Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ravian mengulurkan tangan kanan, yang langsung di sambut hangat oleh Jacob. Pria itu memberi salam santai pada Jacob yang sudah lama tidak dia temui.
"Baru beberapa jam yang lalu, Kek," jawabnya ringan, tanpa kehilangan senyum tengilnya.
Jacob tampak benar-benar terkejut, tapi kemudian wajahnya berubah cerah. Dia melepaskan rangkulan pada pundak Aleta dan melangkah mendekati Ravian.
"Kau ini… tidak memberi kabar sama sekali!" tegurnya, meski nada suaranya terdengar lebih seperti kelegaan daripada kemarahan.
Ravian hanya terkekeh pelan. "Kalau aku memberi kabar, tidak akan ada kejutan seperti ini untuk Aleta."
Jacob menggeleng, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Jelas sekali dia menyambut kedatangan Ravian dengan baik.
Aleta yang berdiri di samping hanya mengamati, ekspresinya kembali datar. Namun di dalam benaknya ada sesuatu yang mengganjal. Cara kakeknya menyambut Ravian… terlalu akrab. Seolah-olah pria itu bukan orang asing.
"Kau sudah makan?" tanya Jacob lagi, kini nadanya penuh perhatian.
"Belum, tapi itu bukan masalah," jawab Ravian santai.
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam, sudah lama Kakek tidak bertemu denganmu setidaknya duduklah di dalam, Rav." Ujar Jacob tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Aleta langsung menghela napas pelan. "Kek, ini sudah malam. Aku lelah, aku mau istirahat..."
"Masuk," potong Jacob tegas, tapi tetap lembut.
Aleta terdiam. Tatapannya beralih ke Ravian yang justru tampak sangat menikmati situasi itu. Bahkan pria itu sempat meliriknya dengan senyum tipis, seolah berkata "aku sudah bilang."
Aleta mendecak kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Jacob dan Ravian mengikuti di belakang.
Begitu mereka masuk, suasana hangat rumah langsung terasa. Lampu ruang tamu menyala lembut, aroma teh masih samar tercium.
Jacob duduk di sofa, sementara Ravian mengambil tempat di seberangnya tanpa canggung sedikit pun. Aleta berdiri beberapa langkah dari mereka, tidak berniat ikut duduk.
"Jadi," ucap Jacob membuka pembicaraan, "apa yang membawamu datang ke sini malam-malam begini, Ravian?"
Ravian menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Menjemput sesuatu yang seharusnya sudah menjadi milikku sejak lama."
Jacob mengernyit. "Maksudmu?"
Ravian melirik ke arah Aleta. "Saya datang untuk bertemu tunangan saya."
Hening.
Aleta langsung menatap tajam. "Wah, apa itu gombalan zaman sekarang? Rasanya menggelikan mendengarmu berbicara seperti itu."
Ravian tersenyum. "Kau akan terbiasa."
Jacob memandang mereka bergantian. Tatapannya berubah lebih serius.
"Aleta," panggilnya pelan.
Gadis itu tidak menjawab, tapi dia tahu dirinya tidak bisa menghindar.
"Perjodohan itu bukan main-main," lanjut Jacob. "Kau tahu sendiri alasan di baliknya."
Aleta mengepalkan tangan. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku tidak tahu. Dan aku juga tidak peduli."
Jacob terdiam. Dia memandang cucunya yang tampak berbeda, bukan dari segi menjawab tapi sikap keras kepalanya juga berbeda.
Sementara Ravian justru terlihat semakin tertarik.
"Aku suka sisi keras kepalamu," ujarnya santai. "Tapi sayangnya… keputusan ini bukan hanya milikmu."
Aleta menoleh tajam. "Kalau begitu, katakan sekarang. Apa alasan sebenarnya?"
"Sudahlah, kalian sudah lama tidak bertemu masa mau berkelahi." Jacob menengahi. Dia mengalihkan pandangan ke arah Ravian. "Bagaimana kabar keluargamu?"
"Aku rasa baik, aku belum menemui ayahku aku baru menemui kakekku dan langsung ke sini."
Senyum tipis terbit di bibir Jacob. "Begitu, ya... Ah, kau minum apa? Biar Kakek buatkan."
"Tidak perlu repot-repot, aku hanya mampir sebentar."
Jacob tak mengindahkan perkataan Ravian, dia beranjak dari posisi duduknya. "Tidak repot sama sekali, tunggu sebentar."
Selepas mengatakan itu, Jacob berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban Ravian. Dia meninggalkan Ravian dan Aleta di ruang tamu.
"Kau tidak duduk?" Tanya Ravian, sejak tadi dia mengamati Aleta yang berdiri terus.
"Tidak, aku mau ke kam--"
"Kau tidak penasaran mengapa aku ke sini malam-malam?" Potong Ravian cepat.
Sejujurnya, dia tidak berharap banyak akan di sambut hangat oleh Aleta. Tapi ternyata respon gadis itu sangat jauh lebih dingin dari yang dia perkirakan, mungkinkah sikapnya berubah akibat di rundung?
Aleta bergerak lalu duduk di sofa berhadapan dengan Ravian, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pria itu tapi sepertinya akan sulit mengingat kini mereka berstatus sebagai tunangan.
"Katakan alasan sebenarnya kau ke mari," mata tajam Aleta menyapu tubuh Ravian, mengamati dengan seksama.
"Aku dengar kau di rundung di sekolah, apa itu benar?"
"Siapa yang memberitahumu?"
Ravian terkekeh, "Aku sedang bertanya, kenapa kau malah memberiku pertanyaan lagi bukan jawaban?"
"Tinggal jawab saja," desak Aleta.
"Aku mendengarnya dari kakekku, kenapa kau diam saja selama ini?" Ravian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa kau takut?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Aleta, dia hanya mengamati Ravian dari atas sampai bawah seperti menilai apakah pria itu layak di percaya atau tidak.
"Aleta," panggil Ravian setelah beberapa menit gadis itu tak kunjung menjawab.
"Aku tidak takut, hanya malas memperpanjang masalah."
Ravian mengernyitkan dahi. "Malas? Kalau kau diam saja maka mereka akan terus merundungmu."
"Lantas apa urusannya denganmu?"
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