NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA MINGGU TANPA WAKTU

Matahari baru saja menyingsing, menyelinap masuk lewat celah tirai jendela kaca besar di kamar vila. Cahayanya lembut, keemasan, dan hangat, jauh berbeda dari sinar matahari kota yang tajam dan menyilaukan. Di sini, waktu seolah berjalan melambat, bahkan rasanya berhenti berputar sepenuhnya. Tidak ada dering telepon, tidak ada jadwal yang harus dikejar, tidak ada tenggat waktu yang mencekik leher. Hanya ada mereka berdua, dan kebebasan mutlak.

Alana terbangun bukan karena suara apa pun, melainkan karena rasa hangat yang melingkupi seluruh tubuhnya. Saat membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Devan yang sudah bangun, sedang berbaring miring menatapnya lekat-lekat, seolah takjub melihat pemandangan paling langka dan mahal di semesta ini. Tangannya yang kasar namun lembut sedang mengusap pelan pipi Alana, menyisir helai rambut yang jatuh menutupi wajah istrinya.

"Pagi, nyawaku," bisik Devan, suaranya masih berat dan serak sisa tidur, namun terdengar begitu memanjakan telinga. "Aku sudah bangun dari tadi. Takut kalau aku tidur lama, aku bakal melewatkan satu detik pun waktu melihat wajahmu. Rasanya aku mau menatapmu begini selamanya, sampai mataku rabun pun tak apa."

Alana tersenyum malu, pipinya memerah merona. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Devan, mendekatkan wajah mereka hingga hidung saling bersentuhan.

"Pagi, Tuan Santai. Biasanya jam segini Bapak sudah sibuk teriak-teriak minta laporan. Sekarang malah jadi patung penonton?"

Devan tertawa pelan, getar suaranya terasa menembus dada Alana. Ia mencium ujung hidung wanita itu, lalu turun ke sudut bibir yang selalu membuatnya gila.

"Lupakan siapa aku yang dulu. Orang itu sudah kutinggal jauh di sana, di balik gerbang kota. Di sini, aku bukan apa-apa selain milikmu. Aku cuma pria biasa yang paling beruntung di dunia karena bisa bangun setiap hari dengan wajahmu sebagai hal pertama yang kulihat."

Pagi itu mereka habiskan dengan cara yang paling sederhana namun paling mewah: Berbaring saja, mengobrol tentang apa saja dan tidak sama sekali. Bercerita tentang masa kecil, tentang ketakutan terdalam, tentang mimpi-mimpi konyol yang dulu tak berani diucapkan. Di sini, topeng kekuasaan Devan runtuh total. Ia bercerita bagaimana dulu ia sering menangis diam-diam di kamar saat ayahnya meninggal, bagaimana ia membentengi diri dengan kejam supaya tidak disakiti lagi, dan bagaimana ia berpikir ia akan mati tua dan membusuk sendirian sampai Alana datang.

Dan Alana pun bercerita, tentang rasa takutnya yang dulu luar biasa setiap kali dipanggil ke ruangan Devan, tentang perasaannya yang perlahan jatuh cinta tapi dipaksa mati-matian ditahan karena sadar perbedaan mereka terlalu jauh, dan tentang mimpi sederhananya: punya rumah kecil yang hangat dan dikelilingi anak-anak yang ceria.

Mendengar itu, Devan mencium punggung tangan Alana lama sekali, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur.

"Dulu aku kasihmu jabatan, saham, dan kemewahan. Ternyata yang kau mau cuma hal yang paling dasar dan paling suci. Tenang, Sayang. Semua itu bakal aku penuhi. Di sini, mulai sekarang, kita latihan jadi orang tua yang baik. Kita latihan membangun rumah tangga yang bahagia, supaya nanti saat anak-anak kita datang, dunia mereka sudah penuh cinta, bukan penuh intrik dan kebencian sepertiku dulu."

Siangnya, mereka keluar rumah. Berjalan tanpa alas kaki di atas pasir putih yang hangat terkena matahari. Air laut yang jernih membasahi kaki mereka berulang kali, membawa kesejukan yang meresap sampai ke tulang. Devan berjalan di samping Alana, jari-jemari mereka saling mengunci erat, tak mau terlepas sedikit pun.

Tidak ada yang mengenal mereka di sini. Tidak ada yang menunduk hormat, tidak ada yang takut, tidak ada yang memuji atau mencela. Mereka cuma sepasang suami istri yang sedang berlibur. Dan Devan sangat menikmati perubahan ini. Ia suka saat penjual kelapa di pinggir pantai menyapanya santai seperti orang biasa. Ia suka saat anak-anak kecil berlari melewati mereka tanpa tahu siapa orang yang ada di depan mereka.

