Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon Junior
Hal yang tidak pernah di duga nya, satu hal yang membuatnya menuduh sang suami berselingkuh. Ternyata hanya kesalah pahaman saja, sesuatu yang membuatnya mencurigai suami sendiri.
"Sudah mah, jangan terlalu di pikirkan. Ini sudah menjadi takdir dari yang maha kuasa, kita bisa mendapatkan cucu dengan cara seperti ini. " tuan Aditama dengan bijak.
Setelah bertemu dengan cucu kembar nya nyonya Erlina tampak terdiam.rasa yang campur aduk menjadi satu. Ada rasa bahagia ada juga rasa kecewa. Semua menjadi satu.
"Apa mamah harus bahagia atau bersedih pah ? "
"Satu hal yang harus kita syukuri yaitu cucu kita bisa terlahir ke dunia ini walaupun dengan cara yang membuat kita harus mengusap dada. "
"Kita harus berterima kasih pada Rania karena mau mengandung benih Leon, mungkin bagi sebagian wanita di luar sana lebih baik menggugurkan nya dari pada harus mengandung nya. "
"Mungkin mamah sebagai seorang wanita akan lebih merasakan, bukan hanya berat saat mengandung dan melahirkan tapi harus menahan rasa malu, rasa malu saat bertemu orang lain yang bertanya tentang ayah dari bayinya. "
Nyonya Erlina membenarkan apa yang fi katakan suaminya, karena dirinya pun pernah hami Leon, dan pertanyaan nya sama dengan yang di ucapkan suaminya.
"Mamah akan mencoba menerima kenyataan ini, karena bagaimanapun juga dalam. tubuh mereka ada darah mamah yang mengalir. "
Tuan Aditama tersenyum melihat istrinya sudah mulai menerima semuanya, Tuan Aditama memeluk istrinya untuk saling menguatkan di antara mereka, karena sekarang bukan hanya ada Leon tapi sekarang sudah ada Zidan dan Naila, cucu yang mereka harapkan selama ini dari Leon.
"Oh iya pah jadi wangi minyak telon yang selalu menempel di baju papah, wangi mereka berdua? "
"Iya... " tuan Aditama mengangguk.
"Jadi aku cemburu dengan cucu ku sendiri. " nyonya Erlina tertawa kecil.
"Apa papah tahu kalau mamah mulai curiga dengan papah? "
"Tahu."
"Terus kenapa papah diam saja, tahu ga sih mamah sampai stress memikirkan papah yang selingkuh sampai punya anak dari perempuan itu. "
Tuan Aditama hanya tertawa menanggapi istrinya yang terlihat sangat kesal karena merasa di bodohi oleh suaminya.
"Terus siapa yang kata papah perpuan yang masakannya enak, sampai sampai papa ga mau makan di rumah karena sudah makan di sana. " Nyonya Erlina dengan nada ketis karena masih marah dengan suaminya
'Perempuan itu Rania, mamah nya si kembar. Masakannya sangat enak, itulah makanya papah mau berbisnis kuliner sama Rania, karena dia punya bakat berbisnis. "
"Oh... " nyonya Erlina hanya ber oh ria.
"Kok jawaban nya cuma oh.!
" Terus mamah harus bagaimana? "
"Ya kasih komentar gitu biar ada masukan yang membangun, mamah kan suka masak biar hobby mamah bisa tersalurkan. "
"Tapi kan mamah belum pernah merasakan masakannya Rania. " menjawab dengan lesu.
"Yah nanti kapan kapan papah ajak mamah untuk makan siang di rumah Rania. "
"Tapi bukannya Rania punya toko roti, kalau siang kan dia di tokonya? "
'Itulah hebat nya Rania. '
"Apa hebatnya? " Dahi nyonya Erlina mengkerut.
"Walau sesibuk apapun, Rania akan menyempatkan diri untuk memasak makanan si kembar, Rania tidak ingin kembar makan dari masakan orang lain. "
"Bukankah ada ibunuay? "
"Rania tidak ingin ibu nya kelelahan karena harus membuat makanan kembar.. "
Nyonya Erlina tampak mengangguk angguk tanda mengerti mengapa Rania seperti yang di katakan oleh suaminya.
