Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Penjara di Atas Awan
Kegelapan yang menghantam tengkuk Aruna tadi menyisakan rasa pening yang berdenyut-denyut di belakang kepalanya. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukanlah tanah lembah yang basah atau bau asap, melainkan aroma kayu gaharu yang mahal dan sentuhan kain sutra yang dingin di bawah tubuhnya.
Aruna mengerang, mencoba duduk. Dunianya berputar sejenak. Ia tidak berada di penjara bawah tanah yang pengap seperti yang ia bayangkan. Ruangan itu luas, dengan pilar-pilar putih yang menjulang dan jendela besar tanpa jeruji yang langsung menghadap ke arah gumpalan awan.
"Sudah bangun, Aruna?"
Suara itu lembut, namun bagi Aruna, itu lebih mengerikan daripada guntur. Ia menoleh dan melihat Pangeran Kaelan duduk di kursi kayu berukir, sedang menyesap teh dengan tenang. Pakaian perangnya sudah diganti dengan jubah sutra biru muda yang sangat rapi. Tidak ada setitik pun debu atau darah yang tersisa di tubuhnya.
"Di mana Arvand? Di mana anakku?" Aruna mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Ia terjatuh kembali ke atas ranjang.
Kaelan meletakkan cangkir tehnya perlahan. Bunyi porselen yang beradu dengan meja terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. "Jenderal Arvand ada di tempat yang seharusnya bagi seorang pengkhianat. Penjara Kerajaan Sektor Utara. Dan Arel... dia berada di bawah asuhan guru-guru terbaik istana. Dia aman, selama kamu kooperatif."
"Kooperatif?" Aruna tertawa getir, matanya menyala penuh amarah. "Kau menjebak kami, Kaelan! Kau membiarkan Elian meledakkan lembah itu hanya agar kau bisa muncul sebagai pahlawan kesiangan di depan Kaisar!"
Kaelan berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Aruna. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata Aruna dengan tatapan yang sulit dibaca. Antara obsesi dan rasa dingin yang mematikan.
"Dunia ini adalah panggung sandiwara, Aruna. Aku hanya menulis ulang skenarionya agar kita berdua bisa selamat. Arvand adalah bagian dari masa lalu yang harus dihapus. Dia terlalu banyak tahu, dan dia terlalu dicintai oleh rakyat. Kaisar tidak suka saingan."
"Dan kau pikir aku akan diam saja?" Aruna mencengkeram sprei ranjangnya hingga kuku-kukunya memutih. "Aku akan menceritakan semuanya pada Kaisar. Tentang Elian, tentang kunci itu, dan tentang pengkhianatanmu!"
Kaelan mengusap pipi Aruna dengan punggung jarinya. Aruna tersentak mundur, merasa jijik. "Kaisar hanya percaya pada bukti, Aruna. Dan semua bukti menunjukkan bahwa Arvand-lah yang bekerja sama dengan Elian untuk mengudeta takhta. Kunci perak itu ditemukan di tangannya. Sedangkan aku? Aku adalah orang yang menyelamatkanmu dari ledakan itu."
Aruna terdiam. Ia menyadari betapa rapinya jebakan ini. Kaelan tidak hanya menghancurkan Arvand secara fisik, tapi juga secara reputasi. Di mata dunia, Arvand kini adalah pengkhianat negara.
"Kenapa kau melakukan ini, Kaelan? Kau bilang kau menyukaiku," bisik Aruna.
"Justru karena aku menyukaimu," jawab Kaelan datar. "Ratri yang dulu tidak akan pernah bisa kumiliki karena dia hanya peduli pada kekuasaan. Tapi kau... kau berbeda. Aku ingin kau di sini, di sisiku, saat aku naik takhta nanti. Arvand hanya akan membuatmu hidup menderita di medan perang."