Devan berhenti melangkah, lalu tiba-tiba mengangkat tubuh Alana, menggendongnya gaya bridal style, membuat Alana berteriak kaget lalu tertawa lepas melengkapi suara ombak.

"Devan! Turunkan! Orang-orang lihat lho!"

"Biarkan mereka lihat! Biarkan seluruh pantai ini tahu, bahwa wanita tercantik, terkuat, dan paling berharga ini adalah milikku! Dan aku bangga sekali, sangat bangga sampai rasanya aku mau teriak sekeras-kerasnya ke langit!"

Devan berlari kecil membawa Alana masuk ke dalam air laut yang dangkal, membiarkan deburan ombak membasahi tubuh mereka berdua. Ia menatap wajah istrinya yang basah, rambutnya berantakan namun bersinar, dan hatinya meluap penuh.

"Alana... kalau hidupku cuma sampai hari ini pun, aku sudah puas. Aku sudah lengkap. Tapi aku mohon sama Tuhan, biar aku hidup seribu tahun lagi, supaya aku bisa mencintaimu seribu tahun lebih lama lagi."

Sore harinya, mereka duduk di atas batu karang yang agak tinggi, menatap matahari yang perlahan tenggelam. Langit berubah warna menjadi oranye, merah muda, lalu keunguan, melukis bayangan mereka berdua yang duduk berdampingan, sama rata, sama tinggi.

Alana bersandar di bahu Devan, jari-jemarinya bermain di sela jari tangan suaminya.

"Devan, rasanya waktu berjalan terlalu cepat. Padahal baru beberapa hari kita di sini, tapi rasanya sudah betah sekali. Nanti kalau waktunya habis, kita harus pulang lagi, menghadapi kenyataan, menghadapi pekerjaan..."

Devan mengecup puncak kepalanya pelan.

"Iya, kita akan pulang. Kita punya tanggung jawab, kita punya masa depan yang harus dibangun. Tapi ingat satu hal: Suasana damai ini, perasaan bahagia ini, dan kebersamaan kita ini... kita bawa pulang. Kita simpan di dalam hati. Supaya saat di sana nanti, saat stres atau capek, kita tinggal lihat satu sama lain, dan rasanya bakal kembali seperti sekarang. Dunia luar boleh sekeras apa pun, tapi selama kita berdua, kita punya surga sendiri."

Malamnya, langit bersih tanpa awan, menampakkan jutaan bintang yang berkilauan, jauh lebih banyak dan lebih terang daripada yang pernah mereka lihat di kota besar yang penuh polusi cahaya. Mereka duduk di teras depan vila, dibalut selimut tebal, berbaring di kursi panjang sambil menatap langit.

Devan menunjuk satu rasi bintang yang terang sekali.

"Itu bintangku. Dan yang di sebelahnya, yang paling terang itu... itu kamu. Dulu aku bersinar sendirian, kelihatan gagah tapi dingin dan sepi. Sekarang ada kamu di sampingku, membuat sinarku jadi hangat dan indah. Kita berdua bakal tetap begini, berjejer, menyala bersama, sampai nanti rambut kita sama-sama memutih dan kulit kita sama-sama keriput."

Alana menoleh, menatap wajah Devan yang disinari cahaya remang lentera.

"Janji ya? Sampai tua, sampai keriput, sampai napas terakhir?"

Devan memutar tubuhnya menghadap Alana, menangkup wajah itu dengan kedua tangannya, penuh kesungguhan yang tak tergoyahkan.

"Janji. Aku, Devan Arkananta, bersumpah demi nyawaku, demi mendiang Ayahku, dan demi segala yang suci... aku takkan pernah melepaskanmu. Aku mungkin pemimpin perusahaan besar, aku mungkin orang yang ditakuti banyak orang, tapi di hadapanmu dan Tuhan... aku cuma hamba yang takluk, yang setia, dan yang selamanya milikmu."

Ia mendekatkan bibirnya, menyatukan napas mereka dalam ciuman yang panjang, lembut, dan penuh janji masa depan. Ciuman yang bukan lagi tentang gairah atau rasa memiliki, melainkan tentang penyatuan jiwa yang utuh.

Di tengah keheningan malam pantai, hanya ada suara ombak dan detak jantung yang berirama sama. Dua minggu ini bukan sekadar liburan. Ini adalah masa istirahat jiwa, masa penguatan ikatan, dan masa persiapan untuk langkah besar selanjutnya: Pernikahan resmi, keluarga, dan masa depan abadi mereka.

Dan di bawah langit bertabur bintang itu, Devan sekali lagi membisikkan kalimat yang menjadi inti hidupnya:

"Dua minggu ini, dan sisa hidupku yang panjang setelahnya... semuanya, selamanya dan sepenuhnya tetap takluk, hanya padamu, Alana."

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!