya.
"Menarik... Pantas saja benda ini tidak bisa dialiri Qi oleh kultivator biasa. Ini bukan Senjata Spiritual fana. Ini adalah Pedang Berat Penelan Bintang, senjata rusak yang tertinggal dari era purba. Benda ini menyerap Qi penggunanya, dan sebagai gantinya, ia menghancurkan apa pun yang menghalangi ujungnya."
Lin Chen menggenggam gagang pedang tersebut. Kali ini, pedang itu terasa seringan bulu di tangannya, telah sepenuhnya mengenali tuannya melalui ikatan darah dan resonansi teknik kultivasi.
"Turnamen Kota tinggal tiga minggu lagi," Lin Chen mengayunkan pedangnya ke udara kosong, menghasilkan suara ledakan sonik yang membuat kaca jendela kamarnya retak. "Zhao Feng, Wang Xue'er... bersiaplah untuk merasakan beratnya keputusasaan."