"Pah, mamah heran. "
"Heran kenapa ? "
"Rania memperbolehkan kita bertemu dengan kedua anaknya, tapi kenapa Leon tidak boleh tahu keberadaan mereka. "
"Mungkin, Rania punya ketakutan jika Leon tahu tentang mereka, Leon akan mengambil hak asuh kedua anak nya. "
"Tapi kan Leon ayah biologis mereka, kenapa mereka tidak di pertemukan dengan Leon ayah nya"
"Pahlpah pernah bertanya seperti itu pada Rania, tapi jawaban Rania biarlah mereka bertemu jika semesta mengijinkan, karena suatau saat nanti mereka akan saling menemukan. "
"Oh... " Kembali nyonya Erlina ber oh ria
Tuan Aditama hanya melemgos mendengar istrinya hanya berkata oh, padahal dirinya sudah menjelaskan panjang lebar.
Hari sudah berganti, Rania yang sekarang sudah semakin sibuk dengan toko rotinya di tambah lagi ajakan dari tuan Aditama yang ingin menjalin kerjasama di bidang kuliner. Rania berencana melebarkan sayapnya membuka restoran.
Di bantu oleh nyonya Erlina yang mempunyai hobby masak. Bu Arini pun di libatkan namun hanya untuk sumbang saran saja. Karena Rania tidak ingin sampai ibunya sakit.
Si kembar sudah mulai besar, dan mengerti kesibukan mamahnya, namun terkadang mereka protes dengan cara mogok makan. Sehingga membuat Rania meluangkan waktunya untuk sekedar menyuapi kembar makan. Biasanya Rania hanya memasak untuk makaan mereka saja, tapi semenjak kedua anaknya protes, Rania mulai menyuapi kedua anaknya.
"Zaidan duduk ya nak, kalau tidak duduk mamah pergi mau kerja. " Ujar Rania yang saat ada rumah.
Zaidan yang memang tidak bisa diam hanya melirik ibunya saja tanpa mau mendengar apa yang di ucapkan mamahnya.
"Mamah... " kata pertama Naila
"Apa sayang, ucapkan lagi. " Rania sangat bahagia mendengar Naila memanggilnya.
"Lihat Zaidan, Naila sudah bisa bilang mamah. "
Sedangkan Zaidan cuek, lebih memilih bermain naik turun tempat tidur yang ada xi tempat bermain. Babby sitter yang mengawasinya tampak kewalahan karena Zaidan sangat aktif, berbeda dengan Naila yang tanpak lebih anggun. Pendiam tapi pemerhati kakaknya yang sangat aktif.
"Mamah.... mamam.. "
"Oh Zaidan mau mam, sini sayang mamah suapin.
" Mamam..... " Naila ikut ikutan bilang mam.
"Ha ha, kalian memang lucu anak anak mamah, ayo mamam sama mamah ya sayang. "
Rania mengajak kedua anak ya untuk makan di ruang makan, kebetulan hari ini nyonya Erlina datang untuk bertemu dengan kedua cucunya. Kembar duduk di kursi bayi.
Bu Arini duduk di sebelah Rania yang sedang menyuapi kembar, sedangkan nyonya Erlina duduk berhadapan dengan bu Arini. Keduanya tampak akrab seperti dua orang teman lama yang sudah lama tahun tidak bertemu.
"Mamah seperti melihat Leon junior pada Zidan, dan Naila pun sama. Seandainya kalian bersatu, Naila pasti akan menjadi saingan kamu di saat kamu sedang berduaan dengan Leon. " ucap nyonya Erlina dengan mata yang berkaca kaca.
Mungkin takdir belum memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk bersatu, biarlah semesta yang akan mempertemukan mereka semua. " tambah Bu Arini.
"Aamiin, semoga ya jeng. " jawab nyonya Erlina.
Rania tidak berkomentar dengan perkataan nyonya Erlina, diri nya masih merasakan trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat nya harus memiliki kembar.