Kaelan berbalik dan berjalan menuju pintu. "Istirahatlah. Pelayan akan membawakan makanan. Jangan mencoba lari, istana ini berada di puncak gunung tertinggi. Tidak ada jalan keluar selain melalui penjagaanku."
Brak!
Pintu tertutup dan terkunci dari luar. Aruna terduduk lemas. Ia menatap telapak tangannya. Masih ada sisa jelaga dan luka bakar kecil dari kejadian di lembah tadi. Rasa bersalah menghujam dadanya. Ia merasa gagal melindungi Arvand, pria yang perlahan-lahan mulai ia cintai meskipun awalnya ia hanya menganggapnya sebagai karakter dalam cerita.
"Arvand... maafkan aku," isaknya pelan.
Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari balik tirai besar di sudut ruangan. Aruna langsung waspada, meraih vas bunga porselen sebagai senjata.
"Jangan berteriak, ini aku."
Seorang wanita muncul dari balik tirai. Itu Mira, pelayannya. Wajahnya tampak cemas, dan ia mengenakan pakaian pelayan istana tingkat rendah sebagai penyamaran.
"Mira! Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Jalur rahasia, Madam. Istana ini punya banyak celah yang tidak diketahui Pangeran Kaelan," Mira berbisik cepat sambil mendekati Aruna. "Madam, Anda harus tahu. Jenderal Arvand tidak di penjara biasa. Dia akan dieksekusi tiga hari lagi di alun-alun ibu kota."
Jantung Aruna seakan berhenti berdetak. "Eksekusi? Tanpa pengadilan?"
"Kaelan memalsukan surat pengakuan Jenderal. Kaisar sangat murka," Mira menggenggam tangan Aruna. "Dan Tuan Muda Arel... dia sedang dicuci otaknya. Mereka memberitahunya bahwa Anda dan Jenderal sengaja membuangnya di lembah api itu."
Amarah Aruna meledak. Obsesinya untuk melindungi Arel kembali membara. "Mereka benar-benar sudah gila. Aku harus keluar dari sini, Mira."
"Aku punya rencana, tapi ini sangat berbahaya. Seraphina... wanita itu menitipkan ini untukmu." Mira mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat dan sebuah gulungan kertas kecil.
Aruna membuka gulungan kertas itu. Isinya hanya satu kalimat: “Naskah tidak bisa diubah, tapi kamu bisa menulis bab tambahan. Gunakan racun ini untuk memalsukan kematianmu sendiri.”
"Memalsukan kematian?" Aruna menelan ludah. "Jika ini gagal, aku benar-benar akan mati."
"Seraphina bilang, ini satu-satunya cara agar Kaelan lengah. Saat mereka membawamu keluar dari istana ini untuk dimakamkan, pasukan setia Jenderal Arvand yang tersisa akan mencegat kereta jenazahmu," jelas Mira.
Aruna menatap botol kecil di tangannya. Pilihan yang mustahil. Tetap di sini menjadi tawanan Kaelan selamanya, atau mempertaruhkan nyawa pada cairan yang diberikan oleh wanita misterius yang bahkan tidak ia ketahui motifnya.
Namun, bayangan Arvand yang sedang terluka di penjara dan Arel yang sedang menangis karena merasa dibuang membuatnya mantap. Aruna adalah seorang penulis; ia tahu bahwa terkadang tokoh utama harus 'mati' agar bisa bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
"Lakukan, Mira. Berikan ini pada makan malamku nanti."
Malam harinya, Kaelan kembali datang untuk memeriksa Aruna. Ia melihat Aruna sedang duduk di depan jendela, menatap bulan yang pucat. Meja makan di tengah ruangan sudah bersih, menunjukkan bahwa Aruna telah memakan hidangannya.
"Kau tampak lebih tenang, Aruna. Baguslah kalau kau mulai menerima kenyataan," kata Kaelan sambil mendekat.
