Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
***
Sore di Desa Sukamaju menyuguhkan pemandangan yang begitu asri. Matahari mulai condong ke barat, membiarkan cahayanya yang berwarna jingga keemasan menyelinap di balik celah daun mangga dan rumpun bambu yang bergoyang pelan tertiup angin. Bau tanah basah sisa hujan kemarin masih tercium samar, bercampur dengan aroma bunga kamboja dari pemakaman desa yang terbawa udara.
Di halaman belakang rumah, Laras duduk di bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang. Perut delapan bulannya terasa kian berat, membuatnya harus duduk dengan posisi kaki sedikit terbuka agar napasnya tidak terlalu sesak. Di depannya, Gilang dan Arka sedang bersenang-senang. Mereka berlarian kecil, tertawa melengking sambil mengejar dua ekor kelinci putih yang melompat lincah menghindari tangan-tangan mungil itu.
"Mamas Giyang! Itu... tangkap! Kelincinya lali ke sana!" seru Arka dengan suara cadelnya yang menggemaskan. Ia mencoba berjongkok, namun kelinci itu justru melompat melewati kakinya.
"Sabar, Dek! Kelincinya cepat banget!" Gilang menyahut sambil terengah-engah, wajahnya merah padam karena bahagia. "Ayo, Dek, kita kepung dari sini!"
Laras tersenyum melihat tawa mereka. Sejenak, hatinya merasa hangat. Namun, senyum itu tidak sampai ke matanya. Begitu tawa anak-anak itu mulai menjauh ke arah rumpun bunga, pikiran Laras kembali terseret ke dalam pusaran kelam yang sejak semalam menghantuinya.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang kini tampak kasar, kuku-kukunya pendek dan tidak terawat karena setiap hari berurusan dengan sabun cuci dan bumbu dapur. Ia kemudian melirik kakinya yang bengkak, sandal jepitnya seolah tidak kuat lagi menampung kakinya yang kini tampak lebar.
"Apakah aku benar-benar pantas berada di sisi Mas Bagas?" batinnya getir.
Laras mengingat kembali bagaimana semua ini dimulai. Lima tahun yang lalu, ia hanyalah seorang gadis lulusan SMA yang sedang semangat-semangatnya menggambar sketsa gaun di buku catatan, bermimpi suatu saat bisa menginjakkan kaki di Jakarta untuk sekolah mode. Namun, mimpi itu mati sebelum sempat bernapas. Ayahnya yang sakit-sakitan dan desakan ekonomi membuatnya harus menerima perjodohan dengan anak tunggal orang terpandang di desa tetangga—Bagas.
Bagas adalah sosok yang sempurna di mata semua orang. Dia tampan, gagah, memiliki jabatan sebagai Kepala Desa di usia muda, dan yang paling penting, dia adalah seorang sarjana lulusan universitas ternama di kota.
Laras masih ingat betul ucapan Bagas di malam pertama mereka. Saat itu, ia duduk gemetar di pinggir ranjang, masih mengenakan kebaya pengantin yang terasa mencekik. Bagas mendekatinya, suaranya berat namun penuh tuntutan.
"Laras, kamu tahu aku anak tunggal. Orang tuaku punya harapan besar padaku. Aku ingin rumah ini ramai, aku ingin punya banyak anak darimu. Itu tugas utamamu sekarang."
Saat itu, Laras hanya menunduk dan mengangguk. Ia pikir, seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh. Ia pikir, anak-anak adalah anugerah. Tapi sekarang, dengan kondisi hamil tua dan beban mental setelah kejadian Siska, pertanyaan itu muncul kembali: Apakah Mas Bagas mencintaiku karena aku Laras, atau dia mencintaiku karena rahimku produktif?
"Mamah! Lihat! Mas Gilang dapat kelincinya!" teriak Gilang, membuyarkan lamunan Laras sejenak. Gilang mengangkat kelinci itu dengan bangga, meskipun si kelinci tampak berontak.
"Wah, hebat jagoan Mamah. Tapi pelan-pelan ya, kasihan kelincinya nanti sakit," sahut Laras, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap terdengar ceria di depan anak-anak.
"Acka juga mau pegang! Mah, Acka mau kasih makan wortel!" Arka berlari menghampiri Laras, tangannya yang kotor terkena tanah menarik-narik ujung daster Laras.
Laras mengusap kepala Arka. "Iya, ambil wortelnya di keranjang itu, Sayang. Pelan-pelan ya jalannya, jangan lari-lari nanti jatuh."
Setelah Arka kembali menyusul kakaknya, Laras kembali termenung. Ia merasa jiwanya kosong. Ia merasa seperti hanya menjadi pajangan di rumah dinas ini—seorang istri yang harus tampil sempurna di depan warga, pandai memasak, pandai mengurus anak, dan selalu siap melayani suami tanpa mengeluh.
