NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Mobil sedan tua itu menderu, melintasi batas kota yang kini dipenuhi cahaya biru-merah dari armada polisi yang bergerak lambat menuju reruntuhan gedung pengadilan. Adella tidak lagi menoleh ke belakang. Di spion tengah, ia hanya melihat kepulan asap hitam yang membubung, menelan sisa-sisa dinasti Adwan yang baru saja dieksekusi oleh tangan-tangan tak terlihat.

Viona duduk di sampingnya, mendekap laptop erat-erat seolah benda itu adalah pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk. Wajahnya pucat pasi, namun jemarinya masih bekerja, menghapus jejak digital mereka setiap kali mereka melewati menara pemancar seluler.

"Adella, kita baru saja menyatakan perang pada entitas yang memiliki akses ke satelit militer," bisik Viona, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin dari jendela yang retak. "Baron dan Julian hanyalah debu bagi Lembaga Arkana. Dan Aristho... dia tidak akan berhenti sampai subjek 042 kembali ke lab."

"Aku bukan subjek," sahut Adella, suaranya kini terdengar sangat dingin, seolah-olah semua emosi kemanusiaannya telah terbakar habis di ruang sidang tadi. "Aku adalah kegagalan sistem mereka. Dan sistem yang gagal harus di-format ulang."

Mereka sampai di sebuah pelabuhan kecil yang terbengkalai di pinggiran utara. Aroma garam dan besi berkarat menyengat hidung. Di sana, di balik tumpukan kontainer biru yang sudah memudar warnanya, terdapat sebuah gudang tua yang tampak tak berpenghuni. Ini adalah safe house yang dikelola oleh jaringan "The Watcher", sebuah kelompok peretas internasional yang selama ini diam-diam memantau pergerakan Arkana.

Begitu masuk, suasana berubah drastis. Di dalam gedung yang tampak reyot itu, berjajar puluhan monitor beresolusi tinggi dan server yang berdengung konstan. Seorang pria paruh baya dengan tato sirkuit digital di lehernya menyambut mereka.

"Selamat datang, Adella. Kamu menciptakan kekacauan yang sangat indah di Menara Adwan," ujar pria itu, yang dikenal dengan nama sandi Zero.

"Aku tidak butuh pujian. Aku butuh data," balas Adella ketus.

Zero mengangguk, lalu memutar sebuah rekaman video yang baru saja diterima melalui frekuensi terenkripsi. Layar besar di tengah ruangan menampilkan wajah Pak Adwan. Guru gila itu tampak hancur; salah satu matanya bengkak dan darah kering menutupi dahi lebarnya. Ia berada di sebuah ruangan sempit berdinding baja.

"Adella... jika kamu melihat ini, berarti aku sudah gagal membunuh Aristho di gang itu. Arsitek itu terlalu kuat. Dia bukan manusia, dia adalah akumulasi dari semua data yang kita kumpulkan selama sepuluh tahun ini."

Pak Adwan terbatuk, mengeluarkan darah.

"Dengarkan aku. Arkana tidak berada di daratan. Pusat data utama mereka, 'The Hive', berada di platform pengeboran lepas pantai yang sudah tidak beroperasi di koordinat yang kukirimkan bersama pesan ini. Dan Adella... ibumu tidak pernah pergi ke kota kecil itu. Dia dibawa oleh Julian ke 'The Hive' sebagai jaminan akhir agar kamu tidak menghancurkan mereka. Selamatkan dia, atau hancurkan semuanya bersama ibu kita."

Video itu mati. Adella terpaku. Ibumu. Pak Adwan menyebut "Ibu kita". Rasa mual itu kembali muncul; pengingat bahwa monster yang menculiknya adalah saudara sedarahnya sendiri.

"Koordinat itu menunjukkan lokasi di tengah Laut Jawa," ujar Viona sambil menunjuk titik merah di peta digital. "Itu wilayah terlarang yang dijaga oleh keamanan swasta tingkat tinggi. Kita tidak bisa menyelinap ke sana dengan kapal biasa."

"Kita tidak akan menyelinap," kata Adella sambil mengambil sebuah jaket taktis dari meja perlengkapan Zero. "Aristho ingin aku kembali, kan? Dia ingin kesuksesannya pulang. Maka aku akan memberikannya apa yang dia mau."

"Kamu gila? Itu bunuh diri!" seru Viona.

"Tidak jika aku membawa 'kado' untuk mereka," Adella menatap kartu emas Baron yang kini sudah ia modifikasi dengan chip baru milik Zero. "Di dalam kartu ini, Viona, bukan lagi data keuangan. Tapi virus 'Logic Bomb' yang dirancang untuk meledakkan server Arkana dari dalam. Begitu aku terhubung dengan sistem mereka, The Hive akan runtuh dalam hitungan menit."