Melihat Rania tampak diam saja tidak berkomentar apa apa, membuat nyonya Erlina merasa tidak enak dengan Rania, bagaimana juga putranya yang sudah membuat kembar hadir di dunia ini.
"Rania maafkan semua perkataan mamah ya jangan di ambil hati. ya sayang. " nyonya Erlina segera meminta maaf.
"Tidak usah merasa bersalah mah, Ran sudah ikhlas kok menerima semua yang sudah terjadi dengan Ran."
"Ran mamah sangat berterima kasih karena kamu masih mempertahankan kehamilan kamu hingga mamah bisa melihat kembar. "
Rania tidak terlalu menanggapi ucapan nyonya Erlina, Rania lebih memilih diam serta memperhatikan kembar yang sedang makan namun bibir nya tidak bisa diam, terutama Zaidan.
Nyonya Erlina tertawa bahagia melihat kelakuan random kedua cucunya yang sangat bertolak belakang dengan karakter nya masing masing, Zaidan lebih aktor f dan energik mungkin karena dia laki laki sehingga energi nya lebih banyak, sedangkan Naila lebih lembut mirip seperti Rania.
"Jeng Arini, kapan kapan main ke rumah ya, biar kita bisa ngobrol panjang lebar di rumah." Ajak nyonya Erlina.
"Mungkin lain kali nyonya, saya akhir akhir ini sering tidak enak badan. " Bu Arini menilai dengan halus.
"Oh begitu, sudah cek ke dokter jeng? "
"Sudah, sebulan sekali Rania selalu membawa saya untuk cek ke dokter. Menurut dokter saya baik baik saja tapi entah kenapa saya merasa tidak enak badan. "
"Mungkin karena ibu belin terbiasa dengan seabrek kegiatan yang biasanya hanya ikut ibu ibu komplek ke majelis taklim atau untuk senam lansia, tiba tiba saja Ran mengikuti sertakan ibu dalam bisnis Ran. Jadi yah mungkin tubuhnya kaget dengan kegiatan tersebut. " Jelas Rania agar nyonya Erlina tidak salah paham.
"Iya juga ya, kalau saya mungkin sudah terbiasa mengelola butik, sehingga sudah biasa terjun ke dalam bisnis yang banyak memakan waktu di luar."
"Mungkin juga nyonya. " Bu Arini merendah.
Nyonya Erlina lumayan lama berada di rumah nya Rania, sedangkan Rania setelah makan siang, dirinya kembali ke toko roti dan restoran yang mulai buka. Nyonya Erlina masih betah bermain dengan kembar ditemani bu Arini.
Waktu telah berlalu, berganti hari ini, Leon baru saja pulang dari Rusia setelah mengecek dan juga menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi dengan perusahaan yang berada di Rusia.
Saat Leon berada di Rusia, mamahnya memesan untuk membelikan mainan untuk anak laki laki dan perempuan, dan harus yang bagus dan mahal, Leon yang tidak mengerti mengapa mamahnya tiba tiba saja memesan kedua mainan itu tidak menjelaskan detailnya, hanya saja mamahnya bilang untuk anak teman nya yang masih batita.
"Sayang, pesanan mamah kamu belikan? " tanya nyonya Erlina saat Leon baru saja sampai rumah.
"Sadah mah. anaknya bari datang bukan di sambut pelukan hangat, malah di tanya pesanannya mana? " Leon kesal karena mamahnya bukan bertanya tentang dirinya.
Nyonya Erlina hanya tertawa ringan mendengar Leon misuh misuh karena kesal dengan mamahnya yang tidak tanya tentang kabarnya.
"Iya maaf mamah lupa tanya kabar kamu sepulangnya dari Rusia, bagaimana perusahaan di sana, apa sudah baik baik saja? "
"Sudah mah, masalah di sana sudah Leon selesai kan dengan baik, dan Leon pulang keadaan perusahaan sudah stabil. " jelas Leon.
"Mah, kenapa mamah tiba tiba memesan mainan, untuk siapa? " Leon masih penasaran.
"Teman mamah yang masih batita, mereka kembar laki dan perempan dan umurnya belum satu tahun. Mamah sudah merasa sayang dengan mereka berdua. " Jelas mamahnya Leon.
