lent Residue mengisahkan pernikahan tanpa cinta antara Nathan Ryu, seorang putra mahkota Ryu Corp yang memilih mengabdi sebagai Kapten Pasukan Khusus, dan Alveera Mayra, dokter magang idealis yang terpaksa setuju menikah demi menyelamatkan posisi keluarganya di dunia medis. Hubungan dingin mereka yang penuh jarak diuji ketika mereka bertemu di zona konflik Distrik Marvella, di mana Alveera baru menyadari bahwa suaminya yang kaku adalah "malaikat maut" yang paling ditakuti di medan perang. Namun, bara konflik yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka kembali ke pusat kota; Nathan harus menjabat sebagai CEO untuk melindungi Alveera dari sabotase bisnis, tepat saat mantan kekasih Nathan muncul kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESIDU TERAKHIR DI MULUT SENJATA
Lampu neon di hanggar bawah tanah berkedip-kedip, memantulkan bayangan panjang yang mengerikan di atas badan helikopter hitam Ryu Corp. Valerie berdiri di sana, gaun sutranya kini kotor dan robek di bagian bawah, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni. Tangan yang memegang pistol itu gemetar, tapi moncong senjatanya tetap terkunci pada dahi Alveera Mayra.
Nathan Ryu bersandar pada dinding besi, satu tangannya menekan luka tembak di bahunya yang mulai merembeskan darah lagi. Napasnya berat, namun tatapannya tetap setajam predator yang sedang terpojok.
"Turunkan senjatamu, Valerie," suara Nathan rendah, bergema di ruangan yang luas itu. "Ini bukan dirimu yang dulu. Kau sedang menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang masih kumiliki untukmu."
Valerie tertawa histeris, sebuah suara yang terdengar patah dan menyakitkan. "Rasa hormat? Kau memberiku tato mawar ini, Nathan! Kau bilang ini adalah tanda bahwa kita terikat selamanya oleh dosa yang sama di London! Tapi sekarang... kau menatap wanita ini seolah dia adalah penebusan dosamu?"
Valerie melangkah maju, jarinya mulai menarik pelatuk perlahan. "Jika aku harus hidup dalam neraka penyesalan, maka kau juga harus kehilangan alasanmu untuk menjadi manusia, Nathan!"
Alveera berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, namun ketakutan itu perlahan menguap, digantikan oleh keberanian yang aneh. "Kau tidak mencintainya, Valerie. Kau hanya terobsesi pada rasa bersalah yang kau bagi dengannya. Kau ingin dia menderita agar kau tidak menderita sendirian."
"Diam kau, Dokter kecil!" teriak Valerie.
"Tembak aku jika itu membuatmu merasa menang," tantang Alveera, suaranya tenang dan jernih. "Tapi ingat satu hal: setelah peluru ini keluar, Nathan tidak akan pernah mengingatmu sebagai kekasihnya. Dia hanya akan mengingatmu sebagai monster yang membunuh istrinya. Kau akan menjadi 'residu' yang paling ia benci selamanya."
Tangan Valerie bergetar hebat. Kata-kata Alveera menghantam titik terlemahnya.
Di saat keraguan itu muncul, Nathan bergerak. Meskipun terluka, kecepatan geraknya masih luar biasa. Ia tidak menerjang Valerie; ia justru melangkah maju dan menaruh dadanya tepat di depan moncong pistol Valerie, melindungi Alveera sepenuhnya.
"Tembak aku, Valerie," ujar Nathan lembut, matanya menatap tepat ke mata Valerie. "Jika darahku bisa menghapus mawar di leherku dan membebaskanmu dari kegilaan ini, lakukanlah. Tapi biarkan Alveera pergi. Dia tidak punya bagian dalam dosa kita."
Valerie terpaku. Ia menatap Nathan, lalu menatap tato mawar di leher pria itu yang kini ternoda oleh cipratan darah Nathan sendiri. Air mata Valerie tumpah. Ia menyadari bahwa seberapa keras pun ia mencoba, Nathan sudah bukan lagi miliknya. Hati pria itu sudah berpindah pada wanita yang berani menjahit lukanya di tengah baku tembak.
"Aku... aku membencimu, Nathan Ryu," bisik Valerie.
Tiba-tiba, suara sirene polisi dan helikopter militer terdengar mendekat di atas safe house. Tim taktis yang setia pada Nathan akhirnya berhasil menembus blokade satelit V-Tech.
Valerie menurunkan senjatanya, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai beton. Pistol itu terlepas dari tangannya, berdenting nyaring. Ia tidak lagi melawan saat tim keamanan merangsek masuk dan memborgol tangannya.
Nathan segera berbalik dan merengkuh Alveera ke dalam pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Alveera, napasnya terasa lega namun penuh rasa sakit. "Kau baik-baik saja? Katakan padaku kau tidak terluka."
Alveera membalas pelukan Nathan, mencengkeram kemeja hitam suaminya yang basah oleh darah. "Aku baik-baik saja, Nathan. Kita selamat."
Petugas medis segera datang membawa tandu untuk Nathan. Saat Nathan hendak diangkat, ia menahan tangan Alveera. "Jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sampingku di ambulans."
"Aku tidak akan ke mana-mana, Kapten," bisik Alveera, menyeka air mata di pipinya.
Saat mereka keluar dari hanggar, cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mengusir kabut tebal yang menyelimuti hutan. Alveera menatap Nathan yang terbaring lemah namun tampak tenang. Ia menyadari bahwa duri-duri mawar itu mungkin akan selalu ada sebagai bekas luka, tapi mulai hari ini, mereka tidak lagi beracun.
Pernikahan tanpa cinta itu telah mati di dalam hutan tadi malam. Dan di tengah reruntuhan yang hancur, sebuah perasaan baru yang lebih kuat dari sekadar kontrak mulai tumbuh seperti bunga yang mekar di atas tanah yang pernah terbakar.
---