"Dia sarjana, aku cuma lulusan SMA. Dia bicara soal anggaran desa, aku cuma bicara soal harga cabai. Siska... dia bisa bicara level yang sama dengan Mas Bagas. Sedangkan aku? Aku cuma mesin pencetak anak untuknya."
Rasa insecure itu merambat seperti tanaman liar yang mencekik dadanya. Ia merasa perjuangannya selama ini—bangun sebelum fajar, tidur paling akhir, menahan sakit kram kaki demi melayani gairah suaminya—mungkin tidak dianggap sebagai bentuk cinta oleh Bagas, melainkan hanya kewajiban yang memang sudah seharusnya ia lakukan.
"Laras?"
Sebuah suara berat yang sangat ia kenali tiba-tiba terdengar dari arah teras belakang.
Laras tersentak, bahunya menegang. Bagas berdiri di sana, masih mengenakan kemeja batiknya, namun kancing atasnya sudah terbuka. Ia tampak lelah, namun matanya langsung tertuju pada istrinya.
Laras tidak menyahut. Ia segera berpaling, berpura-pura sibuk memperhatikan Gilang dan Arka yang sedang memberi makan kelinci.
Bagas melangkah mendekat, duduk di ujung bangku kayu yang sama dengan Laras. Ada jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara mereka—jarak yang terasa seperti jurang yang sangat dalam.
"Tadi Mas pulang lewat pintu depan, tapi sepi. Ternyata kalian di sini," ucap Bagas mencoba membuka percakapan. "Anak-anak senang sekali ya, kelincinya sudah besar."
Laras hanya memberikan anggukan kecil tanpa menoleh. "Iya."
"Ras... kamu masih nggak mau bicara sama Mas?" Bagas menghela napas panjang. Ia memperhatikan sisi wajah Laras yang tampak pucat di bawah sinar matahari sore. "Mas tahu Mas salah soal bentakan semalam. Tapi soal Siska, Mas bersumpah nggak ada apa-apa. Mas cuma butuh dia untuk urusan dinas."
Laras akhirnya menoleh, matanya yang berkaca-kaca menatap Bagas dengan sorot yang penuh luka. "Urusan dinas sampai disentuh-sentuh tangannya, Mas? Urusan dinas sampai dia berani datang ke sini dan menghina istri Mas di rumah sendiri?"
Bagas terdiam. Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Mas sudah usir dia, Ras. Mas bela kamu di depannya. Apa itu nggak cukup?"
"Bela Laras?" Laras tertawa getir, suaranya bergetar. "Mas bela Laras karena Laras istri Mas, atau karena Laras lagi hamil anak Mas? Kalau seandainya Laras nggak hamil, kalau seandainya Laras nggak bisa kasih anak lagi, apa Mas bakal tetap bela Laras sesemangat itu di depan perempuan hebat seperti dia?"
"Apa maksudmu bicara begitu?" Bagas mengernyitkan dahi, tampak bingung.
"Mas Bagas itu sarjana. Siska itu sarjana. Kalian selevel. Sedangkan Laras? Laras cuma gadis desa yang Mas nikahi karena perjodohan. Mas bilang Mas mau punya anak banyak karena Mas anak tunggal. Jadi, selama ini Laras ini apa di mata Mas? Istri yang dicintai, atau cuma mesin pencetak anak supaya keluarga Mas nggak punah?"
Pertanyaan itu meluncur seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran. Suasana di halaman belakang mendadak hening. Suara kicau burung seolah berhenti. Bagas terpaku, ia tidak menyangka keraguan Laras sedalam itu.
"Mah! Kelicinya mau lali lagi!" teriak Arka dari kejauhan, tidak menyadari ketegangan hebat yang terjadi di belakangnya.
Laras segera menghapus air mata yang mulai luruh dengan punggung tangannya. Ia berdiri dengan susah payah, memegangi perutnya yang terasa kenceng-kenceng akibat emosi yang meluap.
"Ayo, Gilang, Arka... sudah sore. Masuk, mandi. Bapak sudah pulang, Mamah mau siapkan makan malam," ucap Laras dengan suara yang dikuat-kuatkan, mengabaikan Bagas yang masih duduk mematung dengan wajah penuh penyesalan.
Laras berjalan meninggalkan Bagas, menggandeng kedua anaknya masuk ke rumah. Di bawah pohon mangga itu, Bagas hanya bisa menatap punggung istrinya yang tampak begitu rapuh meski memikul beban yang begitu besar. Ia menyadari satu hal: luka di hati Laras bukan hanya soal Siska, tapi soal harga diri yang telah lama terkubur di bawah bayang-bayang dominasinya.
****
Bersambung....