Malam itu, di tengah badai yang mulai menggulung lautan, sebuah helikopter hitam tanpa identitas mendarat di platform pengeboran "The Hive". Struktur baja raksasa itu berdiri angkuh di atas ombak, tampak seperti monster mekanis yang sedang tidur.

Adella melangkah turun dengan tangan terangkat. Ia dikelilingi oleh belasan tentara bayaran dengan senjata otomatis. Di ujung landasan, Aristho Arkana berdiri menunggu, memutar koin emasnya dengan senyum penuh kemenangan.

"Subjek 042 kembali ke rumah," ujar Aristho. "Aku tahu kamu akan datang untuk wanita itu."

Adella dibawa masuk ke dalam perut platform tersebut. Di sana, ia melihat pemandangan yang jauh lebih mengerikan daripada ruang bawah tanah Persada. Ratusan anak dan remaja duduk di depan monitor, mata mereka bergerak mengikuti aliran data yang sangat cepat. Mereka bukan lagi manusia; mereka adalah bagian dari sistem pemrosesan data rahasia Arkana.

"Lihatlah, Adella. Inilah masa depan dunia. Tanpa emosi, tanpa kesalahan. Hanya logika murni," Aristho membawanya ke sebuah ruangan berdinding kaca. Di dalamnya, ibu Adella duduk terikat di sebuah kursi elektrik, dikelilingi oleh kabel-kabel sensor yang menempel di kepalanya.

"Lepaskan dia, Aristho," desis Adella.

"Tentu. Begitu kamu menyerahkan kartu akses fisik Baron yang asli dan membiarkan kami memetakan ulang otakmu," Aristho mengisyaratkan pada seorang teknisi.

Adella melangkah maju ke konsol pusat. Ia menatap ibunya yang tampak pucat dan lemah. Di telinganya, ia mendengar suara Viona melalui alat komunikasi yang sangat kecil: "Aku sudah masuk ke gerbang pertama, Adella. Tunggu aba-abaku untuk mengunggah Logic Bomb."

"Pikirkan baik-baik, Adella," suara Aristho berbisik di samping telinganya. "Kamu bisa menjadi dewi di sini. Kamu bisa mengakhiri semua penderitaan manusia dengan menggantinya dengan algoritma yang sempurna."

Adella menatap kartu emas di tangannya. Ia teringat pada Nadia, pada kehangatan palsu Pak Adwan, dan pada darah Adwan yang mengalir di nadinya. Ia menyadari satu hal: kesempurnaan yang mereka tawarkan adalah kematian bagi jiwa.

"Satu hal tentang anomali, Aristho," Adella menoleh, menatap langsung ke mata Aristho. "Anomali tidak bisa dipetakan."

"Sekarang, Viona!" teriak Adella.

Adella menghantamkan kartu emas itu bukan ke slot pembaca, melainkan langsung ke sirkuit terbuka di konsol pusat, menciptakan lonjakan listrik yang hebat. Secara bersamaan, ia mengeluarkan pulpen tajamnya dan menusukkannya ke pergelangan tangan penjaga yang memegang kendali kursi elektrik ibunya.

Duar!

Suara ledakan digital terdengar dari speaker di seluruh platform. Monitor-monitor mulai berkedip liar, menampilkan kode-kode error berwarna merah darah. "The Hive" mulai menjerit dalam bahasa mesin.

"Apa yang kamu lakukan?!" Aristho berteriak, wajahnya yang tenang kini berubah menjadi kemurkaan yang liar.

"Aku mematikan naskahmu, Arsitek," ujar Adella sambil berlari menuju ibunya, melepaskan ikatan kabel-kabel itu dengan kasar.

Platform itu mulai bergetar hebat. Sistem penghancur otomatis yang tertanam di dasar laut sebagai protokol darurat Arkana telah terpicu oleh virus Adella. Air laut mulai masuk dari lantai bawah.

Di tengah kekacauan itu, pintu lift terbuka. Pak Adwan muncul dari sana, tubuhnya penuh luka tembak, namun ia memegang sebuah senapan mesin. Ia tidak menembak ke arah Adella. Ia menembak ke arah server-server raksasa di sekeliling mereka.

"Lari, Adella! Bawa Ibu keluar!" teriak Pak Adwan. "Aku akan memastikan tempat ini terkubur bersama semua dosa kita!"

Adella menatap kakak tirinya untuk terakhir kalinya. Di saat-saat terakhirnya, monster itu memilih untuk menjadi pelindung. Adella menarik ibunya menuju dek penyelamat tempat sebuah sekoci otomatis sudah disiapkan oleh peretasan Viona dari jauh.

Saat sekoci itu meluncur ke laut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!