"Kenapa baru sekarang mamah pesan, mamah punya banyak teman, mereka memiliki anak dan cucu yang masih kecil, tapi mamah tidak pernah seheboh ini minta Leon untuk membelikan mainan, Leon sering ng keluar negeri dan mamah batu sekarang loh minta beli barang "
"Kamu beli apa drai Rusia,? " Mamahnya Leon tidak menjawab pertanyaan Leon.
"Ish, mamah bukannya menjawab malah balik bertanya,." ucap Leon dengan kesal.
Mamahnya Leon hanya tertawa kecil melihat anak nya yang sedang kesal karena tidak menjawab pertanyaan nya.
"Sebentar, tadi dibawa Ryan, mungkin sebentar lagi masuk. Tadi sedang membawa barang barang milik Leon. "
Tidak berapa lama Ryan membawa dua totebag yang sangat besar, Ryan terlihat kesulitan membawanya karena kedua barang tersebut karena memang sangat besar
"Besar sekali, kamu beli apa? "
"Mobil mainan yang bisa langsung pakai untuk anak anak, Leon beli dua hanya beda warna untuk anak perempuan dan laki-laki. " Jelas Leon.
"Coba mamah lihat? "
Mamahnya Leon melihat i totebag , benar saja dalam satu totebag ada satu mobil untuk anak anak yang bisa di naiki. Satu berwarna biru untuk anak laki laki dengan bentuk mobil yang di sesuaikan dengan anak laki laki, sedangkan yang satunya lagi bentuknya untuk anak perempuan berwarna pink.
"Gimana mah cocok ga buat anaknya teman mamah? "
"Bagus banget mobil ini cocok banget untuk cucu laki-laki mamah yang energik dan aktif." mamahnya Leon keceplosan.
"Siapa mah, buat cucu mamah yang mana, Leon kan belum nikah. " Leon merasa heran mamahnya berkata seperti itu.
"Oh eh bukan, maksud mamah bukan itu tapi cucu temannya mamah. " Mamahnya Leon tergarap.
Leon terheran kenapa mamanya harus tergarap menjawab pertanyaan dari Leon. Hingga akhir nya Leon teringat dengan anaknya Rania, entah di mana dan bagaimana nasib mereka. Leon berkaca kaca jika mengingat mereka yang di telantarkan oleh dirinya.
Nyonya Erlina melihat perubahan wajah putranya yang mendadak diam setelah dirinya mengatakan tentang cucunya
"Mungkin saja Leon sedang ingat dengan kedua anaknya yang telantar, maafkan mamah sayang, bukannya mamah tega dengan kamu, tapi keputusan Rania yang tidak bisa mamah langgar demi kebaikan semua. Semoga semesta segera mempertemukan mereka. " dalam hati nyonya Erlina.
"Kenapa sayang kok kamu tiba tiba saja terdiam? " nyonya Erlina pura pura bertanya
"Nggak apa apa mah, Leon hanya teringat dengan teman mamah yang punya cucu itu, semoga saja mainan yang Leon bawa untuk mereka bisa cocok untuk cucunya teman mamah. "
"Oh iya mah, siapa nama teman mamah dan siapa nama cucunya? "
"Teman mamah namanya Jeng Arini, dan nama cucunya Zaidan dan Naila, keduanya sangat lucu dan menggemaskan.. " nyonya Erlina tidak bohong tentang cucunya.
"Oh ya, semoga saja Leon bisa bertemu dengan Zaidan dan juga Naila. Pasti pasti cantik dan tampan ya mah. "
"Itu pasti karena papahnya ganteng banget dan mamahnya juga cantik. Pintar masak da pandai berbisnis. "
"Jadi penasaran dengan orang tuanya, semoga saja Leon bisa bertemu dengan mereka, siapa tahu kita berjodoh dan bisa berbisnis dengan mereka. " jawab Leon.
"Mamah juga kamu berjodoh dengan Rania, sehingga kalian semua bisa berkumpul, mamah dan papah pasti akan sangat bahagia , semoga. "
...****************...