Aruna berbalik perlahan. Wajahnya sangat pucat, dan ada garis darah kecil yang mengalir dari sudut bibirnya. "Kaelan... kau benar... dunia ini memang sandiwara..."
Mata Kaelan membelalak saat melihat Aruna mulai terhuyung. "Aruna? Apa yang kau lakukan?"
Kaelan berlari menangkap tubuh Aruna sebelum wanita itu menghantam lantai. Ia melihat botol kosong yang tergeletak di bawah meja. "Tidak... jangan bilang kau..."
"Aku lebih baik mati... daripada menjadi... milikmu," bisik Aruna dengan sisa tenaganya sebelum matanya tertutup rapat dan napasnya seolah berhenti sepenuhnya.
Kaelan meraung, memeluk tubuh Aruna yang mulai mendingin. "Tabib! Panggil tabib sekarang juga! Jangan berani kau mati, Aruna!"
Kekacauan pecah di istana atas awan itu. Para pengawal berlarian, dan Kaelan tampak seperti pria yang kehilangan akal sehatnya. Di tengah kegaduhan itu, Mira yang berdiri di sudut ruangan memberikan isyarat rahasia melalui jendela.
Tiga jam kemudian, sebuah kereta jenazah yang dijaga ketat oleh pasukan pribadi Kaelan mulai menuruni jalan setapak gunung yang curam. Kaelan sendiri memimpin di depan dengan kuda hitamnya, wajahnya tertutup duka yang dalam sekaligus amarah yang mengerikan.
Namun, di tengah perjalanan yang gelap dan berkabut, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang yang membelah keheningan hutan.
Wush! Wush!
Anak-anak panah dengan ujung api melesat dari balik pepohonan, membakar roda-roda kereta jenazah. Pasukan Kaelan tersentak kaget.
"Serangan! Lindungi kereta!" teriak Kaelan sambil menghunus pedangnya.
Dari balik kegelapan, muncul sosok pria dengan jubah hitam yang compang-camping namun gerakannya sangat cepat. Pria itu menebas prajurit Kaelan dengan brutal. Kaelan menerjang pria itu, dan saat pedang mereka beradu, Kaelan tertegun melihat mata di balik tudung itu.
"Arvand? Bagaimana mungkin... kau seharusnya sudah dirantai!"
Pria itu tidak menjawab. Ia memberikan satu tendangan keras ke dada Kaelan dan berlari ke arah kereta jenazah yang mulai terbakar. Arvand merobek pintu kereta dan menarik tubuh Aruna yang kaku keluar dari sana.
"Ratri! Bangun!" Arvand mengguncang tubuh Aruna dengan panik.
Di saat yang sama, sosok Seraphina muncul di atas dahan pohon, menatap mereka dengan senyum tipis. "Waktunya hampir habis, Jenderal. Jika dia tidak segera diberikan penawarnya, kematian palsu ini akan menjadi nyata."
Arvand menatap Seraphina dengan penuh tuntutan. "Mana penawarnya? Berikan sekarang!"
Seraphina tidak bergerak. Ia justru menoleh ke arah kegelapan di belakang Arvand. "Aku akan memberikannya, tapi ada satu syarat. Kau harus memilih, Arvand. Menyelamatkan nyawa istrimu sekarang, atau menyelamatkan Arel yang saat ini sedang dibawa menuju gerbang perbatasan untuk ditukarkan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Utara?"
Arvand tertegun. Tangannya yang memeluk Aruna gemetar hebat. Di depannya, istrinya sedang di ambang maut. Di kejauhan, putranya sedang dalam bahaya besar.
Pilihan mustahil apa yang akan diambil Arvand? Apakah ia akan membiarkan Aruna pergi demi menyelamatkan Arel, ataukah ia akan mengabaikan putranya demi wanita yang baru saja mulai ia cintai? Dan benarkah Aruna benar-benar hanya memalsukan kematian, atau ada rencana lain dari Seraphina yang lebih gelap?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.